BAB VIII

1063 Words
Tidak terasa waktu keberangkatan sudah tiba. Papa dan mama mengantarkanku ke bandara. Ternyata disana sudah ada Donny. Aku mendorong troli berisi 2 tasku yang besar-besar. Di sepanjang koridor mama berpesan ini dan itu. “Kamu uda bawa baju dingin?” “Uda mam.” “Sudah bawa obat?” “Uda.” “Ada yang ketinggalan ga kira-kira?” “Ga ada ma.” “Kalau kamu ga ada uang, bilang, nanti papa bisa transfer.” “Ya ma.” “Sampai sana langsung kasih kabar ya.” “Ya.” “Jangan main game di tempat kerja dan jangan tidur malam-malam” “Ya.” “Jangan percaya sama orang lain. Kamu tidak tau maksud hati orang.” “Ya.” “Nanti orang yang bakal jemput kamu pasti ada kan?” “Ada ma” “Uda dong ma. Papa sampe pusing denger mama tanya tidak habis-habis.” Aku hanya tertawa mendengar papa dan mama yang akhirnya ribut sepanjang jalan. Kenangan ini akan aku bawa pergi. Aku akan merindukan suara berisik mamaku, pelukan papa yang hangat, tawa Donny yang ga terkontrol sama seperti mulut rakusnya. Semua orang yang aku sayangi, yang mendukung aku untuk melangkah. Benar kata Max, ini adalah langkah yang besar. Kami sudah sampai di gate terakhir. Aku berbalik badan untuk melihat mama dan papa serta Donny. Perpisahan ini benar-benar sulit. Tapi keinginanku untuk terbang tinggi tidak terbendung. “Hati-hati di sana ya sayang papa. Kalau uangmu sudah banyak, pulanglah tahun depan.” “Kamu jaga kesehatan, ingat makan. Mama sudah tidak bisa memasak untukmu lagi.” “Nanti kita maen game bareng ya, kita masih bisa ketemu di dunia online.” Aku hanya tersenyum dan melangkah pergi. Aku tidak akan berbalik jika sudah melangkah, aku tidak akan kuat. Walau berat aku berjalan dengan tegap. “Papa..mama..aku akan membuatmu bangga. Don…lu bener-bener best friend gw. Aku pasti kembali.” Papa dan mama hanya berpelukan, dan seketika itu air mata papa terjatuh, putri tersayangnya sudah dewasa, dia siap terbang tinggi. Donny, seperti anak ayam kehilangan anak bebek hanya tertunduk layu. Aku sudah duduk di pesawat yang ternyata kelas bisnis. “Gila ini perusahaan fasilitasnya waw banget, ga salah nih gw dapet kelas bisnis. Gw aja belom nunjukin kalo gw mampu kerja.” Setelah dapat kursi aku memberi kabar Max melalui pesan singkat bahwa pesawatku sudah akan take-off. Aku mencoba untuk tidur karena ini perjalanan yang jauh dengan transit di Frankfurt lalu melanjutkan kembali ke Moskow, Rusia. Menurut tiket yang aku pegang, aku akan sampai di Moskow jam 5 sore di besok harinya. Saat transit, aku langsung menyalakan gawai dan memberi kabar pada papa, mama, Donny dan Max kalo aku sudah sampai di Frankfurt. Lalu pesawat melanjutkan melanjutkan perjalanan sekitar 2 jam lagi untuk sampai Moscow Domododevo Airport. Begitu aku selesai mengambil tas-tasku dan mendorongnya ke gate penjemputan, sumpah, aku bingung. Wajah-wajah yang tidak aku kenali, bahasa yang tidak aku mengerti, bahkan papan petunjuk jalannya saja membuat aku bingung. Untung masih ada Bahasa inggris sebagai bahasa internasional. Aku menyalakan gawai dan menghubungi Max. “Halo Max” “Kau sudah mengambil tasmu? Aku sudah menunggu di gate penjemputan. Kemarilah, aku akan mengenalimu.” Dengan telepon masih tetap tersambung aku melangkahkan kakiku mengikuti kerumunan orang yang juga menuju gate penjemputan. Sambil celingak celinguk aku mencari Max, walapun sudah sering melihatnya saat video call tapi sepertinya semua orang barat berwajah sama. Tepat saat di depan gate, aku melihat kerumunan penjemput dan aku melihat wajah yang aku kenal. Pria tinggi dan berbadan besar, memakai celana jins, jaket tebal dan berwajah tampan. Kali ini kumis dan jenggotnya sudah dicukur, tapi masih menyisakan sedikit darinya, justru hal itu yang menambah ketampanannya. Aku sedang menunggu gadis cantik itu datang, bahkan aku tidak bisa tidur semalam. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya. Dari kejauhan aku sudah bisa melihatnya. Dia melangkah dengan wajah bingungnya, mencoba mencariku. Dia sungguh cantik, hidung mancung dan mata besarnya, rambut hitam panjangnya tergerai mengikuti gerak langkahnya, sepasang kaki jenjang dan tubuh mungilnya. Dia membuatku tak bisa mengalihkan pandangaku. “Datanglah padaku dan aku tidak akan melepaskanmu selamanya.” Mata kami saling bertemu dan aku tersenyum padanya. Mata bulatnya seketika itu menjadi cerah dan senyum manisnya mengembang hanya untukku. “Max!” “Valeri.” “Bagaimana perjalananmu?” “Perjalanan yang panjang, tapi aku tidak menyangka, mereka memberikanku kelas bisnis.” “Itu bagus. Ayo ke mobil, udara benar-benar dingin.” Kami berjalan beriringan menuju mobil sambil Max membawa tasku yang satunya lagi. Mobil yang kami kendarai adalah jenis mobil off-road, jenis mobil yang cocok untuk membelah jalanan bersalju seperti ini. “Kau mau makan atau mau langsung ke hotel?” “Aku sangat lelah, lebih baik aku istirahat saja. Mereka juga sudah menyediakan apartemen. Aku hanya perlu mengambil kuncinya di resepsionis. Bukankah Chesnov Industry itu perusahaan yang keren? Belum bekerja saja fasilitas yang aku dapat sudah sangat banyak.” “Ehemm…itu pasti karena kau spesial. Kapan kau mulai bekerja?” “Hari senin. Itu berarti besok lusa betul?” “Yup.” Mobil membelah jalanan ibukota. Aku melihat kota Moskow dengan mataku sendiri setelah sebelumnya hanya melihat melalui internet, salju menumpuk, bangunan-bangunan yang menjulang tinggi, ranting-ranting pohon yang tertutup salju. “Kau yakin tidak mau makan malam? Aku tahu restoran yang menyajikan makanan Asia.” “Emm…baiklah.”, aku berpaling pada Max yang sejak tadi melihat ke arahku. “Dia pria dewasa yang berbahaya. Jantungku tidak karuan saat pandangan kami bertemu.” “Ada apa Val? Kau lelah?” “Tidak apa Max.”, aku segera memalingkan wajahku. Max hanya tersenyum, dia menyadari kegugupanku. Aku mengambil gawai dan mengirimkan pesan pada papa dan mama juga Donny, setelah sampai di apartemen aku berjanjin akan menghubungi mereka. Kami tiba di restoran yang benar-benar bernuansa Asia, ada lampion menghiasi setiap titik lampu, lukisan dan ornamen yang bergaya Jepang dan mereka juga menyiapkan sumpit sebagai alat makan. Seperti biasa, aku memesan nasi goreng dan lemon teh. Max yang tidak mengerti harus makan apa akhirnya memesan menu yang sama denganku. “Rasanya mirip dengan di negara asalmu?” “Yah. Semua nasi goreng kurang lebih mempunyai rasa yang sama. Ini adalah makanan teraman untuk dimakan. Tidak mungkin ada nasi goreng yang tidak enak sekali.” “Ooo…OK. Besok kau mau pergi denganku? Aku akan mengajakmu berkeliling melihat kota Moskow.” “Aku akan senang sekali jika itu tidak merepotkanmu.” “Tentu tidak Val.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD