8. Kunjungan Dadakan

1915 Words
Kau coba hapuskan rasa Rasa dimana kau melayang jauh dari jiwaku, juga mimpiku..  Sheila On 7 - Kita *** Tok.. Tok.. Tok.. Pintu kamar Aaron diketuk dari luar membuatnya yang sedang santai di dalam kamar yang cukup luas ini berjalan kearah pintu lalu memutar kunci dan membukanya segera. Pintu terbuka, tampaklah sosok wanita yang terhebat dalam hidupnya. Kinan bundanya.  Kinan tersenyum lembut lalu masuk kekamar putra pertamanya setelah dipersilahkan oleh Aaron. Begitu duduk Kinan menatap sekeliling interior kamar putranya ini, bagaimana tidak. Semenjak putranya masuk SMA. Kinan sudah tak pernah lagi masuk ke dalam kamar Aaron.  Bukan apa-apa, hanya saja pemuda itu yang melarang bundanya yang terlalu sering kekamar anak-anaknya setiap malam untuk mengucapkan selamat malam, Aaron pikir ia sudah remaja dan malu kalau sampai teman-temannya tahu. Padahal siapa juga yang akan beritahukan teman-temannya. Namun jangan lupakan tingkah laku kedua adik kembarnya yang sekarang berusia 14 tahun yang kini sudah kelas tiga SMP yang sangat jahil.  Membongkar rahasia kakaknya yang masih selalu manja pada bunda mereka membuatnya menjadi ejekan para sahabat-sahabatnya. Dan setiap mereka nongkrong bersama pasti Aaron menjadi bahan tertawaan. Makanya saat curhat pada bundanya, membuat Kinan mengerti dan berhenti mendatangi kamar putra pertama hingga sekarang.  Lihat sekarang begitu banyak perubahan kada putranya dari yang masih kanak-kanak, remaja, hingga dewasa. Kamar ini sangat mencerminkan sikapnya yang maskulin dan cool. Yang didominasi dengan warna hitam dan abu-abu.  "Ada Bunda?" begitu Aaron duduk diranjang tepat di samping bundanya duduk. Kinan menoleh lalu berkata.  "Itu, Bunda mau tanya nih. Abang udah ketemu dengan Rishi lagi nggak?" Aaron yang ditanya kontan salah tingkah dan hal itu tak luput dari pandangan bundanya. Kinan tersenyum menggoda. "Baru nyebut namanya aja, Abang udah salah tingkah begini, apalagi ketemu langsung ya sama orangnya." Wajah Aaron lansung memerah tersipu malu. Kinan sontak tertawa.  "Abang jatuh cinta ya?" Karena tak mendapat jawaban dari Aaron, Kinan kembali bertanya dan kali ini Aaron bersuara juga.  "Apaan sih Bun." elak Aaron, namun Kinan tahu Aaron menyukai gadis pengantar bunga itu.  "Abang ketemu lagi kan sama Rishi?" ulang Kinan.  "Terakhir seminggu yang lalu Bun, waktu Abang ke toko tempat dia kerja dan belum ketemu lagi setelah itu." jelas Aaron setelah berhasil mengendalikan wajahnya yang tadi sempat tersipu malu ketika nama Rishi disebut oleh bundanya. Ya, memang Aaron tak bertemu lagi sama Rishi sebab ia mulai membantu menjalani proyek kecil dari kantor ayahnya.  "Oh gitu, Abang tahu nomor ponselnya nggak?" Aaron menggelengkan kepala membuat Kinan mendesah kecewa.  "Kenapa nggak bunda telepon ke toko aja Bun." saran Aaron. Kinan menggeleng tak setuju.  "Jangan ah, nggak enak ganggu dia disaat jam kerja, Abang kan tahu dimana rumahnya. Jemput dong Bang terus bawa ke rumah." pinta Kinan pada putranya.  Aaron berpikir sejenak lalu dengan mengalah menganggukkan kepalanya.  "Oke deh Bun, besok Abang ke rumahnya deh. Terus bawa buat Bunda." Kinan tersenyum senang.  "Makasih ya Bang." "Sipp, apa sih yang nggak buat Bundaku tersayang." Kinan tertawa sambil mengelus pucuk kepala putranya. Kemudian berdiri lalu berlalu pergi sebelum keluar kamar Aaron, Kinan berkata.  "Yaudah, Bunda kebawa dulu ya. Takut Ayah kamu nyariin Bunda."  "Ah Ayah, nggak asyik banget. Abang kan mau malam mingguan bareng Bunda berdua aja." rengek Aaron pada bundanya. Membuat Kinan tertawa.  "Makanya ajak Rishi jadian secepatnya, supaya kamu ada teman kencannya kalau malam minggu." Kinan menggoda anaknya sambil tertawa kecil lalu keluar cepat dari kamar Aaron.  "Bundaa." teriak Aaron dengan wajah merah seperti kepiting rebus bahkan sampai ke telinganya. Kinan hanya tertawa lantas pergi dari kamar putranya.  *** Minggu pagi, seperti biasa setiap weekend keluarga Rishi semua akan kerja bakti membersihkan rumah mereka, setiap minggu memang Rishi pasti libur alias toko bunga flowers Sunshine akan tutup. Itu adalah kebijakan dari Diana sebab ibu dua orang anak itu mempunyai keluarga juga. Waktunya di pakai untuk suami dan kedua anaknya.  Sedang Rara, biasanya akan kerja part time di cafe-cafe yang biasa memanggil pegawai dihari minggu sebab minggu adalah target orang-orang yang suka nongkrong di sana. Yang artinya sangat ramai dikunjungi oleh semua kalangan.  Ya, karena Rara tinggal di Jakarta sendirian makanya ia ngekost.  Seperti pagi ini setelah membersihkan kamarnya Rishi ke luar untuk menyapu halaman depan rumahnya. Sedang ayahnya ada di halaman belakang untuk menanam sayuran, ibunya dan Rifa membersihkan bagian dalam rumah.  Sedang asyik menyapu, Rishi mendengar suara mobil berhenti tepat di depan rumahnya, begitu melihat siapa yang datang. Mata Rishi melotot kaget sebab sangat mengenal mobil pemuda itu. Dan benar begitu Aaron keluar dengan senyuman yang menawan. Namun dengan gerakan cepat Rishi menghampirinya lalu menarik Aaron sedikit menjauh dari rumahnya.  Aaron yang ditarik dengan Rishi, mengerutkan dahi tetapi tetap mengikuti langkah kaki mungil milik Rishi. Setelah merasa cukup menjaga jarak aman. Gadis itu berbalik lalu berkata.  "Kamu mau apa ke sini?" Rishi jelas sekali memandang Aaron tak suka.  "Aku..." belum sempat Aaron melanjutkan kata-katanya, Rishi sudah lebih dulu memotongnya.  "Apa karena pinjaman uang saya? Kan kamu sendiri yang bilang saya bisa mencicilnya kalau ada uang, tapi saya belum ada yang sekarang. Ohiya saya saja belum mengem..." giliran Aaron menghentikan perkataan Rishi dengan mengangkat tangan tepat didepan gadis itu.  "Aku bahkan belum bilang tujuan aku kemari," ucap Aaron. Otomatis Rishi terdiam sesaat kemudian bertanya.  "Terus apa yang membuat kamu ke rumah saya?" Aaron tersenyum manis dan menjawab.  "Bunda aku minta jemput kamu, makanya aku di sini sekarang." Rishi melongo, ia kira bundanya Aaron hanya basa-basi saja waktu bilang kepadanya soal main ke rumahnya lagi. Ternyata itu ucapan yang serius dan sekarang Rishi tak tahu harus berbuat apa. Sebab ia sudah berjanji akan main kesana lagi nanti.  "Tapi saya nggak bisa, hari ini waktu saya dan keluarga saya. Dan saya juga sedang membantu orang rumah membersihkan." tolak Rishi halus.  "Ya, tapi Bunda pasti kecewa kalau sampai aku nggak bisa bawa kamu ke rumah," gumam Aaron kecewa. "Yaudah deh kalau gitu, aku bilang ke Bunda kalau kamu nggak bisa karena lagi membantu orangtua kamu, hmm aku pamit dulu ya." Setelah itu dengan segera Aaron balik menuju mobilnya. Rishi sungguh tak enak menolak apalagi setelah pemuda itu membantunya.  Sebelum Aaron naik ke mobilnya, suara Rishi menghentikannya.  "Saya akan datang ke sana sendiri nanti siang, tolong katakan pada Ibu kamu." Aaron berbalik dengan cepat mengacungkan jempol sambil tersenyum lebar. Lalu masuk kedalam mobilnya dan mengendarai meninggalkan rumah Rishi.  Rishi menghela napas, dengan cepat kembali ke rumahnya sebelum ayahnya melihatnya tak ada di pekarangan rumahnya.  Apa yang harus aku bilang pada Ayah dan Ibu kalau aku mau keluar sebentar? Batinnya.  *** Rishi akhirnya tiba di rumah Aaron dengan angkutan umum dan juga harus berjalan kaki dari tempatnya turun, sampai ke rumah Aaron dengan jarak yang cukup jauh. Dan begitu sampai satpam yang berjaga langsung menghampiri Rishi.  "Adek yang pernah ngantar bunga untuk Nyonya Kinan, kan?" "Iya Pak. Ibu Kinannya ada di rumah, kan?" "Ada kok, tadi Den Aaron pesan kalau Adek udah datang di suruh langsung masuk aja." "Oh gitu ya Pak, yaudah deh saya masuk dulu kalau gitu." satpam menganggukkan lalu kembali ke pos mengambil telepon yang memang tersambung langsung ke dalam rumah.  "Hallo." sapa seseorang diseberang sana, yaitu bi Imah.  "Bi, bukain pintu depan ya. Tamu Den Aaron sudah sampai." "Baik." kata bi Imah cepat lalu menutup telepon. Segera membuka pintu depan sebab tamu adennya sudah tiba. Memang tadi pagi Aaron berpesan padanya kalau ada tamu yang akan datang siang ini. Makanya selain itu bi Imah memasak makan siang lebih buat tamu adennya.  Ketika membuka pintu depan, ternyata tamu adennya sudah ada depan pintu. Bi Imah langsung tersenyum ramah pada Rishi.  "Silahkan masuk Mbak," Bi Imah membuka pintu dengan lebar mempersilakan Rishi duduk. "Tunggu sebentar ya, saya panggilan Den Aaron dan Nyonya dulu." Bi Imah langsung masuk kedalam untuk memanggil nyonya dan adennya. Rishi duduk kemudian melihat sekeliling dengan decakan kagum bahkan sudah dua kali ia menginjakkan ke rumah ini namun rasa kagum itu masih ada. Namun suara ribut menganggunya dari dalam kemudian suara ribut itu malah semakin keras terdengar dan akhirnya muncullah dua orang yang berbeda usia ini.  "Kak Alle, buku aku di simpan di mana?" seorang anak kecil yang berusia 10 mengejar seorang gadis remaja yang berusia 14 tahun.  "Bukan Kakak yang simpan buku kamu, tapi Kak Elle." ucap remaja gadis itu namun aksi kejar-kejaran mereka terhenti ketika melihat seseorang asing duduk diruang tamunya.  Alle dan Abri saling pandang lalu menghampiri tamu yang duduk di salah satu sofa ruang tamunya.  "Kamu siapa?" tanya Alle salah satu putri kembar Kinan dan Jerry dengan penuh selidik menatap Rishi dari atas sampai bawah secara bergantian. Sedang Abri hanya diam walau dalam hati ia juga bertanya-tanya siapa gerangan sosok asing yang berada di rumahnya.  Rishi yang ditanya dan juga ditatap curiga oleh dua anak itu hanya meringis pelan lalu menjawab, "Saya kesini mau ketemu Ibu Kinan." jawabnya sambil tersenyum tipis. Alle dan Abri masih menatap Rishi dengan curiga sebelum suara berat menghentikan pandangan mereka pada Rishi.  "Alle.. Abri.. Jangan pandangin tamu Abang kayak gitu." sontak ketiganya berbalik ke arah suara. Aaron berdiri tak jauh dari mereka menatap kedua adiknya dengan tajam. Alle dan Abri kompak mengedus.  "Loh, katanya tadi tamunya Bunda. Kenapa sekarang jadinya tamu Abang?" Alle sungguh bingung, mana yang benar di sini. Aaron langsung salah tingkah dan itu tak luput dari pandangan kedua adiknya.  "Ya, tamu Bunda dan Abang lah." jawab Aaron cepat.  "Oh.." lagi-lagi kedua adiknya kompak ber-oh ria.  "Yaudah sana masuk, jangan main di sini." usir Aaron pada kedua adiknya langsung dituruti oleh Alle dan Abri, namun sebelum masuk suara Aaron menghentikan langkah mereka. "Ohiya, sekalian panggilkan Bunda ya dikamarnya." perintah Aaron.  "Baik boss." keduanya sontak mengangkat tangan tanda memberi hormat pada Aaron. Lalu berjalan cepat masuk ke dalam memanggil sang bunda. Aaron tersenyum pada Rishi lalu menghampiri gadis itu lalu duduk di depannya.  "Aku kira kamu nggak akan datang." ucap Aaron sambil masih tersenyum.  "Saya nggak mungkin ingkar janji." Rishi berkata tanpa senyum. Bukan karena apa tadi waktu ingin keluar Rishi terpaksa harus berbohong pada orang rumahnya kalau ia ada janji sama Rara untuk menemaninya seharian ini. Dan pasti dengan persetujuan dari Rara tentunya. Untung saja orangtuanya percaya namun rasa lega tidak serta-merta menderanya melainkan malah rasa bersalah telah berbohong pada orangtuanya.  Sebab kalau ia jujur kalau akan ke sini, pasti ayahnya tak mengizinkan.  "Iya deh, aku percaya." Aaron sungguh senang bukan main ketika tadi bi Imah mengabarkan kalau tamu yang ditunggunya dengan was-was telah datang. Bagaimana tidak, ia sebenarnya tak yakin Rishi akan ke rumahnya lagi namun ternyata gadis itu tak main-main dengan kata-katanya yang bilang akan datang agak siangan. Sedang Rishi hanya diam saja.  Suara pekikan senang tak lama terdengar dari arah belakang Aaron, ya itu suara bundanya.  "Wah Rishi, akhirnya kamu datang juga sayang." suara Kinan membuat Aaron dan Rishi kompak berpaling. Kinan datang dengan senyuman manis lalu duduk di samping Rishi. "Maaf ya, Tante agak lama ke luarnya soalnya tadi di dalam Ayah Aaron agak rewel kalau Tante tinggal. Makanya Tante bujuk-bujuk manja dulu" curhat Kinan sambil tertawa membuat Aaron juga ikut tertawa namun beda dengan Rishi yang meringis.  "Nggak papa kok Bu Kinan." "Aduh, jangan panggil Ibu dong. Panggil Tante aja.. Atau panggil Bunda juga boleh kayak Aaron biasa panggil," Kinan sambil melirik Aaron yang duduk di depannya. "Tapi jangan dulu deh ya, tunggu kalian resmi dulu minimal harus resmi jadi pacar dulu." kata Kinan, membuat wajah Aaron yang memerah sampai ke telinganya. Rishi dan Kinan sontak tertawa.  "Ah udah Aaron kekamar aja." Kelihatan sekali kalau Aaron telah gugup. Kinan kembali tertawa ketika Aaron malah berdiri dan kabur ke kamarnya. Rishi yang tadi tertawa langsung tersenyum ketika Kinan bicara.  "Maaf ya Rishi, Aaron memang nggak ada sopan-sopannya sama tamu. Masa malah naik kekamar dia."  "Nggak papa kok Bu." "Duh, jangan panggil Ibu dong panggil Tante aja." protes Kinan sambil melotot pura-pura marah.  "Baik Tante." Rishi tersenyum kembali. Namun tidak dengan hatinya, yang sedang canggung ketika candaan Kinan yang ke luar untuk menggoda Aaron.  "Ohiya kamu makan siang di sini ya Rish," pinta Kinan dengan nada memohon. Mau tak mau Rishi mengangguk sebab mau menolak juga ia bisa apa karena memang sebentar lagi jam makan siang.  Namun yang Rishi yang tak enak adalah pasti adalah mereka bertemu dengan seluruh anggota keluarga Aaron.  Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD