Bagian 14

1614 Words
Easter baru saja masuk ke perpustakaan sang ibu. Hal yang pertama dilihatnya adalah Vele masih fokus membaca buku-buku di sana. Bahkan gadis ini tak menyadari kedatangan sang mate. Easter mengusap pelan kepala Vele, membuat atensi gadis ini beralih kepadanya. Vele terlihat terkejut mendapati sosok pria ini di sini. "Sudah jam makan siang," ungkap Easter. Vele mengangguk. Dia memberi pembatas pada bukunya untuk dia baca dan bawa nanti. Ya, dia akan melanjutkan membaca di kamar saja karena letak perpustakaan cukup jauh untuk dijamah. Easter dan Vele berjalan berdampingan dengan gadis itu yang menenteng buku bacaannya. "Bagaimana kegiatanmu hari ini?" tanya pria ini. "Baik. Aku menemukan buku bagus mengenai sejarah bangsa wizard," ungkapnya. "Apakah itu buku yang kamu bawa sekarang?" Vele mengangguk. Dia memperlihatkan buku dengan sampul yang sedikit lusuh itu. Maklum, mungkin usia buku tersebut sudah tua. Keduanya telah sampai di meja makan. Maid dengan sigap menyiapkan makanan untuk raja dan ratu mereka. Vele mengernyit ketika tak melihat sosok Vale di sini. Easter tahu apa yang sedang dicari oleh sang mate. "Vale mungkin sedang di kamarnya untuk istirahat," seloroh pria tersebut. "Dia sudah makan?" tanya Vele sembari memasukkan sesendok nasi ke mulutnya. Easter mengedikan bahunya. "Nanti aku akan suruh maid mengecek sekalian minta bawakan makanan untuknya. Mungkin dia terlalu lelah untuk berjalan ke sini," jawab Easter. "Pasti dia berlatih dengan keras tadi," kata Vele. "Tentu itu perlu dilakukan agar dia memaksimalkan kekuatannya." Vele menoleh, memandang Easter dari sampingnya. "Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanyanya kemudian. Easter mengangguk sebagai jawaban. "Bagaimana jika aku dan Vale tinggal di rumah ayah yang ada di bangsa werewolf? Jujur, aku kasihan melihat Vale sendirian di sini. Dia butuh orang-orang yang satu bangsa dengannya." Easter meletakkan alat makannya di piring. Atensinya penuh kepada gadis itu. "Aku tidak mengijinkan kalian pergi. Apakah kamu lupa jika ayah dan ibumu berada di sini?" "Mereka akan baik-baik saja di sini." "Apakah kamu yakin? Bisa saja aku menyakiti mereka jika aku marah," jawab Easter. "Yak! Jika itu sampai terjadi, aku akan membunuhmu!" pekik Vele, bahkan tanpa sengaja dia meletakkan alat makannya dengan keras. Mode kesal dan merajuk sedang ada pada diri gadis ini. "Semua terserah padamu. Jika kamu pergi, bersiaplah kehilangan mereka," tutur pria ini lagi. Vele berdiri dari duduknya. Dia sudah tak berselera makan sekarang. Easter bersikap seolah tak peduli. Vele memilih meninggalkan meja makan. Gadis itu menuju ke kamar Vale. Memang sejak awal seharusnya dia selalu berada di sisi kembarannya itu dibandingkan menuruti perintah raja tak berperasaan yang menjelma sebagai mate nya. Vele mengetuk pintu kamar Vale tak sabaran. Vale membuka pintu tersebut, Vele langsung menerobos masuk diakhiri dengan Vale yang menutup pintu. "Aku benar-benar membencinya. Bagaimana bisa dia berencana melukai Ibu dan Ayah. Ini benar-benar membuatku kesal." Vale hanya mendengar sekaligus mengamati segala gerutuan kembarannya itu. Vale mengambilkan segelas air untuk Vele. "Minumlah dulu agar emosimu berkurang," titah gadis ini. Vele menerimanya dan langsung ia tenggak minuman itu. Jujur, tadi ketika ia makan siang bersama Easter, dirinya belum minum karena rasa kesal dan marah sudah ada di kepalanya jadi dia keburu pergi. Vale mengambil tempat di sebelah Vele. "Bagaimana? Apakah kamu sudah tenang?" tanyanya lebih lanjut. Vele mengangguk. "Mari kita bicara," papar Vale. Dia sepertinya juga harus membantu Easter untuk membuat Vele mengusir sifat keras kepalanya itu. "Aku ingin memberitahumu sesuatu. Pertama, Ibu dan Ayah sudah tau jika kalian adalah sepasang mate," ungkap Vale. Bola mata Vele membulat sempurna. "Aku terpaksa memberitahu mereka, aku tidak bisa menyembunyikan fakta itu. Cepat atau lambat raja pasti akan mengatakan sejujurnya," sambungnya. "Kemudian, Raja juga sudah memberitahu kami mengenai hukumannya," lanjutnya. Vele mengingat percakapan ia dan Jake beberapa waktu lalu. "Jujur, Vele. Aku tidak yakin dalam waktu dekat akan bisa menemukan mate ku. Aku takut hari itu akan lama. Dan berakhir Ibu dan Ayah tak bisa bersatu. Aku ingin sekali melihat mereka bersama," ucapnya. Vele pun sama. Dia juga ingin melihat Albus dan Cale bersatu. Tapi, semuanya tak ada yang menguntungkan baginya. Tidak begitu juga, setidaknya Albus dan Cale bersatu. Tapi ... haruskah ia berkorban? "Coba sebutkan apa saja kesalahan Raja Easter yang mana membuatmu menolak dirinya sebagai mate?" tanya Vale. Vele terdiam, gadis ini mengambil napasnya dalam mengeluarkannya secepat mungkin. "Dia jahat. Dia menolak menghapus peraturan itu. Ibu dan Ayah jadi tak bisa bersatu. Itulah yang membuatku tak mau menerimanya," jawabnya jujur. "Hanya itu?" tanya Vale. "Ini bukan hanya sekedar 'hanya itu', Vale. Ibu dan Ayah adalah hal terpenting bagi hidupku. Keluargaku adalah yang paling utama untukku," jelas gadis ini dengan hati yang menggebu-gebu. Dia ingin memberitahu sang kembaran jika ikatan itu tak ada artinya dibanding keluarga mereka. "Jadi, apakah kamu akan baik-baik saja jika kehilangan Raja?" Mulut gadis itu menutup. Ia tak memiliki jawaban. Vale tahu jika jauh dilubuk hati Vele yang paling dalam, gadis itu sangat membutuhkan sosok Easter di sisinya. "Vale. Hari ini aku menemukan sesuatu di perpustakaan," ungkap Vele. "Buku itu berisi cerita mengenai nenek moyang bangsa wizard. Ini aneh, Vale. Di sana tertulis jika orang itu menolak mate nya, tetapi dia memiliki pengganti mate selanjutnya." Kali ini kedua bola mata Vale yang membulat sempurna. "Apa kamu berpikir untuk menolak ikatan ini, Vele?" Vele menampilkan senyum kecilnya. "Jangan pernah melakukan itu. Itu hanyalah cerita di dalam buku. Lagi pula tak semua orang memiliki keberuntungan memiliki mate pengganti. Kebanyakan hanya memiliki satu mate dan berakhir mati jika mereject ikatan itu." Vele tersenyum kecut. "Dari pada kamu memikirkan dan mencoba menolak Raja, coba berpikir alasan apa yang mendasari Raja membuat peraturan itu. Saranku adalah jangan hanya fokus ke cara menghapus peraturan itu. Gali lebih dalam alasan Raja mengeluarkan peraturan ini. Pasti ada alasannya. Aku harap kamu paham dengan apa yang aku katakan, Vele. Dan satu lagi, hilangkan keinginanmu untuk menolak ikatan itu atau kamu akan menyesal nantinya," nasihat Vale. Vele termangu. Apa yang dikatakan kembarannya ada benarnya. Dia tak pernah bertanya kenapa Easter menolak menghapus peraturan itu. Terlebih lagi dia tidak bertanya alasan pria itu mengeluarkan peraturan yang penuh pertentangan tersebut. *** Easter baru saja keluar dari kamar mandi. Aroma Vele memenuhi kamarnya lagi. Gadis itu ternyata sudah ada di dalam kamarnya. Vele sendiri sepertinya butuh jawaban atas pertanyaan di kepalanya. Tatapan pria ini langsung tertuju kepada Vele yang berdiri di dekat pintu. Gadis itu ragu untuk mendekat karena tadi siang keduanya kembali saling mengeluarkan permusuhan lagi. Ya, lebih tepatnya hanya Vele yang mengeluarkan aura permusuhan di sana. "Duduklah," perintah Easter. Pria itu berjalan santai menuju ke sebuah kaca besar untuk menyisir rambutnya. Vele duduk dengan gelisah. Dia bimbang untuk bertanya atau tetap pada diamnya. Setelah selesai dengan kegiatannya, Easter menghampiri tempat sang mate duduk. Dia memandang Vele yang benar-benar gugup. "Aku minta maaf jika tadi siang membuatmu marah lagi," ucap Easter yang memilih mengalah dari kediaman keduanya. "Aku ... aku ingin bertanya," ungkap gadis ini mengabaikan permintaan maaf Easter. "Tanyalah. Aku akan menjawab sebisaku,"  kata Easter. "Kenapa. Kenapa kamu mengeluarkan peraturan itu? Peraturan tentang pernikahan antar bangsa." Easter terdiam. Ini adalah kali pertama seseorang bertanya kepadanya. Tentu selama ini tak ada seorang pun yang berani bertanya alasan itu. Vele lah yang pertama, tentu Easter akan menjawabnya Mungkin jawaban yang ia keluarkan bisa membantu hubungan keduanya. "Itu semua karena kejadian bertahun-tahun lalu," ungkap Easter. Vele menempatkan telinganya baik-baik. Dia akan menyimak cerita dan penjelasan yang Easter katakan. "Saat itu Ibu dan Ayahku masih ada. Keduanya sedang melakukan perjalanan menuju ke beberapa kerajaan. Aku bertugas menjaga kerajaan ini. Itu adalah kali pertama aku menjaga kerajaan seorang diri. Beberapa hari pergi, aku mendapat kabar buruk setelahnya. Keduanya tewas karena diserang seseorang. Menurut info yang didapat, orang itu adalah seorang pria muda. Dan dari sini selamanya aku harus menjaga kerajaan seorang diri terus menerus." "Aku mencoba mencarinya di mana rasa dendamku menggebu-gebu. Aku ingin membalas kematian ayah dan ibu,." "Aku menemukannya di hutan kegelapan yang jarang dijamah oleh makhluk immortal. Kemudian aku mendapat fakta jika pria muda itu adalah anak dari hasil pernikahan antar bangsa di mana dia lahir tidak sempurna. Ibunya adalah seorang vampir, kemudian ayahnya adalah werewolf. Dia tak bisa mengendalikan dirinya saat itu dan berakhir menyerang Ibu dan Ayah karena haus akan darahnya sudah tak bisa ia tahan. Dalam hal ini adalah vampir dan werewolf kuranglah bagus." Vele yang menyimak sejak tadi hanya tertegun. Vale benar, Easter memiliki alasan yang kuat kenapa dia mengeluarkan peraturan itu dan tak ingin menghapusnya. "Aku tau tak semua pernikahan antar bangsa berakhir dengan seperti itu. Tapi, aku ingin menciptakan dunia yang damai, jadi aku mengeluarkan peraturan itu. Ibu dan ayahku juga berasal dari bangsa berbeda, tetapi aku tumbuh dengan sempurna." "Kamu tau jika tak semua pernikahan antar bangsa menghasilkan keturunan yang buruk, tapi kenapa kamu tetap menjalankan peraturan itu? Ini benar-benar tidak adil, menurutku pribadi, Easter," sela Vele. "Seperti kataku tadi, aku ingin membuat dunia ini tenang dan aman. Aku tidak ingin kejadian ibu dan ayahku terulang. Aku tau, sepertinya aku kecolongan banyak sekarang. Vampir-vampir brutal itu salah satunya. Semuanya tidak akan berakhir menjadi brutal jika tak ada 1 dalang dibalik ini semua. Dan perkiraanku adalah orang itu berasal dari hasil pernikahan antar bangsa," jelas Easter. "Apakah ini juga alasanmu menahanku dan Vale pergi? Karena kamu khawatir kita menimbulkan kekacauan?" Tentu pikiran Vele ke arah sana. Bisa saja Easter mencurigai keduanya. Easter menatap Vele serius. Dia tak pernah meragukan pasangannya. Dia tahu jika Vele adalah hasil keturunan sempurna, tapi mengenai Vale, dia butuh bukti. Kecurigaan Easter adalah ketika Vale tak sadarkan diri akibat racun hitam yang berasal dari vampir brutal. Tapi, Easter tak bisa mengatakan sejujurnya kepada Vele sekarang. Dia tak ingin membuat hubungan mereka semakin renggang. "Semua itu tidaklah benar. Alasan terbesarku tak ingin kamu pergi adalah karena aku membutuhkanmu. Kita sepasang mate, jadi aku tidak bisa jauh-jauh darimu," jawab Easter. Vele bimbang jika begini. Antara mengikhalaskan kedua orang tuanya hidup terpisah, atau maju untuk menerima hubungan ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD