Bukankah, yang ringan itu karena berkat kerjasama. Kerjasama bisa mempererat hubungan.
Sore hari Demian pulang dari kerja, namun saat ia mengucapkan uluk salam tak mendapat jawaban. Demian langsung bergegas mencari istrinya yang ternyata sedang memasak.
Demian tersenyum, ia segera menuju ke kamar mandi yang terdapat dengan satu ruangan dengan dapur. Setelah itu, ia menghampiri Mayyada dengan bibir yang masih berbentuk simetri.
"Assalamu'alaikum, May."
"Wa’alaikumussalam," Mayyada menjawab salam dengan sedikit memekik karena ia terkejut.
"Kak Demian!" geram Mayyada membuat Demian malah terkekeh.
"Apa, Sayang?" sahut Demian, sementara Mayyada mendengkus.
"Usil banget sama isteri sendiri, kaget tau!?" omel Mayyada.
"Aku tadi udah salam tapi nggak dijawab nggak taunya lagi masak, mau dibantuin?"
Demian menatap Mayyada lalu beralih ke arah wajan yang berisi tahu. Digoreng. Tak mendapat tanggapan Mayyada, Demian langsung turun tangan untuk membantu.
"Nggak usah, ‘kan pulang kerja. Pasti capek," tutur Mayyada seraya membalikkan tahunya.
Demian tak mengindahkan penuturan Mayyada, kini ia beralih pada bumbu—berniat mengupas bawang. Karena ia melihat ada kangkung yang telah dipetik. Instingnya berkata bahwa Mayyada akan memasak tumis kangkung.
Mayyada yang melihat itu malah melarangnya. "Kak, mau ngapain? Mending istirahat aja."
"Kok bawel, ya?" sahut Demian.
Mayyada pun pasrah dan membiarkan Demian membantunya memasak. Suami yang pengertian sekali, memang.
"Bumbunya diiris apa diuleg?" tanya Demian begitu ia selesai mengupas bawang, membersihkan cabai dan bahkan sudah ia cuci sekalian.
"Diiris aja." Demian mengangguk.
Setelah selesai, Demian menyiapkan wajan dan memanaskan minyak. Kemudian memasukkan para bawang dan memasaknya hingga harum. Baru setelah itu memasukkan cabai dan laos yang sudah digeprek. Bumbu matang, kangkungnya ia masukkan dan mengaduknya—ditambahi sedikit air. Menunggunya hingga layu—matang. Langkah terakhir memberikannya garam dan kecap. Selesai.
Mayyada memandang takjub saat suaminya dengan lincah untuk memasak. Ia saja kalah, ck.
Demian mengambil sendok mengambil sedikit kuah dan mencicipinya. Lalu mengambil lagi dan membaginya pada Mayyada. "Kurang apa?"
Terdiam sejenak lalu Mayyada mengangguk. "Enak, udah pas."
Setelah semua usai, masakannya diletakkan ke dalam wadah dan mencuci para perabotan yang dipakainya. Pekerjaan memasak selesai.
"Aku mandi dulu, nanti kita salat berjamaah, ya."
Mayyada mengangguk saja dan sebelum Demian berlalu, ia menyempatkan untuk mencium pipi Mayyada. "Istrinya Demian."
Hal manis itu membuat Mayyada tersenyum. Demian adalah kebahagiaannya.
***
Hari ini adalah tanggal kelahiran Demian, Mayyada ingin memberikan kejutan sekarang. Tapi niatnya terurung, sebab Demian akan pergi untuk pertemuan dengan teman-temannya.
Begitu selesai sarapan Demian langsung berpamitan pada Mayyada. "Aku mau pergi dulu."
Pernyataan itu membuat Mayyada mengerutkan dahinya. "Mau kemana?" tanyanya.
Demian tersenyum. "Ada janji temu sama temen, nggak sampe sore, kok."
Bukankah ini hari Ahad, hari libur. Sepenting apakah pertemuan itu hingga membahasanya di hari libur seperti ini.
Mayyada tak menanggapinya, ia memilih diam. Dan diamnya itu membuat Demian menyunggingkan senyuman. "Aku berangkat dulu, ya."
Mayyada mengangguk lemah, lalu mencium punggung tangan Demian. "Hati-hati, Kak."
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Kepergian Demian membawa sepi, di saat weekend seperti ini Demian memilih ketemuan dengan temannya dibanding menemani istri di rumah. Sementara Mayyada, ia tak memiliki minat untuk keluar rumah. Alhasil, seperti biasa—mengurus rumah tangga.
Ia mengambil ponselnya yang ada di meja lalu menyalakan musik dan mulai bekerja. Berawal dari cuci piring kotor, cuci baju hingga menjemurnya, lalu menyapu, mengepel dan terakhir memasak. Selesai.
Mayyada menghalau semua pikiran buruk dan perasaan sedihnya dengan melakukan kegiatan. Setelah semua selesai, ia menatap dinding yang ada di dapur menunjukkan pukul 09.49.
Lelah, tentu saja. Tapi Mayyada sudah memperkerjakannya selama ia menjadi istrinya Demian. Untung saja, rumah yang di kontraknya tidak terlalu besar. Jadi, tidak memakan banyak tenaga.
Mayyada pun memutuskan untuk mandi dan salat dhuha. Setelah itu menonton film yang terdapat di laptopnya. Jangan heran, Mayyada ini sering up to date jika menyangkut masalah perfilman. Dari kartun, drama yang menye-menye dan action. Mayyada punya.
Sebelumnya ia mematikan musik yang mengalun dari ponselnya. Lalu mengambil camilan dan setelah itu menikmati gambar yang terdapat dari layar 14 inch itu.
***
Pukul satu siang Mayyada menjalankan salat dzuhur, sebelumnya ia membersihkan diri agar terlihat lebih segar.
Jam segini tak ada kabar dari suaminya, membuat Mayyada menimbang-nimbang. Apakah ia harus menghubunginya? Takutnya masih sibuk, tapi ini sudah memasuki waktu dzuhur.
Akhirnya Mayyada pun memutuskan untuk menelponnya. Begitu tersambung, Mayyada mendengar sapaan dari Demian.
"Assalamu'alaikum, Mayyada."
"Wa’alaikumussalam."
"Ada apa?"
"Aku sakit, Kak Demi bisa pulang sekarang?" Mayyada berucap begitu saja. Lalu ia menggigit bibirnya, takut dengan respons Demian. Mengabaikannya atau mengkhawatirkannya. Dan ternyata..
"Aku pulang!"
Langsung terputus sambungan tersebut dan Mayyada tersenyum cekikikan. Lalu ia segera berbaring di kasur dan menunggu suaminya pulang.
Sebelumnya Mayyada menyiapkan semuanya; kejutan untuk Demian. Setelah itu baru menutupi tubuhnya dengan selimut.
Tiga puluh menit kemudian....
BRAKk!
Demian tiba dengan wajah penuh kekhawatiran, tangannya langsung menyentuh dahi Mayyada. "Sayang." ia duduk di pinggir ranjang.
Mayyada yang pura-pura tidur itu membuka matanya dan tersenyum lebih tepatnya menahan tawa.
"Katanya sakit?" Mayyada masih tersenyum.
"Kok, malah senyum?"
Mayyada pun melepas tawanya. "Aku mau kasih kamu kejutan?"
Pernyataan Mayyada membuat Demian bingung apalagi ditambah tawa Mayyada. Sakit apa yang bisa membuat tertawa seperti ini.
"Maksud kamu?"
"Aku cuma pura-pura sakit, biar kamu pulang."
Wajah Demian langsung berubah drastis, warnanya merah. "Aku itu kerja, May. Bukan nongkrong!" sentak Demian membuat Mayyada menunduk takut.
Selama perjalanan Demian tak berhenti mengumpat karena tak bisa menyalip kendaraan lain. Setengah jam, ia berusaha tiba di rumah dengan cepat.
Namun begitu tiba di rumah Mayyada hanya berbohong saja dan.... hei. Kejutan katanya. Kejutan yang absurd, seperti tak ada hal lain saja untuk memberinya kejutan. Kenapa harus berpura-pura sakit
"Dan kenapa kamu berpura-pura sakit? Memangnya kamu mau sakit? Ya Allah, Mayyada!" Demian menggeram kesal menghadapi Mayyada bahkan berkali-kali ia menghela napasnya.
Mayyada menangis dimarahi Demian seperti itu. Ia hanya membutuhkan waktu berdua. Itu saja. Apalagi ini weekend. Harusnya tak lagi membahas pekerjaan tapi keluarga yang butuh diperhatikan.
"Ya udah, kamu balik aja. Nggak usah ngurusin kita." Mayyada pun beranjak pergi dan meninggalkan Demian menuju kamar lain.
Demian bingung dengan ucapan Mayyada yang terakhir, kita. Namun ia hanya mampu menggelengkan kepala saja.
Mayyada menangis disana. Tadi ia pura-pura sakit dan sekarang telah terwujud. Sakit hati. Karena dibentak oleh Demian. Hingga Mayyada lelah menangis dan kemudian terlelap dengan berbaring di karpet tebal yang digelar disana.
Sementara Demian, ia pun memutuskan untuk mengganti pakaian. Sebab kembali ke tempat pertemuan pun tak memungkinkannya.
Begitu selesai dengan pakaian santainya, Demian tak sengaja menemukan hal asing di meja rias. Ada buku kehamilan, tespeck dan surat yang berlogo rumah sakit. Saat Demian membuka amplop itu, ia menemukan tulisan yang mampu membuat hatinya mencelos.
HABEDE, bapak dosen. Barakallah fii umrik, sayang.
Selamat anda berhasil jadi bapak dari anakku. Love you.
Istrimu, Mayyada Cantika.
Demian langsung meletakkan kembali kertas itu di meja, lalu mencari keberadaan Mayyada. Berawal di ruang tamu, dapur dan kamar lain. Saat memutar knop, Demian bersyukur sebab tak dikunci.
Begitu melihat Mayyada tertidur disana membuat Demian segera memindahkannya ke kamar mereka. Lalu Demian ikut membaringkan diri di samping Mayyada. Memeluknya.
"Maafin aku," bisik Demian. Lalu tangannya beralih pada perut Mayyada, mengusapnya lembut.
"Sehat terus, ya, Nak."
Menurut Demian ini bukan kejutan, melainkan anugerah Tuhan. Spesial.