Maki menelusuri sungai, menarik udara sebanyak mungkin untuk memenuhi paru-parunya. Kejadian tadi pagi, membuatnya tak bisa berpikir jernih.
Tanpa sadar dia meraba bibirnya sendiri. Tempat di mana bibir Ola menempel di sana beberapa detik. Itu adalah ciuman pertamanya.
Maki mengacak rambutnya sendiri. Ciuman pertama itu bahkan didahului oleh wanita. Di mana harga dirinya sebagai laki-laki?
Setelah merasakan kakinya lelah, dia mencari bangku terdekat dan menyandarkan tubuhnya di sana. Semilir angin, riak air, dan lalu lalang lalu lintas di jalanan, mengisi pemandangan matanya.
Dia merindukan hutan, padang rumput, jalanan tanah, dan bau rumput liar.
Dia mencoba mengusir bayangan kejadian tadi pagi itu dengan berkali-kali menggelengkan kepalanya.
“Ini tidak benar,” desisnya.
Bagaimana dia bisa jatuh hati dan berharap kepada gadis yang baru dua hari dikenalnya. Dia bahkan tak tahu asal usulnya, tak tahu pekerjaan gadis itu.
“Argh!” erangnya sambil menengadahkan kepalanya menatap langit.
Ini sungguh tidak benar. Pertemuannya dengan Ola sudah membuat hari-harinya terasa berbeda. Hari yang biasanya monoton, berubah laksana wahana permainan yang tiba-tiba naik ke atas, kemudian dihempaskan ke bawah, lalu diangkat lagi.
Tidak dipungkiri, dia merasakan semangat saat semua ini terjadi. Ada tenaga berlebih untuk menjalani harinya.
Sekali lagi dia meraba bibirnya. Bekas ciuman Ola itu seolah tak mau hilang dari sana. Rasa hangat dan lembut itu sudah mengunci otaknya. Menginginkannya lebih lama.
“Aku sudah gila!” erangnya sekali lagi. Tak terima dengan keadaannya yang limbung karena wanita.
Selama ini dia tak memikirkan hal lain selain bagaimana bertahan hidup. Bekerja demi memenuhi kebutuhannya sendiri. Sekarang otaknya sudah tercemar oleh bayangan Ola.
Bayangan Ola yang sedang memasak di dapur flatnya, Ola yang menggandeng tangannya, Ola yang tersenyum manis, rambut berwarna coklat gelap, mata berwarna biru cerah. Ah, dia benar-benar sudah gila.
Tanpa dia sadari, permata biru di tangannya sudah berpendar-pendar seiring dengan kilatan-kilatan ingatannya tentang Ola.
Sementara Ola sedang mondar-mandir di depan pintu flatnya. Dia sudah keluar dari flat Maki setelah berdebat panjang dengan Macarie.
Bagaimana bisa Dewi itu menyuruhnya meneruskan tindakan melanggar ketentuan hukum roh. “Dasar Dewi Pembangkang,” gumam Ola berkali-kali.
Namun, jika dia memang ingin mematahkan kutukan itu, maka dia harus mengambil risikonya. Melanggar semua ketentuan dan mungkin membangkang kepada Hades.
Langkahnya terhenti saat sosok Maki terlihat dari tangga. Laki-laki bahkan sudah membuatnya salah tingkah kini.
Ingata tentang gerakan spontan, ciuman mereka di meja makan tadi pagi, membuat kepala Ola pening seketika.
Dia langsung masuk ke dalam flatnya dan menutup pintu dengan tergesa.
“Ola bodoh!” geramnya sendiri.
Sementara Maki bingung dengan keadaan itu. Antara geli dengan tingkah Ola dan kaget karena gadis itu menghindarinya.
Dia memasuki flatnya, menatap meja makan itu, kemudian merogoh sakunya. Benda pipih itu hanya ditatapnya dengan perasaan galau.
Lalu apa yang harus dia lakukan? Menghubungi Ola terlebih dahulu? Atau menunggu?
Sisa masakan Ola masih tersimpan di kulkasnya. Dia hanya perlu menghangatkannya, dan mengisi perut. Mencoba menghalau semua perasaan aneh yang kini mendera.
Apa ini yang dinamakan jatuh cinta? Dengan cepat dia menggelengkan kepalanya. Ini tidak mungkin.
Ola masih terpaku di balik pintu flatnya, mendekap d**a dan meredam segenap buncahan rasa yang entah datang dari mana.
Dia merasa semakin manusiawi dengan segala bentuk keanehan itu. Jantungnya yang mendadak seperti berfungi, bukan, mendadak dia seperti mempunyai jantung yang bisa berdebaran dan berdetak kencang saat salah tingkah.
Belum lagi perasaan aneh yang menyergap dan memenuhi kepalanya. Dia merasa seakan sedang menjalani proses menjadi makhluk baru, dengan konsistensi padat.
Maki berbaring di kasurnya. Menatap langit-langit kamar dan memikirkan aroma padang rumput. Memandangi ponselnya dengan gamang, lalu meletakkannya di nakas.
Ola menghampirinya, dalam mode hilang. Tak terlihat, dan tak teraba. Dia mengusap bibirnya sendiri dan membayangkan saat mendaratkan ciuman itu di sana. Di bibir Maki yang kini sedang tersenyum.
Itu adalah ciuman pertamanya. Setelah berabad-abad lamanya. Ini juga pengalaman pertamanya bertindak agresif.
Dia mengusap bibir Maki tanpa sadar. Membuat laki-laki itu merasakan semilir angin di wajahnya. Akhir-akhir ini Maki sepertinya berhalusinasi dan memikirkan tentang hal tak masuk di akal. Bau padang rumput, semilir angin hutan. Semua yang selalu dia rindukan.
“Apakah Ola adalah hal yang kuinginkan? Sampai aku merasakan semua hal yang kurindukan saat memikirkannya?” gumam Maki, matanya terpejam.
“Aku merindukan rumah, merindukan padang rumput, hutan, dan kupu-kupu yang beterbangan di atas bunga liar,” lanjutnya sambil membayangkan alam yang sudah lama dia tinggalkan.
Ingatannya kembali ke masa dia masih bersama ayahnya. Mencari kayu di hutan, mencari jamur liar, memancing di laut lepas.
Mengingat semua itu, hatinya terasa nyeri. Orang yang dia cintai sudah pergi. Meninggalkannya sendirian.
“Apakah benar aku menginginkan sebuah perasaan? Hampa yang selama ini aku rasakan begitu menyiksa,” gumamnya lagi.
Ola mendengarkan setiap kata yang keluar dari mulut laki-laki itu. Menyimaknya, dan membayangkan apa yang disebutkan.
Apakah padang rumput adalah sumber dari semua pertemuan mereka? Apakah ada sangkut paut yang samar di antara takdir itu?
Ola menyusupkan kepalanya di d**a Maki. Entah kenapa dia merasakan nyaman saat bergelung di sana. Seperti kemarin. Rasa itu masih sama. Nyaman. Tenteram. Dia ketagihan.
Maki merasakan dingin dan mencium aroma yang sedang dia bayangkan. Dia menghirupnya dalam, berharap itu bukanlah halusinasi yang dia rasakan.
Rasanya sangat tenang. Nyaman. Seperti ada yang memeluknya untuk menenteramkan.
Jauh di selatan, Poine merasakan getaran di antara batu-batunya. Dia menarik napasnya, ini sudah dimulai dan lebih dalam.
“Semoga, semuanya menjadi lebih baik, semesta mengampuni semua perbuatanku,” gumamnya.
“Apakah kamu senang dengan keadaan ini?” tanyanya saat dia mendengar dengung kepak sayap Diane.
“Apakah Ola akan baik-baik saja?” tanya kupu-kupu itu balik. Dia hinggap di pundak Poine.
“Aku harap,” jawab Poine juga tak tahu.
Semua ini akan bergantung kepada restu semesta. Yang akan terjadi, terjadilah. Mereka sudah mengupayakannya. Tinggal bagaimana Manila menyelesaikannya.
Hades menatap kegelapan langitnya dengan perasaan yang sama.
“Aku harap, dia bisa menyelesaikan ini dengan baik,” kata Persephone membuat Hades berpaling.
“Dia mengunjungiku kemarin. Aku melihatnya sudah lebih baik. Mungkin akan semakin baik,” lanjutnya sambil menggenggam tangan Hades.
“Arnie melaporkan ketidakberesan itu, aku harus menindaklanjutinya sebelum rumor berkembang,” kata Hades.
“Lakukan saja sesuai dengan prosedurnya. Bukankah dia lebih kuat dalam hal bertahan?” Persephone tersenyum menatap Hades.
Maniola adalah roh yang sangat kuat, perjalanannya sekarang sedang dimulai. Ciuman pertama yang dia lakukan, adalah penentuan dari takdirnya ke depan. Siap atau tidak, maka yang akan terjadi, adalah hal yang harus dia selesaikan.