9. Aku Suka Caramu Menggoda

1362 Words
Beberapa hari kemudian, Alexis duduk di ruang rapat besar di lantai tertinggi gedung perusahaannya, Rumanov Enterprises. Ruang tersebut didominasi oleh kaca yang memberikan pemandangan kota yang memukau. Meja konferensi dari kayu mahoni mengilap memanjang di tengah ruangan, dikelilingi oleh kursi kulit hitam elegan. Layar besar di salah satu dinding menampilkan presentasi data finansial terkini. Di sisi Alexis berdiri Gerald, asistennya yang selalu sigap. Pria tampan dengan rambut rapi itu mengenakan setelan abu-abu yang sempurna, tangan kirinya memegang tablet, sementara tangan kanannya memegang agenda rapat. Wajahnya tenang, tetapi matanya terus mengamati segala detail di sekitarnya. "Kita akan memulai presentasi mengenai performa kuartal terakhir dan proyek investasi baru di wilayah Asia Pasifik. Saya persilakan Tuan Alexis untuk memberikan arahan pembuka." Alexis berdiri dengan tenang, mengenakan setelan jas hitam yang disesuaikan dengan sempurna. Penampilannya memancarkan kewibawaan. Ia melemparkan pandangan ke seluruh ruangan, memastikan semua perhatian tertuju padanya. "Selamat pagi, semua," ucap Alexis, suaranya dalam dan tegas, menggema di ruangan. "Saya ingin mengucapkan terima kasih atas dedikasi kalian selama kuartal ini. Kita berhasil melampaui target pendapatan sebesar 15 persen—sebuah pencapaian luar biasa. Namun, kita tidak boleh berpuas diri. Ada tantangan besar di depan, terutama dengan rencana ekspansi kita ke pasar Asia Pasifik." Alexis memberi isyarat kepada Gerald untuk melanjutkan. Dengan sigap, Gerald mengetuk layar tabletnya, dan grafik pertumbuhan serta laporan keuangan muncul di layar besar. "Seperti yang dapat Anda lihat," kata Gerald, "proyek ekspansi ini memiliki potensi pendapatan signifikan, tetapi juga membutuhkan investasi awal yang besar. Analisis risiko telah dilakukan oleh tim kami, dan strategi mitigasi sudah disiapkan." Seorang wanita di ujung meja, kepala divisi keuangan, mengangkat tangan. "Tuan Alexis, bagaimana dengan potensi hambatan regulasi di negara-negara target? Ini bisa memperlambat laju ekspansi kita." Alexis mengangguk, wajahnya tetap tenang. "Pertanyaan bagus, Amanda. Saya sudah menugaskan tim hukum untuk bekerja sama dengan konsultan lokal di masing-masing negara. Mereka akan memastikan bahwa semua perizinan dan kebijakan sesuai dengan rencana kita. Selain itu, kita memiliki Gerald yang akan memimpin komunikasi langsung dengan para regulator." Gerald menambahkan dengan cepat, "Kami juga telah mengalokasikan sumber daya untuk mengantisipasi hambatan tersebut, sehingga kita dapat segera menyesuaikan strategi bila diperlukan." Rapat berlangsung selama hampir dua jam. Suasana tetap profesional, dengan setiap divisi memberikan laporan dan masukan. Sesekali, Alexis menyela dengan pertanyaan tajam atau keputusan tegas, menunjukkan bahwa ia menguasai setiap detail proyek. Saat rapat hampir selesai, Alexis berdiri lagi. "Terima kasih atas kerja keras kalian. Saya percaya kita berada di jalur yang benar untuk menjadikan Rumanov Enterprises sebagai pemain global yang lebih kuat. Saya ingin laporan final dari setiap divisi diserahkan kepada Gerald sebelum akhir pekan. Pastikan semuanya berjalan sesuai jadwal." Ketika semua peserta rapat mulai meninggalkan ruangan, Gerald mendekat. "Tuan Alexis, ada beberapa dokumen tambahan yang membutuhkan tanda tangan Anda, termasuk kesepakatan dengan mitra di Tokyo." Alexis menghela napas pendek, lalu tersenyum kecil. "Bawa ke ruang kerja saya. Setelah itu, pastikan Fiona mendapatkan pesan saya bahwa saya mungkin pulang terlambat malam ini." Gerald tersenyum tipis. "Tentu, Tuan. Akan saya pastikan." Setelah itu, Alexis berjalan keluar ruangan, melangkah melewati lorong marmer yang memancarkan kemewahan gedung. Wajahnya tetap tenang, tetapi pikirannya terus fokus pada rencana besar yang sedang ia bangun. Di tengah kesibukannya, bayangan Fiona sesekali melintas di benaknya, memberikan jeda sejenak dari dunia bisnis yang penuh tekanan. Saat jam menunjukkan pukul sebelas siang, Gerald mendekati Alexis di ruang kerjanya. Tablet di tangannya menyala, menampilkan jadwal hari itu. "Tuan Alexis," katanya, suaranya tenang. "Setelah ini, kita memiliki pertemuan makan siang dengan mitra potensial di restoran Amara. Mereka ingin membahas peluang kerja sama dalam proyek Asia Pasifik." Alexis mengangguk, merapikan jasnya. "Baiklah. Pastikan semua dokumen pendukung sudah siap. Saya ingin pertemuan ini efisien." Gerald mengangguk, mengikuti Alexis keluar dari kantor menuju mobil perusahaan yang sudah menunggu di lobi. Dalam perjalanan ke restoran, keduanya membahas poin-poin penting yang akan disampaikan selama rapat. Di Restoran Amara, tempat pertemuan berlangsung, memiliki suasana elegan namun tetap santai. Nuansa modern dengan aksen kayu dan lampu gantung kristal menciptakan suasana yang cocok untuk pertemuan bisnis kelas atas. Alexis dan Gerald disambut oleh manajer restoran yang langsung mengarahkan mereka ke ruang privat. Di sana, mitra potensial mereka, sepasang eksekutif dari perusahaan teknologi, sudah menunggu. Setelah sapaan formal dan beberapa obrolan ringan, mereka mulai membahas poin utama kerja sama. Alexis memimpin pembicaraan dengan karisma dan kepercayaan dirinya yang khas, sementara Gerald melengkapi dengan data dan detail strategis. "Saya pikir, dengan teknologi Anda dan jaringan global kami, kolaborasi ini tidak hanya menjanjikan keuntungan besar, tetapi juga dampak jangka panjang di pasar Asia," ujar Alexis, mengakhiri presentasinya. Eksekutif senior di depannya, seorang pria berusia lima puluhan dengan senyum penuh arti, mengangguk puas. "Saya setuju, Tuan Rumanov. Anda memiliki visi yang luar biasa. Kami akan menyusun draf kesepakatan awal dan segera mengirimkannya kepada Anda." Setelah rapat selesai dan makan siang dihidangkan, suasana menjadi lebih santai. Di tengah obrolan ringan, salah satu eksekutif, seorang wanita bernama Karen, mengeluarkan sebuah amplop elegan dari tasnya. Amplop itu berwarna hitam dengan aksen emas, memancarkan kesan mewah. "Tuan Rumanov," ucap Karen sambil menyerahkan amplop itu. "Kami ingin mengundang Anda ke pesta perusahaan kami minggu depan. Acara ini juga akan menjadi tempat kami merayakan pencapaian terbaru dan memperkenalkan beberapa teknologi terbaru kami. Kehadiran Anda akan sangat kami hargai." Alexis menerima amplop itu dengan sopan, lalu membukanya. Di dalamnya terdapat undangan resmi yang menjelaskan detail acara tersebut, lengkap dengan dress code dan waktu. "Saya merasa terhormat diundang ke acara ini," jawab Alexis dengan senyuman tipis. "Saya akan memastikan untuk meluangkan waktu." Karen tersenyum lega. "Kami berharap Anda bisa hadir. Akan ada banyak mitra potensial di sana, dan saya yakin ini akan menjadi peluang bagus untuk memperluas jaringan." Setelah pertemuan selesai, Alexis dan Gerald meninggalkan restoran, kembali ke mobil dengan pikiran yang sibuk. Setibanya di perusahaan, Alexis berjalan dengan langkah mantap menuju ruangannya. Gerald, seperti biasa, mengikuti di belakangnya sambil membawa dokumen yang harus ditandatangani. Setelah memastikan Alexis tidak memerlukan apa-apa lagi, Gerald melanjutkan tugasnya di luar. Saat Alexis membuka pintu ruangannya, matanya langsung membelalak. Di hadapannya, Fiona duduk dengan santai di kursinya, mengenakan pakaian yang jauh dari kata formal—sebuah gaun merah berpotongan rendah yang menonjolkan lekuk tubuhnya. Kakinya bersilang dengan anggun, dan senyum jahil menghiasi wajahnya. "Selamat datang, Tuan Rumanov," ucap Fiona dengan nada menggoda. Ia memainkan ujung pena di tangannya, menatap Alexis dengan mata berbinar yang penuh tantangan. Alexis berdiri mematung di depan pintu selama beberapa detik, matanya menelusuri setiap detail penampilan Fiona. Wajahnya berubah tegang, dan rahangnya mengatup. Ia menggeram pelan, suara itu dalam dan penuh otoritas. "Fiona," katanya, suaranya nyaris berbisik tetapi penuh intensitas. "Apa yang kau lakukan di sini? Dan ... dengan pakaian seperti itu?" Fiona tertawa kecil, memiringkan kepala. "Bukankah ini kursimu? Aku hanya mencoba membayangkan bagaimana rasanya menjadi Tuan Rumanov yang hebat." Ia mengangkat satu alis, menantang. "Apakah aku terlihat tidak cocok?" Alexis menutup pintu di belakangnya, melangkah mendekat dengan tatapan tajam yang tidak bisa disembunyikan. "Kau tahu aku sedang sibuk hari ini, Fiona. Dan penampilanmu ... jelas tidak membantu." Fiona berdiri dari kursi dengan anggun, membiarkan gaunnya sedikit bergoyang saat ia bergerak. Ia berjalan mendekati Alexis, jari-jarinya menyentuh dasi pria itu, menariknya sedikit. "Aku hanya ingin memberi kejutan. Kau terlalu tegang akhir-akhir ini. Kupikir kau butuh sedikit hiburan." Alexis mendekat, menatap Fiona dengan intens. "Kejutan, ya?" desisnya, suaranya rendah. "Kau tahu apa yang terjadi jika kau bermain api denganku, Fiona." Fiona tersenyum menggoda, tidak gentar dengan ancamannya. "Aku tahu persis, Alex. Dan aku suka bermain api." Tanpa peringatan, Alexis meraih pinggang Fiona dengan satu tangan, menariknya lebih dekat. Tatapannya menjadi lebih gelap, penuh gairah yang sulit dikontrol. "Kau benar-benar suka menguji batasku, bukan?" Fiona tertawa kecil, menempelkan telapak tangannya di d**a Alexis. "Kau tahu aku suka melihatmu kehilangan kontrol, Alex." Namun sebelum situasi memanas lebih jauh, ada ketukan di pintu. Suara Gerald terdengar dari luar. "Tuan Alexis, dokumen penting untuk proyek Asia Pasifik sudah siap. Apakah saya bisa masuk?" Fiona buru-buru menjauh dari Alexis, mencoba memperbaiki penampilannya. Wajahnya memerah, tapi ia masih terlihat penuh percaya diri. Alexis menarik napas panjang, berusaha mengendalikan diri. "Tunggu sebentar, Gerald," jawabnya dengan nada datar. Ia menatap Fiona dengan tajam. "Kita lanjutkan ini nanti, aku suka caramu menggoda," bisiknya, sebelum berjalan ke pintu dan membukanya. Fiona hanya tersenyum tipis, merasa puas telah menggoda Alexis sampai ke batasnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD