"Ah akhirnya gue udah sampai di Bali lagi setelah sekian lama terkurung di penjara." Caramel langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah melepas sweater dan kaos yang hanya menyisakan tanktop putihnya. Dia bertindak seakan-akan sendirian padahal Biru berusaha kerasa untuk tak melakukan apa-apa pada perempuan itu.
Di sebuah villa yang tak terlalu besar tapi sangat cantik dengan warna kuning segar yang dipadukan dengan cokelat tua, mereka dapat melihat pandangan di luar sana melalui jendela kamarnya.
Perempuan itu berjalan ke arah kaca, sedangkan Biru melepas kausnya hendak mandi karena sudah sore. Mereka berencana akan ke pantai besok pagi. Seharusnya Caramel istirahat, tapi perempuan itu sulit sekali diajak istirahat. Biru memperhatikan Caramel dari belakang, betapa perempuan itu memiliki lekuk tubuh yang sempurna, rambut ikal yang dikuncir asal, dan tinggi yang semampai. Dia benar-benar representasi dari bidadari mungkin saja. Entahlah, rasanya habis kata-kata untuk memuji bagaimana cantiknya dan menggodanya Caramel bagi Biru.
Perempuan itu kemudian berbalik, dia cukup terkejut melihat Biru yang baru saja melepas bajunya. "Kamu udah mau mandi? Bukannya nanti malem aja? Ini masih sore." Caramel menatap jam tangannya, pukul 16.00. "Aku takut mandi sendirian, tapi aku nggak mau mandi sekarang."
"Ah sayang." Biru mendekat, kemudian membalikkan tubuh perempuan itu dan dia merangkulkan tangannya di leher Caramel, menatap pemandangan di luar sana. "Kamu mau makan dulu?" tanyanya.
Caramel menggeleng, dia menghadapkan wajahnya ke arah lelaki itu yang sedikit menunduk karena Caramel memang lebih pendek dari Biru. Bahkan Caramel nyaman memandang wajah itu. "Kamu ngerasa nggak kita kayak ambil paket hanymoon? Biru, sebelumnya aku nggak pernah menginap berdua dengan cowok. Bahkan aku nggak suka kalau kamarku dimasuki oleh Abangku sendiri. Tapi sekarang setelah dipertemukan sama kamu, aku jadi Caramel yang beda. Bahkan dengan penuh kesadaran aku begitu mudahnya memberi semuanya untuk kamu. Biru, tolong jangan kecewakan aku. Aku telah dan akan memberikan semua yang kamu minta, tapi jangan tinggalkan aku." Caramel kemudian melingkarkan tangannya di leher lelaki itu, dan Biru melingkarkan tangannya di pinggang Caramel.
"Enggak, Sayang. Percaya sama aku. Sampai kapan pun, aku nggak akan pernah tinggalkan kamu. Bahkan, Mel, aku ingin menikah sama kamu."
"Ayo kita menikah," ajak Caramel.
"Serius?" Biru terkejut. Semudah itu Caramel ingin menikah dengan Biru.
"Menikah di sini. Nggak perlu ada resepsi yang tidak berguna. Toh aku di sini nggak lama, aku akan kembali ke tubuhku setelah enam hari lagi. Jadi, ayo kita menikah. Aku membawa berkas-berkas yang dibutuhkan. Kita nggak perlu menikah secara agama, yang penting sah saja dulu." Caramel begitu yakin dengan ucapannya.
Biru masih menganga. Perempuan itu terlalu buru-buru untuk memutuskan sesuatu. Caramel seakan tak memikirkan bagaimana ke depan, dia hanya ingin punya ikatan yang sah dengan Biru. "Aku ingin memiliki kamu, Biru. Jadi, ayo kita menikah. Aku tau mungkin ini nggak terlalu bermasalah di aku. Menikah atau enggak sama saja, tapi bagimu paling tidak kita harus menikah sirih. Jadi, ayolah. Kita harus melakukannya. Biru, aku nggak mau kamu dimiliki orang lain, aku ingin memiliki kamu dan menguasai kamu selamanya." Caramel berdesis. Dia menempelkan bibirnya di bibir biru singkat, lalu berbalik hendak memakai baju tapi Biru menarik tangannya hingga perempuan itu menabrak pelan d**a Biru dan sekarang menghadap tepat di depan d**a bidang Biru.
Perlahan Caramel menatap lelaki itu dan Biru langsung menciumnya. Dia melakukannya dengan sangat dalam, Biru begitu cekatan melumat bibir lezat Caramel dan Caramel membalasnya. Mereka melakukannya hingga sangat lama. Biru memegang leher perempuan itu untuk menjaganya, sementara kedua tangan Caramel memeluk pinggang Biru. Keduanya berciuman hingga kemudian Caramel mundur setelah dia hampir saja kehabisan napas. Dia tersenyum, "Bibirmu lezat, Biru. Tapi ayolah itu nggak akan melupakan niatku untuk mengajakmu menikah, Sayang. Ganti pakaianmu dengan rapi. Aku tau penghulu di sini. Dulu, temanku pernah melakukan ini juga." Caramel mengenakan celana panjang, lalu menutup tubuhnya dengan sweater.
"Mel, kamu serius? Ini terlalu buru-buru, Sayang." Biru mendekati perempuan itu, dan memegang kedua pundaknya.
"Persetan dengan buru-buru. Aku hanya ingin hubungan kita terikat. Ayolah, Biru. Waktuku nggak lama, atau kamu mau aku pergi dari hidupmu selamanya?" Caramel mengancam.
"Ah bukan begitu." Biru ingin menjelaskan tapi dia tak tahu kata apa yang pantas.
"Ya sudah ayo." Caramel memaksa.
"Okay ... okay, aku akan memakai baju dulu." Biru mengalah. Ajakan Caramel menikah jelas seperti ajakan seorang teman yang ingin membeli hamburger. Tapi Biru menurut juga, karena ide Caramel tidak terlalu buruk dan Biru sesungguhnya menyukainya.
"Jangan lupa bawa berkas-berkas, aku akan menelpon pamanku biar datang untuk menjadi wali." Caramel keluar kamar. Dia menelpon seseorang, tepatnya adalah paman yang memang tinggal di sini. Lama berdering, sebelum akhirnya seorang lelaki mengangkat teleponnya.
"Halo Caramel, Sayang apa kabar?" tanyanya.
"Enggak usah basa-basi. Aku butuh bantuan Om. Aku mau menikah sama seseorang di sini, tapi tolong jangan kabarkan ini sama siapa pun. Aku mohon kemarilah sama tante, jadi saksi di pernikahanku."
"Kamu gila?" Sang paman terdengar terkejut.
"Ini nggak gratis. Aku tau balas budi." Caramel tau watak pamannya. Dia yakin hal ini akan berhasil.
"Oh okay, share saja lokasimu. Dan nanti saya akan mempertemukan kamu dengan pemuka agama di sini."
"Okay. Aku minta tolong belikan cincin untuk maharku. Aku nggak mempersiapkan apa pun."
"Gila."
"Aku tau."
Setelah sambungan terputus, Caramel langsung membagi lokasi dan menunggu Biru yang belum keluar. Dia berdiri di depan mobil hitam yang mereka selama menetap di sini. Tak lama kemudian Biru keluar sembari membawa map, dan mereka kemudian pergi entah ke mana Caramel akan bertemu dengan pamannya.
Di jalan Biru masih memikirkan ini. Menikah? Bahkan bagaimana mungkin dia tak memberitahukan ibu dan ayahnya, tidak memberitahukan Riri juga. Biru seakan tak menghormati mereka padahal mereka selalu menjadikan Biru sebagai pengharapan. Mereka selalu mengatakan pada Biru bahwa mereka berharap banyak padanya, tapi kenapa Biru malah mengecewakan.
Tiba-tiba dia menepikan mobilnya, Caramel terkejut. "Ada apa?" tanyanya.
Biru menatap ke depan, dia mengambil napas lalu menatap Caramel. "Mel, terlalu buru-buru. Aku mau kita menikah secara hukum. Aku mau ibu, ayah, dan adikku tau kalau aku menikah. Aku mau mereka hadir di pernikahanku. Aku nggak bisa kalau begini," kata Biru.
"Biru, kita udah mempersiapkan ini. Tinggal temui pemuka agama. Aku nggak suka kamu berubah pikiran," cetus Caramel.
"Kamu nggak memikirkan perasaan orang tuamu? Aku tahu kita saling mencintai, dan mungkin bener waktumu di sini nggak banyak, tapi terlalu gila kalau kita memutuskan buat menikah secara diam-diam. Mel, aku nggak mau bikin ayah terluka. Walau sejak awal mungkin aku selalu mengecewakan dia, tapi gue udah janji sama diri gue sendiri bahwa kemarin adalah skandal terakhir gue. Mel, hati gue sakit banget waktu Riri nangis di depan ibu bahwa Kakaknya menjadi pembicaraan di kalangan teman-temannya. Mereka bukan cuma ngomongin aku, tapi semua keluargaku kena imbasnya. Terus mau ditambahin nikah juga? Mel, serius ayo kita menikah. Aku bersedia menikahi kamu tapi ya nggak sekarang juga. Aku harus siapkan maskawin yang pantes buat kamu, aku harus mengundang teman-temanku dan aku harus umumkan ini sama khalayak. Aku nggak suka keputusan kamu." Biru mencoba mengembalikan kewarasannya. Dia tahu bahwa keputusannya mungkin kembali berisiko dengan marahnya Caramel atau bagaimana. Tapi Biru hanya tak mau melakukan ini.
"Itu mau kamu?" Caramel bertanya retoris. "Kita bisa melakukannya setelah aku kembali ke tubuhku seperti semula. Aku ingin memperbaiki semuanya, memperbaiki kehidupan kamu terlebih dahulu, lalu kita akan menggelar pesta yang besar." Caramel mengeraskan suaranya.
"Ya udah tunggu waktu itu," balas Biru.
"Jadi, kamu nggak mau? Ya udah, aku akan keluar dan kamu silakan kembali ke Jakarta." Caramel langsung membuka pintu, Biru menariknya. "Lepaskan! Aku nggak mau lihat kamu," bentaknya.
"Bukan gini caranya. Aku udah berjanji akan bawa kamu pulang dengan baik-baik, kan? Tolonglah, jangan begini. Kenapa kita nggak lakukan liburan secara wajar aja."
"Lepaskan!" Kali ini Caramel berteriak. Dia berhasil melepaskan tangannya dari genggaman erat Biru. Caramel lantas turun dan membanting pintu mobil.
Biru segera turun, dan mengejar perempuan itu sebelum benar-benar jauh. Dia menarik pergelangan tangan Caramel, dan mendekapnya erat. "Aku mohon jangan kayak gini."
"Kamu nggak ngerti, Biru. Kamu nggak paham bagaimana rasanya berada di posisiku." Caramel menangis. Pada akhirnya mungkin dia capek. Perempuan itu menjatuhkan air matanya di d**a Biru, dan Biru memeluknya erat. Mereka tak peduli dengan orang-orang yang lewat, Biru hanya ingin menenangkan Caramel.
"Semua orang nggak ada yang ngerti aku, bahkan kamu. Biru, tolonglah. Ini permintaan aku untuk terakhir kalinya, aku mohon ..." Caramel mendongak.
Biru menghela napas. "Okay, berhenti nangis. Kita akan menikah." Lelaki itu menghapus air mata Caramel, lalu mengajaknya kembali masuk ke dalam mobil.
Keadaan kemudian canggung. Biru hanya melihat melalui G-maps tempat yang Caramel tunjukkan, sementara Caramel membuang pandangannya ke luar. Caramel memang tak mengerti bagaimana Biru sangat menyayangi keluarganya, karena dia sendiri jarang mendapatkan kasih sayang, mungkin itu sedikit dari banyaknya kenapa Caramel kadang berani melawan orang tuanya. Tapi di sisi lain, Caramel tidak mau jika Biru berubah. Dia ingin mengikat Biru. Caramel sadar bahwa dia terlalu memaksa, dia juga tidak tahu apakah di luar sana ada perempuan yang memaksa lelaki itu menikah, nyatanya Caramel mencintai Biru dengan sebenar-benarnya. Dia tak ingin Biru pergi atau menjauh.
Di depan sebuah gedung yang tak terlalu tua, Biru menghentikan kendaraannya. "Kita akan menikah di sini?" tanya Biru. Caramel mengangguk.
Mereka melihat sebuah mobil hitam telah terparkir di sana. Caramel sangat mengenali mobil itu, milik pamannya. Mereka berdua kemudian turun dan masuk ke dalam gedung tersebut. Biru mulai membuka pintu, lalu dia cukup terkejut karena di sana ada beberapa orang yang hadir, sekitar 10-15 orang. Biru tak menyangka bahwa Caramel menyiapkan ini hanya dalam beberapa menit saja. Uang memang dapat membeli segalanya.
Mereka kemudian duduk di depan pemuka agama yang akan menikahkan mereka. Setelah berkas diterima, diperiksa, dan disetujui, akhirnya dengan cepat pemuka agama tersebut meminta Biru untuk mengucapkan janji suci.
"Saya terima nikahnya Caramel bin Rayhan dengan emas 100 gram, dibayar tunai."
Dan kemudian sah. Biru seperti orang bodoh. Pernikahan ini seperti permainan, tapi pada akhirnya sah juga menjadi suami Caramel. Dia seperti berada di dimensi lain, di bawah ke alam lain dan harus menikah. Hal ini mengingatkan Biru pada dongeng-dongeng terlebih Caramel amat cantik yang sangat mendukung permainan semacam ini. Dia mencubit tangannya, tapi sakit. Dia juga dapat mencium aroma tua gedung ini dan semuanya nyata. Biru sedang tidak bermimpi. Mereka ... akhirnya telah menikah. Secepat ini?