"Aira, siapa yang membelikan kamu makanan? Aku yakin, bukan kamu yang membelinya, kan? Kenapa tidak bilang padaku?! Aku akan membelikannya untukmu, dan aku juga akan memasakan makanan yang kamu mau, kalau kamu menginginkannya!"
Ucapan Alex seketika membuat Ana menoleh ke arahnya. Tatapannya kali ini berbeda, ia lebih menunjukan rasa penasaran daripada sikap dingin.
"Kenapa? Kamu cemburuan?" tanya Ana.
Akan tetapi, yang dilakukan oleh Alex hanya diam. Pria itu bingung, tapi juga gugup akhirnya. Ana menghela nafas panjang, ia mulai menyuapkan makanan ke mulutnya.
"Kalau kau memang perduli padaku, mungkin sedari dahulu kau akan membantuku, tapi nyatanya tidak! Dan kalau kau cemburu padaku..., atas dasar apa kau berani melakukannya?!" tanya Ana sembari mengarahkan sumpit ke Alex. "Sebaiknya kau hentikan saja sebelum kau menyesal, Alex!" tekan Ana.
Tanpa mengharapkan jawab, Ana kembali makan dan menikmati beberapa hidangan yang dibelikan oleh Jack. Memang dalam hidupnya sekarang, hanya pria itu yang mengerti dirinya.
Alex akhirnya pergi begitu saja dari sana tanpa sepatah kata. Entah apa yang pria itu pikirkan, yang jelas pada saat itu – Ana makin yakin, pria itu menaruh perasaan lebih padanya.
***
Waktu bergulir dengan cukup cepat, dan pada siang waktu jam makan siang, Rere mulai memaksakan diri keluar dan makan bersama mereka, padahal banyak orang termasuk Ana yang melarangnya, akan tetapi ia tidak mau.
"Aira, sudah lama mama tidak makan di meja makan bersama papamu dan saudara-saudari kamu." ujar wanita itu sembari tersenyum. Semua orang sedari tadi mengajaknya bicara, bahkan Tiffany panjang lebar bicara, tapi tidak ditanggapi dengan baik oleh wanita itu. Tapi kini, ia bicara dengan Ana, tanpa Ana minta. Ana yang sedang memutar-mutarkan pisau makan di atas piring yang tadi ia temukan di sekitar piringnya akhirnya melirik ke arah wanita itu.
"Benarkah, kenapa?" tanyanya dengan sangat santai, seolah apa yang diucapkan oleh wanita itu hanya hal biasa baginya. Orang lain akan geram, dan kesal bila diperlakukan begitu, tapi tidak dengan Rere. Dan hal itulah salah satu yang Rere suka dari Ana.
Mereka buta tentang identitas Ana, dan bahkan segala sikap, maupun sifat Ana mereka tidak lah tahu. Dan itulah salah satu kesalahan terbesar dalam hidup mereka.
"Karena tidak ada kamu," Jawaban itu seakan sedikit mengenai hati Ana. Akan tetapi, ia masih saja diam.
"Sudahlah, jangan bicara macam-macam, sekarang mama harus makan, dan setelahnya minum obat supaya cepat sembuh." Ana mengambilkan makanan untuk Rere.
Mereka mulai makan dan tanpa ada kata lagi tentunya. Sebenarnya, usia Ana tidak jauh berbeda dari Alex.
Pria itu kini sudah berusia Duapuluh Sembilan Tahun, dan Ana lebih muda setahun darinya. Aldi dan Aldo berusia Duapuluh Lima Tahun, sementara Tiffany berusia Duapuluh Tahun. Akan tetapi, Ana berkata ia tidak ingat apapun, dan dokter yang menanganinya salah memperkirakan usianya hingga ia masih dianggap berusia Duapuluh Empat Tahun. Sungguh, ia akhirnya kembali muda di sana.
Makan siang berjalan dengan sangat baik, tapi seketika ponsel Ana berdering, dan Ana pamit untuk mengangkat telepon. "Mah, maaf sebentar ya, aku mau angkat telepon." ujar Ana.
"Dari siapa?" tanya Rere, seperti layaknya ibu pada umumnya, ia berusaha bertanya sebagai tanda keperduliannya.
"Teman kerja, aku rasa ada suatu hal penting, aku akan segera kembali, aku janji." balas Ana.
"Hm, baiklah. Segeralah kembali," Rere memberi izin.
Ana tersenyum kecil, bahkan nyaris tidak terlihat. Ia mengangguk sebelum akhirnya benar-benar menghilang dari sana.
Setelah kepergiannya, suasana kembali hening, bahkan Rere menghentikan makannya. Wanita itu lantas menatap Alex dan mulai bertanya kepadanya. "Apa kamu tahu dia bekerja di mana, dan apa pekerjaannya?" tanya wanita itu. Alex tentu saja tidak bisa menjawab pertanyaan itu. "Kalian ada yang tahu?" tanyanya pada yang lain. Rata-rata diantara mereka tentu hanya menggelengkan kepala mereka, karena mereka memang tidaklah tahu.
Rere menatap ke arah pintu ke mana Ana menghilang. Ia bingung, dan juga penasaran di mana ia bekerja.
Ana sendiri tentu saja mengangkat telepon dari Jack, dan telepon itu sangat penting, hingga Jack tidak bisa menunggu jam makan usia. Dan untungnya dia sudah mengirimkan makanan karena ia tahu, Ana tidak bisa memakan makanan yang ada di kediaman keluarga itu, karena Ana pernah bilang rasanya hambar!
"Hm, ada apa?" tanya Ana.
"Nona, ada celah baru! Aku mendapatkan kabar kalau pria b******n itu ternyata memiliki salah satu kekasih yang paling ia sukai, dan itu adalah salah satu hal paling berharga kan, Nona?!" ujar Jack dengan semangat.
Ana merasa hatinya tertusuk paku saat ia mendengar hal itu. Ia merasa benar-benar dikhianati, dan ia merasa kalau Alexander harus segera berada dalam kuasanya. Obsesinya makin menggila akhirnya!
"Hm, katakan apa lagi?! Tidak mungkin hanya itu, atau kau hanya mendapatkan informasi sampai di situ?!" tekan Ana dengan sedikit kesal!
"Sabar dulu, Nona. Saya belum selesai bicara. Dan ternyata ada suatu hal yang mungkin bisa anda lakukan untuk mendekati wanita itu, lalu setelahnya anda bisa menghabisinya." ujar Jack.
"Maksudmu, aku harus menusuk seseorang dari belakang?! Jangan gila kamu, Jack!" Ana sedikit emosi. Ia hancur saat mendapatkan pengkhianatan itu, dan ia tidak ingin melakukan hal yang sama pula!
"Nona, menghancurkan seseorang harus berbagai macam cara. Dan kalau anda ingin membalaskan rasa sakit yang sama sakitnya, hanya ini lah jalannya! Apa anda ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini?!" Jack mulai mengingatkan sebuah tujuan awal Ana. Ada rasa yang seakan berlawanan dengan hal itu dalam batin Ana, akan tetapi apa yang Jack katakan itu benar.
Seolah semuanya berkecamuk di kepalanya dan saling menentang, maupun melawan, dari hati ke pikirannya, semua sudah tidak sejalur, dan tidak sinkron!
Akan tetapi, mengingat gaun pengantin putihnya yang bersimbah darah, akhirnya Ana mengepalkan kedua tangannya cukup erat. Bahkan mungkin kuku -kukunya sampai melukai telapak tangannya saat itu.
"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Ana dengan cepat, dan juga tegas. Suaranya berubah berat, dan bergetar, bukan karena ia menangis setelah mengingat ayahnya, melainkan rasa dendamnya kini membara di dalam lubuk hatinya!
"Ada satu cara, hadiri suatu pesta dan tarik perhatian wanita itu agar mau berkenalan dengan anda! Yang aku dengar, keluarga anda akan datang juga ke sana, mungkin anda bisa ikut juga, dan lakukan sesuatu." ujar Jack.
Kedua bola mata Ana sedikit melebar saat itu. Selama ini, ia tidak pernah ikut keluarga itu menghadiri acara pesta, dan bahkan ia sering menolak, lalu bagaimana ia bisa ikut, terlebih itu adalah suatu pesta yang akan didatangi banyak orang. Ada banyak kekhawatiran yang sebenarnya Ana rasakan. Meski ia sudah merubah banyak bagian wajahnya, tapi tetap saja ia takut tertangkap sebelum segala rencananya selesai, dan segala dendamnya terbalas!
Kini, ketakutan besar dalam dirinya kembali hadir!