Tak ada hari yang berbeda bagi siswa pelajar seperti ku. Tugas kami hanya belajar dan belajar. Untuk mendapatkan hasil yang memuaskan, kau harus melakukannya dengan maksimal. Aku jadi teringat dengan nilai ku di semester ini. Banyak hal yang membebani pikiran ku, hingga pertahanan ku terancam runtuh. Atau mungkin saja, aku melakukan nya kurang maksimal.
Pagi hari menjelang. Aku menaiki bus untuk bisa sampai disekolah. Menyapa para pejuang petang yang berlalu lalang mengiri jalan yang begitu luas.
Semua tampak sibuk.
Apa hanya aku yang selalu memikirkan tanpa adanya pergerakan?
Padahal begitu banyak masalah yang harus ku selesaikan. Namun aku hanya seperti berjalan ditempat. Maju tidak, mundur pun tidak. Aku hanya merasa perjuangan ku selama ini tak membuahi hasil seperti harapan ku.
Aku terus berjalan agar bisa sampai di kelas dan memulai pelajaran. Para siswa tampak bersenang-senang sembari terus melempar lelucon satu sama lain. Membuat janji untuk pertemuan kencan buta, bermain game di warnet, hingga membanggakan aksesoris dari brand terkenal yang mereka kenakan.
Sebentar lagi. Cukup bertahan dan menghasilkan uang agar bisa membawa ayah ku ke tempat yang lebih layak. Karena nenek sihir itu sangat-sangat tidak waras.
“Sae Hyeon-aa” ucap seseorang yang tiba-tiba mengejutkan dari arah belakang. Siapa lagi kalau bukan Areum si gadis periang.
“Yaakk kau membuat ku terkejut” ucap ku mengerutkan kening.
“Aaa benarkah?”
“Lupakan”
“Yaa miannn” ucap nya manja dan memeluk lengan ku. aku hanya menggelengkan kepala sembari tertawa kecil karena tingkahnya. Aku merasa seperti ibu nya sekarang.
“Aa iya. Coba kau tebak, kemarin aku pulang sekolah dengan siapa?” ucapnya penuh semangat.
“Supir mu?” tebak ku asal. Karena memang ia selalu pulang dengan supirnya. Lalu siapa lagi? Ayah ku? Itu lebih tidak mungkin.
“Bukan”
“Hmmm Yoona?” tebak ku lagi. Yoona merupakan teman hits nya, kadang juga Areum membuat janji berdua bersamanya. Tapi ia tak mungkin menyuruh ku menebak hanya karena ia pulang dengan supir atau Yoona. Jangan-jangann….
“Sang pembuat heboh?” tanya ku menghentikan langkah ku dan menoleh kearahnya.
“Iyaa benar” ucap nya girang setelah aku menemukan jawabannya. Aku pun melanjutkan berjalan lagi.
“Kemarin aku mengajak nya untuk menemani ku bermain ke taman hiburan. Dan dia tak menolak sama sekali” lanjutnya. Ia terlihat begitu senang. Lalu menceritakan semua yang mereka lakukan di taman hiburan. Mulai dari sang pembuat heboh membelikannya ice cream hingga menemani nya menaiki setiap wahana yang ada. Semua terdengar manis dan menyenangkan. Ia bercerita panjang lebar dan mendetail. Jika bisa di buku kan, maka sekarang merupakan halaman yang ke 45. Aku hanya mengangguk dan sesekali tertawa kecil karena cerita lucu nya.
“Aku menyukai semua darinya, bahkan setiap pergerakannya membuat ku jatuh cinta. Sae Hyeon-aa bagaimana ini?” ucapnya memegang pipi nya yang mulai memerah mengingat semua kebahagiaan yang dialami nya kemarin.
Ketika asik mendengar curhatan dari Areum. Pandangan ku beralih menuju kursi di lorong depan kelas sebelah. Terlihat 2 siswa di kerumuni para siswi ditemani suara tawa yang menyeruak memenuhi dengungan lorong sekolah.
“Kau begitu menyukai nya?” aku menghentikan langkah kaki ku tanpa mengalihkan pandangan.
“Hm. Tentu saja” ucapnya yang tanpa sadar bahwa lelaki yang disukai nya bersikap manis pada setiap gadis.
“Ahh begitu rupanya”
“Kenapa?” tanya nya dengan wajah bingung karena melihat raut wajah ku yang berubah datar. Mungkin ia sadar bahwa aku tak fokus dan mencoba menoleh kearah mata ku memandang. Namun aku tak mungkin membiarkannya melihat pemandangan menyebalkan seperti itu. Jadi aku spontan mengalihkan pembicaraan untuk menarik perhatiannya.
“Oh iya. Bagaimana hasil semester mu?” ucap ku sembari merangkul pundaknya dan berputar mengarah ke kelas.
“Ahhh jangan tanyakan. Akhir-akhir ini appa memarahi ku karena nilai itu. Makanya aku mengajak Do Hwan bermain” ucapnya memanyunkan bibirnya.
“Aaa begitu”
“Hm. By the way. Kapan kamu akan berhenti memanggilnya dengan sebutan sang pembuat heboh?”
“Kenapa? Oh iya, panggilan itu memang tidak cocok untuknya. Seharusnya aku menggantinya jadi pria berkepala gajah, atau bisa saja pria tidak tahu diri”
"Panggilan apa seperti itu"
"Aku juga tidak tahu"
Mendengar jawaban ku, Areum hanya tertawa sembari terus berjalan menuju kelas.
***
“Sae Hyeon-aa Sae Hyeon-aa” Areum datang dengan berlari mendekat kearah ku.
Ada apa lagi dengannya?
Bukankah seharusnya dia mengerjakan hukuman sekarang?
“Mau kemana?” ucapnya dengan nafas yang tak beraturan.
“Perpustakaan”
“Tepat sekali” ucapnya dengan menjentikkan jari didepan wajah nya. Ia terlihat sibuk mengambil sesuatu dari dalam tas. Kemudian mengeluarkan buku dan pulpen.
“Ayo pergi” ucapnya dengan memeluk buku tersebut.
“Kau mau ikut?” ucap ku bingung.
“Hm!” angguknya dengan masih mengatur nafas.
“Tiba-tiba?”
“Lets go” ucapnya sembari menarik lengan ku menuju pintu keluar kelas. Aku hanya mengikuti langkahnya. Ini terlihat aneh. Aku belum pernah melihatnya begitu semangat untuk pergi ke perpustakaan. Biasanya jika harus ke perpustakaan pun hanya karena tuntutan tugas, kening nya tak akan berhenti berkerut. Dan sekarang…! Tapi baguslah. Sepertinya seharian bersama sang pembuat heboh kemarin membuat perubahan besar pada Areum.
Selama perjalanan menuju perpustakaan sekolah, ia terus menuntun ku untuk berjalan lebih cepat dari biasanya. Ia terlihat begitu bersemangat. Aku jadi tak bisa mengatakan apa-apa. Aku tak ingin membuatnya berkecil hati dan berubah pikiran. Aku yakin. Jika pak direktur melihat ini, beliau akan turut senang.
Syukurlah.
Sesampainya di depan pintu perpustakaan. Kepala Areum mulai tak bisa diam. Ia menoleh ke segala arah. Seperti sedang mencari seseorang, atau dia mungkin sedang mencari tempat duduk yang nyaman?
Seperkian detik menyebar pandangan ke segala penjuru perpustakaan, akhirnya kepalanya berhenti bergerak. Sudut bibirnya tertarik lebar.
Apa ia sudah menemukan tempat yang nyaman?
Lalu menarik tangan ku mendekat kearah meja disisi kiri pojok ruangan. Melepaskan lingkaran tangannya dan mengarahkan tubuhnya ke lemari susun penyimpanan. Tiba-tiba menyibukkan diri dengan berbagai macam buku. Mimik wajahnya seketika berubah menjadi sangat serius. Aku yang berada ditempat hanya terdiam tak mengerti apa yang terjadi. Kemudian aku mengarahkan pandangan pada petunjuk lemari buku yang tertempel pada sisi lemari tersebut.
Matematika. Ya, sekarang dia mencari buku di penyimpanan paket pelajaran yang selalu ia keluhkan setiap saat. Dan sekarang ia mengambil buku matematika? Seriously? Ada apa sebenarnya? Mengapa ia bertingkah seperti ini? Aku hanya membatin mengikuti permainan.
Selesainya ia mengambil beberapa buku paket. Ia pun memberi ku 1 buku paket tersebut dan berjalan perlahan dengan membuka-buka buku tersebut. Aku hanya mengarahkan pandangan ku ke setiap langkahnya. Dan tiba-tiba..
“Sae Hyeon-aa. Coba ku lihat buku yang satu lagi. Sepertinya aku menemukan kendalanya”
Kendala?
Kendala apa?
Apa kita pernah membahas materi pelajaran ini?
“Areum-ii?” panggil seseorang dari meja tersebut.
“Eok. Do Hwan-aa” ucapnya pura-pura terkejut. Itu terlihat sangat tidak alami. Dan sekarang aku paham apa yang terjadi. Ini benar-benar diluar dugaan. Bagaimana ia bisa tahu bahwa sang pembuat heboh juga berada disini. Astagaaa. Sudahlah.
“Kau terlihat sangat sibuk”
“Benar. Aku sedang mencari buku untuk ku pelajari lebih lanjut. Tapi…aku tak menemukan tempat yang kosong” ucapnya sembari menyelipkan rambutnya dibelakang telinga. Tidak ada tempat kosong? Hah? Tidak salah? Aku menoleh kearah samping, dan itu masih sangat banyak tempat yang kosong. Sang pembuat heboh pun terlihat mengarahkan pandangan lurus ke depan, dan masih banyak tempat kosong. Namun ia tak mengatakan apa pun dan hanya tersenyum ramah.
“Aa benarkah? Kalau begitu duduk lah disini”
“Kau serius? Duhh,,aku jadi tidak enak” ucapnya tersenyum malu-malu.
“Kenapa? Kan ini milik sekolah. Jadi kau punya hak untuk bisa duduk disini” ucapnya mengarahkan untuk duduk dengan tangannya.
“Baiklah kalau kau memaksa” ucap Areum yang bersiap-siap untuk duduk. Aku pun segera menyenggol tangannya sebelum ia benar-benar duduk. Aku mendekatkan wajah ku pada telinganya.
“Apa yang kau lakukan? Ayo cepat pergi” bisik ku kesal.
“Sae Hyeon-aa ku mohonn. Aku akan menuruti apapun permintaan mu setelah ini. okey?” ucapnya ikut berbisik dan melempar senyumnya kearah sang pembuat heboh.
“Yakk….bangun atau kau ku bunuh hari ini juga?” lanjut ku berbisik. Ini benar-benar menyebalkan. Aku disini untuk memperbaiki nilai ku. Bukan untuk menjadi kambing congek. Areum pun duduk dan menarik tangan ku untuk mengikutinya.
“Sebentar saja” lanjutnya dengan mengelus punggung tangan ku untuk meredam kemarahan. Dia benar-benar tak bisa dipercaya. Seharusnya aku pergi terlebih dahulu tadi.
Hahh sudahlah.
“Kau sepertinya menyukai pelajaran Matematika” ucap sang pembuat heboh menatap buku yang dipegang Areum.
“Matematika?” jawab nya terkejut. Sudah ku duga ia tak sadar sudah mengambil buku Matematika. Kemudian ia mengecek cover buku dan mengalihkan pandangan kearah ku. Ia melirik sembari mengedip-ngedipkan kedua matanya. Namun aku tak mengerti apa maksud nya. Jadi aku hanya menggelengkan kepala ku tak mengerti. Sang pembuat heboh menatap kami berdua dengan mengangkat kedua alisnya menunggu jawaban.
“Aaa,,itu. Hmm,,sebenarnya…” ucap Areum gugup sembari menatap kearah ku.
“Iya. Iya…a aku..suka Matematika” lanjutnya dengan tawa garing yang terdengar sangat memalukan. Apa yang baru saja aku dengar? Dia menyukai Matematika? Aku akan lebih percaya jika dia berkata semalam sudah melakukan peregangan.
“Aaa begitu rupanya. Kalau begitu bagaimana dengan mu?” tanya sang pembuat heboh mengalihkan pandangan kearah ku.
“Aku? Tidak ada” ucap ku datar sembari membuka buku pelajaran yang sudah ku bawa dari kelas. Terpaksa, aku harus belajar disini. Kalau tidak, Areum akan merengek bahkan ketika aku mencoba menggeser b****g ku.
Sejenak suasana terasa hening. Hanya terdengar suara lembaran buku yang terbawa angin dan orekan pulpen di atas kertas putih.
Tuttt tutttt tuttt
Hingga tiba-tiba terdengar suara getaran handphone. Konsentrasi ku buyar. Aku mencoba mengecek sumber suara dari arah mana. Ternyata getaran tersebut dari handphone milik sang pembuat heboh yang diletakan nya di atas meja.
“Aku permisi mengangkat telepon dulu” ucapnya mengayunkan handphone manandakan ia meminta izin untuk pergi dari tempat ini.
“Iya. Silahkan” Ucap Areum sembari mengangguk pelan. Setelah sang pembuat heboh pergi. Areum pun meletakkan kepalanya diatas meja.
“Hahh hampir saja. Sae Hyeon-aa. Aku lelah” ucapnya menghembuskan nafas kasar.
“Lelah kenapa? Yang kau lakukan dari tadi hanya mengganti setiap lembar halaman paket tanpa membacanya”
“Benar. Tapi kau tak tahu. Batin ku tersiksa”
“Batin apanya”
“Dengan melihat isi buku ini saja sudah membuat ku tersiksa”
“Lalu bagaimana dengan ku? Aku bahkan tak menduga kau akan mencari perhatian sampai ke tempat seperti ini” aku hanya bisa geleng-geleng pasrah.
“Mianhaee” ucapnya dengan aegyeo.
“Lupakan”
“Gomawo” lanjutnya dengan mengangkat kepala nya dari atas meja.
“Kau mau kemana?” ucapnya yang melihat ku bangkit dari tempat duduk.
“Mencari buku”
“Okey” ucapnya sembari kembali menempelkan kepalanya pada meja.
Aku menyisir setiap deretan lemari buku sosial. Berharap menemukan buku yang sedang ku butuhkan. Aku masih belum mengerti tentang materi penyelidikan sosial yang dijelaskan guru pada kelas sebelumnya.
Perlahan aku menaruh fokus ku pada sampul untuk melihat topik yang sesuai dengan apa yang sedang ku pelajari. Melangkahkan kaki untuk terus berjalan mencari buku yang sesuai. Hingga tiba di lemari akhir dan menarik sebuah buku yang menarik perhatian ku. Ternyata benar, itu adalah buku yang sedang kucari. Hahhh akhirnya aku menemukannya.
Ketika hendak kembali menuju meja tempat ku belajar. Aku mendengar suara seseorang sedang berbincang di sudut ruangan. Awalnya aku tak ingin peduli. Karena perbincangan seseorang tak layak untuk kita dengarkan secara diam-diam. Namun suara itu terdengar tak wajar. Penuh emosi dan topik pembicaraan yang begitu serius. Jadi perlahan aku melangkahkan kaki ku menuju sudut lemari agar bisa lebih dekat dengan sumber suara.
“Kenapa kau mengubungi ku? Ahhh, benar. Kau harus nya mentertawakan ku. Tapi sayang sekali. Kau tak berada disini. Dan tentu saja untuk melakukan itu kau harus menghubungi ku. Benar kan?” ia terdiam sejenak menunggu lawan bicaranya memberi jawaban. Ternyata mereka berbicara melalui telepon.
“Kembali ke AS? Kenapa? Kau takut akan tersaingi atau….kau takut aku akan merebut mereka dari mu? Hehe..Jika seperti itu, kau tak perlu khawatir. Kau tahu, mereka sangat membenci ku. Jadi bagaimana bisa aku menggantikan posisi mu?” ucapnya dengan penuh emosi kemudian menutup sambungan telepon secara sepihak.
****