6. Rumah Sakit

1243 Words
Tak semua privasi kita harus diketahui oleh orang lain, bahkan orangtuanya sekalipun apalagi ini hanya orang asing..  Unknown *** Sesampainya mereka (Aaron dan Rishi) di rumah sakit terdekat, Aaron langsung menghampiri seorang suster yang berjaga yang ada dimeja informasi.  "Sus, saya mau periksa tangan teman saya. Apakah dokter umum yang jaga ada ditempat?" "Ada kok, Mas. Silahkan daftar dulu." Suster menyerahkan selembar formulir pada Aaron, "Tolong diisi ya, Mas." Aaron mengambil kertas itu lalu mengisinya dengan cepat setelah selesai Aaron kembali menyerahkan kertas itu lalu mengucapkan terima kasih.  Aaron mengajak Rishi duduk diruang tunggu setelah mendapatkan nomor urut antrean, ketika duduk Aaron kembali bertanya, "Tangan kamu masih sakit?" Rishi menoleh pada Aaron yang duduk disampingnya.  "Sedikit," gumam Rishi karena takut lagi dibentak oleh Aaron makanya kali ini Rishi lebih menurut.  "Maaf tadi udah bentak kamu ya." Aaron mengatakan itu dengan tulus bagaimana tidak, ia sadar telah membuat Rishi tadi takut akibat bentakannya padahal ia sama sekali tak berniat untuk itu. Rishi langsung menunduk lalu mengangguk pelan.  Melihat itu Aaron menghela napas panjang, akhirnya dengan mengalah Aaron tak mengungkit kesalahannya tadi. Sekitar sepuluh menitan menunggu akhirnya nomor mereka dipanggil. Mereka kompak berdiri lalu melangkah masuk kedalam ruangan dokter umum.  "Selamat sore," sapa dokter yang masih muda itu dengan ramah. Rishi yang masuk kedalam ruangan paling akhir tak dapat melihat wajah sang dokter. Namun ketika akan duduk suara dokter terdengar terkejut menyapanya. "Lho, Ichi." Rishi yang akan duduk menengok kearah dokter tersebut.  "Mas Desta," seru Rishi tak kalah kagetnya.  Aaron menatap bingung pada dua orang ini, bagaimana tidak Rishi dan dokter di depannya seperti saling mengenal atau memang mereka berteman lama, namun tidak bagi dokter umum yang bernama Desta itu yang kini tersenyum makin lebar ketika mendengar Rishi menyebut namanya.  "Wah kebetulan banget nggak sih, kita bisa ketemu di sini ya." Masih dengan senyuman dokter Desta yang makin lebar. Mau tak mau hal itu membuat Rishi juga tersenyum.  "Iya, Mas. Kapan pulang dari Jambi?" Rishi bertanya dengan antusias.  Desta Mahendra atau biasa dipanggil Desta ini baru pulang dari Jambi setelah kuliah kedokterannya selesai. Desta adalah kakak kelasnya waktu SMA juga sepupu dari seseorang yang ia tak tahu entah di mana keberadaannya sekarang.  "Udah sebulan yang lalu gue di Jakarta, sebenarnya gue mau kerja di Jambi tapi gue dipaksa pulang karena Mama yang minta katanya beliau kesepian di sini, dan beruntung gue bisa kerja di rumah sakit ini," curhatnya membuat Rishi terkekeh geli. "Ohiya ini siapa, Chi?" tunjuk Desta pada Aaron, Rishi langsung menoleh kearah yang di tunjuk Desta lalu tersenyum tipis.  "Oh ini Aaron, Mas, teman Rishi. Dan, Aar. Ini Mas Desta kakak kelas saya waktu SMA." Aaron langsung menjabat tangan yang diulurkan oleh Desta, mereka berjabat tangan lalu menyebut nama masing-masing. Walau masih dengan wajah bingung namun Aaron tetap terlihat santai saja. Desta tersenyum lalu bertanya.  "Ohya, sampai lupa gue, di antara kalian siapa yang sakit?" tanya Desta tersenyum salah tingkah, ketika bertemu dengan teman lama membuatnya lupa bahwa ia harus tetap profesional.  Aaron yang lebih dulu menjawab. "Ini dokter, tangan sebelah kanan Rishi bengkak akibat benturan karena jatuh waktu saya tabrak tadi. Walaupun nggak terlalu keras namun tetap saja badan saya kan jauh lebih besar." Desta yang mendengarkan dengan seksama kemudian menatap kearah Rishi lalu ke tangan kanan gadis itu.  "Oke kalau gitu gue periksa dulu," Desta kemudian berdiri lalu menyuruh Rishi mengikutinya untuk pindah ke sebuah ranjang rumah sakit tempat biasa para dokter memeriksa pasiennya. Rishi lalu duduk diranjang lalu dengan cekatan memeriksa tangan Rishi.  "Oh ini cuma bengkak biasa saja, tinggal di kompres air dingin juga akan membaik, yaudah biar gue kasih salep ya supaya bengkaknya menurun." setelah Desta membersihkan tangan Rishi dengan alkohol lalu memberikan salep, ia dan Rishi kembali duduk di tempat masing-masing di mana Aaron yang masih setia menunggunya.  "Ini nama salep dan alkoholnya, kamu bisa beli di Apotek terdekat saja kok, biasanya juga ada." Desta menyerahkan sebuah kertas kecil seperti resep. Aaron segera mengambilnya lalu membacanya dengan serius. "Ohiya, jangan lupa tangan lo, rajin kompres air dingin ya supaya bengkaknya cepat turun." pesan Desta pada Rishi. Membuat Rishi menganggukkan kepala mengerti.  "Baik Mas." Rishi dan Aaron segera pamit pulang, Desta dengan cepat mengantar mereka sampai depan pintu ruangannya dengan salam perpisahan.  "Salam buat Ayah dan Ibu ya, Chi. Kapan-kapan kalau ada waktu gue mampir ke rumah deh." "Iya Mas, salam juga buat Mama Ayu ya." kata Rishi balik. Desta mengangguk kepalanya. Dan berbalik pulang bersama Aaron sedang Desta masuk ke ruangannya untuk kembali bekerja.  Setelah sampai diparkiran semua pertanyaan yang ada di kepala Aaron akhirnya keluar sudah. Begitu masuk ke mobil Aaron yang tak langsung menjalankan mobilnya. Menoleh pada Rishi di sampingnya.  "Kamu kayaknya dekat amat sama kakak kelas kamu itu waktu SMA yang namanya Desta-Desta." ketus Aaron seperti kekasih yang sedang cemburu. Walau memang Aaron membenarkan bahwa sekarang sedang cemburu berat pada dokter muda itu.  Apalagi melihat keakraban mereka berdua tadi, bahkan saling kenal orangtua segala. Rishi menatap Aaron dengan heran. "Kan emang dekat kok." "Oh." cuma itu respon yang diberikan oleh Aaron, mau tak mau Rishi diam saja. Setelah membeli salep dan alkohol di apotek, Aaron langsung mengantar Rishi pulang ke rumahnya. Namun Rishi minta diturunkan agak jauh dari rumah, kali ini Aaron tak membantah sama sekali karena pikiran Aaron sedang kacau akibat dokter tadi.  Begitu mobil Aaron berlalu di depannya, membuat Rishi mengangkat bahu acuh bahwa tadi ia tak sempat mengucapkan terima kasih pada Aaron. Dengan santai berbalik lalu jalan menuju rumahnya yang tidak jauh dari tempat ia turun.  Sampainya di rumah, Rishi mandi dan sholat maghrib sendiri sebab ia ketinggalan waktu sholat berjamaah bersama keluarganya yang biasa mereka lakukan.  Dan disinilah sekarang Rishi duduk dimeja makan untuk makan malam bersama.  "Mbak, tangan kamu kenapa tuh?" tanya ayah yang lebih dulu menyadari tangan kanan putrinya agak bengkak. Rishi menghentikan makannya lalu melihat tangan kanannya. Hal itu membuat semua yang ada dimeja makan menghentikan makanannya.  "Oh ini tadi jatuh di toko, Yah." Rishi menjawab dengan berbohong pada ayah dan semuanya sebab keluarganya memang tidak tahu kalau Rishi bekerja sebagai pelayan di cafe. Semua itu ia lakukan untuk mendapatkan uang SPP buat adiknya.  "Makanya hati-hati toh Mbak kalau lagi kerja." pesan ibunya. Rishi mengangguk saja. "Udah di kompres kan, Mbak?" tanya ibunya.  "Iya Bu, ada salep dan alkoholnya juga kok."  "Oh bagus deh, yaudah lanjutkan makannya ya." "Iya Bu."  Akhirnya mereka melanjutkan makanannya setelah habis Rishi berdiri untuk membantu ibunya untuk mencuci piring mereka sedang ayah duduk diruang tengah sambil nonton dan Rifa kembali kekamar sebab ada PR yang harus dikerjakan.  Dengan asyik mengosok piring Rishi membuka suara.  "Ohiya Bu, tadi aku ketemu Mas Desta di rumah sakit, ternyata Mas Desta udah di Jakarta." Wati menghentikan gerakannya yang sedang membersihkan meja samping kompor.  "Desta siapa, Mbak?" ibunya sedang berpikir apakah beliau mengingat nama itu.  "Mas Desta anaknya Mama Ayu, Bu." jelas Rishi. Wati tersenyum begitu berhasil mengingatnya.  "Ohya? Ketemu di mana, Mbak?"  "Di rumah sakit."  "Loh, kok kamu bisa ada di rumah sakit?" Wati heran kenapa putrinya bisa ada di rumah sakit.  "Ini," tunjuknya pada tangan kanannya. "Periksa tangan aku, Bu." Wati mengangguk kepalanya.  "Terus kabar Desta gimana?"  "Baik kok Bu, katanya kalau ada waktu dia mau main ke rumah."  "Begitu, yaudah kalau kamu ketemu salamin balik sama Desta dan Mbak Ayu ya." Rishi mengangguk.  Setelah selesai membantu ibunya didapur akhirnya Rishi masuk ke kamarnya untuk istirahat, dengan gerakan pelan Rishi membuka lemari pakaiannya untuk mengambil sebuah dompet kecil untuk menyimpan uang bayar SPP adiknya yang sudah ia kumpulkan dalam 4 hari ini namun belum cukup juga.  Bagaimana ini? Di mana lagi aku harus cari uang, nggak mungkin kan aku kembali ke cafe itu setelah aku pulang diam-diam tanpa pamit pada managernya. Batin Rishi sambil menghela napas panjang.  Rishi sebenarnya tak yakin dengan kata bantuan yang ditawarkan Aaron tadi namun ia berharap lebih sebab Rishi tak mungkin membiarkan Rifa tak ikut MID semester.  Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD