Selang beberapa menit, mobil mereka berhenti sebentar di depan gerbang hitam yang terbuka. Di dalamnya bangunan berwarna cokelat muda yang dipadukan cokelat tua, berdiri tampak manis. Jingga mulai mengarahkan mobilnya ke dalam, dan memarkirkannya di halaman yang tak terlalu luas. Barangkali hanya muat untuk dua mobil saja. Sepertinya ini rumah Biru. Nadya tak tahu. Tapi jika benar ini rumah Biru, design-nya begitu sederhana dan cantik. Mereka kemudian turun. Jingga berjalan duluan ke depan, sementara Nadya mengikuti langkah lelaki itu. Sejujurnya ada rasa malu Nadya harus ke sini, tapi di sisi lain dia juga tak bisa berdusta bahwa ia merindukan sosok Biru. Jingga mengetuk pintu kayu cokelat tua yang tertutup. Sementara Nadya berdiri di sampingnya. Sesekali dia melihat ke arah halaman

