MENIKAHI MURIDKU
DIKARENAKAN TIDAK MEMENUHI SYARAT DI INNOVEL, CERITA MENIKAHI MURIDKU AKAN DIHAPUS. BUAT KALIAN YANG MAU BACA BISA MAMPIR KE AKUN KBM KU YA.
ATAU JUGA BISA MAMPIR KE AKUN k********a, CARI AJA YANG AKUNNYA @ikesweetdevil.
TERIMA KASIH UNTUK DUKUNGAN KALIAN SEMUA, AKU JUGA MINTA MAAF KARENA ENGGAK BISA MELANJUTKAN DI SINI. ALASANNYA KARENA CERITA INI ADALAH PERNIKAHAN DINI, DI MANA UMUR MASIH 18 TAHUN DAN JUGA MASIH BERSTATUS MURID SMA.
AKU KASIH PART 18 YA, KALIAN BISA BACA SEBELUM CERITA DIHAPUS SEPENUHNYA.
Part 18
Setelah mengetahui lokasi syuting mereka, Raja dan Daffa langsung menuju ke sana, di sebuah gedung tua yang tempatnya tidak jauh dari rumah mereka. Dan di sini lah mereka, di dalam mobil milik Daffa dengan Raja yang menyetirnya, sedangkan Daffa sedang fokus pada ponselnya.
"Bisa-bisanya Kak Raja enggak punya nomornya Tiara, padahal istrinya sendiri. Enggak suka sih enggak suka, tapi jangan berlebihan juga sampai enggak tahu nomor ponselnya." Daffa menyindir kakaknya yang menolak untuk menanyakan lokasi Tiara karena tidak memiliki nomornya, sedangkan Daffa yang notabenenya saudara ipar Tiara justru memilikinya.
"Kakak bukan enggak suka dengan Tiara, Kakak cuma mau Tiara menyerah dengan pernikahan ini, makanya Kakak sering bersikap enggak peduli ke dia, bahkan hanya untuk memiliki nomor ponselnya."
"Kenapa? Apa kerena Kak Sonya? Sudahlah, Kak. Stop menunggu wanita itu, dia enggak akan mungkin kembali. Meskipun kembali, dia pasti sudah memiliki lelaki lain." Daffa menjawab santai, meski sebenarnya ia muak menduganya, namun sepertinya itu lah alasan kenapa kakaknya ingin merusak pernikahannya dengan Tiara.
"Tapi, Kakak masih mengharapkannya, Daff. Kakak juga sangat yakin, dia akan datang suatu saat nanti, menerima lamaran Kakak, lalu kita akan menikah dan hidup bahagia." Raja tersenyum tipis, sudah lama ia mengharapkan hal itu, namun sepertinya itu masih lama, karena Sonya sendiri sudah lama tidak ada kabar.
Daffa yang mendengar ucapan kakaknya yang terdengar lelah, diam-diam ia juga merasa iba, namun tetap saja ia tidak akan pernah suka bila kakaknya itu menikah dengan Sonya. Seorang model biasa yang melakukan banyak cara termasuk meninggalkan kakaknya demi bisa menjadi model terkenal.
Sikap wanita itu terlalu buruk, hingga Daffa merasa muak hanya dengan mengingat wajahnya. Bukan tanpa alasan Daffa membencinya, karena wanita itu lah, sikap kakaknya yang dulu sangat penyayang kian berubah semenjak sepeninggalannya.
Setahu Daffa, dulu, Raja berpacaran dengan Sonya, si wanita ambisius. Kakaknya itu begitu mencintainya dengan tulus, ya karena memang seperti itu lah sikap kakaknya sejak dulu, sosok lelaki penyayang. namun perubahan sikap kakaknya itu mulai terlihat saat Sonya mengatakan bila dia akan pergi ke luar negeri untuk menggapai cita-citanya.
Mau tak mau, Raja harus mau menuruti permintaannya, namun di hari terakhir mereka, Raja mengatakan bila ia akan menunggu Sonya pulang. Saat itu Raja juga melamar wanita itu, dan ia meminta jawabannya saat wanita itu pulang ke Indonesia, wanita itu setuju lalu pergi tanpa kabar lagi.
Cerita memuakkan untuk Daffa ingat, namun karena cerita itu lah, kakaknya mulai berubah, sikapnya mudah marah dan bahkan sering menyendiri di kamarnya. Namun lambat laun, Raja mulai terbiasa hidup tanpa Sonya, bisa dilihat dari caranya yang begitu antusias dengan pekerjaannya sampai lupa bila umurnya sudah tua dan pada akhirnya harus menikah dengan Tiara.
Sekarang, kakaknya itu justru ingin mengakhiri pernikahan itu demi janjinya pada wanita yang tidak tahu bagaimana kabarnya. Tentu saja, Daffa semakin muak melihat jalan ceritanya. Andai Tiara menyukainya dan tidak menganggapnya sebagai saudara, Daffa pasti akan sangat senang hati menggantikan posisi kakaknya menjadi suaminya, namun sepertinya itu mustahil, karena pada kenyataannya Tiara tak menganggapnya tak lebih dari saudara.
"Semua itu terserah Kak Raja, tapi please jangan bawa Tiara ke dalam masalah kalian, dia juga butuh bahagia. Kalau pernikahan kalian memang enggak bisa dilanjutkan, setidaknya jangan menambah luka pada hati Tiara."
"Kakak mengerti. Sepertinya kita sudah sampai, bagaimana? Kamu masih mau menemui Tiara?"
"Kenapa enggak? Kita kan juga sudah ada di sini, aku juga enggak mau nanti Tiara di sana digodain Nando, terus mereka malah balikan lagi." Daffa menjawab serius sembari membuka pintu mobilnya, tanpa menyadari bagaimana Raja termenung memikirkan ucapannya. Entah kenapa, semakin hari, Raja merasa semakin peduli dengan Tiara, terlebih lagi setelah mendengar kisahnya, hati Raja bagai pisau tumpul yang memiliki pilihan antara mencintai atau menyakiti, antara pergi atau menemani, dan semua itu semakin membuat Raja tidak mengerti.
"Kak, ayo cepat keluar! Tiara sudah menunggu kita di dalam," teriak Daffa sembari menggedor-gedor pintu mobilnya, yang diangguki mengerti oleh Raja lalu keluar dari sana.
***
Di dalam ruangan, Tiara sedang bersiap-siap setelah selesai di make up. Gadis itu begitu cantik dengan balutan gaun warna hitam, dengan tema dark yang kian membuatnya menawan. Saat sedang menunggu gilirannya syuting, seorang kru mendatanginya dan mengatakan bila ada dua lelaki yang ingin bertemu, tentu saja hal itu membuat Tiara heran, karena setahunya hanya Daffa yang ingin datang.
"Dua orang, Pak?"
"Iya, Mbak. Apa saya harus mengizinkan mereka masuk?"
"Iya, Pak. Tolong, suruh mereka masuk!" Tiara menyunggingkan senyumnya, ia merasa penasaran dengan siapa Daffa datang. Namun saat Tiara keluar ruangan, ia justru melihat suaminya berada di lokasi syuting yang sama, lelaki itu berjalan bersama dengan Daffa.
"Wah, Ra. Kamu cantik banget." Daffa menatap kagum ke arah Tiara yang berusaha tersenyum, namun sangat sulit saat menatap ke arah Raja yang terdiam menatapnya.
"Terima kasih, Kak." Tiara menjawab seadanya, lalu matanya beralih ke arah Raja yang kian mendekat ke arahnya.
"Pak Raja," gumam Tiara setelah suaminya itu berada tepat di depannya.
"Iya, kenapa? Kok kamu seperti kaget melihat saya?" Raja bertanya tak habis pikir, ekspresi wajahnya bahkan seolah tak memiliki dosa, santai dan tenang seperti biasa.
"Iya, tapi kenapa Bapak ke sini?" tanya Tiara berhati-hati.
"Saya mau tahu suasana syuting itu seperti apa, memangnya salah?" elak Raja yang ditatap tak percaya oleh Daffa, berbeda dengan Tiara yang langsung menggeleng bersalah.
"Tentu saja boleh, Pak. Tapi tolong jangan keceplosan tentang hubungan kita ya?" ujar Tiara lirih, berharap suaminya itu mau mengerti maksudnya.
"Kenapa? Kamu takut Nando tahu hubungan kita?"
"Apa? Nando? Kenapa jadi Nando, Pak?" tanya Tiara kebingungan, kenapa terhubung dengan Nando, padahal maksudnya Tiara ia hanya tidak mau ada rumor tentangnya dan hal itu pasti akan berdampak pada pekerjaan Raja sebagai guru.
"Saya tahu semuanya kok." Raja menjawab malas, yang kian membuat Tiara tak mengerti.
"Maksudnya Pak Raja apa sih, Kak?" tanya Tiara ke arah Daffa, jujur saja ia belum bisa berbicara banyak ataupun meminta penjelasan yang detail mengingat tempat mereka adalah tempat umum.
"Nanti kita bicarakan di rumah." Daffa mengerlingkan matanya sembari tersenyum ke arah Tiara, yang diam-diam Raja tatap dengan mata malas, merasa tak suka saja dengan sikap adiknya yang selalu memperlakukan Tiara dengan mesra.
"Ara, sekarang giliran kamu syuting." Seorang kru datang menghampiri Tiara yang langsung diangguki olehnya.
"Iya, Kak. Pak Raja sama Kak Daffa mau lihat proses syutingnya enggak? Kalau mau lihat, ikut aku ke sana," tunjuk Tiara ke arah banyak orang yang sudah siap di tempatnya masing-masing.
"Iya, kita mau lihat. Ya kan, Kak?" ujar Daffa ke arah Raja yang tampak acuh tak acuh dengan sekitarnya.
"Terserah." Raja menjawab seadanya lalu berjalan mengikuti Tiara dan Daffa, namun di sana mereka justru bertemu dengan Nando, lelaki yang akan menjadi lawan main Tiara di video klip tersebut.
"Ara," panggil lelaki itu terdengar antusias, ekspresi wajahnya bahkan sangat jelas menggambarkan bagaimana bahagianya dia melihat Tiara.
"Hai, Nan. Syutingnya mau dimulai kan?"
"Iya, sebentar lagi. Wah, kamu selalu cantik ya? Enggak pernah berubah." Nando menatap kagum ke arah Tiara, membuat Raja dan Daffa muak mendengarnya.
"Alah najis," sindir Daffa malas, yang tentu saja mendapatkan perhatian dari Tiara dan Nando yang mendengar gerutuannya.
"Maksudnya apa ya?" tanya Nando tak mengerti, ia merasa bila ucapan Daffa tertuju ke arahnya.
"Bukan apa-apa kok, Nan. Oh ya, kenalkan mereka ini saudaraku. Itu Pak Raja, dan yang itu Kak Daffa." Tiara memperkenalkan mereka, berusaha memperbaiki masalah yang Daffa timbulkan, meskipun Tiara sendiri tidak mengerti kenapa Daffa berkata seperti tadi.
"Iya, salam kenal, saya Nando." Nando berusaha menyapa dengan baik, namun tanggapan mereka justru terkesan tidak peduli.
"Ara, Nando. Sekarang giliran kalian," ujar seorang kru yang diangguki oleh Tiara maupun Nando. Sedangkan Raja dan Daffa hanya bisa melihat mereka memulai aktingnya, semua itu diawali dengan Tiara yang pura-pura sendiri seolah sedang menunggu, ekspresi wajahnya tampak benar-benar menghayati kesendiriannya, yang sempat membuat Raja kagum, sampai saat Daffa menghancurkan lamunannya.
"Gila, Ara keren ya, Kak? Baru pertama kali ini aku lihat dia syuting secara langsung." Daffa berbisik ke arah Raja yang tampak memutar bola matanya secara malas.
"Dia Tiara, bukan Ara." Raja menjawab kian malas.
"Lah sama aja, Tiara ya Ara. Kalau di rumah dia Tiara, kalau di sini ya Ara."
"Terserah." Raja terus memerhatikan Tiara, bahkan saat Nando mulai datang dan memeluk tubuhnya, di saat itu lah Raja mendelikkan matanya.
"Apa-apaan itu? Mau-maunya dipeluk?" gerutu Raja tak habis pikir, yang diam-diam Daffa dengar.
"Kan cuma akting, Kak." Daffa menjawabnya, yang justru mendapatkan tatapan tajam dari mata kakaknya.
"Akting? Cuma akting kamu bilang? Kamu sendiri bagaimana, kamu bilang kamu menyukai Tiara, tapi apa kamu enggak cemburu melihat dia dipeluk lelaki seperti Nando itu?"
"Ya, cemburu. Tapi karena aku tahu itu cuma akting, jadi aku berusaha mengerti kalau Tiara cuma mau bersikap profesional dengan pekerjaannya."
"Kakak pikir, kamu cuma mengagumi Tiara, bukan menyukainya."
"Karena aku menyukainya, makanya aku enggak mau ngelarang dia melakukan apapun yang buat dia bahagia," jawab Daffa santai.
"Kamu juga enggak berhak ngelarang Tiara apapun." Raja menjawab sinis.
"Iya sih ...." Daffa tampak kecewa dengan dirinya sendiri, karena Tiara hanya menganggapnya sebagai saudara, padahal hatinya mudah sekali mencintai gadis itu dan bahkan mau melakukan apapun demi membahagiakannya. Namun sepertinya semua itu hanya akan menjadi khayalan, meski begitu Daffa tidak akan pernah rela bila kakaknya menyakiti Tiara sekecil apapun melukainya.
Daffa maupun Raja sama-sama terdiam menatap ke arah Tiara dengan sorot mata berbeda, di mana Daffa begitu bangga sekaligus kagum melihat akting Tiara yang luar biasa. Sedangkan Raja justru tampak tak suka melihat mereka bersama seolah benar-benar sedang bahagia.
***
Setelah acara syuting selesai, akhirnya Tiara bisa pulang bersama dengan Raja dan Daffa. Kini ketiganya sudah sampai di rumah, mereka juga tampak kelelahan terutama Tiara yang cukup banyak menyita tenaga karena pekerjaannya.
Meski terlihat kelelahan, tak membuat Tiara mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Raja dan Daffa akan sikap mereka yang begitu tak acuh saat Nando memperkenalkan dirinya. Tidak itu saja, setelah selesai syuting di lokasi pertama, Raja dan Daffa juga bersikap ketus pada Nando, padahal lelaki itu hanya ingin mengajak mereka mengobrol, karena setahu Nando, Daffa dan Raja adalah saudara Tiara.
Ya, Tiara sempat bercerita ke Nando bila ia sudah pindah ke rumah saudaranya. Tiara juga berkata bila ia ingin lebih fokus pada sekolahnya, dan Nando sangat mendukung hal itu.
Karena perbincangan itu lah, Daffa dan Raja menatap Nando seolah lelaki itu adalah mangsa yang harus mereka terkam, tentu saja hal itu membuat Nando tak nyaman. Saat Tiara bertanya apa Raja dan Daffa ada masalah, mereka justru berkata bila ia harus berhati-hati dengan Nando. Perbincangan itu sempat membuat Nando keheranan, untungnya Tiara berusaha mengalihkannya dengan berkata bila kedua saudara itu memang suka bercanda. Andai tidak ada jadwal syuting lagi, mungkin Nando akan bertanya lebih jauh lagi dengan maksud ucapan nyeleneh Daffa dan Raja.
"Kak Daffa, Pak Raja. Aku mau tanya sesuatu ke kalian, boleh?" tanya Tiara serius, setelah mereka sudah sama-sama duduk di kursi ruang tamu.
"Ada apa, Ra?" tanya Daffa penasaran, berbeda dengan Raja yang hanya terdiam memerhatikan.
"Maksud Kak Daffa dan Pak Raja apa bersikap seperti tadi ke Nando? Dia sepertinya tersinggung dengan sikap kalian." Tiara bertanya hati-hati, ia juga tidak mungkin langsung marah sebelum benar-benar mendengar penjelasan mereka.
"Bukannya sudah jelas ya, kita cuma mau menjaga kamu, Ra."
"Menjagaku dari apa?"
"Nando itu mantan kamu kan? Dia mutusin kamu di saat dia sudah sukses dengan band-nya, sekarang dia malah menunjuk kamu sebagai model video klip dia, bocah itu pasti mau manfaatin kamu lagi." Daffa menjawab serius, namun Tiara justru menghela nafas panjangnya.
"Nando itu bukan mantanku, Kak. Kita itu berteman sejak kecil, kebetulan kita menggeluti pekerjaan yang sama yaitu entertainment."
"Terus kenapa banyak berita yang mengatakan kalau kamu dan Nando pacaran pas dia buat band, terus kalian putus pas dia sudah sukses?"
"Semua itu cuma settingan kok, Kak. Dan lagi kayanya mustahil kalau aku dan Nando pacaran waktu itu, karena kita masih sama-sama SMP." Tiara tersenyum maklum, ia lupa bila ada berita semacam itu dulu demi bisa meningkatkan kepopuleran band Nando.
"Jadi, semua berita itu bohong? Serius? Aku pikir beneran?" ujar Daffa tak percaya, yang lagi-lagi disenyumi oleh Tiara.
"Di dunia entertainment itu enggak semuanya benar kok, Kak. Jadi jangan dibuat serius!"
"Tapi kenapa kamu mau bekerja sama lagi dengan bocah itu? Apa kalian akan settingan lagi?"
"Enggak kok, Kak. Aku ditawari menjadi model di video klip Nando, supaya image Nando yang sudah menyakiti aku setelah sukses itu akan menghilang. Selama ini hubungan kita baik-baik aja, kita enggak pernah bertemu lagi itu karena kesibukan kita masing-masing, jadi akan lebih baik lagi kalau semua orang tahu itu terutama seluruh penggemarku." Tiara menjawab jujur yang tentu saja membuat Raja dan Daffa kagum.
"Wah, kamu benar-benar baik." Daffa berdecap kagum, merasa tidak menyangka saja dengan cerita yang sebenarnya, karena selama ini Daffa hanya mendengar berita Tiara dari sosmed dan televisi. Sedangkan Tiara hanya tersenyum, tanpa menyadari bagaimana Raja juga tersenyum melihat ketulusan hatinya.