Setelah kejadian di kafe, Clara mengajak Melvin Fidel masuk ke dalam ruangan kerjanya. Gadis itu berjalan di depan pria itu. Lalu membalikkan tubuhnya menghadap temannya yang sejak tadi berjalan di belakangnya. Ketika Clara hendak membuka mulutnya, Melvin menabrakan dirinya pada tubuh Clara. Pria itu memeluk Clara erat. Clara yang tidak menduga akan mendapatkan sebuah pelukan hanya bisa terkejut.
"Ra, aku kangen banget sama kamu," bisik Melvin di telinga Clara.
Clara mengangkat kedua tangannya dan mengangkat kedua tangannya memeluk pria itu.
"Aku juga. Sorry ya nggak bisa jemput tadi," ujar Clara sambil melepaskan pelukan mereka.
Sekarang Melvin menatap Clara tajam, "Kenapa kamu baru mengirimi aku email semalam bahwa kamu tidak akan balik lagi ke Singapore? And who was that guy in the cafe?"
"One by one, please? Lagian juga aku rasa kamu pasti capek, mendingan kamu istirahat dulu aja daripada dengerin cerita aku," sahut Clara sambil mendorong tubuh Melvin untuk duduk di kursi tamunya.
"Nice office by the way," ujarnya setelah mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut ruangan Clara.
"I know. Thank's. Jujur aku juga suka dekorasi ruangan ini. Walaupun lebih kecil dari ruanganku yang dulu." Yang dimaksud Clara adalah ruangan kantornya saat ia masih bekerja di negara singa. Saat itu ia memiliki posisi yang cukup tinggi di sebuah perusahaan dan ia tidak menyesal telah meninggalkan pekerjaannya itu. Karena bagaimanapun hidup tidak harus selalu dipenuhi dengan penyesalan.
Melvin menganggukkan kepalanya, ia mengerti maksud Clara. Dan ia juga bukanlah tipe pria pemaksa. Dia akan dengan senang hati mendengarkan semua keluh kesah Clara kapan pun gadis itu siap menceritakannya. Melvin menghela nafas dan berkata, "Ok. Just tell me when you ready."
"Siap Mr. Melvin! Sekarang aku mau kerja. Kamu boleh istirahat di kantor aku untuk beberapa menit. Lalu aku harap kamu dan koper besarmu itu," Clara menunjuk koper besar yang terparkir didekat pintu ruangannya dengan matanya. "Dapat menyingkir dari kantorku segera. Kamu bisa langsung pulang ke rumah aku. Mami pasti dengan sangat antusias akan menyambut kamu," cerocos Clara.
Ini bukanlah pertama kalinya bagi Melvin mampir ke tanah air. Karena ayahnya menikah dengan ibunya yang berasal dari Indonesia. Hanya saja orang tuanya memilih menetap di negara singa, sehingga Melvin jarang mampir ke Indonesia karena ia tak memiliki sanak saudara di sini. Namun, semua itu berubah ketika Melvin berteman dengan Clara. Ia telah bertemu dengan orang tua gadis itu ketika mereka datang mengunjungi puteri semata wayangnya. Sehingga sekarang, terkadang ketika Melvin datang untuk urusan bisnis, tidak lupa pria itu juga datang berkunjung sejenak ke rumah Clara untuk menyampaikan keadaan Clara kepada orang tua gadis itu. Karena Clara benar-benar tidak menginjak tanah airnya selama lima tahun.
Melvin menyandarkan punggungnya dan memandang Clara yang telah duduk di hadapannya. Gadis itu telah memulai pekerjaannya. Tapi Melvin tahu telinga dan bibirnya masih terpasang dengan baik untuk mendengar dan mamarahi dirinya.
"Okay. Siapa yang tidak antusias jika calon menantunya adalah aku," sahut Melvin enteng. Mami Clara sudah menganggap pria itu seperti anaknya sendiri. Jika Melvin datang berkunjung tidak segan maminya Clara memasakkan atau membelikan makanan kesukaan untuk pria itu.
"Puji saja terus dirimu sendiri," sindir Clara. "Tapi apa sebenarnya tujuan kedatanganmu ke sini, Vin?"
Melvin menatap lurus ke arah Clara yang di mana gadis itu juga sedang menatapnya balik.
"Untuk mencurimu dari pria itu." Hanya itu yang keluar dari bibir tipisnya namun mampu membuat pandangan Clara teralih dari berkasnya.
***
Hari-hari berlalu dengan tenang. Clara terus berusaha menghindar dari Andre ketika pria itu datang ke kantornya saat ia ada urusan pekerjaan dengan Pak Budiman. Begitu juga dengan Andre, karena pekerjaannya yang semakin sibuk untuk sementara ia dapat melupakan hubungannya yang rumit dengan Clara.
Ketika Clara baru saja hendak melangkah keluar gedung kantornya. Tanpa sengaja pandangan matanya jatuh pada seorang wanita yang baru saja turun dari mobilnya.
Sonya melepaskan kacamata hitamnya, lalu ia berjalan dengan anggunnya masuk ke dalam gedung. Baru beberapa langkah dari pintu masuk, Sonya menemukan sosok seorang wanita yang berdiri tak jauh dari tempatnya.
Sebuah senyum terukir di bibirnya yang merah akibat polesan lipstik bermerk. Dress merah maroon dan sepasang high heels berwarna hitam mengkilat menambah nilai kecantikannya. Sonya menghampiri wanita itu dengan kepercayaan diri yang tinggi. Sedangkan Clara yang masih terdiam di tempatnya, hanya dapat mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Clara tahu pada akhirnya, mau tak mau ia harus berhadapan dengan wanita ini setelah lima tahun.
"Clara.." Itulah kata pertama yang keluar dari bibir merah Sonya. Matanya memandang penampilan Clara dari bawah hingga ke ujung kepala dengan tatapan menilai dan berakhir pada wajahnya.
"Sonya," balas Clara. Berbeda dengan Sonya, Clara sejak tadi hanya menatap wajah wanita itu.
"Hampir saja aku tidak mengenalimu," ujar Sonya dengan nada sinis di dalam suaranya.
"Terima kasih. Aku akan menganggap itu sebagai pujian." Clara mengetatkan jemarinya. Ia benci situasi ini. Ingin rasanya ia berlari menjauh. Karena bagaimana pun Clara merasa dirinya tak akan pernah bisa menang melawan penampilan Sonya yang selalu tampak anggun dan feminim. Dan Clara yakin hanya Sonya-lah yang pada akhirnya akan selalu memenangkan hati Andre.
Sonya tersenyum sinis dan melipat kedua tangannya di d**a. "Aku dengar kau dan Andre akan bekerja dalam proyek yang sama. Karena perusahaanmu menunjuk Andre sebagai arsitek mereka dalam proyek selanjutnya."
Clara mendengus, "Hebat sekali kamu yang cuma orang luar bisa mengetahui kegiatan perusahaan ini. Seorang Sonya memang wanita yang luar biasa."
Sonya menatap tajam Clara dengan benci, "Nice try Clara! Aku sedikit terkejut dengan perubahanmu dari seekor ulat untuk menjadi seekor kupu-kupu."
Ingin rasanya Clara membalas sindiran Sonya, tapi sebuah suara berat dari belakang tubuhnya membuat dirinya menahan kata-kata tersebut dilidahnya.
"Bagaimana kau bisa berada di sini?" tanya Andre. Matanya menatap Sonya, tidak mengindahkan keberadaan Clara yang berdiri di disitu.
"Aku tidak sengaja lewat. Jadi aku memutuskan untuk mampir. Karena aku ingin melihatmu bekerja. Oh iya, kau sudah makan siang?" Sonya langsung melingkarkan tangannya pada lengan Andre. Awalnya pria itu sedikit terkejut dengan tindakan Sonya. Ketika ia hendak menarik tangannya, gadis itu menahannya. Sehingga akhirnya Andre menyerah dan membiarkan lengannya dalam pelukan tangan Sonya.
"Aku baru saja mau ke kafe," sahut Andre. Matanya mencuri pandang melirik Clara yang masih terdiam dengan pandangan yang sulit dijelaskan.
"Kalau begitu, mari kita pergi bersama."
Sonya menarik lengan Andre tapi pria itu menahannya sejenak dan menolehkan kepalanya menghadap Clara. Sehingga membuat Sonya semakin jengkel namun tak ada yang bisa ia lakukan sehingga terpaksa berdiam diri.
"Kau sudah makan?" tanya Andre.
Seakan baru saja tersadar dari lamunannya, Clara memutar matanya menatap wajah Andre.
"Aku tidak jadi makan Pak Andre," jawab Clara.
"Kenapa?"
"Karena selera makan aku sudah hilang. Permisi." Sengaja Clara menyebut nama Andre dengan embel 'Pak'. Ia tak ingin membuat luka dihatinya terbuka lagi. Walaupun dengan melakukan itu ia benar-benar telah menjadi orang lain antara dirinya dan Andre.
Dengan cepat Clara membalikkan tubuhnya meninggalkan Andre yang terus menatap kepergiannya. Sebelum pada akhirnya ia dapat merasakan lengannya telah ditarik oleh Sonya. Lalu Andre memutar tubuhnya dan berjalan beriringan dengan Sonya menuju kafe.
Clara tahu jika ia tidak cepat membalikkan tubuhnya Andre akan melihat air mata yang telah jatuh di pipinya. Dan ia tidak mau itu terjadi. Lagipula ia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tak mau memperlihatkan sisi lemahnya lagi di hadapan Andre.
***