Bab 11

1164 Words
“Jadi selama ini kamu mengalami amnesia?” ujar David setelah mendengar penjelasan yang diberikan Freya kepadanya. Sekarang dia mengerti mengapa Freya tidak mengenalinya dan memandang dirinya dengan tatapan asing selama ini. Freya mengangguk. Setelah kecelakaan yang sempat dialaminya dulu membuat Freya kehilangan sebagian ingatannya. Dan itu adalah ingatannya akan David. Seluruh ingatan akan pria itu menghilang dari kepalanya. Tergantikan dengan mimpi akan wajah David yang tampak tidak jelas setiap malamnya. “Syukurlah sekarang kamu sudah pulih,” lanjut David lega. “Ya. Terima kasih kepada Kak David yang telah membuatku mengingat semuanya lagi,” kata Freya diiringi senyum tipis di bibirnya. Entah mengapa meski telah mengingat semuanya, ia tampak tidak bahagia. Apa hal ini dikarenakan status David yang telah menikah ataukah karena sudah tak ada kesempatan bagi mereka untuk bersama meski mereka telah bertemu kembali? “Mengapa kamu tampak sedih? Tidak senangkah kamu sudah bertemu denganku lagi?” Freya menggelengkan kepalanya. Ingatannya melayang pada saat pria itu menolongnya di kafe siang itu. “Aku senang. Bahkan sekarang aku mengerti alasan mengapa Kak David menolongku saat itu.” “Ya, aku tidak tega melihatmu dimarahi oleh orang lain seperti itu. Karena hanya aku yang berhak memarahimu,” jelas David yang berhasil membuat Freya tertawa kecil. “Ya, karena bagaimana pun Kak David adalah atasanku,” ralat Freya. David tidak menjawab. Dia hanya tersenyum dengan pandangan mata menatap Freya di dalam kegelapan malam. Menikmati tawa Freya yang sudah lama ia rindukan. Senang rasanya bisa kembali bersama seperti dulu. “Sudah malam, ayo aku antar pulang,” ujar David yang kembali menyalakan mesin mobilnya disusul anggukan setuju dari Freya yang duduk di sisinya. Hatinya sangat bahagia bisa bertemu dengan kakaknya. Kakak sekaligus pria yang pernah dicintainya. Meski bahagia, di sisi lain ada kesedihan yang sekaligus menyelimuti hatinya. David telah menikah. Jadi, bukankah itu artinya tak ada kesempatan bagi mereka untuk bisa kembali bersama. Lalu untuk apakah pertemuan ini? Apa tujuan Tuhan mempertemukan mereka kembali? *** Setelah pengakuan yang terlontar dari bibir David, pertemuan mereka berlanjut dengan pertemuan selanjutnya pada saat jam makan siang atau ketika jam kerja telah berakhir. Tentu saja Freya merasa senang karena kebersamaan mereka. Karena bagaimanapun hatinya masih diisi oleh pria itu. Meski begitu Freya sadar diri dengan status David saat ini. Pria itu telah menikah yang artinya David bukanlah miliknya lagi. Hal inilah yang membuat Freya berusaha untuk menjaga jarak dengan David. “Ada apa? Apa makanannya kurang enak?” tanya David ketika dia melihat Freya tidak kunjung mencicipi makan malamnya. Padahal mereka sudah mengunjungi restoran favorit perempuan itu. Freya menggelangkan kepalanya sembari tersenyum tipis. “Kalau begitu ada apa? Kamu tahukan kalau kamu bisa membicarakannya denganku?” bujuk David. Kali ini Freya menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa.” “Mengapa?” tanya David bingung. Tiga belas tahun berlalu rasanya David sudah tidak mengenali Freya lagi. Banyak perubahan yang ditemukannya di dalam diri Freya. Seperti saat ini. Freya dewasa ini seakan sudah tidak membutuhkan dirinya untuk meminta pertolongan. Dia terlalu mandiri. Hal inilah yang membuat hati David sedikit kecewa. “Karena masalah ini berhubungan dengan Kak David.” Freya tersenyum pahit.  Kening David menyatu. “Kalau begitu beritahu aku? Dua kepala lebih baik daripada sendiri bukan?” “Rasanya tidak baik jika kita bertemu seperti ini lagi.” “Mengapa?” “Karena Kak David sudah menikah dan Kak David tahu dengan baik bagaimana perasaanku kepadamu!” David terenyak. Ia tidak menyangka jika Freya akan membahas masalah ini secepat ini. Padahal baru satu bulan ini mereka kembali dekat. Bernostalgia bersama tentang masa lalu mereka. Namun, siapa sangka jika Freya yang tampak senang ternyata tidak nyaman dengan statusnya dan David dapat mengerti. “Aku mengerti.” “Kalau Kak David mengerti, seharusnya sejak awal Kak David tidak melakukan ini kepadaku. Kenyataan bahwa meski Kak David ada di dekatku tapi tidak akan pernah menjadi milikku telah membuat hati ini sakit. Sangat sakit sampai aku tidak kuat lagi bertemu dengan Kak David,” jelas Freya sambil menahan rasa sakit di dalam dadanya. “Jangan berkata seperti itu, Freya,” pinta David. “Itu adalah kebenaran yang harus aku terima,” balas Freya pahit. David tidak menjawab. Dia terdiam dengan pikirannya sendiri. “Baiklah jika itu maumu. Mulai besok aku akan menjaga jarak denganmu.” Di tempat duduknya Freya tidak menyangka jika David akan secepat itu mengambil keputusan. Meski menyakitkan jika ini adalah pilihan terbaik yang mereka miliki untuk menghindari rasa sakit, mengapa tidak? Sejak hari itu David berusaha menghindari Freya seperti sebelumnya. Sampai pernah tiga hari Freya tidak bertemu dengan David sama sekali. Ia hanya mendengar info atasannya itu dari bibir Nea jika David sedang sibuk mengecek pabrik yang berada di Karawang sehingga pria itu tidak mengunjungi kantor. Freya yang mendengar berita itu memilih untuk diam. “Ada apa? Kayaknya udah berapa hari ini nggak semangat banget? Lo sakit?” tanya Nea khawatir. Freya menggeleng pelan. Saat itu jam makan siang dan mereka memilih restoran Korea yang berada di gang sebelah kantor untuk menjadi menu pilihan. “  “Gue nggak apa-apa,” jawab Freya singkat. “Lo tahu kan kalau lo bisa cerita apapun sama gue,” kata Nea mengingatkan. Ia sedikit prihatin dengan kondisi Freya kali ini. Pucat dan tampak tidak bersemangat. Seperti ada sesuatu yang ia pikirkan selama beberapa hari terakhir ini. “Thank’s Nea. Lo emang bestfriend gue. Tapi bener nggak ada apa-apa,” dustanya. Freya berpikir jika masalah dirinya dengan David bukanlah masalah yang bisa dia umbar kepada siapapun, termasuk Nea meski dia adalah teman terdekatnya di kantor ini. “Okay kalau lo bilang begitu. Tapi inget ya, gue selalu ada buat dengerin cerita lo. Dan selama gue bisa bantu, gue akan bantu lo,” kata Nea yang disambut Freya dengan anggukan dan rasa terima kasih. Selesai makan dengan Freya yang hanya memakan makanannya beberapa suap saja, mereka berjalan beriringan menuju kantor. Sesampainya di lobby siapa sangka jika siang itu ia harus bertemu dengan David yang baru saja turun dari mobilnya. Bisa dikatakan jika ini adalah pertemuan pertama mereka setelah makan malam itu. Tanpa diduga pandangan mata mereka bertemu dan dengan cepat Freya memberi salam bersamaan dengan Nea sebelum membuang wajahnya. Kemudian mengajak Nea untuk segera pergi dari situ. “Kenapa sih lo nggak bisa kasih gue kesempatan buat gue lihat muka direktur kita yang tampan?” omel Nea ketika mereka sudah sampai di depan lift. Meninggalkan David di belakang. Di tempatnya berdiri Freya berdiri dengan napas memburu. Jantungnya berdetak tidak beraturan dan dadanya terasa sesak. Kepalanya terasa pusing sampai Nea yang masih nyerocos perlahan mulai tidak terdengar lagi karena kesadarannya mulai menghilang. “Gue kan kangen lihat wajah Bos kita setelah beberapa hari nggak lihat. Memangnya lo nggak ngerasain hal yang sama kayak gue…Freya!” pekik Nea ketika melihat Freya jatuh dan sudah tidak sadarkan diri di lantai. Saat itulah seseorang menghampirinya dan mengangkat tubuh Freya ke dalam pelukannya dan membawa Freya tanpa memedulikan beberapa pasang mata tertuju ke arahnya. Karena saat itu yang ada di dalam pikirannya adalah Freya. Tak ada yang lain. ***          
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD