06. Takdir yang Kejam

1234 Words
Sial! Ada apa sih dengan hari ini? Kenapa hari ini Nadine sial sekali? Mulai dari pagi yang tidak mengenakkan, dilanjut dengan kondisi ibunya yang membuatnya panik, dan sekarang? Bertemu dengan pria aneh itu lagi! Kenapa takdir suka sekali mempermainkannya? Hari ini Nadine sudah banyak tertimpa masalah, dan tiba-tiba pria itu datang membawa masalah baru. Berkat pria itu, Nadine harus memutar otaknya yang tidak seberapa ini untuk mengingat dimana ia meletakkan jas pria itu? “Nambah-nambahin pikiran aja!” maki Nadine seorang diri. Beberapa orang yang berpapasan dengannya melirik dengan tatapan heran. Orang mungkin menganggapnya gila karena berceloteh seorang diri. “Halo.” Saat ini Nadine sedang menelepon sahabatnya—Oliver. Dia mau memastikan apakah jas itu benar-benar tertinggal di mobilnya. “Ver, jas yang aku bawa semalem ada di mobil kamu nggak ya?” tanya Nadine langsung ke intinya. “Jas?” “Iya, jas yang aku bilang punya cowok aneh di hotel waktu itu.” “Udah aku buang.” “Hah?! Kamu buang??” Orang-orang yang lewat semakin memandang aneh ke arahnya. Tapi Nadine tidak peduli. Jas itu menyangkut hidup dan matinya! “Kamu bilang kamu nggak mau ketemu cowok itu lagi. Jadi jasnya aku buang, toh kamu nggak bakal ketemu dia lagi kan?” Nadine langsung memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa pening. Iya sih, Nadine memang pernah bilang begitu, tapi kan dia tidak harus langsung membuangnya begitu saja! “Aku butuh jas itu, Oliver…” ucap Nadine terdengar putus asa. “Hari ini aku ketemu cowok itu, dan dia nagih jasnya. Dia minta jas itu dibalikin. Sekarang aku harus gimana?” Tidak ada jawaban dari Oliver. Nadine yakin sahabatnya itu juga sama bingungnya. “Kamu ketemu cowok itu lagi?” Nadine menghela nafas kasar. Apa dia harus menjawab pertanyaan yang jawabannya sudah sangat jelas? “Aku harus gimana sekarang?” Nadine memilih mengabaikan pertanyaan Oliver dan meminta saran untuk masalahnya saat ini. “Jasnya masih ada di apartemenku.” Nadine langsung dongkol. Jadi sahabatnya ini mempermainkannya? “Bercandaan kamu nggak lucu!” kesalnya. Apa dia tidak tahu Nadine hampir terkena serangan jantung karena candaan tidak bermutunya. “Tapi Nad, kamu beneran mau ketemu cowok itu lagi?” “Aku mau balikin jas dia, jelas aku harus ketemu dia.” Nada bicara Nadine kini tidak terdengar ramah. Dia masih jengkel dengan candaan Oliver tadi. “Kapan kamu mau balikin jasnya?” “Memangnya kenapa?” “Biar aku temenin.” Nadine mendengus, “Nggak usah. Aku bukan anak kecil!” “Udah ya, aku tutup teleponnya. Oh iya, jasnya tolong disimpen dulu, nanti atau enggak besok aku bakal ke sana buat ambil.” “Tapi Nad—” Tanpa menunggu jawaban Oliver, Nadine langsung menutup panggilannya. Terkadang mengobrol dengan Oliver benar-benar menguras emosinya. *** Saat tiba di ruang inap, Nadine mendapati ibunya masih terlelap. Namun ada satu hal yang membuatnya heran, ada satu orang perawat yang setia berada di samping ibunya, dan wajah beliau berubah lega begitu melihatnya datang. Apa perawat ini sedang menunggunya? “Ada perlu apa ya, Sus?” “Dokter mau bicara dengan Mbak. Mari, saya antar ke ruangannya.” Nadine mengikuti suster tersebut dengan khawatir. Dia berharap hasil pemeriksaan ibunya baik-baik saja dan bisa segera pulang ke rumah seperti harapannya. Jarak antara ruang inap ibunya dengan ruangan dokter ternyata lebih jauh dari perkiraannya. Matanya membaca palang-palang yang terletak di dinding-dinding ruangan yang dilewatinya. Banyak bahasa-bahasa kedokteran yang tidak dipahaminya. Ia lalu masuk lebih dalam ke ruangan yang Nadine tidak tahu itu ruangan apa. Namun dia berhenti sejenak saat menemukan istilah kedokteran yang tampak tak asing di matanya. Otaknya mengingat-ingat dimana dia pernah melihat tulisan itu? “Mbak Nadine?” Nadine tersadar dari lamunannya, dan ternyata jarak suster dengannya sudah berjarak tiga meter lebih. “Ah, iya, Sus.” Nadine kembali melanjutkan langkahnya. Tidak tahu kenapa kini hatinya diliputi perasaan tidak tenang. *** Nadine kini sudah berada di ruangan dokter. Tangannya saling bertaut di atas pangkuannya. Tidak bisa dipungkiri jika saat ini dia sangat khawatir. “Anda putri Ibu Iriana?” tanya dokter itu. “Iya, Dok.” “Saya tidak tahu kalau Pak Aryo dan Bu Iriana ternyata punya dua putri,” ucapnya keheranan. “Saya putri bungsunya.” Dokter yang rambutnya hampir memutih semua itu ber-oh ria. “Bu Iriana beruntung sekali memiliki dua putri yang cantik-cantik,” katanya membuat Nadine berusaha menyunggingkan sedikit senyum meski sulit. Nadine tahu dokter di depannya ini hanya sedang berusaha menghilangkan ketegangan dalam dirinya. Nadine mengapresiasi usaha dokter tersebut namun tetap saja ia tidak bisa menyembunyikan kegelisahan yang jelas tergambar di wajahnya. Menyadari usahanya tidak membuahkan hasil, si dokter pun kembali memasang wajah serius. “Saya sudah mengecek hasil pemeriksaan Bu Iriana,” katanya sambil membolak-balik hasil pemeriksaan di tangannya. “Saya juga sudah memeriksa rekam medis Bu Iriana sebelumnya.” Tangan Nadine semakin bertaut kian erat. “Dan saya menemukan ada massa di ovarium sebelah kanannya.” Nadine masih diam. Menyimak penjelasan dari dokter yang masih belum bisa ia pahami sepenuhnya. “Massa tersebut dicurigai sebagai tumor.” Tubuh Nadine membeku. Apa lagi ini, Tuhan? “Untuk mengetahui apakah tumor tersebut jinak atau ganas, perlu dilakukan tindakan biopsi.” (*Biopsi : Pembedahan untuk mengetahui jenis tumor) “Namun setelah saya melihat rekam medis Bu Iriana sebelumnya, beliau ternyata sudah pernah melakukan tindakan tersebut di rumah sakit ini.” “Dan dari hasil tersebut, dijelaskan bahwa massa tersebut merupakan tumor ganas, atau dalam bahasa kedokteran biasa disebut cancer.” “Saya menyesal mengatakan ini, tapi hasil pemeriksaan tertulis jika beliau mengidap kanker ovarium stadium tiga.” Tangan Nadine dingin seketika. Lidahnya kelu, tidak bisa menjawab atau merespons ucapan dokter di depannya. Siapapun tolong katakan padanya kalau semua ini hanya mimpi! Katakan padanya bahwa ini hanya mimpi buruk. Setelah ini Nadine akan terbangun dan hal-hal menakutkan di kepalanya akan hilang. “Bu Iriana sudah mengetahui hasil ini dari sebulan yang lalu. Tapi melihat reaksi Anda saat ini, sepertinya Bu Iriana memang sengaja ingin merahasiakan hal ini dari Anda dan keluarga.” Informasi bertubi-tubi itu membuat Nadine kewalahan. Tangannya mengepal erat berusaha mencegah luapan kemarahan dalam dirinya. “Coba periksa lagi, Dok,” katanya setelah merasa sedikit tenang. Namun dokter tersebut tidak mengindahkan kata-katanya dan hanya menatapnya dengan tatapan kasihan. Demi apapun ia benci tatapan itu! “Coba periksa lagi! Pasti ada kesalahan. Mama saya baik-baik aja. Beliau kelihatan segar bugar di kamar tadi. Mama saya sehat-sehat aja!” Nadine mulai hilang kontrol. Dia yakin dokter pasti salah. Dokter juga manusia kan? Beliau juga bisa salah. Ya, pasti ada yang salah dengan diagnosanya! “Bu Iriana terlihat sehat saat ini karena saya sudah memberikan obat anti nyeri. Jika efeknya hilang, Bu Iriana akan kembali merasakan nyeri hebat seperti beberapa saat lalu.” Nadine menggeleng-gelengkan kepalanya, menolak kenyataan tersebut. Dokter ini bohong! Semua yang dikatakannya bohong! “Saya tahu sulit untuk menerima kenyataan ini. Saya yakin Anda juga butuh waktu untuk berdamai dengan hal ini. Tapi kondisi ibu Anda saat ini sudah sangat mengkhawatirkan, dibutuhkan tindakan secepat mungkin agar kankernya tidak semakin menyebar.” Perlahan Nadine mulai melunak. Tatapan marahnya berganti dengan tatapan menerawang. Matanya mulai berkaca-kaca. Tidak butuh lama, bendungan di pelupuk matanya jebol dan membuat pipinya basah. Kedua tangan Nadine terangkat menutupi wajahnya yang sudah penuh air mata. Isakan menyakitkan terdengar di seluruh ruangan. Dokter itu hanya bisa memandangi Nadine dengan sorot mata iba. Dia membiarkan Nadine menangis sepuasnya, membiarkan gadis itu meluapkan emosinya yang mungkin sudah dari tadi ia tahan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD