Darma tak terima dengan apa yang sedang dia baca. “Apa kabar, Mas Darma? Apa kab--- astaga!” Dia tidak bisa berhenti menggeram karena rasa kesal. Sungguh, kreativitas sang istri malah sukses membuatnya membenci diri sendiri. Memang tidak sepenuhnya benar apa yang istrinya tuangkan itu, bahkan cerita tersebut belum benar-benar serius sang istri kirim pada redaksi penerbitannya. Walau begitu, Darma tetap tidak terima dengan apa yang istrinya tulis. “Apa aku harus sebrengsek itu, Sayang? Kenapa kamu tega bikin aku membenci tokohku sendiri dicerita itu, ha?” Darma yang sebelumnya menangis tergugu, kini berdiri tak terima sembari membawa lembar cetak yang Akina selalu gunakan untuk mereview tulisannya sendiri. “Mas---“ “Kenapa kamu buat aku b**o banget disitu?? Ya ampun, Ki! Aku kesel bang

