Bagian 5

1622 Words
Vanessa pov "Cepat sedikit, Vanessa!!" teriak Andrew, entah untuk keberapa kalinya sepanjang pagi ini. Apa dia tidak bisa melihat kalau dari tadi aku sudah mondar-mandir dengan tergesa-gesa buat berkemas? Kenapa dia masih terus meneriakiku? dasar laki-laki cerewet. Iss, itu laki-laki cerewet banget, sudah kaya nenek-nenek. Omaku saja sudah tua tidak seperti dia. "Iya bentaran, Drew. Kamu nggak lihat ini aku lagi siap-siap?" gumamku sambil sibuk merapikan penampilanku, sekarang giliran lipstik yang kupoles kebibirku. "Ck, makanya kalau dibangunin itu langsung bangun. Bukannya tidur balik, Anak gadis tidurnya seperti kerbau." dia kembali mengomel. See, dia menyebalkan. Semalam mami menelepon, menyuruh kami untuk datang kerumah buat menyapa semua keluarga yang sudah datang. Karena lusa adalah pernikahan kami, semua keluarga sudah datang. Termasuk kedua orang tua sicerewet calon suamiku ini, adeknya Amelia juga ikut. Karena itulah Andrew kesal, katanya tidak sopan membiarkan orangtuanya menunggu lama. Hello, memangnya aku pingin berlaku tidak sopan pada calon mertuaku? Ini semua juga bukan rencanaku. Aku bangun terlambat, oke aku mengaku salah. Andrew tadi sudah membangunkanku pukul tujuh pagi, tapi karena efek kelelahan akibat pemotretan satu minggu di Sumbawa seluruh tubuhku seolah menolak bekerjasama untuk beranjak dari tempat tidur, mataku kembali terpejam dan akhirnya pukul sembilan baru aku bangun. Itu pun karena Andrew kembali membangunkanku, eh lebih tepatnya menyeretku ding. Dia sampai menggendongku ke kamar mandi karena tubuhku masih agak berat terbangun. Setelah aku keluar dari kamar mandi mulailah aksi ceramah calon suamiku tersayang. sampai sekarang dia masih mengomeliku dengan kesal. Dia nggak tahu saja, dari tadi dia sibuk ngomel, aku setengah mati menahan tawa keluar dari mulutku. Andrew itu kalau kesal, lucu sekali. Apalagi pas lagi ngomel, duh bibirnya yang mengerucut ingin kucium. Aku memperhatikan dari cermin dia yang lagi menelepon seseorang, dia berbicara dengan nada sopan pada seseorang di sebrang telepon tapi lirikan matanya padaku sangat tajam. Dia masih kesal rupanya. Ck, sebenarnya apa sih masalahnya? Kalau hanya masalah terlambat bangun kenapa dia sampai sekesal ini. Tapi, mulai tadi malam dia memang sudah uring-uringan. Dimulai dari aku yang membelikannya s**u kuda liar dan memaksanya untuk meminum s**u kuda liar tersebut. Aku membelikannya s**u itu bukan tidak mempunyai tujuan sama sekali, isi pesanku yang mengatakan untuk malam pengantin kemarin hanyalah candaan. Tujuan sebenarnya adalah supaya dia tetap sehat dan tidak mudah lelah saat acara pernikahan kami nanti, aku juga uda minum kok. Apa lagi saat mendengar dari papi, kalau akhir-akhir ini Andrew sangat sibuk. Walau aku baru mengenalnya, aku sudah merasakan kecemasan pada calon suamiku ini. Aku sampai menahan diriku untuk selalu meneleponnya, padahal aku sudah sangat ingin mendengar suaranya. Mungkin pekerjaan yang menumpuk yang membuatnya stress, akhirnya berimbas pada kehidupan pribadinya sendiri. Aku memang masih muda, tapi bukan berarti aku tidak tahu menyikapi situasi seperti ini. Pengalamanku selama beberapa tahun terakhir ini, saat ketiga kakakku menikah dan berkeluarga memberiku banyak pengalaman. Saat pasangan kita sedang kesal jangan mengatakan kalimat yang semakin menyulut emosinya, cobalah untuk tersenyum dan melontarkan godaan-godaan kecil. Dan itulah yang dari tadi sedang kulakukan, meski terlihat seperti kekanakan dan terlihat tidak peduli, tapi hanya itulah cara yang kutahu. Tanpa merasa bersalah, aku melontarkan senyuman termanisku kemudian mengerling nakal lalu memberikannya ciuman jauh lewat cermin. Kupikir aku berhasil, ternyata tidak. Andrew kembali mengomel. Aku hanya bisa menghela napas. Lama-lama, aku semprot juga ini calon laki. "Kamu lihat? Sekarang kedua orang tuaku sudah kembali ke Hotel karena aku nggak sampai juga ke rumah orangtuamu," gumamnya kesal setelah mematikan telepon, kemudian dia menghela napas. "Dewasalah sedikit, Nes!  jangan seperti anak kecil." Aku berdiri dari kursi rias kemudian membalikkan badan menghadap padanya. "Aku kan suda minta maaf, Drew. Aku tahu aku salah karena terlambat bangun, tapi..." "Kamu bukan terlambat bangun, tapi nggak mau bangun." Belum lagi aku selesai berbicara dia sudah memotong, matanya melotot sempurna. Aku heran, mata Andrew itu kecil, tapi kalau sedang melotot seperti sekarang ini matanya bisa sampai sebesar jengkol. Oke aku berlebihan, matanya bukan sebesar jengkol, tapi sebesar melon. Ck, lebih parah ya? Abaikan. Satu bulan aku mengenalnya, sifat yang paling kentara yang ia miliki itu hanya satu. CEREWET. Cerewetnya itu, BAH, ngalahin mak-mak di Pasar loak. Tapi, kadang-kadang aku mikir, apa karena sifatku yang tidak benar ya makanya Andrew jadi seperti itu. Andrew mengambil dompet, ponsel dan kunci mobil dari atas nakas. "Sudahlah, berdebat denganmu nggak akan pernah selesai." "Udah tahu tapi masih didebat," sungutku kesal. Yeah, aku sudah nyerah bermanis-manis dengannya. Toh, dia tidak terpengaruh sedikit pun. Biarlah dia semakin kesal, bila perlu kami adu mulut sampe malam. Hitung-hitung persiapan sebelum menjadi istrinya. Aku masih punya tenaga buat meladeni semua ocehannya, jangan lupakan kalau aku sudah meminum s**u kuda liar. Ternyata omongan orang itu benar, s**u kuda liar memang bagus buat Stamina. Hahaha, dia mah uda tua, mana sanggup lama-lama berdebat denganku. Kalau Andrew ngajak ribut?? Mari!! Sampe pagi aku ladeni. Lama Andrew terdiam hanya menatapku, dia menghentikan langkahnya kemudian. "Aku lebih tua di sini, sudah seharusnya aku yang lebih bersikap dewasa dan mau mengalah." "Noh, itu tahu," aku ikut-ikutan kesal dibuatnya. Serius, dia itu benar-benar laki-laki penguji kesabaran. Aku sudah berulang kali meminta maaf, setelah mandi aku langsung berpakaian dengan buru-buru, meski dia merepet tidak jelas aku selalu menggodanya supaya dia tidak semakin kesal. Tapi bukannya luluh, repetannya malah semakin memusingkan, apalagi saat orang tuanya mengatakan kembali ke hotel tempat mereka menginap. Bukannya apa, rumah Andrew ini sangat besar, kenapa calon mertuaku itu tidak menginap di sini aja? Kalau mereka nginap di sini kan anaknya yang cerewet ini tidak perlu merepetiku sepanjang jalan kenangan seperti ini. Terdengar helaan napasnya. "Mungkin setelah menikah kamu akan belajar menjadi istri yang baik, menghilangkan sifat keras kepalamu itu. Nggak akan ada yang pria yang mau menikahi gadis manja kekanak-kanakan sepertimu." dengan santainya dia berjalan ke luar kamar. Sebelum dia benar-benar keluar, Andrew membalik badan dan melirik penampilanku, "ganti sepatumu itu, haknya ketinggian. Kamu nggak akan bebas bergerak nanti, apalagi saat menyapa keluarga kamu butuh kenyamanan." Aku sudah akan berteriak saat dia menututup pintu di belakangnya. Kalau tidak mengingat harga lipstik yang saat ini sedang kugenggam sangat mahal, aku sudah melemparkannya dari tadi. "Gadis manja kekanak-kanakan katanya?? Dia belum melihat seperti apa gadis manja kekanakan yang sebenarnya. -------- Aku tidak mengganti sepatuku seperti yang di perintahkan Andrew, biar dia lihat seberapa kekanakkan dan keras kepalanya aku. Dia pikir dia siapa?...oke, dia calon suamiku. Iiss, tapi kan dia tidak perlu seperti itu. Aku berjalan dengan santai melangkahkan kakiku yang panjang, dan semakin panjang ditambah hak sepatuku yang 14cm. Aku seorang model dan sudah biasa memakai sepatu setinggi ini, dasar dianya saja yang cerewet. Tidak punya bahan buat ribut, akhirnya dia menjadikan sepatuku sebagai dalih. Ck, dasar calon suami cari ribut. Aku tidak peduli Andrew yang sudah lama menungguku. Rasain, siapa suruh membuatku kesal. Belum nikah saja dia sudah begini, apalagi saat sudah nikah nanti. Jangan-jangan...jangan-jangan...Andrew akan melarangku bekerja sebagai model. Dia sendiri bilang kalau dirinya pria yang posesif, tapi apa mungkin dia akan sepengatur itu padaku? Ah, itu tidak mungkin. Dia pasti tidak akan membatasi ruang gerakku selagi masih dalam tahap normal. Iya, kan?? Aku menatap mobil Andrew yang sudah terparkir di depan, terlihat Andrew sedang memainkan ponselnya karena pintu penumpang dibiarkan terbuka. Aku sudah setengah jalan menuju pintu keluar saat tiba-tiba kakiku terpeleset. "Aaaaaaaaaa....buuukk....aauuw" Oh Tuhan, sakit sekali. Kakiku, oh kakiku pasti patah. Rasanya sakit sekali Pantatku. Apalagi pantatku menyentuh lantai dengan sangat keras. Semoga tidak terjadi cedera serius pada p****t dan kakiku, soalnya kedua itu adalah asetku dalam bekerja. Dengan mata yañg mengabur karena air mata, aku melihat Andrew yang berlari ke arahku. "Kenapa bisa sampai jatuh?" tanyanya saat berada di depanku, matanya melirik kakiku dan sepatu yang kupakai. Sontak rahangnya mengeras. Dengan kasar Andrew melepas kedua sepatuku dan melemparnya ke sudut ruangan. "Aku sudah bilang jangan pakai sepatu itu, kenapa kamu membantah.?" tuntutnya sinis. Aku meringis saat merasakan sakit di pergelangan kakiku. "Sakit, Drew," aku mengadu. Andrew menggulung lengan kemejanya sampai kesiku kemudian menggendong dan meletakkanku di sofa. Dengan perlahan dia mengulurkan kakiku, memijitnya pelan. Aku sedikit takut dengan reaksinya, aku takut dia memarahiku. "BIIIKK," Andrew berteriak memanggil asisten rumah tangganya. Setelah bik Ati datang dia menyuruh mengambil saleb. Nada suaranya sarat akan kemarahan, dan hal itu semakin membuat nyaliku semakin ciut buat menghadapinya. Setelah bik Ati datang, andrew mengambil saleb yang diberikan. "lain kali kalau ngepel perhatikan orang yang mau lewat!" bentaknya kasar pada bik Ati. Kemudian mulai melumuri pergelangan kakiku dengan saleb tersebut, tapi mimik wajahnya masih merah padam. Aku tidak tahu dia marah pada siapa? Semoga bukan padaku. Kalau bukan padaku lalu marah pada siapa? Pada bik Ati? Jangan ding. Dia marah pada diri sendiri aja, siapa suruh cerewet sama calon istri. "Iya maafkan saya, Tuan. Maafkan saya, Non," "Pergilah," usirnya. Aku jadi merasa bersalah pada bik Ati. Bagaimana pun ini bukan kesalahannya, akulah yang tidak hati-hati. Seharusnya aku lebih memperhatikan jalanku, dan seharusnya aku mendengarkan Andrew untuk mengganti sepatu. Dan sekarang kekeras kepalaanku membuatku seperti ini, p****t sakit, kaki sakit, dan calon suami semakin marah. Huufffttt. Setelah selesai Andrew mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menelepon seseorang. "Halo, Mi. Mungkin kami baru bisa sampai soreh di sana." "......" "Kalau siang ini tidak bisa, Mi." "......" Andrew melirik ke arahku yang masih meringis sambil memijit-mijit kakiku. "Ada anak kecil yang terpeleset, Mi." Hah? Anak kecil? Maksudnya siapa? Aku? "...." "Ya, anak kecil yang keras kepala." "....." "Iya, nanti Andrew kabari kalau sudah berangkat. Maafkan kami karena nggak bisa datang pagi ini." "...." "Iya, Mi." Andrew menutup telepon dan kembali menatapku, dia mendengus kesal. "Nggak ada untungnya kan kalau keras kepala?" Aku tidak menjawab, kepalaku menunduk tidak mau menatapnya. "Kita ke rumah sakit sekarang!" Aku tidak membantah saat Andrew menggendongku. kedua tanganku memeluk lehernya dan kepalaku kusurukkan ke tengah lehernya. "Maaf," lirihku. Sungguh, aku menyesal. "Hhm." "Maafin aku," bisikku lagi. "Iya, kamu kumaafkan." Andrew mencium rambutku. "Semua itu kulakukan karena aku peduli padamu, aku nggak mau kamu kenapa-napa. Lihatkan? Belum sampai rumah mami kamu sudah jatuh. Makanya..." "Aku tahu," tanganku semakin erat memeluk lehernya. "Jangan lagi mengomeliku, aku udah kenyang makan omelanmu dari tadi," ujarku kesal. Andrew terkekeh kemudian mencium rambutku lagi. "Aku sayang kamu." What? Kalian dengar kan apa katanya barusan? Oh, God. Aku tidak membalas ucapan sayangnya, aku tersenyum kemudian mencium lehernya yang berbau harum. Aku di maafkan sepertinya. Hehehe,..
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD