BAB 15

1450 Words
Setelah mendengarkan apa yang Viona katakan di telepon dengan seseorang. Dan aku sangat yakin, bahwa dia memanglah Andrew. Tiba-tiba, pemikiran yang aneh pun muncul di benakku. Aku sendiri tidak percaya, bahwa aku bisa mengatakan hal itu. “Kamu enggak usah carikan perempuan buat dia malam ini,” kataku dengan sangat jelas. “Maksudnya?” Viona bingung dengan yang aku katakan. “Biarkan aku yang menjadi perempuannya malam ini,” lanjutku. Viona sempat terdiam dalam bingungnya. Di satu sisi, mungkin ada baiknya dia tidak usah ribet mencarikan wanita lain dan berbeda untuk bosnya itu. Namun, di sisi lain. Dia pasti berpikir akan terjadi sesuatu terhadap diriku, jika aku harus menjadi perempuan pengganti yang Andrew inginkan. “Deeettttt... deeeettttt....” bunyi klakson dan sebuah kapal besar yang memekingkan telinga itu pun, membangunkan lamunan Viona yang tidak berujung. Kemudian, dia pun menatapku dengan sangat tegas. Dia seperti sedang mencari sesuatu yang ingin dia pastikan di dalam diriku. Namun, aku hanya bisa menunjukkan bahwa aku sangat serius dengan yang aku katakan itu. Aku hilangkan rasa ragu di wajahku ini. Sehingga, perempuan ini pun tidak akan ragu menjadikan diriku sebagai perempuan bagi bosnya malam ini. “Kamu... serius?” Seperti yang aku duga. Dia tidak percaya, aku ingin menjadi perempuan pengganti itu. “Iya, aku serius,” jawabku dengan tegas. “Kamu yakin? Semua yang akan kamu lakukan malam nanti akan sangat beresiko,” lanjut Viona. “Deg.” Aku langsung menitik beratkan pada kata ‘resiko’ yang Viona sebutkan. Pikiranku pun mulai membayangkan apa saja kemungkinan yang akan terjadi pada diriku. Bahkan, sampai pikiran tentang malam ini aku pasti akan kehilangan keperawananku. Dan itu akan aku berikan kepada laki-laki yang bukan suamiku. Atau mungkin saja, laki-laki ini akan menyampakanku setelah dia mendapatkan diriku seutuhnya. “Kenapa kamu diam?” Viona yang sadar, aku ragu dengan keputusanku, Masih menunggu jawaban dariku. “Aku yakin.” Aku kembali membulatkan tekat, agar aku tetap bisa bertemu dengan Andrew malam ini. Mungkin saja, aku tidak harus melakukan semua yang dilakukan perempuan-perempuan itu. Aku masih berharap, semua yang aku pikirkan tentang laki-laki itu tidaklah benar. Dan siapa tahu, malam ini aku pun bisa dapat penjelasan langsung dari dirinya. “Kamu siap menerima semua yang akan tejadi?” Dia kembali menanyakan kesiapanku. “Aku siap.” Kali ini, aku tidak lagi menunjukkan keraguanku tadi. “Mmmm... gimana ya?” Tapi, kini balik Viona yang terlihat ragu akan keputusanku. “Kenapa lagi? Aku kan udah bilang, kalau aku siap.” Aku sedikit kesal dengan perempuan yang ada di depanku. Aku sudah berharap, bahwa aku akan mendapatkan kesempatan itu. Bahkan aku sampai berpikir, jika malam ini berhasil. Aku akan segera balik ke Indonesia. Kalau pun, aku memperoleh sesuatu yang tidak aku inginkan. Aku pun tidak akan mengganggu laki-laki itu lagi. “Sebenarnya, resiko yang akan terjadi jika aku memberikan tugas ini ke kamu... bukan hanya akan terjadi sama diri kamu sendiri.” Viona pun mulai mengguman dengan tidak jelas. “Maksudnya? Resiko itu akan terjadi sama kamu?” tebakku. “Ya gitu,” jawabnya singkat. “Jadi, kamu sama bosmu itu pernah melakukannya?” Pikiran yang tidak pernah aku bayangkan sebelumnya, tiba-tiba muncul begitu saja. “Hah? Melakukan? Melakukan apa?” Viona malah terlihat bingung dengan yang aku tanyakan. “Ya... melakukan... hubungan... begitu....” Aku masih tidak berani mengatakan sesuatu yang sangat mengerikan itu. “Apa?!” Viona masih tidak bisa paham dengan yang aku katakan. “Mmmm... hubungan suami istri.” Aku pun mengatakannya dengan sangat jelas. Namun, aku tidak berani menatap wajah manisnya itu. Bahkan, aku sengaja melihat ke arah air yang mengenang luas itu. “Hah?! Kamu udah gila apa?!” Dia mengatakannya dengan memukul punggungku dengan sangat kencang. Aku tahu dia hanya meluapkan kekesalan dari ucapanku itu. Tapi tetap saja, pukulannya itu terasa sangat sakit. Aku terus mengusap-usap tempat yang terasa sakit. Aku tidak menyangka, Viona akan berani melakukannya. Namun dengan begitu, aku jadi tahu. Bahwa semua yang aku pikirkan tentang perempuan ini salah. Apa yang aku pikirkan tentang perempuan yang lain itu pun, juga sama? “Maaf... maaf. Sakit ya?” Viona pun langsung merasa bersalah, karena perbuatannya itu. “Enggak. Enggak papa.” Aku yang merasa sudah salah paham akan dirinya, sangat pantas mendapatkan hal seperti ini. “Kamu juga sih. Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu?” perempuan mungil dengan lesung pipinya itu pun langsung mengatakan apa yang menyebabkan dia melakukan hal itu. “Iya... aku minta maaf,” kataku sembari menunduk malu. Aku sendiri tidak paham dengan diriku. Bagaimana bisa, pikiran seperti itu muncul di benakku. Aku sendiri juga merasa malu dengan kesalahpahaman yang muncul di diriku ini. “Huuufff... sudahlah. Mungkin aku juga yang salah. Aku yang enggak jelas mengatakannya. Sepertinya, kata beresiko itu memang luas maknanya,” lanjut Viona. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman. Ternyata, perempuan yang di depanku ini memang berhati luas. Dia juga tidak berpikiran sempit tentang yang sudah aku tuduhkan kepada dirinya. “Ya sudah. Aku akan mengikuti apa kemauanmu,” kata perempuan itu setelah berkali-kali membuang napas beratnya itu. “Hah? Apa?!” Aku yang terkejut, mendadak lupa dengan apa yang sudah aku minta. “Lah, katanya kamu mau jadi perempuannya Bos Andrew malam ini?” Viona mengingatkannya kembali. “Oh iya, aku lupa.”  “Jadi... kamu serius enggak nih. Soalnya, pekerjaanku juga jadi taruhannya di sini,” lanjut Viona. “Iya. Aku serius.” Aku sudah membuang semua keraguan yang ada pada diriku. “Ya sudah. Kalau memang iya. Kamu harus segera siap-siap,” kata perempuan itu lagi. “Hah?!”  “Kamu enggak akan mungkin, muncul di tempat itu dengan penampilan seperti ini.” Viona memperhatikan diriku dari atas sampai bawah. Aku sendiri tidak paham dengan yang dipikirkan perempuan ini. Memangnya, apa yang salah dengan diriku. Aku tidak terlihat dekil dan memalukan. Aku hanya perlu mandi saja sebelum bertemu dengan laki-laki itu. Selebihnya, penampilanku ini terlihat biasa saja. “Sudahlah. Enggak usah banyak berpikir. Kita harus ke salon segera. Waktunya enggak akan cukup,” lanjutnya sambil menarik tanganku. Dia berlari dengan sangat cepat. Bagaimana pun, tempat mobil kami di parkirkan memang lumayan jauh dari tempat kami sekarang. Viona yang tadi terlihat ragu dengan keputusanku, kini malah terlihat sangat semangat untuk menjadikan aku perempuan semalamnya bosnya itu. Bagaimana ini? ***  Ternyata, waktu di salon itu memang sangat lama. Sudah dua jam lebih, aku dirubah oleh para tangan ahli ini. Entah dari mana, Viona mendapatkan uang sebanyak ini. Bahkan, gaun mewah yang aku kenalan ini terlihat sangat mahal. Untuk seorang karyawan biasa, mana mungkin Viona bisa membeli semua benda yang melekat di tubuhku saat ini. “Kamu yakin, aku harus menggunakan ini semua?” tanyaku sambil memperhatikan semua yang ada di diriku ini. “Memangnya kenapa? Kamu cantik kok,” jawabnya dengan sangat jujur. “Bukan itu....” “Lalu, apa?” “Mmmmm... ini terlalu berlebihan. Ini... terlihat sangat mahal.” Aku sangat tidak nyaman berada dalam balutan busana yang sangat mewah dan glamor ini. Aku sendiri yang melihat pantulan wajahku di cermin, tidak percaya bahwa itu diriku. Aku belum pernah berpenampilan dengan sangat anggun seperti ini. Bahkan riasan yang ada di wajahku ini, membuat diriku terlihat seperti orang lain. Aku masih tidak percaya dengan yang aku lihat ini. “Kamu tenang aja. Tugas aku hanya membuat semua perempuan yang diminta oleh bos Andrew itu terlihat cantik dan menawan. Kamu enggak usah mikirin mahal atau tidaknya. Semua udah ada yang bayar kok,” kata Viona menunjukkan kartu premium yang ada di tangannya itu. “Jadi, Andrew yang bayar semuanya?” tanyaku untuk memastikan. “Ya, trus siapa lagi?” Viona malah balik menjawab sesuatu yang sudah pasti itu. “Mmmm... dia pasti melakukan semua ini pada perempuan yang kamu cariin?” Aku membayangkan sudah berapa banyak uang yang sudah dia habiskan untuk tiap malamnya. “Ya, begitulah. Bos kan kaya. Kamu tenang aja,” jawab Viona dengan sangat santainya. “Tapi, tetap saja. Ini sangat boros,” kataku lagi. “Ya, mau bagaimana lagi. Demi kepuasan si bos, dia bisa melakukan apa pun juga,” lanjut Viona. Kepuasan? Kepuasan yang seperti apa yang diinginkan oleh Andrew. Apa dia tahu, apa yang sudah dia lakukan ini salah? Apa yang sebenarnya dia inginkan dari semua ini? Pikiranku pun semakin membayangkan hal yang jauh. Aku semakin merasa, Andrew yang sekarang bukanlah laki-laki yang pernah aku kenal dulu.  Atau, aku sendiri yang sudah salah menilai orang. Mungkin saja, memang inilah sifat asli dari laki-laki itu. Bisa saja, memang seperti ini sikap dia setiap malamnya. Bukan hanya di sini, bisa saja selama dia di Indonesia pun, dia memang suka melakukan hal seperti ini. Apa aku memang sudah melakukan kesalahan yang lainnya? Apa memang seharusnya aku tidak perlu mengejarnya ke tempat ini? Atau memang sebenarnya, laki-laki ini bukanlah yang tepat untukku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD