L

1598 Words

“Lama Bapak!” Kenio melompat kaget. Pasalnya dia baru membuka pintu rumah dan langsung disambut wajah pembantu bibir mercon. “Ngapain kamu?” Kenio mendorong bahu si rujak bebek menyingkir dari jalannya. “Saya yang mesti nanya, Bapak ngapain baru pulang sekarang? Ini udah jam satu malam,” sahut Vianka. Dia nyaris tertidur di sofa ruang tamu karena lelah menunggui Pak bos menggalakinya, eh? pulang maksudnya. “Saya nggak perlu ditungguin,” kata Kenio ketus. “Saya kan tau Bapak tiga hari ini menghindari saya. Malu ya Pak saya omelin abis pegang d**a saya.” Vianka menaik-turunkan alisnya jenaka. “Apaan? Nggak. Itu nggak sengaja!” Vianka tertawa. Pak bos tidak ahli berbohong. Ketara sekali pria tua itu keringat dingin menanggapi ocehannya. Padahal dia bukan ingin membahas hal itu. “Pak,

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD