Bab 5. Konflik diantara teman

1246 Words
Beberapa hari telah berlalu setelah kejadian itu. Kini, sikap Andra sudah lebih terbuka pada Rania walau belum sepenuhnya sesuai dengan apa yang diharapkan oleh sang istri. "Ran, nanti malam siapin makanan, ya. Soalnya ada temen Abang yang bakal datang," ucap Andra ketika memasuki dapur. Penampilannya sudah rapi dan siap untuk berangkat ke kantor. "Oh, iya, Bang. Ada berapa orang yang akan datang?" tanya Rania sambil meletakkan segelas teh ke hadapan sang suami. "Kira-kira empat orang. Kamu siapin cemilan juga, ya, kayanya mereka bakal nginep di sini." Andra menyesap teh hangat yang ada di hadapannya. "Nginap? Tapi mau tidur di mana, Bang, kalau sebanyak itu orangnya?" tanya Rania dengan raut wajah kebingungan. "Ya, tidur di kamar tamu, dong. Kan, kamar itu kosong, Ran," jawab Andra sedikit emosi. Rania hanya mengangguk tanpa membalas ucapan sang suami. Ia sadar, hubungannya dengan Andra baru mulai membaik, ia tak mau membuat suasana hati sang suami rusak dan akan kembali acuh kepadanya. "Yaudah, aku berangkat kerja dulu. Assalamu'alaikum." Andra bangkit dan berlalu meninggalkan Rania tanpa menunggu jawaban salam dari wanita itu. Setelah kepergian sang suami, Rania kembali menyibukkan diri dengan aktivitas rutinnya, yaitu beberes. Setelah selesai, ia membuka lemari pendingin dan mengecek bahan masakan yang tersisa. "Aih, mana tinggal tahu sama tempe doang lagi. Terpaksa, deh, harus belanja dulu," lirihnya frustasi. Biasanya, Andra yang akan berbelanja semua kebutuhan rumah. Mulai dari belanja bulanan, mingguan, bahkan kebutuhan dapur, semua Andra yang handle. Jadi, Rania tinggal mengolah bahan yang tersedia di dalam kulkas. Rania mengambil ponselnya yang tergeletak di atas meja dekat dengan meja makan. Wanita itu mengotak-atik sebentar kemudian meletakkan benda pipih itu ke telinganya. "Halo. Assalamu'alaikum, Bang," ucapnya ketika panggilan tersambung. "Waalaikumsalam. Kenapa, Ran?" Terdengar jawaban salam dari seberang. "Ini, Bang. Bahan yang tersisa di dapur tinggal tempe sama tahu, nih. Abang bisa belanjain dulu sebentar, nggak?" tanya Rania dengan suara sedikit pelan. "Aduh, Abang lagi banyak kerjaan, nih. Kamu belanja sendiri dulu aja, ya, di warungnya Bu Sari," jawab Andra sedikit kerepotan. Rania menggigit bibirnya, mencoba menahan rasa kecewa saat Andra memutuskan untuk tidak membantunya. Namun, ia menghela napas dan menguatkan hati. “Iya, Bang. Nanti aku ke warung,” jawabnya singkat sebelum menutup telepon. Setelah merapikan rumah dan memastikan semua pekerjaan selesai, Rania mengambil tas belanjaan yang tergantung di sebuah paku. Ia melangkah keluar rumah, menuju warung Bu Sari yang tak terlalu jauh dari rumahnya. Setibanya di sana, suasana warung cukup ramai. Beberapa ibu-ibu tengah berkumpul sambil asyik bercengkerama. Mereka segera melirik ke arah Rania ketika ia mendekat, dan bisik-bisik mulai terdengar samar. "Eh, itu Rania, kan? Udah lama nikah, tapi, kok, belum ada kabar baik, ya?" Suara seorang wanita, yang Rania kenali sebagai Bu Wati, terdengar lirih, tapi cukup tajam di telinganya. "Iya, katanya Andra itu laki-laki baik, ya, tapi kalau istri nggak bisa kasih keturunan, kasihan juga, sih," timpal yang lain, Bu Mirah, dengan nada sok prihatin. Rania mencoba mengabaikan mereka dan langsung menghampiri Bu Sari di depan warung. “Pagi, Bu Sari. Ada sayur bayam sama ayam potong, nggak?” tanyanya dengan senyum tipis, meski hatinya sedikit bergetar mendengar gunjingan itu. “Pagi, Rania. Ada, ada. Nih, sayurnya masih segar, ayamnya juga baru aja di potong. Coba pegang, deh masih anget,” jawab Bu Sari ramah, sambil mengambilkan pesanan Rania. Tanpa bisa dicegah, percakapan ibu-ibu di belakangnya terus berlanjut, bahkan semakin berani. “Eh, Wati, aku dengar dari orang, katanya sekarang Andra sering lembur, ya. Jangan-jangan capek di luar, pulang ke rumah malah nggak ada apa-apa. Ya gimana, istri nggak ada perubahan,” ucap Bu Mirah dengan suara yang dibuat-buat pelan, tetapi jelas ditujukan agar Rania mendengar. Wajah Rania memerah. Bukan karena marah, tetapi malu dan sakit hati. Ia tahu ia tak bisa menjawab mereka tanpa memancing keributan. Sambil menenangkan diri, ia mencoba fokus pada belanjaannya. “Ini, Ran. Semua jadi enam puluh ribu,” ucap Bu Sari, menyerahkan kantong belanjaan. “Terima kasih, Bu,” Rania menjawab sambil menyerahkan uang. Sebelum Rania bisa pergi, Bu Wati tiba-tiba mendekatinya. “Ran, boleh nanya nggak, kamu udah pernah coba ke dokter? Siapa tahu ada yang perlu dicek, lho. Zaman sekarang, kan, apa-apa bisa diobati kalau tahu masalahnya.” Rania tertegun. Ia tahu Bu Wati tak berniat baik. Senyuman tipis di wajah wanita itu terlalu sinis untuk disebut tulus. “Belum, Bu. Mungkin nanti, kalau ada waktu,” jawab Rania datar, mencoba tetap sopan. “Duh, sayang, lho. Jangan nunggu terlalu lama. Kasihan suami kalau harus terus nunggu,” kata Bu Mirah menyusul dengan tawa kecil. “Ran, kamu tuh beruntung, Andra sabar banget. Kalau laki-laki lain, mungkin udah cari pelarian,” tambah Bu Wati dengan nada menusuk dan juga senyum sinis yang selalu menghiasi wajahnya. Rania hanya tersenyum kecil, mencoba menyembunyikan rasa sakit yang perlahan memenuhi d**a. Ia tahu apa pun yang ia katakan tak akan membuat mereka berhenti. Akhirnya, ia hanya berkata, “Permisi, ya, Bu. Saya pulang dulu.” Langkah Rania terasa berat saat ia berjalan menjauh dari warung. Telinganya masih bisa menangkap tawa kecil dan bisikan-bisikan mereka yang semakin jauh. Di perjalanan pulang, Rania berusaha menenangkan diri. Namun, setibanya di rumah, air matanya akhirnya jatuh. Ia duduk di kursi dapur, menatap kantong belanjaan di tangannya. “Kenapa orang-orang selalu menyalahkan perempuan?” gumamnya lirih, seolah bertanya pada dirinya sendiri. Pikirannya melayang pada Andra. Selama ini, ia berusaha sekuat tenaga menjaga keharmonisan rumah tangga mereka, tapi gunjingan dan sindiran dari luar rumah seperti racun yang terus merusak hatinya. Ketika Andra pulang malam itu, ia menemukan Rania sedang menyiapkan makanan di dapur. Aroma masakan menguar harum, tetapi raut wajah Rania tampak muram. “Ran, udah masak? Wih, harum banget,” ucap Andra sambil meletakkan tas kerjanya. Rania hanya tersenyum kecil. “Iya, Bang. Udah siap semua. Teman-teman Abang kapan datangnya?” tanyanya tanpa banyak emosi. “Harusnya sebentar lagi,” jawab Andra sambil menghampiri meja makan. Namun, ia memperhatikan sesuatu yang aneh. “Kamu kenapa, Ran? Kelihatan capek, ya?” Rania menggeleng pelan. “Nggak, Bang. Cuma tadi pas belanja ketemu ibu-ibu, dan mereka … ya, ngomongin soal aku lagi.” Andra terdiam. Ia tahu apa yang dimaksud oleh Rania. Ia pernah mendengar gunjingan itu sebelumnya, tapi memilih untuk tidak terlalu memikirkannya. “Kamu nggak usah dengerin mereka, ya. Mereka cuma sirik sama kamu,” ucap Andra akhirnya. “Tapi aku capek, Bang. Mereka selalu nyalahin aku. Apa semuanya salahku kalau kita belum punya anak?” Rania menatap Andra dengan mata yang berkaca-kaca. Andra terkejut melihat Rania begitu emosional. Ia mencoba meraih tangan istrinya. “Ran, dengar. Aku nggak pernah nyalahin kamu. Jangan terlalu dipikirin, ya? Kita jalani aja hidup kita, nggak usah peduliin omongan orang lain.” Rania menarik tangannya pelan. “Kamu nggak pernah nyalahin aku, Bang, tapi aku tahu kamu juga pasti merasa kecewa.” “Ran …” Andra ingin membantah, tapi pintu depan tiba-tiba diketuk. Suara teman-temannya terdengar dari luar. Rania segera bangkit, menghapus air matanya. “Aku siapkan minuman dulu,” ujarnya sebelum beranjak ke dapur, meninggalkan Andra yang termenung. Di ruang tamu, Andra menyambut teman-temannya dengan senyuman. Namun, pikirannya masih tertuju pada Rania. Dalam hati, ia bertekad untuk lebih melindungi istrinya, apa pun yang terjadi. "Hei, kok, bengong?" tanya Renald, salah satu teman Andra yang datang. "Eh, enggak, kok. Yaudah, minum, yuk," kilah Andra mempersilakan mereka untuk menikmati teh hangat yang sudah disediakan oleh Rania. "Oh, iya, ada sesuatu yang mau aku tanyain ke kamu, Ndra, tapi jangan tersinggung, ya." Aldo, teman Andra yang lain berucap. "Tanya apa?" tanya Andra penasaran. "Apa benar kalau sebenarnya kamu itu ...." *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD