7 hari kemudian~
Setelah mampir di pasar swalayan untuk membeli keperluan dan beberapa makanan junkfood, Nadya (Caramel) akhirnya kembali ke rumah. Kali ini hobinya memang berganti, dari jalan-jalan ke makan menghabiskan tabungan milik Nadya. Dia baru saja memarkirkan motornya di depan, lalu mengambil kresek hendak masuk ke dalam. Tapi sebuah mobil baru saja tiba di depan rumahnya. Perempuan itu menghentikan langkah, dilihatnya lelaki berkemeja putih tulang serta memakai celana hitam baru saja keluar dan tersenyum tulus ke arahnya.
"Jingga, ngapain kamu ke sini?" lirihnya.
"Nadya, undangannya masih tersisa dua lagi. Rumahmu udah didekor. Kamu udah lihat?" tanyanya. Kedua mata lelaki itu tampak berbinar seakan sangat senang mengetahui bahwa dirinya akan menikah dengan adik tingkatnya dulu.
Wanita itu terkesiap. Ia hampir lupa bahwa tiga hari lagi ia akan menjadi seorang istri sekaligus teman hidup bagi Jingga. Dia terlalu sibuk memikirkan kehidupannya yang berubah dan kembalinya Biru membuatnya benar-benar kehilangan fokus atas kehidupan nyatanya. Bahkan ia lupa bahwa seharusnya dia pulang ke rumah ibu Nadya sementara karena mau tak mau dia harus pulang juga. Tapi, sungguh ia belum siap. Jika boleh pernikahan ini batal saja, tapi bagaimana lagi? Ini tidak mungkin. Nadya sudah terlanjur mengiyakan dan kedua orang tua sudah terlanjur merestui. Ditambah semenjak kekesalan Caramel pada ibu Nadya beberapa hari lalu, keduanya belum bertemu lagi. Setelah bertengkar dengan orang tua, apa yang harusnya dia lakukan? Apakah dia harus meminta maaf walau tidak bersalah? Ini gila, mana mungkin dia minta maaf karena telah mengajari hal yang benar.
"Belum. Rencananya nanti sore mungkin." Dia menjawab apa adanya.
"Mau saya antar?" Jingga menawarkan.
"Oh nggak usah, lagian aku bawa motor. Aku juga belum siap-siap. Lagian rumah ibu deket, santai aja." Nadya tersenyum kecil. "Ayo duduk dulu. Mau dibuatkan apa?" tanyanya. Dibuatkan apa? Seakan-akan sekarang ia seperti seorang istri yang mengabdi pada suaminya, tapi jika tidak begini bagaimana nanti jika Jingga benar-benar curiga dan menggagalkan rencana pernikahannya. Ini pun tak boleh terjadi. Ia tak boleh salah sedikit pun perihal menjalankan kehidupannya seperti Nadya.
"Enggak usah, Nat. Saya cuma mau bilang sisa undangannya mau kamu kasih ke siapa?" tanyanya.
Entah mengapa nama Biru langsung terlintas di benaknya, tapi tidak mungkin. Bahkan lelaki itu memiliki tekad akan mengejar Nadya sebelum janur kuning melengkung. Dia takut jika Biru berbuat kelewat batas, akan terjadi hal apa nanti? Dia hanya tak mau membuat kedua orang tua Nadya kecewa, itu saja. Tapi rasanya tidak etis jika dia tidak memberitahukan tanggal pernikahannya pada Biru, bagaimana pun ia ingin mengakhiri segalanya dengan Biru agar Biru bisa bersama Caramel di kehidupan nyata.
"Nat?" Jingga menyadarkan Nadya yang sejak tadi bengong.
"Nanti aku kasih temanku di kantor aja. Gampang itu mah," ujarnya.
"Ya udah, nanti dikasihkan aja ke temanmu."
Setelah itu Nadya meminta Jingga duduk di luar, sementara dia masuk ke dalam rumah, menaruh plastiknya di meja kamar dan mengambil Tteokbokki yang akan dimasaknya di dapur. Untung saja ia membeli empat, tadinya akan ia masak untuk besok malam juga, tapi berhubung malam ini Jingga ke sini, Nadya akhirnya memasaknya untuk dia. Setelah menyiapkan air panas, ia juga siapkan kopi untuk Jingga. Pada akhirnya Nadya menyerah pada takdir dan tunduk pada perjodohan yang tak diinginkan ini.
Dia menaruh sedikit gula pada kopi dalam gelas, lalu menuangkan airnya. Ia keluar sembari membawa nampan dan memberikan kopi hitam tersebut pada Jingga yang duduk anteng di luar. Nadya memang sungkan membawa lelaki masuk ke rumahnya apalagi lelaki yang tidak dicintainya. Tidak, bahkan baginya Jingga terlampau asing untuknya. "Minum dulu nih. Aku lagi masak bentar." Ditaruhnya kopi di samping Jingga.
Lelaki itu tersenyum, "Makasih Nat. Seharusnya jangan repot-repot kayak sama siapa aja."
"Ya mau gimana lagi, tinggal makan aja kok susah amat. Lagian kamu ke sini cuma mau bilang kalau undangannya lebih?"
"Sebenernya sih pengen liat kamu juga."
Nadya tertawa kecil. Dia benar-benar garing menurutnya. Entah kenapa Nadya tidak suka diperlakukan seperti itu jika bukan oleh Biru.
"Oh ya udah." Nadya menjawab singkat.
"Iya, Nat. Santai aja."
Selepas itu Nadya kembali ke dapur dan ttpoki sepertinya mulai matang. Dia langsung menaruhnya di dua mangkuk, lalu mengambil sendok dan menaruhnya pada masing-masing wadah bulat itu. Setelah kompor benar-benar dimatikan, dan segalanya telah selesai, Nadya membawa dua mangkuk itu keluar dan memberikannya satu pada Jingga. "Cobain. Mana tau suka." Drama menjadi orang lain memang sulit.
"Ini kamu akhir-akhir ini sering makan junkfood, ya? Biasanya lebih suka bikin tumis atau masak sayur," komentar Jingga.
"Bosen sih. Emang nggak boleh ya? Lagian akhir-akhir ini masakanku nggak enak," dustanya.
"Kapan masakan Nadya gagal," jawab Jingga.
"Ya ada masanya aku bosan masak.
Wanita itu duduk di samping lelaki itu, Jingga terlihat mulai mengaduk Tteokbokki, lalu dia mulai menyicipi kuahnya yang memerah. Dia mengangguk-angguk seperti menyukai makanannya. Dalam diam, sejujurnya ia sangat menyangkan takdir yang terjadi pada Nadya. Maksudnya, Jingga itu sangat baik. Bagaimana mungkin lelaki yang tulus seperti itu harus dijodohkan dengan Nadya yang tak menyukainya. Padahal ia hanya yakin bahwa banyak perempuan di luar sana yang lebih cocok bersanding dengan Jingga daripada Nadya. Bukannya ia ingin menilai, tapi terlepas dari itu semua ia merasa kasihan jika selama seumur hidupnya Jingga tak pernah dicintai oleh istrinya sendiri.
"Jingga, kamu apa nggak mau berpikir ulang? Maksudku, kamu itu sangat baik, apa nggak nyesel dapet wanita kayak aku? Aku nggak sebaik yang kamu pikir." Caramel memakan sedikit Tteokbokki-nya, lalu mengunyahnya, sangat enak. Dia benar-benar suka makanan khas Korea ini.
"Kenapa kamu mikir gitu, Nat?" Jingga berbalik tanya.
"Ya aku cuma pengin kamu berpikir aja dan jangan kaget kalau nanti sifat asliku keluar lebih banyak," jawab Caramel.
"Entahlah. Bukannya manusia itu nggak ada yang sempurna, Nat? Aku juga banyak kekurangan, bukan cuma kamu. Jadi, bukannya kita harus sama-sama melengkapi aja. Kata-kataku kayak template sih, tapi cuma ini yang bisa aku sampaikan. Kamu udah bisa berpikir, saya juga. Sama-sama pernah berbuat salah, sama-sama pernah berada di posisi benar, jadi nggak usah mencemaskan yang belum terjadi. Begitu ijab didengungkan, ya saat itu juga aku terima semua kekurangan dan kelebihan kamu. Kamu juga."
Nadya terdiam. Dia hanya takut jika pada akhirnya hanya memikirkan Biru dan hanya Biru saja yang diingatnya. Ah, seperti berada dalam lingkaran yang membingungkan dan Nadya tak bisa berbuat apa-apa selain mengikuti takdirnya. Dipikir-pikir dia sering sekali meminta Jingga mundur, padahal keputusan pernikahan adalah keputusan final antara Biru dan Nadya. Seharusnya dia hanya tinggal menjalani saja, selepas itu pergi dari tubuh ini dan kembali pada kehidupannya yang asli.
"Kamu belum siap ya, Nat?" tanya Jingga.
Nadya menatap lelaki itu, lalu mengangguk pelan. "Kalau boleh jujur, aku belum siap menikah. Tapi aku nggak bisa ngecewain ibu. Makanya aku takut mengecewakan Jingga. Aku takut kalau kamu malah nggak bisa bahagia kalau sama aku. Aku nggak sereligius kamu, nggak sesabar kamu dan aku bukan Aisyah yang kamu pernah sukai itu. Aku nggak bisa sealim dia dan--"
"Aku tau, kalian dua orang yang berbeda. Dan perihal Aisyah, semuanya udah berakhir. Kamu ya kamu, Aisyah ya Aisyah. Aku tau kok Nat kalian dua orang yang berbeda, dan antara satu orang dengan orang lainnya pasti beda juga. Toh segala-galanya tentang aisyah udah berakhir."
Hah Aisyah? Gue ngomong apa sih, sialan. Bener-bener ya gue udah jadi Nadya. Mana alim banget, tunduk pula kayak nggak punya pegangan, najis. Dia membatin. Beneran ini jiwa Nadya udah merasuk ke tubuh gue.
"Tapi kamu menyukaiku?"
Jingga mengangguk. "Kalau enggak, saya nggak mungkin setujui perjodohan orang tua."
"Sejak kapan?"
"Entahlah dan itu nggak penting juga."
"Aku bukan pelarian kamu, kan?" Nadya meyakinkan. Berusaha mencari jawaban.
"Nat, sekhawatir itukah penilaian kamu terhadap saya? Tenang aja, saya sudah membuang semua masa lalu itu dan kayaknya Aisyah pun sudah fokus dengan rumah tangganya sendiri. Dan aku juga akan fokus dengan rumah tanggaku nanti."
Nadya menyeruput kuah terakhirnya, lalu ketika mangkuk benar-benar bersih, dia meneguk minuman miliknya hingga tandas. "Aku mau beres-beres. Sore mau pulang."
"Oh ya silakan."
"Kamu nggak pulang? Pulang aja nggak papa kali," pinta Nadya..
"Nanti. Nggak usah mikirin saya, nggak papa kamu ke dalem, kayaknya saya betah di sini, adem."
"Ya nggak mikirin juga sebenernya." Nadya menaruh dua mangkuk dan tiga gelas di nampan, lalu dibawa olehnya masuk ke dalam dan ditaruh pada wastafel cuci piring kemudian. Setelahnya dia masuk ke kamar untuk memilah-milih baju dan dimasukannya ke tas kemudian. Setelah ini ia tahu bahwa dia tak akan tinggal di sini lagi, karena Jingga memintanya agar Nadya tinggal di rumahnya sendiri. Namun sejujurnya Nadya merasa bahwa dia butuh rumah ini sekadar untuknya bolak-balik dari kantor. Mungkin Nadya akan mempertahankan rumah ini sebelum bosan benar-benar datang. Dan lagian dia butuh space untuk menyendiri.
Dia kemudian memasukan beberapa setelan baju, make up, skincare, dan segala hal yang dibutuhkan ke dalam tas. Lalu dia kunci pintu lemari, ia juga akan mencuci piring dan menyapu rumah terlebih dahulu sebelum ditinggal 3 hari. Rumah ini akan kosong tiga hari ke depan. Setelah itu Nadya mencuci piring di sana, lalu menyapu lantai hingga bersih. Dan ketika tak terasa waktu telah menunjuk pukul 17.00, Nadya segera keluar rumah sembari menjijing ranselnya. Dilihatnya Harun masih duduk di sana, memandangi jalanan kecil di depan. "Jingga, mau pulang kan?" Nadya bertanya sembari mengunci pintu depan rumah.
"Iya. Saya ikuti kamu dari belakang."
"Ah nggak usah. Lagian deket ini." Nadya menaruh tas di motor. Lalu dia mulai memakai helm dan menaiki motornya. "Aku duluan ya."
"Hati-hati, Nat."
Tanpa menjawab, Nadya langsung pergi meninggalkan Jingga yang masih di sana. Sebenernya gawat, dia belum tahu betul di mana letak rumah Nadya. Dia hanya mengambil ingatan dari Nadya dan itu tak semuanya terekam. Diam-diam dia menyalakan gps dari ponsel yang akan menuntunnya menuju rumah orang tua Nadya yang ia ketahui alamatnya dari note book milik Nadya yang berada di lemari beberapa hari lalu, sebelum akhirnya ia mulai mengikuti jalanan dari gps dan berusaha berbelok ke arah yang dia yakini sembari mengingat dengan ingatan milik Nadya.
Suasana sore kota Malang cukup nyaman. Dia suka kota ini. Sembari di jalan dia terus memikirkan kata-kata Jingga dan kehadiran Biru tentu saja. Rasanya seakan dia memang tak benar-benar memiliki waktu untuk berbalik, dan mungkin menerima memang jalan satu-satunya. Dia memelankan laju kendara roda duanya, sesungguhnya dia tak ingin segera sampai rumah. Ada rasa malas yang benar-benar bersemayam dalam dirinya. Ah, lelah sekali memang menjadi orang yang tak punya pilihan lain. Kali ini dia memang benar-benar menjadi Nadya. Lupakan Caramel, dan dia adalah Nadya. Peran Nadya ia yang mainkan sepenuhnya dan berusaha sekuat mungkin jika Caramel tak boleh ikut campur di dalamnya.
Setelah beberapa menit berkendara, dia akhirnya memarkirkan motornya di depan rumah yang telah cantik didekor. Di depannya terlihat tenda orange berpadu putih, sementara karangan-karangan bunga dari kolega calon suaminya telah berbaris di sisi lain rumah itu. Nadya benar-benar dibuat pangling, ini cukup mewah walau tentu saja tidak sesuai ekspektasinya. Dia kira, keduanya akan menikah di gedung yang besar, lalu mereka akan menyelenggarakan pesta hingga malam ketemu malam. Mereka akan menghabiskan beberapa botol whiskey dan berbincang dengan teman hingga dini hari. Tapi ya sudahlah, ini pernikahan Nadya, bukan Caramel yang mesti mewah.
"Iku loh Nadya wes muleh," ujar salah satu tetangga. Nadya tersenyum ke arah mereka sembari menurunkan ransel dari motor. Entah apa yang dikatakan dia, Nadya tak paham. Paling tidak ia masih bisa mengangguk atau tersenyum jika tidak paham. Ia lupa belum belajar bahasa Jawa, lain kali ia akan meminta tetangga samping kontrakannya untuk mengajari dia bahasa ibunya.
"Kamu ndak cuti kerja, Nat?" Sang ibu yang baru saja keluar dari rumah berusaha membantu putrinya membawakan ransel.
"Ndaklah, Bu. Nikahkan cuma sehari, sayang kalau aku ambil cuti. Lagian kerjaanku bisa dikerjakan waktu sembari makan." Nadya masuk ke rumah, berjalan ke kamar dan menaruh ranselnya di sana.
"Nduk, ibu cuma mau berpesan ikhlaskan diri kamu buat menikah. Jangan seperti orang yang menolak rencana ini. Ini buat kebaikanmu," kata sang ibu.
"Kan kenyataannya memang begitu, Bu. Aku nggak mau menikah. Bukannya ini emang inisiatif ibu aja? Aku juga nggak pengin nikah sama Jingga. Kadang aku pengin bilang, aku sengaja keluar rumah biar tetangga nggak gunjing ibu karena anaknya belum menikah juga. Aku nggak lagi merepotkan ibu, tapi akhirnya aku harus tetep dikasih pilihan yang buat aku nggak bisa milih. Tapi ya sudahlah, aku capek. Aku mau istirahat." Nadya membuka lemari, lalu baju-baju dari ransel dikeluarkan dan ditata di sana. Menjadi anak terakhir dari tiga bersaudara yang kedua-duanya adalah lelaki, rasanya tidak terlalu istimewa. Bahkan satupun dari mereka tidak ada yang membela atau memberi pengertian pada ibu bahwa Nadya belum siap. Mungkinkah begini potret keluarga Nadya, dan Caramel baru tahu.
"Terus mau sampai kapan, Nat? Kamu udah 25 tahun, dua bulan lagi 26 tahun dan kamu masih suka Biru itu yang waktu di gunung ninggalin kamu? Kalau kamu nggak bisa sembuhin diri kamu sendiri, orang lain nggak akan ada yang bisa masuk ke hatimu, ke kehidupan kamu. Kalau kamu berhenti di Biru, orang lain nggak bisa menghibur kamu. Nadya, kamu mungkin nggak bisa melupakan dia kalau kamu nginget dia terus setiap hari." Nadya menutup pintu lemari lalu duduk di samping ibunya. Namun, bagaimana lagi semua yang dikatakan ibu benar, dan Nadya pun tak pernah mengerti kenapa ia sangat mencintai Biru.
"Tapi bukan gitu Bu maksudnya," lirih Nadya.
"Sudahlah, persiapkan diri kamu. Banyak istirahat, dan nanti kamu akan memulai kehidupan barumu. Pernikahan nggak semenakutkan kayak yang kamu bayangkan." Ibu mengusap bahu Nadya lembut.
Setelah itu pergi sembari menutup pintu kamar Nadya rapat-rapat. Perempuan itu mengembuskan napas keras, lalu merebahkan tubuhnya di ranjang. Saat ini dia benar-benar sampai batas lelah. Ia ingin istirahat sebentar saja. Tapi ketika baru saja memejamkan mata, ponsel berdering. Tanpa melihat nama siapa yang memanggil, Nada langsung menggeser tombol hijau dan mendekatkannya di telinga kemudian.
"Halo," lirihnya.
"Nadya, kamu bahkan nggak mengundangku."
Nadya terperanjat mendengar suara yang sangat ia kenal dari seberang. "Biru astaga."
"Undangan buatku mana?"
"Datang aja kalau kamu mau."
"Kamu yang secara langsung mengundangku berarti?"
"Iya."
"Kamu nggak berpikir ulang, Nat?"
Nadya terdiam. "Maumu apa? Aku nggak bisa kayak dulu. Kamu yang mutusin kamu juga yang minta balik."
"Mauku kamu sama aku. Nadya, aku masih menaruh harapan sekalipun ini mustahil."
"Sekalipun itu nggak mungkin?"
"Iya."
"Kamu gila ya, Ru."
"Memang. Bukannya kamu udah tau?"
Kehadiran Biru jelas-jelas masih menjadi kebimbangan yang selalu Nadya pikirkan. Karena Biru, Nadya menjadi bingung dengan kehidupannya kini. Dia tak tahu akan melakukan apa kecuali memang harus melanjutkan keputusannya tentu saja. Rasanya seperti diombang-ambing dalam laut lepas dan dia tidak memperoleh apa pun untuk pertolongan yang akan membawanya pada daratan. Makin ke sini makin membingungkan. Namun tak ada lagi waktu terisisa untuk yang lain kecuali menghadapi takdirnya. Nadya yakin bahwa dia mampu melewati semuanya. Ia yakin bahwa semua yang terjadi memang untuknya.
Nadya mematikan sambungan ponselnya, rasanya dia sudah bosan untuk menghadapi Biru dan sikapnya yang sekarang cenderung lebih agresif. Biru sedikit berubah mungkin karena tendensi ingin memiliki Nadya tentu saja. Jika memang Nadya belum dijodohkan pun, Nadya bisa saja meyakinkan kembali ibunya bahwa Biru adalah lelaki yang baik dan sekarang telah berubah menjadi Biru baru. Tapi tidak mungkin. Segalanya telah berubah.
Tapi kenapa, hal-hal yang gue narasikan seolah gue bener-bener Nadya, apa benar bahwa ingatan gue udah hilang sementara yang tersisa adalah memori-memori milik Nadya. Ini terlalu aneh. Gue Caramel, tapi kenapa gue seakan kehilangan diri gue sendiri, dan semua pelaku drama ini adalah Nadya, bukan gue. Ke mana Caramel?