Langkah Bulan terhenti. Dihadapannya, Nico terengah-engah dengan tatapan yang tidak lepas dari gadis itu.
“Lan, lo nggak apa-apa?” tanyanya cepat. Sinting! Jantung Nico nyaris copot begitu mendengar kabar dari kampus beberapa hari lalu.
Setelah insiden “peluru tersasar” waktu itu, kampus meliburkan seluruh kegiatannya selama 3 hari. Memastikan benar bahwa kondisi sudah pulih dan tidak ada lagi yang menjadi korban. Pihak kampus bahkan memberikan tambahan penjaga agar pengawasan diperketat. s****n. Kenapa tidak sekalian seminggu atau sebulan? Biar Bulan bisa bobo gitu di rumah.
Bulan tersenyum. “Nggak apa-apa. Meleset kok,” balasnya santai membuat hati Nico tenang. Batinnya mengucap syukur sebanyak-banyaknya.
“Syukurlah. Lo mau kemana sekarang? Biar gue temani, mau?” tawar Nico membuat Bulan meringis kecil.
“Nggak perlu kayaknya deh, Co. Memang lo nggak ada kelas ya?” Bulan semakin meringis ketika Nico menggeleng seraya menatapnya penuh tanya.
“Memang lo mau kemana sekarang?” tanya Nico saat kedua bola mata Bulan bergerak gelisah.
“Gue lagi nyari Bin—Biru...” ia buru-buru meralat begitu lidahnya tak sengaja ingin mengucapkan nama Bintang. Tidak ada yang boleh tahu. Meskipun Nico sudah tahu Bintang adalah adiknya, tapi bukan tidak mungkin laki-laki itu akan berpikir macam-macam bila Bulan menyebut Biru seperti menyebut adiknya sendiri.
Pernyataan itu membuat Nico mengernyit. Ia tidak suka. Benci ketika orang yang lebih dekat dengan Bulan justru tidak jelas bentuknya. Baginya, Bulan sempurna. Meskipun di depan beberapa orang gadis itu adalah sabit, namun baginya selalu menjadi purnama. Jika memang Bulan bukanlah miliknya, ia akan merelakan gadis itu untuk laki-laki yang jauh lebih baik darinya. Tapi Biru? Oh ayolah! Apasih yang membuat gadis ini betah berlama-lama dengan sarang kuman seperti Biru?! Nico bahkan jauh lebih baik!
“Oh.” Pada akhirnya Nico hanya manggut-manggut dan tersenyum. “Mau gue bantuin cari Biru?”
Masa mau gue tolak lagi? Batin Bulan bimbang. Nico sudah berbaik hati. Ia tahu, Nico khawatir dengannya, takut-takut akan terjadi sesuatu yang tidak mereka inginkan terhadap Bulan. Tapi, Bulan juga tidak ingin Nico bertemu dengan Biru. Kasihan Biru kalau sampai merasa terintimidasi karena kehadiran Nico...
Bicara soal Biru, Bulan tidak tahu kemana perginya anak itu. Sewaktu di rumah sakit, saat Bulan meminta Biru untuk menemaninya hingga Belinda kembali, Biru malah meringis dan pergi setelah meminta maaf sebanyak-banyaknya. Laki-laki itu mengatakan ada urusan mendadak di rumahnya. Bundanya membutuhkan bantuan Biru.
Hmm, entah mengapa tiba-tiba muncul keinginan Bulan untuk berkunjung ke rumah Biru. Bertemu dengan bunda sang Biru sepertinya menarik.
Bulan tidak sadar dirinya mengulum senyum. Nico yang menyadari hal itu pun mengangkat alis.
“Lo nggak apa-apa?” tanya. Nico tidak perlu bertanya seharusnya. Ia tahu betul alasan Bulan tersenyum. Pasti karena Biru! Dan Nico tidak suka itu.
Wajah Bulan memerah. Demi Tuhan! Bahkan Nico belum pernah melihat hal ini. Bulan yang malu-malu? Itu bukan Bulan banget! Dan parahnya, alasan gadis ini merona adalah Biru.
BIRU!
Taik. Nico benar-benar kalah bahkan sebelum berperang! Kalahnya dengan manusia yang bahkan nggak beraturan bentuknya pula!
“Nggak apa-apa kok.” Bulan tersenyum kecil lantas menepuk bahu Nico sekilas. “Gue duluan ya.”
Dan Nico hanya bisa terpaku menatap punggung mungil Bulan yang berlalu. Oh, astaga! Betapa sulitnya meraih Bulan dan merasakan cahaya gadis itu. Sejak lama, bahkan ia rasa Bulan pun mengetahui perasaannya, namun takdir selalu mempersulit semuanya. Mungkin Bulan memang bukan untuk Nico? Dan demi Tuhan, Nico tidak akan berkhianat pada garis yang ditentukan-Nya. Namun, bila orang yang mendapatkan Bulan justru tidak lebih pantas darinya, bagaimana ia bisa rela?
Bulan harus dapat yang terbaik. Meskipun bukan dirinya. Setidaknya bukan dengan Biru!
***
“BINTANG!”
Biru mengaduh saat sebuah kepalan mungil yang tidak seberapa itu menghantam kepalanya. Meskipun tidak menyakiti, Biru tetap terkejut! Bulan bahkan melompat tinggi hanya untuk menjambak rambut tebal Biru.
“Kemana aja lo? Iiiiiihh!!!” Ditarik-tariknya rambut Biru dengan kencang sampai Biru meringis. “Tahu nggak sih, gue itu nyariin lo!” Kepalan Bulan memukul bahu tegapnya dengan kencang. Kali ini, Biru merasakan tenaga gadis itu.
“Maaf, Bulan. Biru kemarin harus bantu Bunda angkatin barang-barang...” Biru memandangi perban di lengan Bulan dan menyentuhnya dengan lembut. “Masih sakit?”
Bulan memutar kedua matanya. “Nggak. Kan gue udah bilang, Cuma perih-perih sedikit. Apa lagi pas mandi!”
“Perbannya diganti, kan?”
“Yaiyalah!” Bulan mendengus, tapi tak urung ia penasaran juga dengan penjelasan Biru. “Bunda lo tahu nggak, gue masuk rumah sakit?”
Biru terkekeh geli. “Kenapa Bunda harus tahu Bulan?”
Eh?
Lah? Iya juga. Sebenarnya, Bulan ini kenapa sih? Kenapa juga bundanya Biru harus tahu dia? Hmm, tapi bukankah ini menarik? Ini bisa menjadi alasan untuknya bertemu dengan bunda Biru.
“Yaaah, memang Bunda lo nggak tahu teman-teman lo?”
Biru menggeleng lemah. “Biru, kan, nggak pernah punya teman. Dan Biru bingung harus cerita apa ke Bunda soal Bulan. Biru akui, Biru senang banget dengan kehadiran Bulan yang mau jadi teman Biru. Tapi Bunda pasti berpikir yang nggak-nggak kalau tiba-tiba gadis secantik Bulan bersedia jadi teman Biru...”
Pipi Bulan merona. s**t! Kenapa sih ini anak pakai muji-muji segala? Batinnya menggerutu. Adalah wajar jika Bulan dipuji oleh kaum Adam bahkan kaum Hawa. Namun, adalah tidak wajar bila Bulan tersipu ketika dipuji oleh kaum alien seperti Biru yang berantakan mampus wujudnya.
“...Biru nggak mau, Bunda berpikiran negatif terhadap Bulan.”
Bulan tersenyum lembut. “Kalau begitu, bawa gue ke hadapan Bunda lo.”
DANG!
Apa yang Bulan baru saja katakan? Biru terdiam. Ia mungkin membawa Bulan. Tidak. Ia tidak bisa. Namun, ia lebih tidak mungkin lagi menolak Bulan. Apa alasannya? Bundanya tidak mau bertemu Bulan? Itu luar biasa t***l! Setiap wanita pasti ingin anak laki-lakinya mengenalkan teman perempuannya. Apalagi gadis yang dibawanya adalah nyaris sempurna. Bahkan terlalu sempurna untuk Biru.
Biru menggeleng. “Maaf Bulan, nggak bisa. Bunda pasti sedang istirahat...”
“Nggak harus sekarang kok.” Bulan mengangkat alisnya, aneh. Rasanya, belum ada yang menolaknya. Mereka, kaum laki-laki itu pasti sangat bangga mengenalkan gadis secantik Bulan pada orang tuanya. Tapi mengapa tidak dengan Biru ini?
Hmm, Bulan kecantikan ya?
Najis! Ih amit-amit! Sejak kapan ia jadi centil begini? Astaga. Ganjen karena Biru itu bukan suatu kebanggaan! Duh, Bulan merasa jadi orang termunafik bermuka tiga di dunia.
“Tetap nggak bisa, Bulan!” tukas Biru, kukuh.
Bulan tertegun. “Yaudah, biasa aja dong!” Gadis itu mendengus lantas berlalu meninggalkan Biru yang bergeming.
Heran. Kenapa sih ia harus terbawa baper? Batin Bulan menggerutu. Langkah cepatnya bahkan semakin melambat begitu menyadari kebodohannya. Kenapa ia harus merasa kesal? Hatinya sedikit tercubit mendengar Biru berucap tajam tadi.
Bulan memang keras kepala, tapi bisa kan selembut Nico dan Langit? Huh! Sudah jelek, belagu pula!
Di tempatnya, Biru menyesali ucapannya. Baru ia akan berlari mengejar Bulan, seseorang menghentikan langkahnya.
Di hadapannya, Nico dengan senyum meremehkan serta sorot mata yang tajam, sanggup membuat Biru kontan menunduk.
“Gue sengaja biarin lo dekat dengan Bulan. Gue coba nggak mengusik kalian meskipun gue gerah lihat Bulan nyentuh-nyentuh lo.” Nico mengerling tajam. Mengamati penampilan Biru dari bawah hingga atas. Hatinya geram mengingat beberapa saat lalu, Bulan dengan santai menarik-narik kepala Biru ke bawah yang membuat laki-laki itu merasakan lembutnya jemari Bulan dan aroma yang menguar dari lekukan leher gadis itu. Nico tertawa mengejek, “Tapi lo malah membuat dia sedih. s****n benar lo ya.”
Sedih? Bulan sedih? Astaga! Apa yang Biru harus lakukan? Ia menyesal. Biru tidak ingin dijauhi Bulan.
“Maaf—“
“Jangan minta maaf sama gue lah, g****k!” Nico berdecak kesal. Kedua matanya menyipit tajam ke arah Biru. “Kejar sana! Tunggu apa lagi?!”
Biru berlalu, meninggalkan Nico yang mengembuskan napasnya kasar. Ia kesal dengan Biru yang t***l! Ia kesal dengan perbuatannya sendiri. Ia bisa saja mengambil kesempatan dengan mendekati Bulan saat gadis itu bersedih dan meracuni pikirannya untuk menjauhkan gadisnya dengan Biru.
Namun, tidak. Ia malah memilih untuk menghampiri Biru dan menyuruh laki-laki itu memperbaiki semuanya.
Meskipun benci, Nico sadar. Ia tidak bisa memancarkan cahaya seperti halnya Biru pada Bulan. Gadis itu membutuhkan warnanya. Sementara ia tidak tahu bagaimana cara menyatukan warna dirinya dengan sang purnama agar menjadi indah. Ia belum tahu bagaimana cara membuat Bulannya bahagia. Dengan Biru. Bahkan dengan hal-hal sederhana yang dilakukan laki-laki itu, Bulan tersenyum. Bulan bahkan bersedih untuk Biru! Nico tidak sanggup mengobatinya. Warna biru, bukan ada pada dirinya.
Seperti malam yang membutuhkan siang agar bumi tahu bahwa sang langit berwarna. Cahaya pun membutuhkan warnanya. Tanpa disadari gadis itu sendiri, Bulan membutukan Birunya.
Dan Nico tidak bisa melarang bukan? Katakanlah ia plin-plan. Sedetik ia melarang Biru dekat dengan Bulan, sedetik pula pikirannya berubah untuk membuat Bulannya bahagia dengan kehadiran Biru. Masa bodoh. Ia tidak peduli. Ia akan mengikuti kata hatinya sebagaimana baiknya. Bukan tidak mungkin, ia akan berubah-ubah nantinya.
Tergantung hatinya. Tergantung kebahagiaan Bulannya. Tergantung bagaimana perlakuan Biru terhadap gadisnya, cahaya hidupnya.
***
Biru meraih pergelangan Bulan, membuat langkah gadis itu terhenti dan mengerling tajam ke arahnya.
Bulan tidak terlihat sedih. Ia menutupinya dengan wajah marah yang dibuat-buat. Namun, Biru menyadari. Kilat sedih di sepasang kedua mata bundar itu menyentil hatinya.
“Apaan sih!”
Bulan berusaha melepas tangan Biru dari pergelangannya. Adegan murahan memang. Tapi Bulan benar-benar kesal. Ia bahkan berniat pulang—tidak. Lebih tepatnya, kabur ke kostnya Nurul. Mau diapakan dirinya dengan Belinda kalau sampai wanita itu tahu Bulan membolos?
“Maafin Biru, Bulan. Biru nggak sengaja.”
“Ya! Lo selalu bilang nggak sengaja, nggak tahu, nggak mengerti! Tapi pernah nggak sih lo mikirin posisi gue? Masih mending ada yang mau bicara sama lo. Oh, atau mungkin karena ini ya. Bukan hanya luar ternyata, mulut lo juga jelek jadi orang malas ngobrol sama lo!”
Niatnya hanya mau bicara, “Gue nggak suka dibentak.” Meskipun Biru bukan membentaknya, tapi lidah laki-laki itu terasa begitu tajam tadi. Terbukti dari hatinya yang teriris.
Alih-alih bicara begitu, Bulan justru menghina Biru. Berucap kalimat pedas dengan napas memburu tanpa disadarinya.
Dan Bulan menangis.
“Bintang, maaf. Gue nggak maksud...”
Dipikirnya Biru akan pergi dan kembali membentaknya, rengkuhan hangat dari laki-laki itu justru menyelamatkan wajahnya yang berlinang air mata. Usapan lembut di kepalanya, membuat napas Bulan perlahan tenang.
“Nggak apa-apa, Bulan.” Biru menarik diri. Ia menyejajarkan wajahnya dengan Bulan. Tersenyum lembut seraya menghapus air mata gadis itu. “Biru mengerti. Bulan benar, mungkin karena itu Biru nggak punya teman...”
Bulan menggeleng. Gadis itu mengucak-ngucak matanya, menghalangi air mata kembali terjatuh. “Nggak. Gue nggak maksud. Gue asal ngomong.”
Biru tersenyum geli. “Iya. Biru paham. Oke, Bulan nggak maksud seperti itu kan? Biru maafin kok, tapi Bulan juga harus maafin Biru ya? Kita baikan, kan?”
Bulan tertawa geli ketika Biru mengacungkan kelingkingnya. Gadis itu lantas mengaitkan kelingking mungilnya pada kelingking besar sang Biru.
Biru tersenyum lembut seraya mengusap puncak kepala Bulan. Bagaimana gadis ini bisa berpengaruh untuknya? Dengan cepat dan tanpa keduanya sadari, Bulan telah mengisi ruang kosong dalam hati Biru.
Bulan diam-diam merasa kesal terhadap dirinya sendiri. Mengapa ia bertindak seperti anak kecil?! Tapi tidak dengan Biru. Laki-laki itu justru menyukainya. Menyukai Bulan yang saat ini bersamanya. Bulan yang polos dan butuh dilindungi. Bulan yang tersenyum dan menangis untuk dan karenanya.
“Jadi, Bulan mau ketemu sama Bunda?”
Kedua mata Bulan membulat sempurna. “Boleh?” tanya Bulan antusias. Gadis itu tidak mengerti kenapa. Tapi yang pasti, Bulan senang karena akan bertemu dengan wanita yang melahirkan Biru. Ia penasaran. Sangat-sangat penasaran.
Biru mengangguk seraya tersenyum. Tatapannya tidak luput dari wajah cantik sang Bulan. “Boleh,” lirihnya membuat senyum sabit yang manis, terbit di wajah gadis itu.
***
Bulan mengerjap-ngerjap memandangi rumah Biru. Rumah di hadapannya ini begitu mirip dengan rumahnya. Mungil dan sederhana, namun begitu nyaman. Bahkan aura kenyamanan bangunan tersebut begitu kental sampai di luarnya.
“Ayuk, masuk.”
Bulan tetap bergeming sampai jemari Biru menguasai jemarinya. Laki-laki itu menuntun Bulan masuk ke dalam rumahnya.
“Siapa ini?”
Pertanyaan itu kontan mengalihkan perhatian Bulan dari interior rumah Biru. Seorang wanita berparas cantik datang dengan kursi rodanya. Kedua tangannya memutar roda, menghampiri Bulan yang lantas menunduk dan menyalaminya.
Wanita ini sangat cantik! Gurat-gurat halus yang menandakan bahwa ia tidak lagi muda, tidak dapat menyembunyikan aura kecantikan yang begitu terpancar. Sosoknya berwibawa walaupun hanya dapat duduk di kursi rodanya. Sepasang mata kelabu dengan sorot tegas sekaligus hangat tersebut dapat mengundang serta mewaspadai lawan bicaranya. Penampilannya sederhana, namun tidak dapat dipungkiri, gestur tubuhnya saat berbicara sangat menunjukkan seolah dirinya berasal dari kaum berada. Persis seperti wanita barat yang salah tempat tinggal!
“Maaf mengganggu, Tante. Saya Bulan. Saya Cuma pengin main.” Bulan meringis kecil. Jawaban apa itu?!
Wanita itu tersenyum. Mendongak menatap gadis cantik di hadapannya. “Panggil saja Bunda. Kamu temannya Biru, Bulan? Biru tidak pernah cerita soal gadis secantik kamu.”
Bulan tersipu. “Katanya Bintang takut kalau Bunda berpikir yang nggak-nggak sama Bulan.”
“Bintang?” lirih wanita itu dengan dahi mengernyit. Bertanya, terlebih pada dirinya sendiri. Kemudian ia tersenyum, “Bunda tidak akan berpikir yang aneh-aneh terhadap gadis sebaik kamu, Bulan.”
Batin Bulan meringis. Andaikan wanita ini tahu, ia begitu munafik untuk anaknya. Mungkin, wanita ini tidak akan tersenyum ramah padanya.
“Mari ikut Bunda ke dalam. Bantu Bunda buatkan teh hangat untukmu ya.” Bunda tersenyum lembut. “Maklum, dengan kondisi Bunda yang seperti ini sangat sulit meraih cangkir.”
Bulan tersenyum manis. “Dengan senang hati, Bunda.”
Gadis itu mendorong kursi roda bundanya Biru dengan semangat. Keduanya berlalu meninggalkan Biru yang membatu di tempatnya.
Apa itu barusan?!
Terdengar tawa yang berasal dari dapur. Laki-laki itu teramat yakin, itu bukanlah tawa Bulan.
Hatinya berdesir. Harus berapa kali ia mengelak dan meyakinkan dirinya sendiri? Gadis ini berpengaruh padanya. Bulan, penerangnya.
***
Laki-laki itu menghampiri wanita yang tengah menatap bayangannya di cermin. Bayangan besar dan menjulang yang turut hadir dalam cermin tersebut, membuat wanita itu mengalihkan pandangannya.
“Terima kasih.”
Wanita itu tidak membalasnya, tapi ia memutar kursi rodanya. Menghadap laki-laki itu dan membuatnya terkejut. Wanita itu menepuk-nepuk ringan kedua pahanya. Dengan rasa bahagia yang membuncah, laki-laki itu menghapus jarak. Meletakkan kepalanya di atas pangkuan wanita itu. Dan kini, ia dapat merasakan belaian lembut sang wanita yang membuatnya ada.
“Ketika kamu merasa salah. Berhentilah.”
Dalam pangkuannya, laki-laki itu mengangguk kecil. Tak kuasa menahan air matanya.