4, Gaun Harem berdarah!

1113 Words
"Aira? Kenapa dengan kamu? Apa yang terjadi?" tanya Alexander. Ia memang sedikit terkejut saat gadis di hadapannya itu mengetahui saat ia mengikutinya, akan tetapi – perhatiannya teralih ke sikap gadis itu. Ana memandang pria itu dengan tatapan yang terlihat sangat dingin. Alex merasa gadis di hadapannya ini terlihat sangat berbeda akhirnya, ia mendekat, tapi Ana mundur dan menjauh. "Cukup, aku punya kehidupan sendiri! Tidak perlu sampai begitu, aku datang, hanya ingin membalas budi pada sepasang suami-istri yang menganggap ku sebagai anak! Aku bukan saudarimu, dan jangan ikut campur segala urusanku, paham?!" tekan Ana! Ana berbalik pergi, dan ia akhirnya mengendarai sepeda motornya dan segera pergi dari sana. "Aira, siapapun kamu..., aku tidak pernah menganggapmu sebagai saudari, tapi sebagai wanita. Tidakkah kamu merasakannya?" gumam Alex. *** Laju motor mulai membelah jalan raya, menyalip satu persatu kendaraan yang ada, dan setelah beberapa saat kemudian akhirnya Ana sampai ke sebuah tempat. Bukan tempat mewah, hanya sebuah bangunan biasa yang masuk ke sebuah gang, jalan yang ia lalui sebelumnya berliku-liku, dan pada akhirnya ia sampai ke sebuah tempat untuk mengganti pakaiannya. Pakaian sederhana yang ia kenakan langsung ia ganti dengan pakaian yang lebih enak ia pakai. Setelahnya ia mulai naik ke lantai paling atas, dan mulai menuju ke suatu tempat dari atap-atap rumah yang cukup tinggi di sana. Sebelumnya Ana sudah mencari-cari jalan termudah menuju ke sebuah tempat. Ia harus berjalan perlahan, tanpa menimbulkan suara, merayap-rayap, bergelantungan di sebuah bangunan ke bangunan lain sehingga ia sampai ke sebuah bangunan tinggi yang temaram cahaya. Ia menginjakan kakinya ke satu tangga ke tangga yang lain, hingga ia sampai ke lantai paling atas. Di atas rooftop, Ana berdiri memandang bangunan sebrang dengan nafas yang masih terengah karena perjalanannya. Ia sendirian sekarang, akan tetapi kegelapan yang ada seakan tidak membuatnya mundur lagi. Ia sudah lama hidup dalam kebutaan, awalnya ia buta karena mencintai pria yang bahkan tidak sudi memandangnya, dan kini ia akan buta karena memanfaatkan berbagai macam cara untuk mengejar perasaannya, bukan hanya cinta lagi, ia hanya mengejar ambisi dan dendam yang membara. Di ujung banguna, ada sebuah tas tergeletak di sana, dan Ana langsung mengambilnya. Ia membawanya ke bagian tengah bangunan sebelum akhirnya kembali menuju pinggir bangunan. Ana memiringkan kepalanya, menatap ke arah bangunan yang sekitar duaratus meter dari jarak ia berdiri sekarang, sebelum salah satu sudut bibirnya terangkat! "Kita lihat, adegan panas apa yang kamu lakukan di sana, aku sudah bisa mulai memburu tikus-tikus mainanmu, 'kan?" gumamnya sebelum akhirnya ia mengambil senjata api berjenis Karabin M4 yang sudah tersedia di sana. Setelahnya ia mulai jongkok dan mulai mengambil posisi, Ana tidak lupa mengambil teropongnyq dan mulai menatap ke sebrang sana. Di sebuah bangunan paling atas, ia melihat tubuh wanita yang polos tanpa ada hal yang menghalangi pandangan. Apa yang mereka lakukan bisa Ana lihat karena mereka tidak menutup bagian kaca menggunakan tirai yang ada, seolah mereka mengira semua aman saja dan tidak akan ada yang melihat mereka. Ana melihat jelas, wanita itu mulai memasukan bagian intinya pada milik seorang pria yang berbaring dan memegangi bagian pribadi miliknya yang keras. Adegan mereka membuat Ana menelan ludahnya kasar, ia menciba fokus meski dad4nya memanas saat melihat semua hal tersebut. Airmatanya hampir mengalir, dan ia menembakan beberapa peluru sebelum akhirnya tubuhnya mendapatkan getaran dari senjata api yang ia aplikasikan. Berbarengan dengan peluru yang melesat– bulir airmatanya mengalir cukup deras. "Alexander, aku beri pemanasan untukmu, dan akan aku pastikan, kau tidak bisa berhubungan dengan siapapun!" tekannya dengan suara bergetar. Ia akan mengincar suatu kelemahan dari Casan*va itu, agar pria itu menderita! *** Di sebuah kamar... "Emmhh, Tu–an?! Besar sekali milik an–da! Ah, aku merasa ini akan nyaman seka—lii." Wanita itu mulai memasukan miliknya yang sudah basah dan berkedut sedari tadi. Benda besar itu mulai masuk ke dalam, dan ia merasakan kenyamanan meski baru hanya menggeseknya saja di atas miliknya tadi. Ia berusaha menurunkan tubuhnya untuk melakukan penyatuan, akan tetapi saat sudah hampir masuk cukup dalam..., sebuah suara pecahan kaca terdengar sangat kuat. Sebelum akhirnya suara desahan wanita itu terhenti, dan tubuhnya mematung. Pergerakan liarnya yang mengacak-acak milik pria yang ada di bawahnya terhenti. "Ah?! Apa yang terjadi, kenapa kau membasahi tubuh dan wajahku, Sialan?!" teriak pria yang merasa bagian atas tubuh telanjangnya dan wakahnya tetkena cipratan yang mirip dengan air. Akan tetapi, saat ia menyadari desahan wanita itu berhenti, ia juga membuka matanya. Akan tetapi, apa yang ia lihat akhirnya membuat matanya terbelalak sepenuhnya! Tubuh wanitanya ambruk menjatuhinya, dan ia akhutnya sadar, air yang ia rasalan bukan air kenikmatan, melainkan percikan darah. Alexander Lemos, pria tampan itu tertegun dan terpaku pada saat itu, hingga setelah ia mendari apa yang terjadi – ia mulai menyingkirkan tubuh wanita di atasnya yang tampaknya sudah tidak bernyawa! "Sialan! Siapa yang melakukan semua ini?!" teriak Alexander dengan sangat murka. Ia meraih sebuah pakaian dinas yang dipakai wanita itu sebelumnya, ia mengelapkannya pada beberapa bagian tubuhnya yang terkena cairan merah dari wanitanya. "Siapa yang berani melakukan ini?! Aku bahkan belum merasakan kepuasan!" teriak Alexander dengan murka. Ia lantas mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. "Cepat datang ke ruanganku!" tekannya dengan suara yang penuh dengan emosi. "Tuan, ada apa?! Apa yang terjadi?! Apa wanita itu tidak membuat anda puas?!" suara di sebrang sambungan telepon terdengar sangat panik, tapi juga sangat penasaran. "Dia bahkan mati sebelum memuaskan aku!" teriak Alexander! "A–apa?! Apa maksud anda?!" "Kau masih berani bertanya padaku?! Sekarang datang ke sini segera atau aku yang akan datang dan memenggal kepala kalian semua!" teriaknya dengan murka. "Baik! Saya akan segera datang!" Sambungan telepon akhirnya dimatikan. Alexander langsung memunguti pakaiannya sebelum akhirnya ia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Ia melakukannya dengan sangat cepat dan singkat, setelah berpakaian ia akhirnya keluar dari dalam kamar. Saat ia baru saja keluar dari kamar, sudah ada banyak orang-orangnya yang ada di dalam ruang kamar. Ekspresi wajah mereka terlihat tegang, bingung dan terkejut. "Aoa yang kalian lihat?! Sekarang bereskan tubuh wanita ini, dan bereskan juga kekacauan yang ada di sini! Aku tidak mau namaku terseret dalam masalah ini, kau tahu apa yang harus kau lakukan kan, Alif?!" tekan Alexander sembari menatap tajam ke arah orang kepercayaannya. "Baik, saya mengerti, Tuan." tegasnya sembari membungkukkan tubuhnya. Alexander Lemos akhirnya bergegas meninggalkan kamar itu. Langkahnya ringan dan lebar, ia meninggalkan kekacauan tanpa mau menatap lebih lama! Ia berusaha pergi dari sana dan membuang rasa kesalnya yang sudah menumpuk dalam hati dan pikirannya! Di hari yang larut malam itu, tidak ada yang mengira seorang gadis kini tengah merayap-rayap di atap banguna milik orang lain untuk kembali ke tempatnya tadi berasal. Ia sama sekali tidak meninggalkan jejak apapun, apalagi barang bukti. Sebisa mungkin, ia melewati beberapa bangunan yang tidak memiliki CCTV di atap gedung-gedung mereka. Dan, ya... Dia adalah Ana!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD