13

749 Words

Dengan langkah tergesa-gesa aku melangkahkan kakiku menuju ruang kerja ayah. Memberanikan diri mengetuk pintu berkayu jati tersebut sebelum akhirnya membuka pintu tanpa menunggu jawaban dari ayah. Pintu terbuka lebar. Saat itulah aku menemukan wajah ayah yang merah padam diliputi kemarahan. Sedangkan dihadapannya Morgan tanpa tenang. "Ayah..." panggilku pelan. Di belakangku, aku dapat merasakan ketegangan yang sama meliputi ibuku. "Suamimu ini benar-benar b******k!" Ada jeda sejenak sebelum ayah kembali melanjutkan. "Sebaiknya kamu bawa suamimu keluar dari rumah ini sebelum ayah kehilangan kesabaran!" dengusnya. Dapat kulihat dari balik bulu mataku ketika Morgan perlahan bangkit berdiri dari duduk. "Saya tidak akan mengubah keputusan saya. Vila yang anda miliki harus dijual atau saya

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD