Tak ada yang menyadari kehadiran sesosok yang mengelilingi sepanjang lorong di sebuah rumah sakit. Udara dingin yang menyergap secara tiba-tiba membuat beberapa penjaga mengeratkan sweater guna menghangatkan tubuh.
Sesosok makhluk menyerupai kepulan asap hitam itu mengitari lorong dan mencari korban yang hendak dia hirup energinya. Mata merahnya menangkap dan menemukan calon korbannya yang sedang terbaring tak berdaya. Dia menembus pintu, melihat anak kecil di ranjang dan tersenyum penuh kepuasan.
Dia menghampiri secara perlahan, berdiri tepat di atas tubuh anak kecil kemudian mendekatkan wajahnya hingga dia bisa merasakan energi yang hendak dihisapnya. Senyum terukir dari bibir hitam nan panjang, merasakan setiap hembusan napas yang berasal dari hidung anak kecil yang terlelap.
"Kau membuatku semakin lapar."
Makhluk itu kian mendekat dan membuka mulutnya lebar-lebar lalu membuat tubuh anak kecil tersebut bergetar hebat, tak berselang lama monitor jantung menandakan garis panjang dan bel memanggil dokter juga perawat bergegas menghampiri kamar inap bernomer 28C.
"Terima kasih membuatku kenyang, Anak Manis."
Makhluk itu segera bangkit setelah dia menghirup napas sang korban. Ada rasa kepuasan yang tak terkira, dia pun pergi dengan melayang-layang di udara tanpa memikirkan nasib korbannya yang sudah merenggang nyawa.
****
Ini bukan pertama kalinya Guia menginjakkan kaki di tempat yang membuat peristiwa itu kembali terngiang dan tampak jelas di penglihatannya.
"Apa perlu kita istirahat dulu di sana?"
Guia tertunduk dan menggeleng ketika Gillermo menyuruhnya untuk duduk sejenak, Gill tahu apa yang sedang dipikirkan kembarannya. Namun, dirinya tak bisa berbuat apapun.
"Tidak usah, Gill. Aku sudah menyiapkan hari ini. Lagipula ini tugas kita, bukan?" sahut Guia menoleh pada Gill di sebelahnya sembari memberikan senyuman.
"Oke ... itu baru Guia yang aku kenal," ucap Gill dan mengacak rambut Guia.
Suasana tak nyaman sudah melingkupi seluruh tempat di rumah sakit saat Guia berada di lobby. Ia merasakan udara hitam mengitari setiap ruangan dan bau khas dari makhluk yang sedang diincarnya.
"Kurasa aku tahu di mana tempatnya. Tapi kita harus pura-pura menjenguk teman agar mereka mengijinkan kita naik."
Guia langsung menuju meja resepsionis dan menanyakan ruangan yang hendak ia kunjungi. Sebenarnya ia tak mengenal pasien di sini, tetapi bukan Guia namanya jika ia tak bisa masuk ke sini. Jadi ia pun menggunakan kekuatannya melihat nama pasien dan menemukan satu nama yang sesuai dengan usianya.
Mata Guia tetap waspada memperhatikan beberapa pengunjung rumah sakit, kebanyakan makhluk-makhluk tersebut akan bersembunyi jika melihat kehadiran Guia. Mereka yang tak terlihat begitu takut ketika gadis itu sudah mengangkat tangannya.
"Dia ada di ruang bawah tanah, Gill."
Guia tak bicara menggunakan bibir melainkan suara hati kalau mereka di kerumunan, Guia tak ingin orang menyangka dirinya gila.
"Ya, bau makhluk itu sungguh menusuk hidungku."
Guia dan Gill terus menyusuri lorong rumah sakit hingga mereka menemukan satu ruangan menuju lantai dasar. Tak mungkin mereka menggunakan lift untuk ke sana, jadi mereka memutuskan turun melalui anak tangga.
"Anda mau ke mana, Nona?"
Baru saja tangan Guia ingin membuka pintu, ia mendapat teguran dari seorang pria berjubah dokter dengan snelly yang melingkar di leher.
"Oh aku ingin ke tempat parkir," jawab Guia berbohong.
"Lebih baik menggunakan lift daripada turun melalui anak tangga," saran pria tersebut menatap Guia dengan pandangan aneh.
"Aku sedang berolah raga, Dok. Turun melalui anak tangga lebih sehat," ujar Guia sekali lagi sedangkan Gill yang ada di sampingnya hanya bisa terkekeh saja. Selama ini Guia tak pernah melakukan olah raga.
"Waktu siang hari?" Kembali pria itu bertanya sambil melihat pakaian Guia yang di matanya sungguh aneh.
"Tentu saja. Aku lebih suka siang hari untuk mengeluarkan keringat," jawab Guia dengan mimik kesal.
"Oke dok. Aku pergi dulu ya," lanjut Guia sembari membuka pintu dan meninggalkan pria tersebut. Sebelum sempat si dokter tampan itu menyahut, Guia seolah tak peduli.
Guia jengkel, karena pria itu menganggu tugasnya. Ia dan Gill harus segera menangkap makhluk itu agar tak ada lagi anak yang menjadi korban.
****
Bukan hal sulit mengalahkan makhluk yang masih baru 'lahir' ke dunia manusia. Guia bisa merasakan kehadirannya setelah ia dan Gill masuk ke suatu ruangan yang menyerupai gudang tak terpakai lagi. Di sanalah makhluk itu tinggal di siang hari, setelah malam dia akan memburu napas manusia.
"Aku tahu kau bersembunyi di balik lemari itu ... Javier," kata Guia melihat separuh badan makhluk tersebut.
"Waspadalah Guia. Jangan sampai lengah lagi." Gill memberi peringatannya. Guia mengangguk, ia juga tak mau kejadian kemarin terulang lagi.
"Ayolah Javier, tunjukkan dirimu sekarang," ujar Guia lagi dengan lantang.
Tak ada pergerakan, makhluk bernama Javier itu masih bersembunyi di balik lemari tua yang bersandar di tembok tepat di tengah. Dia tak menyukai kedatangan Guia dan tentu saja Gill yang terkenal dengan tindakan nyeleneh-nya.
"Ya sudah kalau kau tak mau menunjukkan dirimu, jangan salahkan kami hari ini."
Sebenarnya Guia tak menginginkan tindakan ini, tetapi mana ada makhluk jahat menyerahkan dirinya sendiri ke tangan Guia? Itu bagaikan mimpi di siang bolong.
"Awas Guia!"
Guia lengah, sebatang balok hampir mengenai tubuhnya jika Gillermo tak bertindak cepat. Gill merangkul sang adik dalam dekapannya. Gill tak merasakan sakit ketika benda itu terlempar.
"Kau tak apa-apa?" Gillermo menangkup wajah Guia yang masih tampak bingung dan segera sadar ketika tepukan keras terasa di wajahnya.
"Ya, aku tidak apa-apa, Gill."
Guia menghela napas sejenak dan beralih pandangannya pada Javier yang menggendong kucing dengan senyuman menyeringai. Tentu saja makhluk itu masih bersembunyi, itu yang dilihat Guia.
"Ayo, kita selesaikan hari ini."
Guia mengeluarkan botol kecil dari balik jubah, membuka penutupnya lalu dituangkan ke lantai. Ia lalu mengambil seruling dan meniupnya. Jika yang mendengar manusia biasa akan tercipta nada indah, tetapi tidak demikian dengan makhluk tak kasat mata lainnya. Alunan nada yang dimainkan Guia membuat mereka kesakitan.
"Hentikan!"
Sesosok pria muda dengan mata merah keluar dari persembunyian, dia menutup telinganya dan mengerang kesakitan. Dia berjalan menuju Guia dan melayang tepat di air suci yang sudah dituangkan Guia di lantai.
"Aku sudah mengatakan padamu sebelumnya, Javier. Kau saja yang pura-pura tak mendengar," decih Guia menghentikan tiupan serulingnya.
"Selagi kami berbuat baik, serahkan dirimu, Javier," sambung Gill yang sudah berada di depannya.
"Mengapa kau tak bereaksi menyentuh air itu? Kau sama seperti aku, bukan?" Javier terheran-heran melihat Gill yang tak terbakar ketika bersentuhan dengan air suci tersebut.
"Aku berbeda denganmu makhluk lainnya, Javier. Jadi cepat ikutlah aku ke sana." Gill menunjuk ke arah atas, tepatnya di langit.
"Tapi tetap saja kau sudah mati," ejek Javier menyeringai.
Gillermo sudah terbiasa dibicarakan oleh mereka yang tak kasat mata, Gill memang sudah mati dan hanya rohnya saja yang tetap tinggal di muka bumi. Namun, pengecualian bagi dirinya. Gill tak bisa dimusnakan oleh siapapun kecuali atas kemauannya sendiri.
"Sudah kirim saja makhluk jelek ini bersama kucingnya, Gill. Bau tubuhnya membuat aku merasa mual."
"Memangnya kalian bisa menyingkirkanku?"
Javier mengejeknya lagi dan dia berusaha bangkit meski lemah. Dia tak mau kalah hari ini dan masih ada dua anak kecil lagi yang harus dia hisap napasnya agar kekuatannya kembali. Namun sial baginya, Guia menemukannya.
"Dasar makhluk jelek!" Guia tak seperti Gill yang bersabar, gadis itu tak mau berlama-lama. Baginya menyingkirkan makhluk tersebut membuat kelelahan setelahnya.
"Memangnya kalian tahu tujuanku datang ke sini?"
"Kalau tidak tahu, untuk apa aku datang menangkapmu, Makhluk bodoh?"
Guia sudah tak bisa bersabar lagi, ia segera meniup serulingnya lagi untuk memusnahkan kekuatan Javier dan menjadikannya lemah tak berdaya.
"Hentikan! Serulingmu memekakkan telingaku!"
Javier menjerit kesakitan, dia memandang tajam ke arah Guia dan dengan sisa tenaganya, dia menghampiri Guia seraya berlari. Untung saja Gill berhasil menangkap Javier dan tak melukai Guia.
"Jangan pernah menyentuh adikku!"
Gillermo memegang leher Javier, mendorong makhluk itu hingga menembus benda-benda di ruangan dan tangan Gill yang mengeluarkan api langsung dihadapkan ke pusat jantung Javier. Makhluk itu mengerang kesakitan, berteriak dan mengucap sumpah serapah pada mereka berdua sebelum dia menjadi debu.
"Aku akan membawa ke tempat Eilíft. Kau bisa pulang sendiri, Guia?"
Guia mengangguk pelan, lututnya lemas setelah tenaganya terkuras meniup seruling yang tak biasa. Gillermo membawa debu tersebut dan melesat pergi meninggalkan Guia.
Guia berusaha berdiri sambil memegang lututnya, kejadian ini pernah dialaminya dulu. Namun saat itu, Gillermo masih manusia biasa dan Gill melindungi Guia dengan menjadikan tubuhnya sebagai tameng ketua iblis agar sang adik tidak terbunuh.
=Bersambung=