Part 7

1038 Words
Andre menyentuh kening Clara. Tubuh gadis itu begitu panas. Andre meraih termometer yang didapatnya dari Bu Harti lalu ia mengukur suhu tubuh Clara. Gadis itu hanya diam saja, matanya terpejam rapat namun tidurnya tampak tidak nyenyak. Clara dapat merasakan tubuhnya terasa seperti dibakar oleh api yang yang sedang menyala besar, belum lagi perasaan sakit pada seluruh tubuhnya seakan ia baru saja mengalami pertandingan tinju. Andre menatap termometer yang sedang ia pegang. Tiga puluh sembilan derajat. Astaga Clara! Kenapa kamu bisa sakit seperti ini? Untunglah hari ini Andre dapat berhasil pulang dari Semarang lebih cepat dari yang dijadwalkan. Dia terpaksa pergi ke Semarang untuk membantu mangatasi supermarket milik papanya yang sedang bermasalah di sana. Papanya, Erick sedang sibuk menyambut rekan kerjanya yang baru datang dari luar negeri selama beberapa hari. Sedangkan orang kepercayaan papanya sedang mengelola supermarket milik papanya yang berada di Medan sehingga mau tidak mau Andre-lah yang harus berangkat menggantikan papanya. Walaupun Andre kuliah arsitek namun sebenarnya ia memiliki kemampuan dalam berbisnis. Hanya saja ia tidak terlalu menyukai bidang itu. Ketika setibanya di rumah, Riri mengabarkan jika Clara sedang sakit di rumahnya. Dan orang tua gadis itu sedang ada urusan bisnis di luar negeri. Andre yang mendengar hal itu langsung mengambil kunci mobil di meja kamarnya dan keluar menuju rumah Clara tanpa berkata apapun. Riri yang melihat tingkah laku anaknya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Bu Harti masuk ke dalam kamar dengan membawa sebuah mangkuk berukuran besar berisi air hangat berikut handuknya, sesuai instruksi Andre. Dilihatnya Clara masih dalam keadaan tertidur. Perlahan Andre mulai mencelupkan handuk kering itu ke dalam air hangat dan memerasnya. Lalu meletakkan handuk itu di dahi Clara. Begitu seterusnya Andre menjaga Clara hingga tanpa ia sadari hari semakin larut. Bu Harti membuka pintu kamar Clara perlahan. Ia hendak menyuruh Andre untuk makan malam. Karena sejak kedatangannya ke rumah ini, Andre tidak keluar dari kamar Clara. Pria itu benar-benar menjaga anak majikannya dengan baik. Bibirnya mengulum senyum ketika mendapati sebuah pemandangan di depan matanya. Perlahan Bu Harti menutup pintu kembali, mencoba tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan kedua insan manusia yang sedang terlelap. Keesokan harinya, Clara membuka matanya perlahan. Ia mengedarkan pandangan matanya dan berakhir dengan pemandangan di sebelah sisi ranjangnya. Clara tidak percaya bahwa pagi ini ia melihat Andre yang tertidur terduduk dengan lipatan tangannya sebagai bantal. Bagaimana bisa Andre berada di sini? Bukankah ia seharusnya masih berada di Semarang? "Dre..." panggil Clara dengan suara serak. Efek bangun tidur ditambah tenggorokannya yang sakit. Kedua bola mata Andre yang tertutup mulai terbuka perlahan. Pandangannya bertemu dengan kedua iris cokelat milik Clara. Dengan segera Andre bangkit dari posisinya dan langsung menyentuh kening Clara. "Syukurlah panas kamu sudah turun," ujarnya lega. Semalaman Andre menjaga sahabatnya dengan baik, ia mengganti kompresan di kening gadis itu dan beberapa kali mengecek suhu tubuh Clara. Hingga tanpa ia sadari ia jatuh tertidur karena kelelahan. "Kok kamu bisa ada di sini? Bukannya kamu lagi di Semarang?" Andre memandang kedua bola mata Clada yang berwarna cokelat, "Aku sudah pulang." "Pekerjaan kamu bagaimana?" tanya Clara menghiraukan pertanyaan Andre. "Pekerjaan aku di sana sudah selesai," jawab Andre singkat. "Kapan kamu tiba di rumahku?" tanya Clara lagi. Andre melotot menatap Clara, sehingga membuat nyali gadis itu sedikit menciut. "Kamu jangan banyak tanya dulu. Sekarang lebih baik kamu istirahat. Aku akan meminta Bu Harti untuk membuatkan kamu bubur," ucap Andre. Clara menganggukkan kepalanya. Ia merasa rindu pada sahabatnya ini. Rasanya selama Andre pergi dari sisinya, entah mengapa waktu berjalan sangat lambat. Walaupun sesekali mereka saling menghubungi melalui ponsel tetap saja Clara merasa kehilangan. Karena saat ini-lah mereka tidak bertemu dalam beberapa hari. Biasanya rekor terlama mereka tidak bertemu adalah satu hari, dan saat ini mereka tidak bertemu selama lima hari. Clara merasa sangat senang melihat Andre telah kembali berada di sisinya. Ia tersenyum dalam hati sambil menatap wajah Andre. Andre bangkit dari duduknya. Clara yang melihat Andre hendak pergi, segera menarik pakaian pria itu sehingga pria itu menoleh kembali menghadap Clara. "Jangan pergi. Jangan tinggalkan aku sendiri," pintanya. Andre tersenyum lembut. "Aku nggak kemana-mana kok. Aku cuma mau meminta Bu Harti menyiapkan makanan buat kamu. Dari kemarin kamu-kan belum makan." Setelah mendengar perkataan Andre, Clara dengan berat hati melepaskan pegangannya. Hatinya sudah tenang mendengar perkataan Andre. Setelah meyakinkan Clara, Andre melangkah keluar dari kamar itu. Tiba-tiba pebuah perasaan hangat menjalari hati Clara. Andre benar-benar peduli padanya. Dan hal itu sungguh membahagiakan hatinya. Beberapa saat kemudian Andre datang dengan membawa sebuah nampan di tangannya. Pria itu membantu Clara untuk duduk bersandar pada ranjangnya. Lalu Andre berkata akan menyuapi Clara yang sukses membuat gadis itu menolak mentah-mentah tawaran Andre. Clara yang pada awalnya menolak berkata, "Aku cuma sakit, Dre. Bukan lumpuh. Aku bisa makan sendiri." Namun pada akhirnya Clara menyerah ketika Andre yang menghiraukan perkataannya dan mulai mengangkat sendok bubur itu dan membawanya mendekati bibir Clara. Terpaksa Clara membuka mulutnya dan membiarkan Andre menyuapinya hingga bubur itu tandas dari mangkuknya. Setelah selesai makan Andre menyuruh Clara meminum obatnya. "Sekarang kamu istirahat ya. Aku pulang dulu untuk ganti baju, nanti sore aku ke sini lagi." Clara mengangguk lemah. Walaupun dalam hatinya ia tidak rela. Andre mengusap lembut rambut gadis itu dan mencium keningnya. Lalu ia berjalan keluar dari kamar. Clara tidak menyangka Andre akan mencium keningnya. Sebenarnya itu hal yang biasa Andre lakukan. Tapi entah kenapa kali ini efeknya sangat berbeda. Clara merasa wajahnya terasa panas dan jantungnya juga berdegup cepat. Ya Tuhan apa aku sakit lagi? Clara meraih kedua tangannya dan menyentuh dadanya yang berdebar-debar. *** Clara membuka matanya, ternyata yang tadi itu adalah mimpi dari masa lalu. Clara menoleh ke samping tempat tidurnya. Berharap Andre ada di sana, namun harapannya seperti kertas yang kosong. Tak ada Andre di sana. Ingatannya kembali pada kejadian kemarin siang. Andre memintanya secara langsung untuk tidak menemuinya lagi. Clara menutup kedua matanya. Cairan hangat keluar dari kedua matanya yang telah tertutup. Andre yang ia kenal telah pergi. Tak ada lagi Andre yang akan selalu menjaganya, merawatnya, menghiburnya, dan menyayanginya dengan tulus. Andre, pria yang ia cintai telah benar-benar meninggalkannya. Clara mengangkat kedua tangannya untuk menutupi wajahnya. Lalu pundaknya mulai bergetar pelan dan semakin kencang. Clara menangis seorang diri dalam diam, air matanya yang mengalir deras seakan tak mau berhenti. Hatinya sakit, sangat sakit sekali. Namun sayangnya ia sendiri tak tahu bagaimana menyembuhkannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD