Salah satu kebahagiaan yang tak bisa dibeli dengan uang adalah keluarga..
Author
***
Rishi telah sampai ke toko sore hari, walau sempat terhambat di rumah Kinan yang ternyata rumah pemuda yang bernama Aaron yang menolongnya kemarin malam. Begitu masuk ke toko terlihat Diana dan Rara tengah sibuk menata bunga. Lalu di sekeliling toko bunga ada beberapa pelanggan tampak memilih bunga.
Rishi dengan cepat masuk ke ruang belakang untuk menyimpan kunci motor lalu dengan cepat keluar lagi, menghampiri Rara yang sedang menata bunga buat pelanggan.
"Ra, ada yang bisa aku bantu nggak?" tanya Rishi tepat disamping Rara yang membuat Rara kaget bukan main.
"Ya Allah, kamu tuh ngagetin aja sih, Rish, baru pulang?" Rishi terlihat mengangguk lalu kembali bertanya.
"Ada yang bisa di bantu nggak?"
"Nggak usah, ini juga udah selesai kok," tolak Rara. Rishi yang teringat ada yang ingin di tanyakan pada Rara tentang pelanggan mereka bernama Kinan.
"Ohiya, Ra, kan kamu sering tuh ngantar pesanan bunga Ibu Kinan. Emang orangnya gimana?" Rara tersenyum lalu menjawab.
"Baik banget, udah gitu orangnya ramah. Nggak sombong walau suaminya kaya raya. Anak-anaknya juga pada ramah apalagi si sulung tuh yang namanya Mas Aaron. Beuhh... Baik banget," ucap Rara dengan mata berbinar. Rishi mengernyitkan dahi.
"Kamu suka sama anaknya Ibu Kinan?" sontak pertanyaan Rishi membuat Rara tersipu malu.
"Ih, siapa sih yang nggak suka Mas Aaron, udah baik, ganteng, ramah pula. Tapi aku mah sadar diri, Rish. Mana mau Mas Aaron sama aku, pasti si doi lebih milih cewek yang setara dengannya." Rishi membenarkan apa yang Rara katakan, rata-rata orang kaya memang mencari pasangan yang setara dengan status sosialnya. Ada juga orang kaya yang memilih orang biasa namun dengan ada kata di balik 'Hutang Budi'.
Rara berlalu menghampiri pelanggan untuk memberikan bunga yang baru saja ia hiasi, sedang Rishi yang sedang asyik menata letak pot-pot bunga dihampiri oleh Diana.
"Rishi, gimana pesanan pelanggan?"
"Beres, Mbak," Rishi mengacungkan jempolnya.
"Bagus, ohya tadi waktu kamu masih mengantar pesanan. Ibu Kinan menelepon ke sini. Beliau bilang akan pesan bunga tulip lagi dengan jumlah yang banyak lalu sebentar lagi putranya yang ambil. Makanya kamu dan Rara tolong siapin ya."
"Lho, bukannya tadi Ibu Kinan udah pesan."
"Iya, tapi katanya beliau masih kurang."
Rishi hanya mengangguk lalu mengambil beberapa bunga tulip untuk di hiasi lagi. Dibantu oleh Rara dan juga Diana, akhirnya tepat pukul 17.00 sore semuanya pesanan Kinan selesai juga. Rara yang bersiap untuk pulang namun berbeda dengan Rishi yang sibuk membersihkan toko sebelum di tutup.
"Mbak Diana... Rish... Aku balik duluan ya."
Rishi dan Diana menganggukkan kepala, lalu melanjutkan membersihkan toko dan juga untuk menunggu putra Kinan yang di duga Rishi adalah Aaron.
Lalu tak lama Rishi teringat dengan uang sekolah adiknya, maka dari itu sebelum pelanggan yang mereka tunggu datang. Ia langsung bicara pada Diana.
"Mbak Diana... Aku boleh minta pinjaman lagi nggak, Mbak?" Rishi meminta tanpa berbasa-basi sebab Diana orang yang sangat baik, Rishi tidak akan sungkan pada bossnya itu.
"Emang butuh berapa, Rish?" tanya Diana.
"Dua juta lima ratus, Mbak, buat uang SPP Rifa."
"Lho.. Emang Rifa belum bayar, ya?" tanya Diana heran pasalnya gaji Risha selama ini kan sebagian untuk biaya sekolah adiknya.
"Belum Mbak, uang yang kemarin itu di pinjam sama tetangga depan rumah untuk lahiran istrinya." jelas Rishi.
"Aduhh, bukannya Mbak nggak mau bantu Rish, tapi maaf uang Mbak kemarin baru aja Mbak pakai untuk beli bibit bunga." Diana dengan wajah tak enak.
"Oh gitu yah Mbak, yaudah deh kalau gitu. Nanti aku cari uang pinjaman di tempat lain aja." desah Rishi kecewa.
"Maaf banget ya Rish, Mbak nggak bisa bantu." Mbak Diana menepuk pelan bahu Rishi dengan wajah dengan rasa bersalah. Diana sebenarnya sangat ingin sekali membantu Rishi apalagi ia sudah menganggap Rishi dan Rara sebagai adiknya sendiri.
Melihat perjuangan hidup Rara dan Rishi yang tak mudah, membuatnya kasihan dan juga ingin melindungi kedua pegawainya ini. Namun apa dikata, Diana bukan orang kaya yang mempunyai banyak uang, toko ini saja adalah modal yang ia kumpulkan dari Diana SMP sampai kuliah.
Diana memang sangat hobi dengan yang namanya tanaman makanya dengan segala usahanya akhirnya ia bisa buka toko bunga yang sekarang sudah berkembang baik. Diana memang sudah berumur 35 tahun dan sudah menikah dengan pacarnya dari SMA dan sekarang memiliki dua anak.
"Iya Mbak." Rishi tersenyum tipis.
Bagaimana ini, aku harus pinjam uang dimana? Batin Rishi.
Rishi yang sedang melamun, hingga tak sadar kalau seseorang yang ditunggu sudah ada di belakangnya.
"Permisi Mbak.. Mbak.." sapa orang yang baru saja datang. Rishi dan Diana berbalik ke sumber suara. Di dekat pintu masuk toko berdirilah Aaron dengan senyuman yang menawan. Benarkan dugaan Rishi bahwa Aaron yang akan datang. Sedang Diana membalas senyuman Aaron dengan sopan.
"Anaknya Bu Kinan?" tanyanya ramah. Sedang Rishi kembali berbalik melanjutkan bersih-bersih.
"Iya Mbak, saya kesini mau ambil bunga pesanan Bunda saya." Aaron tersenyum pada Diana namun matanya sempat melirik Rishi yang tampak tak peduli dengan kedatangannya.
"Ohiya, disini mas..." Diana sempat terhenti bicara namun Aaron yang langsung mengerti melanjutkan dengan cepat. "Aaron Mbak."
"Ohiya Mas Aaron. Silahkan disini bunganya." tunjuk Diana, tempat ia dan Rishi tadi menata bunga tulip pesanan pelanggannya. "Rishi tolong bantu bawa kedalam mobil Mas Aaron ya." perintah Diana segera. Rishi segera berbalik lalu mengangkat satu persatu bunga tulip membawanya keluar.
Aaron berjalan cepat mendahului Rishi, dengan tangan yang mengangkat separuh bunga. Aaron segera membuka pintu belakang mobilnya lalu memasukkan bunga yang ditangannya ke dalam.
Setelah dua kali berbalik mengambil bunga, akhirnya selesai juga pada bunga terakhir yang diangkat oleh Rishi. Begitu akan berbalik masuk kembali ke toko sebuah tangan menahan lengannya. Dengan cepat Rishi berbalik lalu mundur berapa langkah otomatis lengannya yang tadi dipegang oleh Aaron terlepas.
"Ada apa?" tanya Rishi cepat. Membuat Aaron tersenyum manis.
"Kamu udah mau pulang, kan? Bareng aja yuk." ajak Aaron masih dengan senyuman yang masih manis.
"Makasih, tapi saya bisa pulang sendiri." tolak Rishi halus. Ketika akan berbalik Aaron berkata yang sontak membuat Rishi segera berbalik.
"Padahal aku mau kasih pinjaman uang buat sekolah adik kamu."
"Apa maksud kamu?" tanya Rishi dengan wajah memerah menahan marah.
"Aku dengar semua yang kamu bicarakan dengan boss kamu tadi. Maaf bukannya aku mau nggak sopan hanya aja aku kebetulan ada disana juga." jelas Aaron santai walau dalam hati waspada takut perkataannya ini malah menyinggung perasaan Rishi hanya saja ia tak tahu bagaimana caranya Rishi mau diajak pulang bersama.
"Maaf ya, Tapi saya nggak butuh bantuan kamu!!" desis Rishi segera berbalik namun suara Aaron otomatis menghentikannya.
"Kamu memang nggak butuh, tapi bagaimana dengan adik kamu?" pertanyaan Aaron membuat wajah Rishi tambah merah.
"Jangan ikut campur dalam urusan saya."
Dengan cepat Rishi masuk kedalam toko sambil berlari seakan takut Aaron akan menahannya lagi walau hanya dengan kata-kata. Meski Rishi sempat mendengar teriakan Aaron.
"Kamu tahu cari aku di mana kalau kamu berubah pikiran."
***
Rishi sudah sampai di rumah tepat maghrib, setelah sholat berjamaah bersama keluarganya. Kini mereka berkumpul di meja makan untuk makan malam, dentingan piring beradu dengan sendok terdengar pelan. Mereka makan dalam diam. Namun Rishi tahu sesekali adiknya meliriknya.
Setelah selesai makan malam, Rishi izin masuk ke dalam kamarnya kepada ayah dan ibunya dengan alasan sudah lelah. Namun tak lama suara ketukan pintu terdengar.
Tok.. Tok.. Tok..
"Mbak Rishi." panggil adiknya, Rifa.
Rishi yang tadinya ingin istirahat di ranjang mengurungkan niatnya lalu membuka pintu kamarnya.
"Kenapa Dek?" tanya Rishi walau ia tahu Rifa pasti akan bertanya tentang pinjaman uang sekolahnya.
"Boleh masuk nggak, Mbak?" bukannya menjawab Rifa malah berbalik bertanya. Melihat Rishi mengangguk pasrah, Rifa langsung masuk dan duduk di atas ranjang mungil kakaknya.
"Ada apa?" Rishi kembali bertanya begitu duduk disamping adiknya di atas ranjang.
"Gimana Mbak, udah dapat pinjaman?"
Rishi terlihat menghela napas panjang. Rifa langsung tahu jawabannya kalau kakaknya tidak mendapatkan pinjaman.
"Belum Dek, emang waktu bayarnya kapan?"
"Tadinya di kasih waktu dua minggu Mbak, tapi tadi aku dipanggil kepala sekolah. Katanya aku harus kasih bayar minggu depan."
"Loh kok waktunya dimajuin?" protes Rishi padahal waktunya dua minggu sekarang dipersingkat menjadi seminggu. Apalagi sekarang ia belum dapat pinjaman lagi.
"Iya Mbak, katanya MID dipercepat seminggu karena anak kelas tiga mau perpisahan ke Bali."
"Yaudah, Mbak akan usahakan dapat secepatnya."
"Kalau dari Mbak Diana nggak di kasih ya?"
"Nggak, soalnya uangnya udah dipakai beli bibit bunga." Rifa terlihat kecewa.
"Okelah Mbak, maaf ya membuat Mbak repot." Rishi langsung memeluk adiknya dengan sayang.
"Kamu nggak boleh ngomong gitu Dek, itu udah kewajiban Mbak sebagai anak tertua." Rifa membalas pelukan kakaknya dengan erat.
"Seandainya aku pintar, kan bisa dapat beasiswa kayak Mbak waktu sekolah dulu makanya nggak ngerepotin Ayah dan Ibu."
"Huss.. Jangan ngomong gitu, Mbak ikhlas kok. Mbak akan berusaha untuk biaya sekolah kamu sampai nanti lulus SMA ya." Rifa mengangguk dalam pelukan kakaknya.
Dimana lagi aku harus cari pinjaman sekarang? Apa aku harus mencari pemuda itu untuk meminta bantuan? Batin Rishi bimbang.
Bersambung...