Zaky melangkah keluar dengan gontai, bayangan wajah wanita itu yang hampir hancur karena bergesekan dengan aspal masih berputar di kepalanya. Setelah memberikan keterangan pada dokter dan salah seorang perawat yang ada di ruangan itu tadi, kini Zaky pun kembali ke ruang tunggu di depan ruang operasi. "Bagaimana? Apa yang terjadi?" Samuel yang pertama menyerbunya dengan pertanyaan. Sementara Adrian menatapnya dengan sengit. Tubuh Zaky sekali lag terjerembab, terduduk di lantai. "Li-Liana sudah meninggalkan kita semua ...," lirihnya bagai gelegar petir bagi semua temannya. Theo memundurkan langkahnya dan terduduk di atas kursi di dekatnya. Samuel dan Rifki hanya bisa menggeleng tak percaya. Sementara Adrian tanpa sadar menitikkan air matanya. "Apa yang kau katakan barusan?"

