Bagian 16

1589 Words
Semuanya terlihat serius sekarang. Jake duduk bersama Vale sedangkan Vele dipaksa duduk di sebelah Easter. Ini adalah kali pertama Vele diajak untuk ikut mendengarkan mengenai permasalahan di kerajaan. Jake meletakkan sebuah bunga mawar di meja depan. Easter meneliti bunga tersebut dari jauh, sedangkan Vele nampak terkejut. Dia juga menemukan bunga mawar di perpustakaan tadi, tapi dia tak membawanya dan membiarkan bunga tersebut di sana. "Kami menemukannya di sudut lapangan. Tergeletak di bawah pohon mangga. Saya mengira ini adalah isyarat dari Gerry, Raja." Dua kali nama Gerry disebut. Tapi, baik Vele ataupun Vale, keduanya tak kenal. "Tunggu. Siapa Gerry?" tanya Vele akhirnya. Vale mengangguk, pertanyaannya sama dengan sang kembaran. "Gerry adalah orang yang menjadi dalang dari vampir-vampir brutal itu," jawab Easter dengan sedikit gerakan meremas pinggang sang mate. Vele sedikit tak nyaman. Entah kenapa setiap pria ini melakukan gerakan tak terduga membuat dirinya merasa blank. "Seperti yang kita tahu, Raja. Bunga mawar hitam bukanlah pertanda baik. Bisa saja Gerry sengaja memberikan bunga ini dengan isyarat jika ia akan terus mengganggu dunia immortal. Yang dalam hal ini adalah dia ingin mengganggu kerajaan kita lebih dulu," papar Jake. "Aku ingin segera bertemu dengan bajingann itu dan langsung melenyapkannya," sahut Easter. "Aku ingin mengatakan sesuatu juga," potong Vele membuat atensi ketiganya tertuju kepada gadis ini. "Tadi di perpustakaan aku juga melihat bunga seperti ini. Lebih tepatnya di atas buku yang aku baca. Awalnya aku mendengar suara, tetapi ketika aku cek tak ada siapa pun. Dan ketika aku kembali, bunganya sudah ada di sana," cerita Vele. "Mulai besok kamu tidak perlu ke perpustakaan lagi," perintah Easter. "Kenapa? Ada masih banyak buku yang harus aku baca di sana," balas Vele. "Turuti perintahku. Bawa saja bukunya ke sini," kata Easter tegas yang tak ingin dibantah. Vele menunduk lesu. "Baiklah." Melihat interaksi keduanya membuat Vale sedikit lega. Perlahan sepertinya Easter bisa mengubah sosok Vele. Yang dulunya keras kepala dan tak suka diatur, perlahan kembarannya ini tahu posisinya sebagai apa. "Jake, perketat keamanan istana. Jangan beri celah Gerry untuk masuk dan berbuat macam-macam lagi," titah Easter kepada Jake. Jake pun mengangguk paham. Jake dan Vale pun berdiri. Keduanya berpamitan untuk pergi. Vele dengan langkah kecilnya hendak mengikuti Vale, namun lagi dan lagi Easter mencegahnya. "Aku tidak mengijinkanmu pergi," bisik Easter tepat di telinga Vele. Gadis itu merasa geli di bagian sana. "A-aku mau ke kamar. Ini sudah sore, aku harus mandi," jelas Vele sedikit gugup. Skinship yang Easter lakukan terlalu sering, dan itu tidak baik bagi jantungnya. "Ide bagus. Bagaimana jika mandi bersama untuk menghemat waktu?" usul Easter. Vele langsung berbalik dan menjaga jarak beberapa langkah dari pria itu. "Semakin hari pikiranmu semakin mesuum saja. Menyebalkan," cecar Vele. Easter tertawa ringan. "Dengan mate ku sendiri apakah itu salah?" tanya Easter. Vele memutar bola matanya malas. "Lebih baik aku pergi sekarang," putus gadis ini yang berbalik menuju ke pintu keluar. "Jangan lupa untuk melanjutkan kegiatan kita yang tertunda tadi, Sayang," teriak Easter. Vele menutup kedua telinganya. Dia tak ingin mendengar hal lebih lagi. Pria itu nampak senang ketika bisa menggoda sang mate. Ya, ini menjadi hiburan tersendiri. "Aku senang melihat Raja dan Vele dekat," kata Vale yang diantar oleh Jake menuju ke kamar. "Perdebatan dalam hubungan juga tidak bagus," sahut Jake yang disetujui oleh Vale. Keduanya telah sampai di depan pintu kamar. "Terima kasih sudah mengantarku, Jake. Seharusnya kamu tidak perlu melakukan ini," kata gadis tersebut. "Tidak apa-apa, Vale. Anggap saja aku memastikan temanku kembali dengan selamat," jawab Jake. Keduanya saling tertawa. Vale pun pamit untuk masuk, sedangkan Jake masih terdiam di tempatnya. Dia memandang pintu kamar Vale dengan pandangan yang sulit diartikan. Vele sendiri baru saja keluar dari kamar mandi. Tentunya dengan pakaian yang sudah lengkap. Dia merasa lebih segar. Gadis itu berjalan menuju ke meja rias. Sebenarnya dia tak memakai riasan. Mungkim hanya bedak dan pelembab bibir. "Apakah benda itu yang kamu pakai setiap hari?" Sebuah suara dari arah belakang Vele mengejutkan gadis ini. Siapa lagi pelakunya jika bukan Easter? "Maksudmu ini?" tanya Vele memastikan sembari memperlihatkan pelembab bibirnya. Easter mengangguk. "Ya, ini bagus untuk bibirku agar tidak kering," jelas Vele sembari meratakan pelembab miliknya. Easter mengangguk paham, Vele meletakkan benda itu setelah dipakai, sembari menata rambutnya. Gadis itu berbalik menghadap Easter, sekarang dia semakin cantik. Itulah yang ada pada pandangan pria tersebut. "Bagaimana? Apakah semuanya bagus?" tanya Vele. Dia mencoba baju baru yang ada di lemarinya. Sebenarnya ia tak tahu dari mana Easter mendapatkan baju-baju itu, tetapi dia tetap memakainya. "Bagus. Kamu bertambah seribu kali lebih cantik," puji Easter. Vele tertawa ringan. "Dan ya, aku ingin mencoba benda tadi," lanjut pria ini. Vele mengernyit. "Sesuatu yang kamu letakkan dalam bibirmu tadi," jelas pria ini kembali. Vele beroh ria. Dia mengambil pelembab bibirnya. "Maksudmu ini?" tanyanya yang diangguki Easter cepat. Vele membuka tutupnya, kemudian ia berikan kepada Easter. "Aku tidak tau cara memakainya," kata pria ini. "Cukup kamu oleskan saja ke bibirmu," jelas Vele. Easter menggeleng. Vele mengembuskan napas berat, pada akhirnya dialah yang harus memakaikan pelembab itu. Easter langsung menarik pinggang Vele, dan kembali gadis itu terkejut. "Begini memudahkanmu untuk mengoleskannya bukan?" kata Easter. Vele mendengkus, pria ini mencari kesempatan ternyata . Vele meneliti bibir pria itu, haruskah dia mengoleskannya? Aneh sekali, sejak kapan Easter suka memakai pelembab bibir? "Kenapa?" tanya Easter karena gadis itu tak kunjung mengoleskan pelembabnya. "Tidak. Hanya saja, bibirmu tidak terlihat kering. Dan juga, apakah kamu nyaman menggunakan pelembab bibir ini?" kata Vele. Easter terdiam mencoba memikirkan perkataan Vele. "Menurutmu bagaimana? Apakah aku perlu memakainya?" tanyanya kemudian. "Kok aku?" "Karena kita sudah dua kali berciuman, apakah kamu tidak merasakannya?" ucap Easter secara terang-terangan yang mengundang pelototan dari gadis ini. "Ma-mana aku tau," jawab Vele gugup. Dia merutuki Easter yang malah membahas hal tersebut. Ini benar-benar membuatnya malu. "Kamu tidak tau? Haruskah kita mengeceknya?" tanya Easter. "Maksudmu a--hmmmpp." Belum selesai Vele bertanya, Easter sudah membungkamnya dengan bibir pria itu. Ini adalah ciuman kedua mereka hari ini. Easter semakin memperdalam ciumannya. Vele menjadi terbuai dibuatnya, bahka tanpa sadar ia malah menjatuhkan  pelembab bibir miliknya dan kedua tangannya diganti berpegangan pada bahu kekar milik Easter. Easter merasakan pelembab itu, kini dia juga memakai pelembab yang sama. Ternyata iniliah yang membuat bibir Vele terlihat sangat menggoda untuknya, atau memang inilah yang dialami oleh pasangan mate. Dan Easter memilih cara lain untuk menggunakan pelembab bibir. Vele memaksa melepaskan tautan bibir mereka. Sembari dengan dahi yang saling menyatu, keduanya mengambil oksigen. Kegiatan yang menguras oksigen mereka. "Sepertinya pelembabnya bekerja dengan baik," kata Easter dengan senyum kemenangan. Vele merenggut kesal, Easter merusak tatanan riasan miliknya. "Eits, mau ke mana?" tanya pria ini ketika merasakan Vele yang hendak menjauh. Pria itu mengeratkan pegangannya di pinggang Vele. Ini malah membuat gadis ini kembali gugup. "Pelembabku jatuh," jelas Vele mencari alasan. Toh, pelembab miliknya memang jatuh. "Tidak usah diambil. Nanti aku belikan yang baru," kata Easter. "Tapi--" "Sudahlah. Biarkan aku mencicipinya lagi," potong pria yang kembali menyambar bibir Vele. Gadis itu tampak tak berkutik karena pada dasarnya dia pun juga menikmati aktivitas mereka di sore hari ini. Easter mengabsen seluruh isi mulut Vele ketika gadis itu membuka mulutnya tadi. Vele nampak semakin terbuai di mana gadis ini tidak sadar jika tangan Easter tak merambat masuk ke celah baju miliknya. "Mmppp." Suara yang Vele timbulkan semakin membuat Easter bersemangat. Dan sampailah tangan Easter di tubuh bagian depan milik Vele yang menonjol. Satu desahann lolos di sana, membuat Easter gelap mata dan ingin lebih. Pria itu tak lagi menjadikan bibir Vele sebagai sandra, kini dia beralih ke leher jenjang sang mate yang juga menggodanya sejak lama. Vele tak bisa bernapas dengan baik ketika Easter terus saja melakukan penyerang pada tubuhnya. Easter meninggalkan jejak kepemilikannya di leher Vele, dan dia senang melihat karyanya itu. Tangan kanannya tidak tinggal diam. Tangan itu masih pada aktivitasnya, sedangkan tangan kiri menopang pinggang Vele agar gadis itu tak jatuh. Easter mengangkat tubuh sang mate dengan ringan. Vele memekik terkejut dan refleks melingarkan kakinya di pinggang Easter. Easter meletakkan Vele di meja rias dan kembali menyambar bibir gadis itu. Easter yang tak terkontol, serta Vele yang belum sadar terus saja melakukan aktivitas mereka. Saling b******u memadu kasih di mana tanpa keduanya sadari, Jake sejak tadi sudah menunggu di depan pintu kamar mereka. Pria itu ragu untuk mengetuk pintu. Jake pun memilih untuk pergi, dia tak ingin dibabat habis oleh Easter karena mengganggu raja dan ratu. Dengan dahi yang masih menyatu, keduanya mengambil oksigen berkali-kali. Riasan Vele sudah berantakan, peluh membasahi wajah mereka. Easter menatap bagaimana sang mate mengatur pernapasannya di mana Vele terlihat lebih menggoda. "Ini benar-benar menyenangkan, Sayang. Aku harap kita bisa melakukan lebih dari ini, tentunya setelah kita menikah," kata Easter. Raut wajahnya benar-benar puas. Sedangkan Vele tak bereaksi apa-apa karena dia sangat lelah. Padahal mereka hanya berciuman bukannya lebih dari itu. "Sepertinya aku harus mandi sekarang, setelah itu kita makan malam bersama. Dan ya, sepertinya kamu harus membenarkan riasanmu lagi," kata Easter yang membantu Vele untuk turun dari meja rias. Gadis itu terlihat pasrah sekali, bahkan Easter membantunya duduk di kursi rias. Cup Satu kecupan ringan mendarat di kepala Vele. "Aku akan mandi, kamu bergegaslah. Kita turun bersama ke meja makan nanti," ujar Easter lagi. Vele hanya mengangguk. Pria itu berbalik dan tubuhnya hilang di balik pintu kamar mandi. Vele memegang dadanya yang merasakan perasaan aneh. Dilihatnya riasan miliknya sudah memudar. Vele mencoba membersihkan peluh miliknya. Seketika matanya membulat sempurna ketika bercak-bercak yang ada di lehernya tidak bisa hilang ketika dia bersihkan. Dan dia menyesal karena tadi terbuai oleh perlakuan Easter. Lihatlah sekarang, apa yang harus dia lakukan? Di meja makan nanti pasti ada Vale dan Jake. Dia pasti sangat malu di depan mereka. ____ Hahahaha
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD