Maira benar-benar betah menemani Renjuna di stand acara MTQ, sampai malam tiba. Dia tidak selalu mengekori Renjuna memang, tapi dia menanti Renjuna selesai baru Maira akan kembali.
Waktu menunjukkan pukul sebelas malam. Mereka pulang begitu larut dari setelah isya sampai sekarang, bahkan Umi dan Abah sepertinya sudah beristirahat lebih dulu.
Kruyuk ...
Maira menoleh ke arah Renjuna, pria itu tampak santai dan berlaku seperti tidak pernah mendengar sesuatu, padahal Maira sangat yakin kalau suara tersebut berasal dari perut Renjuna.
Soalnya Maira tadi sempat jajan juga di arena. Mengingat banyaknya pedagang keliling, yang belum pernah Maira lihat sebelumnya.
"Kamu laper?"
Renjuna menjawabnya dengan anggukan, tanpa mengelak dari Maira tentang suara perutnya.
"Kalau gitu makan dulu, baru tidur."
"Aku punya riwayat penyakit maag sebelumnya, itu karena sering telat makan. Kamu jangan sampai, kayanya Umi ada masak."
"Kamu tenang aja, aku bisa kok makan nanti."
"Ck, di bilangin juga."
"Udah terima aja, kamu tinggal duduk biar aku yang siapin."
Renjuna tidak membalas apapun selain menganggukkan kepalanya. Duduk menanti Maira datang membawakannya makanan yang akan dia makan.
Maira melihat ada beberapa sisa lauk yang tidak habis seperti sop dan juga tempe goreng. Ada sambal terasi juga sih, mana bikin ngiler, Maira mengambil dua piring kemudian menaruh dua sendok nasi diatasnya.
"Kenapa dua?" Tanya Renjuna.
"Kelihatannya enak, aku mau goreng telur juga jadi penambah. Mau gak?"
"Boleh, tapi saya lebih suka kalau diacak telurnya."
Maira menganggukkan kepalanya setuju, lagipula dia sepertinya punya selera yang sama dengan Renjuna, dimana dia dan Renjuna sama-sama menyukai telur dadar.
Setelah selesai Maira membawanya ke meja makan. Mereka berdua makan dengan sangat tenang. Apalagi Renjuna yang makan dengan pelan dan terlihat mengunyah lama makanannya, padahal posisinya Renjuna sedang lapar.
"Sebenarnya aku mau ngajak kamu bahas sesuatu, tapi gak dulu untuk hari ini."
"Ustt," ujar Renjuna.
Dia seakan mengatakan pada Maira untuk tidak berbicara ketika makan. Maira jadi salah tingkah sendiri karena ditegur Renjuna.
Setelah selesai menikmati makanan, Renjuna langsung mengambil piring bekas Maira dan mencucinya langsung di wastafel.
Maira tidak masalah kalau Renjuna mau membantunya mencuci piring. Tidak lama setelah itu handphone Maira yang berlogo apel bergetar.
Ketika Maira mengeceknya, ternyata ada panggilan masuk dari Papa tercinta. Maira mengajak Renjuna untuk duduk di ruang tengah.
"Ada apa?" Tanya Renjuna.
"Papa ngajak video call, waktu itu dia pernah bilang kalau dia video call, harus ajak kamu."
Renjuna menganggukkan kepalanya setuju, setelah Maira menekan tombol berwarna hijau, dia bisa melihat di layar sekarang Papanya terlihat sedang berada di perusahaan.
"Assalamu'alaikum, Papa," sapa Renjuna dengan sopan dan mengucapkan salam.
"Waalaikumussalam, akhirnya diajak juga sama Maira. Papa dari kemarin pengen ajak Renjuna untuk video call bareng."
"Ih si Papa, giliran sama Renjuna aja berubah nada bicaranya."
Maira protes keras karena Papanya kalau berbicara pada Maira pasti galak dan ketus, sedangkan kalau bersama Renjuna, Maira malah mendengar Papa seperti bicara pada anak kesayangan.
Renjuna menoleh dan terkekeh, kali ini dia bener-bener terkekeh sama kelakuan Maira yang mirip banget sama anak kecil.
"Gak apa-apa dong, namanya juga menantu. Udah gak usah iri, Papa cuma mau izin sama Renjuna. Kalau Papa akan tetap mengirimi Maira uang, jadi Papa minta Renjuna tidak keberatan," ujar Papa.
"Gimana Renjuna?"
Pria itu tersenyum ramah, "sebenarnya Renjuna tidak masalah, tapi uang yang Papa berikan kepada Maira, Renjuna tidak akan menyuruh Maira gunakan untuk kebutuhan rumah atau Maira. Intinya uang tersebut hanya Maira yang bisa gunakan," jelas Renjuna panjang lebar seraya memberikan jawaban atas pertanyaan Papa mertuanya.
"Bagus kalau begitu, Papa salut sama Renjuna. Sampai Papa heran sendiri, kok bisa Renjuna suka sama Maira, padahal anaknya---"
"Papa! Mah, gak usah gitu dong. Emabg Maira kurang cantik ya, kurang menarik, orang mah bangga sama anaknya. Cuma Papa aja kali yang sering tinggalin anaknya sendiri terus ngomongin yang enggak-enggak tentang anaknya," potong Maira dengan cepat dengan nada yang lebih tinggi.
Di seberang sana Papa menghela nafasnya, Renjuna menegur Maira pelan agar tidak berkata seperti itu.
"Kenapa sih?"
Renjuna menggeleng, "jangan pernah meninggikan suara kamu kepada orang tua, Allah marah sama anak yang durhaka," bisik Renjuna pelan.
Maira tertegun setelah itu cemberut, "Papa, maafin Maira tadi kelepasan."
Papa terkekeh pelan, "menikah sama Renjuna memang membuat efek yang begitu besar. Papa senang mendengarnya, apalagi sekarang Maira sudah menutup aurat, setidaknya bisa membuat Papa lebih ringan jika dihisab di akhirat kelak," ujar Papa.
Mendadak Maira mengernyitkan dahi, "Pa, papa gak lagi sakit kan?"
"Gak kok, lagi sehat banget malah. Oh iya kalian mau bulan madu kemana?"
Renjuna dan Maira saling pandang. Bingung mau menjawab pertanyaan Papa dengan apa?
***
Hujan deras mengguyur wilayah mereka. Ini hujan pertama yang menandai masuknya musim penghujan.
Suara petir dan juga rintikan hujan yang berduyun membasahi bumi, terdengar cukup mengerikan diluar. Sementara itu Renjuna belum bisa keluar, karena pasti jalanan akan becek dan kabut menutupi sekitar jalan.
"Libur dulu, lagian anak muridmu juga pasti gak bisa masuk, hujannya dari subuh begini," ucap Umi memberikan saran setelah memasakkan sarapan untuk mereka.
Tidak berselang beberapa lama Maira keluar, namun Renjuna menatapnya dengan sorot mata tajam. Setelah sadar, barulah Maira menyengir lebar dan masuk lagi ke dalam kamar.
"Istrimu kenapa masuk lagi?"
"Belum pakai jilbab."
"Oalah, sini duduk dulu. Abah lagi ngopi di ruang tamu. Umi panggil dulu."
Setelah Maira keluar dia langsung duduk di samping Renjuna. Mungkin emang moodnya Renjuna sedang tidak baik atau bagaimana, Renjuna kembali menegur Maira di meja makan.
"Lain kali jangan sampai lupa, mungkin sekarang kakak saya tidak ada, tapi besok ketika beliau pulang. Saya tidak ingin dia melihat auratmu dibalik jilbab, karena hanya saya yang boleh."
Maira langsung noleh dengan bingung, perkara dia lupa masang jilbab pas keluar kamar. Renjuna langsung marah besar?
"Lagi gak mood ya?"
"Maira saya sedang menasehati kamu," ujar Renjuna lagi.
"Ck, yaudah santai aja. Lagian kan aku tadi itu ngiranya udah kepake, taunya belum."
"Kalau dikasi tau itu menjawab terus," tambah Renjun seraya menggelengkan kepalanya pelan.
"Iya udah iya, kalau gitu maaf. Kenapa sih hari ini udah ngomel-ngomel aja," gerutu Maira.
"Nah ada apa itu?"
Umi sama Abah yang baru datang mendengar sekilas perdebatan kecil antara Renjuna dan Maira, lantas hal itu menoleh.
"Tidak ada umi, hanya perdebatan kecil saja."
"Iya umi, cuma Renjuna yang sedang sensi dan tidak bisa diganggu."
"Saya tidak sensi, kamu terus yang menjawab."
"Nahkan, ini apa namanya kalau bukan sensi?" Ujar Maira.
Umi sama Abah menggeleng pelan, mereka berdebat seperti anak kecil. Tepatnya adik kakak yang berdebat masalah sepele.
Renjuna tidak mengatakan apa-apa lagi, karena tidak ingin berdebat di depan kedua orangtuanya, sementara Maira menatap Renjuna dengan tatapan kesalnya.
Setidaknya siang sampai malam tidak ada lagi hujan, namun memang langit masih terlihat sangat mendung.
Acara MTQ masih tetap berjalan hingga sampai pada hari terakhir, dimana semua orang sedang sibuk-sibuknya, bahkan tiga hari terakhir Maira selalu ketiduran dan tidak melihat Renjuna pulang.
Maira sempat berpikir, mengira kalau Renjuna marah besar karena perdebatan kecil mereka tiga hari lalu.
Titin juga sama sibuknya, Maira jalan-jalan sendiri di sekitar pedagang dan juga warga yang memang datang untuk menyaksikan pertandingan ini.
Katanya Final tilawah malam ini, Maira juga tidak sabar untuk menontonnya. Sembari menunggu, Maira mencari minum dan jajan yang tepat.
Dari kejauhan dia melihat Renjuna sedang menyapa kedua orang paruh baya, bersama dengan Ning Ambar disebelahnya.
Maira menatapnya dengan tidak suka, entah kenapa dia merasa panas sendiri.
"Itu cewek ngapain lagi deh?" Decak Maira