Part 7: Aksara

1051 Words
Diantara mereka berempat, mungkin Aksara lah yang paling dingin. Yang bales chat cuma ‘Y’ ‘hm’ ah mungkin kalian akan merasa sedang chatting dengan manusia batu. Iya, dia memang sedingin itu. Di kelas pun dia adalah orang yang nggak terlalu banyak tingkah seperti Veron dan juga Delvan. Namun sesekali candaanya sering membuat yang lain tertawa. Dia memang tipe cowok novel yang di idamkan oleh banyak pembaca, namun bagiku dia adalah seorang kakak, seorang saudara, atau bahkan lebih dari itu. Di internet, arti namanya adalah bahasa yang riang gembira. Namun, namanya seolah menjadi kutukan untuknya. Karena, dia bahkan begitu jarang berbicara dengan orang lain. kecuali berbicara kepada teman-teman dekatnya. Kalaupun ada yang mengajaknya berbicara, dia hanya menjawabnya dengan deheman singkat. Atau ‘Iya’ dan ‘tidak’. “Aksa, udah makan belum? Aku bawain bekal buat kamu nih,” “Hm,” “Sa, disuruh ke ruang guru,” “Hm,” “Sa, pacaran yuk,” “Hm, gak,” Kalau tidak ada keperluan, maka tidak ada suara yang akan keluar dari mulutnya. Bahkan, dia nggak segan untuk menjauh dalam radius 200 meter. Dia bahkan nggak pernah menyuruh orang lain untuk membantunya, atau menerima niat baik orang lain. Dari penilaianku, dia mengidap pisthanthrophobia  atau ketakutan untuk mempercayai seseorang yang tidak dia kenal. Jika aku bukan bagian dari Veron, mungkin dia juga tidak membiarkanku untuk sekedar berbicara dengannya.   Kedekatanku dengannya bermula ketika aku tengah berada di perpus. Postur tubuhku yang tidak terlalu tinggi, membuatku berjinjit ketika mengambil buku yang berada sedikit tinggi denganku. Kala itu, aku akan mengambil sebuah novel yang letaknya diatas. Lantas, ketika aku mencoba mengambilnya dengan berjinjit, sebuah tangan tiba-tiba terarah untuk mengambilnya, kemudian dia berikan kepadaku. “Terimakasih,” kataku kepadanya. “Makannya tumbuh itu keatas, jangan kesamping,” dia berkata seolah aku memiliki badan yang lebar, membuatku mendelik. “Padahal gue nggak gemuk,” kataku kepada Aksa. “Siapa yang bilang lo gemuk?” katanya, membuatku terdiam. Terdengar kekehan pelan dari arahnya disusul dengan kalimat “Lo lucu Sya,” membuatku menolehkan wajahku kearahnya. “Hah?” kataku. “Enggak,” jawabnya, lantas pergi meninggalkanku. Dari situ, dia mulai sering mengajakku berbicara. Meskipun begitu canggung, namun kurasa, itu sudah cukup untuk ku sebut sebagai dekat. Sebab menurutku, dekat nggak harus benar-benar erat kan?.   Aksa adalah seseorang yang mengejutkan. Banyak hal-hal sederhana yang membuatku terkejut. Seperti, dia yang suka hujan, dia yang terlihat cuek namun ternyata peduli, serta seseorang yang suka menatap langit. Keanehan-keanehan yang ku kira hanya ada padaku, beberapa juga ada dalam diri Aksara. Aku pernah bertanya kepada dia mengapa dia menyukai langit, namun dia menjawab “karena langit itu indah Sya, dia selalu bersinar dalam keadaan apapun, bahkan ketika malam datang, langit seringkali membuat kita terkesan dengan cahaya rembulan juga bintang,” sebuah jawaban yang membuat aku tertegun. Aku kira, cowok nggak pernah memiliki bahasa se puitis itu, namun Aksara, dia adalah seseorang yang diam diam penuh misteri. Seseorang yang sering sekali membuatku bertanya tentang kehidupannya yang seolah, dia nggak pernah ingin banyak orang yang tau.   Diantara mereka berempat, Aksa memang yang paling dewasa, yang paling sering menjadi penenang. Dia memang susah untuk mengendalikan emosi, tapi sifatnya pada teman temannya, seringkali membuatku kagum. Tak jarang aku memergoki dia sedang duduk sendirian. Lalu pada suatu waktu aku juga pernah bertanya “Nggak mudah jadi lo kan? Lo harus ada di tempat tenang dulu buat mengekspresikan apa yang ada di dalam pikiran lo,” lalu dia menjawab “gue nggak pingin mihak, tapi lelah banget buat memahamin semua orang,” “Nggakpapa Sa, sesekali memang kita perlu waktu untuk diri sendiri, buat tenangin apa yang ada di dalam pikiran,” lantas, dia menatapku sambil menyunggingkan sebuah senyum, senyum yang menurutku sangat menyebalkan hingga akhirnya “Ciee, udah mulai bijak, kemana Syara yang kemaren cuek hm?” katanya dengan sebuah nada yang menjengkelkan. Kalau sudah seperti ini, aku segera pergi meninggalkan dia sendiri, lalu dia tertawa, entah apa yang lucu aku tak terlalu faham dengan pemikirannya.   Aksara adalah seseorang yang seringkali menjadi tamengku, dia bahkan sering membelaku kala Delvan juga Veron terus saja menjahiliku. Sesekali kalau dia sudah jenuh dengan Veron dan Delvan, sebuah buku mulai terlempar kekepala mereka. Dengan santainya Aksa mengatakan “udah anjir jangan ledekin Syara mulu,” katanya, ketika dia mulai sebal.   Saat itu aku tengah bermain ke rumah Aksara. Kebetulan waktu itu ketiga masku tidak ada yang bisa menjemput, lalu Aksa menawarkan diri untuk mengantarku pulang. Sebelum dia mengantarku pulang, aku di ajak mampir ke rumahnya. Rumahnya sepi, katanya bunda dan ayahnya masih kerja. Dirumahnya hanya ada adik perempuannya. Namanya Mysha, dia cantik, senyumnya indah menampilkan sebuah ketenangan.   “Bang, lain waktu ajak kak Syara main kesini lagi ya, Mysha seneng ada kak Syara, rumah jadi rame, yaa walaupun Cuma bertiga aja sih,” Kata Mysha, di akhiri dengan senyuman miris, yang mungkin semua orang tau bahwa kata katanya menyimpan sebuah kesepian yang mendalam.   Ke misteriusan Aksara nggak hanya sampai disini aja, namun masih banyak perlakuan serta sifatnya yang sering kali membuatku terkejut. Aku heran bagaimana bisa orang lain menilainya sebagai cowok yang cuek serta jutek. Padahal, banyak hal-hal yang bahkan nggak sesuai apa yang terlihat. Mungkin istilah ‘jangan menilai buku dari covernya’ itu adalah definisi seorang Aksara.     Percayakah kalian bahwa jatuh cinta kepada lebih dari satu orang itu nyata? Mungkin ini bukan cinta, hanya sekedar rasa nyaman. Namun, bersamanya, hatiku berdetak lebih kencang. Sejatinya, nggak pernah ada yang benar-benar sejati. Beberapa kali aku mendengar, bahwa cinta, itu nggak mungkin hanya tertuju untuk satu orang. Mungkin, ini alasan para lelaki berselingkuh. Atau, memutuskan hubungan sepihak. Entahlah, yang aku tahu, aku mengalaminya. Hatiku juga berdetak lebih kencang ketika bersama Aksa. Bersamanya, aku merasa nyaman serta terlindungi. Namun, rasa nyaman itu harus aku sembunyikan, ketika aku mengetahui bahwa Aksara telah memiliki kekasih. Dia begitu mencintainya. Setelah kehilangan semestanya yang begitu dia dambakan, dia menemukan sepasang hati yang baru. Yang membuatnya kembali hidup. Apabila Aksa diibaratkan sebagai es, mungkin, es itu kini telah mecair.   Bagiku, Aksa layaknya orang yang buta warna. Kata orang, jangan menjadi warna untuk orang yang buta warna kan?. Namun, bagaimana ketika ternyata dia nggak buta warna? Ternyata, bukan kamu warna yang dia butuhkan. Dia bisa melihat warna, namun bukan kamu warna yang ingin dia lihat. Lantas, secantik dan secerah apapun warna yang kupancarkan, kalau Aksa tidak ingin melihatnya, terasa percuma kan?.    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD