7

1139 Words

Dua cangkir s**u hangat berdiri tegak di atas meja bundar yang menjadi pembatas antara diriku dan Morgan. Sudah dua menit berlalu tapi laki-laki yang berstatus suamiku itu belum mengeluarkan suaranya. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini ketika menginjakkan kakinya di dalam Bread and Milk. Tak tahan dengan kesunyian yang menyelimuti kami, maka aku memutuskan untuk membuka suaraku. Tapi siapa sangka jika saat itu juga Morgan mengeluarkan suaranya. "Soal tadi siang... Siapa laki-laki yang hendak makan siang bersama denganmu?" tanyanya dengan nada menuduh layaknya seorang polisi kepada tersangka. Aku memilih untuk diam sejenak. Menimbang-nimbang haruskah aku menjawab pertanyaan tersebut? Karena sekarang diriku terlihat seperti seorang istri yang ketahuan selingkuh. Padahal siap

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD