Diaz tertegun sejenak, kesadarannya baru kembali, dan penyesalan sudah tiada arti, ia mencoba meraih pundak Cantika, meski wanita itu enggan dan berusaha menjauh darinya. "Maaf, Cantika. Aku lepas kendali, tapi aku akan pastikan, tumbuh atau tidaknya benih itu, aku akan menikahi kamu." Diaz menangkup kedua wajah Cantika dan mencoba menatapnya lembut. Air mata tampak mengalir dari mata indah Cantika, dan Diaz mengusapnya lembut. Kecupan lembut mulai Cantika rasakan di keningnya, lalu setelahnya Diaz memeluknya erat. "Aku akan tanggung jawab, Cantika. Aku akan menemui kakakmu." ujar Diaz. Tangisan Cantika seketika terhenti, ia menarik tubuhnya dari Diaz dan menatap wajah Diaz dengan ekspresi wajah yang tampak tegang. "Diaz, kamu kan tahu kalau —" "Aku tahu, dia membenciku karena mem

