Ditempat berbeda, seorang pria tenga bersiap pulang usai menyelesaikan kelasnya beberapa jam lalu, Kesibukannya sebagai tenaga pengajar membuat harinya tidak terlalu padat seperti pekerja kantoran lainnya, selain itu Alfasya lebih menyukai dunia akademisi dibanding pekerjaan lainnya.
“Pulang pak Al?” dengan tersenyum ramah khas keturuna Baskra, Al menganggukkan kepalnya, menarik tas ransel miliknya.
“Mengenai penelitian yang minggu lalu bapak bahas, saya boleh pinjam jurnalnya? Kebetulan salah satu mahasiswa saya memiliki kemiripan mengenai kasus yang sedang bapak teliti.” Langkah Al terhenti ketika salah satu dosen wanita muda mencegah langkahnya.
“Boleh, nanti saya kirim melalui email saja, kalau gitu saya pulang dulu,” tukas Al menarik halus tangannya dari genggaman perempuan itu, tanpa perlu diberi tahu sekalipun Al bisa menebak dosen tersebut sedang berusaha mendekatinya.
“Pak Al, sebentar.”
“Iya bu Nia ada apa?”
“Ibu saya datang dari Bintan, beliau membawakan saya beberapa makanan, beliau juga menitipkan untuk beberapa rekan saya, sekiranya bapak mau menerima oleh-oleh dari ibu.” Setengah memaksakan untuk tersenyum Al menerima paperbag tersebut.
“Sampaikan rasa terima kasih saya pada ibunya bu Nia.” Setelah mengatakan hal tersebut, Al bergegas keluar tanpa mengatakan apapun lagi.
Setelah melakukan finger print, Al melanjutkan langkahnya menuju parkiran tempat mobilnya terparkir. Laki-laki itu mengemudikan mobilnya dengan santai menuju salah satu pusat perbelanjaan bertemu dengan sepupu wanitanya yang sedari tadi sudah membanjiri chat dan panggilannya.
“Tidak jadi pulang?” tanya Al menarik ice cream milik perempuan imut yang sedang cemberut karena tak ada satupun pesan ataupun panggilan yang ia balas.
“Lama banget, aku udah jamuran nungguin kamu dari tadi mas.”
“Maaf, aku baru balik dari lokasi penelitan, setelah itu menemui mahasiswa ku yang sedang bimbingan skripsi, makanya baru bisa temuin kamu dek. Jadinya mau aku temani keliling lagi atau pulang sekarang?”
“Pulang aja, betis aku udah pegel berdiri mulu.” Al mengacak pelan rambut adik sepupunya yang berusia sepantaran dengan adik bungsunya.
“Yah udah kalau gitu kita pulang sekarang sekalian lihat apartemen yang aku maksud,” ajak Al berusaha mengajak berkomunikasi sang adik yang tampak kesal.
“Nggak usah ngambek nggak ada imutnya di mata aku, yang ada keriput kamu makin nambah.”
“Mas Al!!” mendengar teriakan sang adik membuat Al terkekeh pelan.
“Aku bercanda, udah yuk langsung jalan keburu malam, besok aku temani jalan.” Al tersenyum tipis melihat perubahan mood adiknya yang mudah sekali berubah.
“Mas, ini punya kamu? Imut banget pink gini.” Al menoleh sekilas melihat paperbag yang tadinya diberi oleh bu Nia.
“Oh itu dari temen mas, kalau kamu mau ambil aja.”
“Nggak lah, ini buat kamu pasti dari perempuan kan?”
“Hmm, buat kamu saja, kan kamu suka nyemil. aku kalau di apart nggak sempat makan yang ada kebuang.”
“Bilang aja kamunya nggak suka sama perempuan yang ngasih mas, aku mah udah hapal sama kelakuan kamu dari dulu.” Tak ada komentar dari Al, karena memang itulah salah satu alasannya.
***
“Iya pah, besok Al mampir ke kantor setelah absen di kampus, kebetulan besok Al nggak ada jadwal ngajar karena udah selesai minggu ini, yuk papa juga istirahat.” Baru saja Al mematikan ponselnya, dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi kemudi. tiba-tiba pintu mobilnya dibuka seorang wanita dengan aroma alkohol yang sangat kuat.
“Maaf mbak saya bukan.” Al terdiam ketika perempuan yang entah siapa namanya tu melempar wajahnya dengan uang seratus ribuan.
“Mbak, mobil saya bukan taksi.” Al membuang napas pelan merasa bingung harus melakukan apa pada perempuan aneh yang tiba-tiba masuk ke dalam mobilnya dan tertidur seenaknya.
Setelah menimbang cukup lama, Al melajukan mobilnya menuju alamat yang perempuan itu ucap, hitung-hitung searah dengan apartemennya yang juga berada di sekitaran jalan sudirman.
“Kita sudah sampai di jalan Pepaya, kau tinggal di mananya?” tanya Al mencoba menyadarkan perempuan yang tenga tertidur itu menggunakan ujung botol minuman milik sepupunya.
“Sudah sampai?” dengan sempoyongan perempuan aneh itu keluar dari mobilnya dan berjalan entah kemana dengan kondisi yang masih dibawah pengaruh alkohol, sayangya Al bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang lain dan menurutnya itu bukan lah urusannya bila perempuan itu hendak kemanapun, itu bukan urusannya.
Saat hendak memutar mobilnya, netra Al menangkap dua orang laki-laki yang sedang berusaha mendekati perempuan aneh itu, setelah berkutat dengan pikirannya sendiri, akhirnya Al lagi-lagi melawan prinsipnya sendiri untuk tidak ikut campur dengan masalah orang lain.
“Maaf tapi perempuan ini milik saya,” ujar Al berusaha menarik perempuan itu yang tampak risih.
“Nggak bisa gitu, kita-kita duluan yang nemuin dia. Kalau mau juga antri bos.” Setelah menghela napas pelan, Al merogoh sakunya mengeluarkan tiga lembar uang lima puluh ribu pada kedua pria yang tampak masih sangat muda.
Setelah kedunya pergi dari sana, Al cukup kebingungan harus membawa kemana perempuan ini.
***
Lagi-lagi Alfasya keluar dari prinsipnya hanya demi seorang wanita yang entah dari mana, bahkan sebelumnya tidak pernah ia temui sekalipun, tapi sudah menyusahkan dirinya sedemikian banyak. Sudah membuang waktu berharganya, sekarang dengan terpaksa Al membawa perempuan itu ke salah satu kediamannya yang menurutnya paling aman dari yang lain.
“Gerah. Gerah banget.” Al kelimpungan ketika melihat perempuan aneh itu membuka bajunya sendiri dan mengeluh kepanasan, prkatis Al menahan perempuan itu untuk tidak melanjutkan kegiatannya.
“Apa kau bodoh heh? Percuma berbicara dengan orang tidak waras seperti kau.” Mata Al membulat ketika dengan kurang ajarnya perempuan itu justru memeluknya dengan kondisi seperti itu. tak sampai di situ, dengan lancangnya perempuan itu mencium bibirnya.
Al adalah laki-laki normal sangat normal yang tidak mungkin bisa biasa saja dalam kondisi seperti ini, hanya saja otaknya masih bisa berjalan untuk mengetahui kalau perempuan itu tidak dalam kondisi sadar dan sepertinya perempuan itu sedang dikerjai oleh seseorang, Al bukan tipe orang yang mau memanfaatkan orang lain dalam keadaan lemah.
“Owh shit.” Al benar-benar tidak percaya dengan perempuan yang di hadapannya saat ini yang membuatnya kewalahan. Sangat terlihat jelas gairah terpendam yang perempuan itu coba salurkan dengan terus-menerus menghujam dirinya dengan ciuman serta elusan diarea yang cukup sensitive untuknya, Al menangkap raut tersiksa dari perempuan itu, entah apa yang terjadi jika ia membiarkan perempuan itu tadi dijalanan.
Setelah mencoba bertahan, Al mulai terpancing dengan yang dilakukan perempuan itu padanya, jika sedari tadi Al hanya mencoba bertahan dan menghidndar, tapi kali ini dialah yang mencoba memimpin, mengambil alih dengan menarik tengkuk perempuan itu mencecapnya lebih dalam dan tidak membiarkan perempuan itu kesempatan untuk sekedar bernapas hingga ciuman terputus ketika perempuan itu mendorong tubuhnya dan menumpahkan cairan hangat muntah ke kemeja miliknya.
“s**t!” entah berapa banyak lagi u*****n yang keluar dari mulutnya, usai memancing sesuatu yang tertidur dalam tubuhnya, lalu dengan mudahnya perempuan itu memporak-porandakan hasrat tersebut.
***
Wajah Alfasya memerah melihat Agas tertawa renyah ketika mendapati dalaman perempuan, sepertinya perempuan itu melupakan membawa tanktopnya, padahal sebelumnya sudah ia peringatkan untuk tidak meninggalkan apapun.
“Wah, sejak kapan pak dosen tersuci kita berani bawa cewe ke rumahnya? Mahasiswi mana nih yang berhasil luluhin dosen kaku modelan lu? Jadi ceritnya kelar bimbingan skripsi berlanjut bimbingan plus-plus.”
“Itu milik sepupu ku, sepertinya perempuan itu melupakannya ketika menginap. Jadi lebih baik tuh mulut sama otak dicuci biar bersih tidak jorok melulu.” Meski menjawab dengan datar seperti biasanya, namun tidak dengan hatinya yang ingin mengumpat atas keteledoran perempuan itu.
“Tuh muka nggak bisa bohongin gue Al, lagian itu urusan lo kali, santai aja semisal lu emang udah nggak perjaka.” Al tak menanggapi ucapan Agas dan melanjutkan membarikan materi yang ia pinta untuk laki-laki itu kerjakan.