Pandangan Rika tertuju pada leher Marisa yang mengeluarkan darah segar hingga mengotori baju. "Itu leher kamu berdarah, Sa!" teriaknya. "Kamu—" Indra panik dan segera mengambil kotak P3K. Marisa memegangi leher yang terasa perih. Merasakan darah kental yang keluar dari lehernya. "Cuma tersayat sedikit kok, Ma." "Apaan sedikit? Itu darahnya banyak, Sa!” Rika menunjuk ke arah baju Marisa yang terkena darah. "Lumayan perih, sih." Indra mendekat dan membersihkan darah yang mengalir dengan kain kasa. Ia menekan pusat luka agar tidak terus menerus mengeluarkan darah. "Maaf ini akan perih, Bunda." Indra membersihkan sisa darah dengan cairan NaCl, lalu mengecek lebar dan kedalaman luka. "Untung tidak perlu dijahit." Indra bernapas lega dan menutup luka di leher Marisa dengan perban. "Pel

