Pagi yang indah. Cerah dan menyejukkan. Di mana di setiap pagi hari semua orang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing. Ada yang kerja, sekolah, kuliah, atau bahkan aktivitas lainnya. Contohnya sepeti seorang pemuda yang baru saja turun tangga dari kamarnya menuju meja makan. Hari ini pemuda tersebut sudah siap dengan baju lengkapnya untuk masuk kuliah di jam pelajaran pagi.
Dengan senyum yang tercetak di wajahnya, pemuda itu bersama, "Pagi, Pah, Mah, Dek."
"Pagi, Bang," sapa mereka kembali.
"Tahu, nggk? Arti sapaan Dek dari gue?" tanya Abraham menepuk lengan Adiknya.
"Adek, kan?" tanya Adiknya heran.
"Bukan, lah! Dek disitu, artinya pen-dek," ujar Abraham santai.
Mendengar dirinya disebut pendek, sang adik pun membela diri, "Bukan Sey yang pendek! Abang aja terlalu tinggi!" ketusnya.
Orang tua mereka hanya bisa tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. Mereka sudah tidak heran lagi melihat kedua anaknya yang selalu adu mulut sebelum makan dimulai.
"Oh, iya, Dek. Gimana kuliahnya? nggk nakal, kan, disana?" Lagi-lagi pertanyaan yang dilontarkan Abraham kepada Adik kesayangannya itu tidak masuk akal.
Seyra adalah anak kedua sekaligus anak terakhir dari sepasang suami Istri yang bernama Vino dan juga Sharma. Dia seorang wanita yang jauh dari kata feminim yang kini sedang menjalani pendidikan kuliahnya di semester satu. Usianya pun kini menginjak 19 tahun. Tiga tahun di bawah Abraham.
"Iyey. Aneh, lo, Bang. Gue, kan sekampus ama, lo. Pake tanya-tanya segala. Berangkat aja kita barengan. Aneh kali kau ni, Bang!" ketus Seyra yang sudah jengah dengan sikap Abangnya.
"Ya ... Gue, kan, hanya basa-basi aja kali nyapa lo. Emang nggk boleh, apa?" jawab Abraham yang tidak kalah ketusnya. Sedangkan Seyra hanya menjawab dengan gumaman kecil.
Kedua orang tua mereka kembali menggelengkan kepalanya sambil terkekeh kecil, karena melihat tingkah laku anaknya yang sudah dewasa namun masih seperti anak-anak.
"Sudah-sudah. Mending kita sarapan dulu, nanti kalian telat kuliahnya," sela Vino untuk menengahi adu mulut antara kakak beradik itu.
Sepuluh menit telah berlalu, kini mereka telah menyelesaikan sarapan paginya. Abraham dan Seyra pun berpamitan untuk berangkat ke kampus. Tidak lupa juga mereka mencium punggung tangan kedua orang tua mereka sebelum berangkat.
***
Selalu saja ramai. Seperti itulah setiap harinya. Abraham dan Seyra selalu menjadi pusat perhatian sedari dulu. Selain karena kecantikan dan ketampanannya, mereka juga terkenal karena kepintarannya. Bahkan, mereka juga terkenal karena penampilannya yang stylish.
Contohnya saja hari ini. Dengan penampilan Abraham yang mengenakan celana jeans, kaos polos berwarna hitam, serta kemeja kotak berwarna maroon yang sengaja dibuka kancingnya. Tidak lupa juga ia memakai kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Terkesan tampan, bukan?
Sedangkan Seyra, dia memakai jeans warna hitam, kaos polos putih, serta jaket kulit berwarna hitam, serta rambutnya yang sengaja digerai semakin menampilkan aura kecantikannya.
Siapa yang tidak akan terpesona dengan penampilan kedua kakak beradik ini? Para wanita selalu terpesona dengan wajah dan penampilan Abraham. Serta para laki-laki yang terpesona dengan kecantikan Seyra.
"Woy, Bro! Gile ... Lo dan Adik lo selalu menjadi pusat perhatian di kampus ini. Udah kek artis aja lo berdua!" pekik Samuel heboh yang entah kapan sudah berada di samping Abraham.
"Iya, dong! Gue tau, kok, gue sama Abang gue tuh cantik dan ganteng. Siapapun akan terpesona sama kita.
Termasuk lo yang ter-pe-so-na dengan kecantikan gue!" jawab Seyra dengan menekan kata Terpesona.
"Iye, PD banget, lo! Entar juga kalau udah lulus dari kampus ini, gue langsung bawa lo ke KUA," jawab Samuel enteng.
"Lah, lo ngeledek gue, tapi ngajak gue ke KUA segala? Aneh, lo!" sungut Seyra.
"Udah napa, sih! Ribut mulu perasaan kalau ketemu. Kek Tom end Jerry tahu, nggk? Udah, Dek, lo ke kelas aja. Jangan ladenin ni, Curut," lerai Abraham yang jengah dengan tingkah Samuel dan Seyra. Setelah mengatakan itu ia langsung melangkahkan kakinya menuju kelas.
"Oy, Bro! Tunggu, napa. Ellah, dedek malah ditinggal si Babang, mah," ujar Samuel dengan nada yang sedikit dimanja-manjakan. Bukannya lucu, tapi malah membuat Abraham bergidik ngeri mendengarnya.
Abraham dan Samuel itu satu jurusan. Entah kenapa, Samuel selalu mengikuti Abraham. Mulai dari Abraham SMP, SMA, bahkan sampai sekarang kuliah pun Samuel sengaja mengambil jurusan yang sama dengan Abraham.
Tidak lama setelah itu, kelas yang tadinya rusuh tiba-tiba menjadi hening seketika, ketika Dosen yang terkenal sangat killer masuk ke dalam kelas. Ibu Yani, seperti itu lah mereka memanggilnya. "Pagi, anak-anak," ujarnya dengan tersenyum paksa.
"Pagi, Bu ...." jawab mereka serempak.
"Bagaimana persiapan skripsi kalian? Apa ada yang mau ditanyakan?" tanya Bu Yani dengan wajah seperti biasa. Garang.
"Tidak, Bu ...."
"Ok, kalau tidak ada yang mau ditanyakan. Oh, iya. Sebelum diadakannya pengumpulan skripsi, kalian harus melaksanakan salah satu tugas, yaitu wawancara—" belum sempat Bu Yani mengatakan tugasnya, seorang murid laki-laki di pojok kanan memotongnya.
"Wawancara tentang apa, Bu?" tanya salah satu murid yang bernama Idan.
Raut wajah Bu Yani langsung berubah semakin marah. "MAKANYA, KALAU SAYA BICARA TUH, JANGAN DIPOTONG!" bentak Bu Yani membuat semua muridnya bergeming, termasuk Idan yang sekarang terkejut minta ampun, bahkan hampir saja dia terjatuh dari kursinya.
"Maneh mah atuh da lier. Geus apal Bu Yani mah galak, malah nyari masalah," ujar seseorang yang berada di samping Idan.
"Ya ... Maaf. Gue, kan, khilaf gaise."
Bu Yani langsung berdehem keras ketika mendengar suara obrolan dari arah pojok kanan. Membuat mereka langsung bergeming. "Ok, lanjut. Wawancaranya bebas terserah kalian dan yang harus kalian wawancarai adalah Mahasiswa/i di kampus ini. Kita bagi-bagi kelompok terlebih dulu.
Jumlahnya dua orang perkelompok,
Nia dengan Dani. Angel dengan Reyna. Santi dengan Edo. Indah dengan Yanti. Abraham dengan Samuel. Idan dengan Lia. Julia dengan Toni. Irana dengan Irani. Azis dengan Winda. Jammy dengan Liona," jelas Bu Yani.
"Yah, Bu! Kok saya sama si Curut Samuel, sih, Bu?" protes Abraham tidak terima, karena sekelompok dengan spesies langka yang bernama Samuel.
"Abra! Kalau kamu tidak mau sekelompok dengan Samuel, tugas kamu yang ini akan ibu kosongkan," ancam Bu Yani. Sedangkan Samuel, ia hanya menampilkan smirk kepada Abraham.
Setelah semuanya dibagi kelompok, Bu Yani langsung menjelaskan pelajaran hari ini. Setengah jam berlalu, akhirnya semua pelajaran telah selesai ia berikan kepada murid-murid nya.
"Kantin, kuy!" ajak Samuel yang masih memasukkan alat tulisnya. Ya, di kampus ini memang disediakan kantin untuk para Mahasiswa/i.
"Males," jawab Abraham datar.
"Ellah ... Ke kantinnya juga sambil mendiskusikan tugas wawancara, b*a!" Ujar Samuel yang hanya mendapat jawaban hmm dari Abraham. Setelah mengatakan itu, ia langsung berdiri dan pergi meninggalkan Samuel dengan wajah herannya.
Ellah, ni, Anak! Perasaan gue yang ngajak malah gue yang ditinggal, batin samuel.
Abraham kembali menjadi pusat perhatian di lorong kampus menuju kantin. Berbeda dengannya yang hanya memasang wajah datarnya saja. Terlalu malas dan unfaedah jika harus meladeni para wanita itu.
Nggk salah gue berteman dengan Abraham. Jadi, kan gue bisa terkenal juga. Haha, gumam samuel dengan tawa konyolnya.
"Hai, Abraham ...." sapa Siska. Tangannya bergelayut manja di lengan Abraham. Serta suara yang di buat manja.
Abraham langsung menepis tangan Siska. "Apa, sih?!" ketusnya. Dia memang terkenal galak jika berurusan dengan perempuan yang suka bergelayut manja seenaknya.
Terdengar tawa keras dari samue "Makanya, jadi cewe jangan kecentilana. Maiin NYO-SOR aja, lu!" sentak Samuel sambil mengejek Siska.
"Serah gue, dong! Orang Abraham aja diem," bantah Siska sewot.
"Dia diem, karena udah jijik lihat lo yang tiap hari deketin mulu," balas Samuel.
"Udah, ributnya?" tanya Abraham datar, lalu ia kembali melanjutkan perjalannya menuju kantin.
Setelah kepergian Siska, Samuel langsung menyusul Abraham yang sudah duduk di kursi kantin. Memesan makanan dan minuman yang ada di kantin. Hingga akhirnya, pesanan mereka pun telah sampai. Mereka langsung berebut makanan pesanannya. Ditengah aktivitas mereka makan, tiba-tiba saja Samuel berbicara. "b*a! Gimana kalau yang kita wawancarai adalah seorang wanita bercadar?" tanya Samuel tiba-tiba membuat Abraham tersedak jus jeruknya.
Uhuk.. Uhuk..
"Apa lo bilang? Cewek bercadar?" tanya Abraham memastikan.
"Iya, cewek bercadar. Gue yakin cewek kek gitu nggak bakal ada yang mau mewawancarai," ujar Samuel yakin.
"Emang di kampus kita ada cewek yang pakai cadar?" tanya Abraham polos.
"Ada. Tuh ...." ujar Samuel sambil menunjuk wanita bercadar dengan dagunya. Abraham pun mengikuti apa yang ditunjuk Samuel.
Benar saja, di depan meja mereka ada seorang wanita bercadar yang sedang meminum jus berwarna hijau pekat. Wajahnya tertutup oleh sehelai kain. Hingga yang kelihatan dari wanita itu hanya matanya saja.
Abraham yang melihatnya langsung tertegun. Te rnyata ada wanita bercadar di kampus ini? Kenapa dia baru melihatnya? begitulah batin Abraham.
"Ok! Nanti gue coba," jawab Abraham.