Beberapa bulan telah berlalu sejak pernikahan Daffa dan Titah. Kehidupan mereka sebagai suami istri dijalani dengan penuh kasih sayang dan kebahagiaan. Rumah kecil mereka di dekat Pesantren Darussalam terasa hangat dan penuh cinta. Titah tetap aktif di pesantren, mengajar mengaji dan membantu kegiatan sosial. Daffa, setelah menyelesaikan kuliahnya, kini membantu ayahnya mengelola usaha kecil-kecilan.
Suatu sore, setelah menyelesaikan pekerjaannya di pesantren, Titah pulang ke rumah. Ia mendapati Daffa sedang asyik mengotak-atik tanaman di halaman rumah mereka.
"Assalamu'alaikum," sapa Titah.
"Wa'alaikumsalam," jawab Daffa, tersenyum lebar sambil menoleh. "Sayang, kamu sudah pulang."
"Iya, Mas. Capek sekali hari ini," kata Titah, meletakkan tasnya.
"Istirahatlah dulu, nanti kita makan malam bersama. Aku sudah masak rendang kesukaanmu," kata Daffa, menghampiri Titah dan memeluknya dari belakang.
"Wah, rendang? Aku lapar sekali nih," kata Titah, tertawa.
Setelah makan malam, mereka duduk di beranda rumah, menikmati udara malam yang sejuk.
"Mas," kata Titah, memecah kesunyian.
"Iya, Sayang?"
"Aku bersyukur sekali bisa menikah denganmu. Semua cobaan yang kita lalui dulu, terasa seperti mimpi sekarang," kata Titah, menatap Daffa dengan mata berkaca-kaca.
"Aku juga, Sayang. Aku bersyukur Allah mempertemukan kita. Kita akan selalu bersama, melewati suka dan duka, ya?" kata Daffa, menggenggam tangan Titah erat-erat.
"Insya Allah, Mas. Aku ingin kita selalu seperti ini, saling mencintai dan menyayangi," kata Titah, tersenyum.
"Amin. Oh iya, besok kita ke rumah orang tuamu, ya? Sudah lama kita tidak menjenguk mereka," kata Daffa.
"Baiklah, Mas. Ibu pasti senang kalau kita berkunjung," jawab Titah.
"Ibu dan Ayahmu selalu mendoakan kebahagiaan kita, Sayang. Mereka sangat menyayangi kamu dan aku," kata Daffa.
"Aku tahu, Mas. Aku juga mencintai dan menghormati mereka," kata Titah.
Mereka melanjutkan perbincangan hingga larut malam, berbagi cerita dan rencana masa depan. Kebahagiaan mereka terasa begitu nyata, sebuah kebahagiaan yang telah mereka perjuangkan bersama. Mereka berdua menyadari bahwa perjalanan hidup mereka masih panjang, namun dengan saling mendukung dan mencintai, mereka yakin akan mampu melewati segala rintangan yang akan datang.
Suatu siang, Daffa sedang berada di sebuah kafe dekat pesantren, menunggu Titah selesai mengajar. Tiba-tiba, seorang wanita cantik mendekatinya. Wanita itu bernama Sekar, mantan kekasih Daffa yang telah lama putus hubungan. Sekar tampak lebih anggun dan dewasa. Ia tak menyangka akan bertemu Daffa di tempat ini.
"Daffa?" sapa Sekar ragu-ragu.
Daffa tertegun sejenak. "Sekar? Kau… kau di sini?"
"Ya, aku baru pulang dari luar negeri," jawab Sekar, senyumnya sedikit getir.
Mereka mengobrol sebentar, membahas kabar masing-masing. Sekar tak menyadari bahwa Daffa sudah menikah. Ia masih menyimpan perasaan yang sama kepada Daffa, dan kesempatan bertemu ini membuatnya bersemangat untuk kembali merebut hati Daffa. Daffa, meskipun merasa canggung, tetap bersikap ramah. Ia tak ingin menyakiti Sekar, namun juga tak ingin memberikan harapan palsu.
Setelah perjumpaan itu, Sekar mulai mencari informasi tentang Daffa. Ia menemukan akun media sosial Titah dan melihat foto-foto pernikahan mereka. Rasa kecewa dan sakit hati menghantamnya. Namun, Sekar bukanlah tipe wanita yang mudah menyerah. Ia punya rencana. Ia akan mendekati Titah, berpura-pura berteman, dan perlahan-lahan merusak hubungan Daffa dan Titah.
Sekar membuat akun media sosial baru dan mulai mengikuti akun Titah. Ia memberikan komentar-komentar positif di postingan Titah, memuji kebaikan dan kecantikannya. Ia juga mengirimkan pesan pribadi kepada Titah, mengajaknya berkenalan. Titah, yang dikenal ramah dan baik hati, menyambut Sekar dengan hangat. Mereka mulai sering bertukar pesan dan akhirnya memutuskan untuk bertemu.
Sekar sangat pandai berakting. Ia menampilkan dirinya sebagai wanita yang baik, ramah, dan perhatian. Ia mendengarkan keluh kesah Titah, memberikan saran dan dukungan. Perlahan-lahan, ia menanamkan benih-benih perselisihan antara Titah dan Daffa. Ia berbisik tentang kegagalan Daffa dalam hal tertentu, membesar-besarkan hal kecil, dan menonjolkan kekurangan Daffa.
Titah yang polos dan lugu, awalnya tidak menyadari niat jahat Sekar. Ia menganggap Sekar sebagai teman baik. Namun, seiring berjalannya waktu, Titah mulai merasakan kejanggalan. Ia merasa ada sesuatu yang disembunyikan Sekar. Ia juga mulai merasakan perubahan sikap Daffa yang menjadi lebih dingin dan pendiam.
Suatu malam, Titah bercerita kepada Daffa tentang Sekar. Ia menceritakan bagaimana Sekar selalu memuji dirinya dan sering membicarakan Daffa. Daffa terkejut mendengarnya. Ia menceritakan pertemuannya dengan Sekar dan menyadari bahwa Sekar sedang merencanakan sesuatu.
Daffa dan Titah sepakat untuk menghadapi masalah ini bersama-sama. Mereka akan membuktikan bahwa cinta mereka lebih kuat dari segala macam intrik dan rencana jahat. Mereka akan mempertahankan pernikahan mereka dan mengalahkan Sekar dengan cara yang baik dan bijak. Mereka berdoa agar Allah SWT selalu melindungi rumah tangga mereka dari segala macam godaan.
Setelah Aldi pamit pulang, Titah menatap Daffa dengan tatapan tajam. "Mas, aku punya rencana," katanya, suara sedikit meninggi karena sedikit kesal dengan sikap Daffa yang masih belum mengerti.
Daffa mengerutkan dahi. "Rencana apa, Sayang? Jangan sampai rencana itu malah membuat masalah baru."
"Mas, jangan selalu berpikir negatif dulu! Dengar dulu rencanaku. Ini untuk menyelesaikan masalah Sekar," Titah menjelaskan dengan sabar, "Kita akan ikut permainan liciknya. Kita akan membiarkan dia melakukan aksinya, tapi kita akan mengendalikan semuanya. Kita akan membuatnya tersingkir sendiri dari pesantren ini."
Daffa masih ragu. "Bagaimana caranya, Sayang?"
Titah menjelaskan rencananya secara detail. "Kita akan pura-pura tidak menyadari ulah Sekar. Kita akan membiarkan dia mendekati kita, berpura-pura baik, dan melakukan semua rencananya. Mas Aldi akan membantu kita mengawasi Sekar dan melaporkan setiap gerak-geriknya. Kita juga akan meminta bantuan Ayah Sekar. Mas, diam-diam laporkan semua perbuatan Sekar pada Ayah Sekar, ya?"
Daffa tercengang mendengar rencana Titah. Ia tak menyangka istrinya memiliki strategi yang begitu cerdik. "Jadi, kita akan membiarkan Sekar melakukan aksinya, lalu kita sergap dia?"
"Tepat sekali, Mas!" Titah tersenyum penuh kemenangan. "Kita akan membuatnya terlihat buruk di mata semua orang, termasuk Ayah Sekar. Dengan begitu, dia akan dikeluarkan dari pesantren ini dengan sendirinya. Ayah Sekar pasti akan malu dan menarik Sekar pulang."
Daffa mengangguk. Ia mulai memahami rencana Titah. Ia pun setuju dengan rencana tersebut. "Baiklah, Sayang. Aku akan melakukan apa yang kau minta. Aku akan melaporkan setiap gerak-gerik Sekar pada Ayahnya."
Keesokan harinya, Daffa menghubungi Ayah Sekar. Ia menceritakan tentang perilaku Sekar di pesantren, menekankan pada upaya Sekar untuk merusak rumah tangganya. Ayah Sekar terkejut dan marah besar. Ia meminta Daffa untuk terus memberinya laporan tentang perkembangan situasi. Ia berjanji akan segera mengambil tindakan tegas jika Sekar benar-benar melakukan hal yang tidak senonoh.
Titah dan Daffa pun memulai "permainan" mereka. Mereka membiarkan Sekar mendekati mereka, menciptakan situasi yang memungkinkan Sekar untuk melakukan aksinya. Aldi, dari kejauhan, mengamati dan mencatat semua kejadian. Ia siap memberikan informasi kepada Daffa dan Titah kapanpun dibutuhkan. Permainan licik Sekar kini berada di bawah kendali Titah dan Daffa. Mereka menunggu saat yang tepat untuk membongkar semua kejahatan Sekar.
Titah mengajar seperti biasanya. Setelah selesai mengajar, ia bergegas menuju dapur pesantren untuk membantu menyiapkan makan siang. Sekar mengikutinya dari belakang, menunggu momen yang tepat untuk menjalankan rencananya. Ia berniat mendorong Titah hingga terjatuh saat Titah sedang berjalan menuju dapur.
Sekar memilih tempat yang sepi dan sedikit tersembunyi. Ia bersembunyi di balik sebuah pohon besar, menunggu Titah mendekat. Saat Titah berjalan sendirian, Sekar bersiap untuk menjalankan aksinya. Ia mengambil ancang-ancang, siap mendorong Titah dari belakang.
Namun, sebelum Sekar sempat melakukan aksinya, sebuah suara yang familiar menghentikan langkahnya.
"Assalamu'alaikum, Titah."
Titah menoleh. Ia terkejut melihat Kakeknya, Pak Kyai Abdullah, berdiri di dekatnya bersama seorang pria yang sangat mirip dengan Daffa. Pria itu adalah Daffi, saudara kembar Daffa. Mereka baru saja pulang dari acara dakwah di desa sebelah.
Sekar terpaku di tempat. Ia tak menyangka akan bertemu Pak Kyai Abdullah di tempat ini. Ia juga mengira pria yang bersama Pak Kyai adalah Daffa. Kesempatannya untuk mencelakai Titah telah hilang.
Pak Kyai Abdullah menghampiri Titah dan Daffi. Ia menanyakan kabar cucunya dan kemudian mengajak Titah untuk pulang bersamanya. Sekar hanya bisa memperhatikan mereka dari kejauhan, merasakan kegagalan rencananya.
Melihat kejadian itu, Titah tersenyum licik. Ia mendapat ide baru. Ia akan memanfaatkan kesamaan wajah Daffa dan Daffi untuk menjebak Sekar.
"Mas Daffa, aku punya ide baru untuk mengalahkan Sekar," bisik Titah kepada Daffa saat mereka berdua sedang berbincang di rumah.
"Ide apa, Sayang?" tanya Daffa penasaran.
Titah menjelaskan rencananya. "Kita akan memanfaatkan kemiripan Mas Daffa dan Mas Daffi. Besok, saat Sekar mencoba mendekati Mas Daffa, kita akan meminta Mas Daffi untuk menggantikan Mas Daffa. Saat Sekar sudah terlanjur dekat dengan Mas Daffi, kita akan membongkar semua kejahatannya."
Daffa terkesima dengan kecerdasan istrinya. "Ide yang brilian, Sayang! Aku yakin rencana ini akan berhasil."
Mereka pun sepakat untuk menjalankan rencana tersebut. Mereka akan mengatur agar Sekar bertemu dengan Daffi, dan membiarkan Daffi berpura-pura menjadi Daffa. Mereka menunggu saat yang tepat untuk membongkar semua kejahatan Sekar dan mengeluarkannya dari pesantren.