Ola tidak peduli dengan pandangan mata yang mengarah ke mereka. Sementara Maki berusaha meredam kegugupannya. Ini akan menjadi masalah sepertinya.
Sesampainya di kantor, John dengan mata memicing melihat ke arah tangan Ola yang menggandeng tangan Maki.
“Kalian sudah akrab?” John heran dengan situasi itu.
Maki adalah orang yang dingin dan jarang bergaul, bahkan cenderung menutup diri. Jadi John heran dengan keadaan di hadapannya sekarang.
“Dia satu-satunya manusia yang bisa kuajak bicara selama di sana,” alibi Ola sangat kuat.
John mengangguk, tapi masih heran Ola bisa membuat Maki seolah menurut padanya.
Dengan jengah Maki melepaskan tangan Ola dan gegas menuju lokernya. Mengambil baju dan segera memasuki bilik untuk mengganti seragamnya.
Ola menunggu giliran di sana sambil memainkan kakinya. Sementara John masih melihatnya dengan heran.
“Kamu mengenalnya sebelum ini?” tanya John setelah Ola memasuki bilik.
Maki menggeleng sebagai jawaban. John masih tidak percaya. Selama ini Maki sangat menghindari interaksi, tapi berbeda dengan Ola. Maki seolah pasrah dan menurut.
“Kami pulang dulu!” teriak Ola sambil kembali menggandeng tangan Maki.
Ola tak peduli dengan tatapan Maki yang mengatakan ini tak benar.
“Mulai sekarang, biasakan dirimu untuk berangkat dan bekerja bersamaku,” ucap Ola dengan riang. Dia seperti menemukan sebuah kesenangan setelah dipecat secara tidak hormat olah Hades.
Arnie menatap mereka dari kejauhan dengan tatapan tak suka. Rita pun sama. Hatinya bergemuruh melihat Ola yang begitu riang, dan Maki yang tanpa penolakan.
Dua makhluk yang sama-sama tak suka dengan pemandangan itu, mengepalkan tangan mereka dengan geram.
“Ini tidak benar!” teriak keduanya berbarengan.
Mata mereka bertemu, entah sengaja atau tidak, tapi hawa permusuhan mereka sudah mempertemukan mereka untuk sebuah tujuan.
“Siapa kamu?” tanya mereka kembali berbarengan.
“Kamu duluan,” kata Arnie mengalah. Dia tak mengira ada manusia yang bisa melihatnya.
“Rita,” jawab wanita itu singkat dan memandang dengan tatapan curiga.
“Arnie,” jawabnya sambil mengulurkan tangan. “Apa kamu bisa melihatku?”
“Maksudmu?” Rita tak tahu arah pertanyaan Arnie.
“Kamu bisa melihatku dengan jelas?” desak Arnie membuat Rita mengangguk ragu.
“Oh baiklah, sepertinya Dewa sedang berbaik hati padaku. Membuatmu melihatku,” kata Arnie lalu menghampiri wanita yang masih terpaku itu.
“Apa maksudmu?” Rita bersikap waspada.
“Katakan saja, kita memiliki daya tarik yang sama. Sama-sama tak suka dengan pemandangan itu,” kata Arnie menunjuk ke arah Ola dan Maki yang berjalan di trotoar menuju flat mereka. “Aku bukan manusia,” bisiknya membuat Rita bergidik ngeri.
“Lalu, kamu apa?” teriaknya.
“Katakan aku adalah makhluk setengah roh yang akan membantumu merebut laki-laki itu,” tawar Arnie dengan seringai yang culas.
“Lalu kamu meminta apa dariku?” tanya Rita.
“Oh, kamu manusia yang pintar rupanya. Tapi sayang, aku tidak meminta apa pun. Melihat kedua makhluk itu hancur, sudah cukup bagiku,” papar Arnie.
Rita memikirkan perkataan Arnie. Merasakan takut dan aroma kejahatan yang melekat. Namun, rasa penasaran dan tak sukanya pada Ola sudah membutakan mata dan hatinya.
Mereka berjabat tangan setelah mendapat kesepakatan. Saling melempar senyum yang saling mengisi. Pikiran mereka menjadi satu dalam sebuah rencana. Untuk sebuah tujuan yang sama.
Arnie menatap perempuan yang berlalu dari hadapannya itu. dia menemukan sekutu yang sepadan dengannya, itu akan mempermudah rencananya.
Rita berjalan menjauhi Arnie dengan senyum terkembang. Sebentar lagi sepertinya Maki akan ada di dekapannya. Tangannya yang tadi berjabatan dengan makhluk itu terasa panas, tapi tidak ada jejak apa pun di sana. Namun, Rita tak peduli dengan itu. Selama dia bisa mendapatkan apa yang dia mau.
Maki menatap tangan Ola yang menggenggam tangannya. Rutinitas pulang bersama dan berangkat kerja ini sepertinya akan menjadi hal wajib, mengingat betapa gigihnya Ola. Tanpa sadar Maki tersenyum membayangkan hari yang akan dia lalui selanjutnya. Antara bimbang, dan gelisah.
Namun, mungkin sebaiknya dia tak merisaukan dulu hal itu, lebih baik dia menjalani apa yang akan terjadi sekarang, melepaskan perasaannya, mungkin? Atau mengikuti kata hatinya saja untuk memeluk gadis yang berjalan di depannya itu.
Kenekatan Ola, kecantikannya, sangat sepadan. Gadis itu memiliki kekuatan yang tak terlihat, kekuatan yang membuatnya menuruti keinginannya. Maki menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan pemikirannya sendiri.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Ola seolah dia tak melakukan kesalahan, bukan, tidak melakukan hal salah, tapi melakukan hal yang membuat Maki jengah.
"Aku tidak tahu harus berkata apa." Maki mengeluarkan suaranya setelah menghela napasnya panjang.
"Kamu memang aneh. Tak apa, itu yang membuatmu menarik." Kata-kata Ola membuat Maki tersedak ludahnya sendiri.
Ola terkekeh melihat Maki salah tingkah. Sungguh menggemaskan. Pipi Maki memerah, semakin membuat kulitnya yang kecoklatan bertambah eksotis.
"Diamlah," sergah Maki melihat Ola malah semakin tergelak.
Ola senang Maki tak berusaha menghindarinya lagi, dia akan berusaha lebih keras agar Maki menerimanya sepenuhnya.
"Masuklah," kata Maki begitu mereka sampai di depan pintu flat Ola.
Ola mengangguk dan tersenyum manis, tapi tak kunjung masuk ke dalam kamarnya.
"Masuklah," ulang Maki jengah.
"Pergilah, aku akan melihatmu pergi," balas Ola malah semakin membuat Maki salah tingkah.
Dengan menggaruk kepalanya yang tak gatal, Maki melangkah menuju ruangannya di sebelah. Kepala Ola bergerak mengikuti setiap pergerakan Maki. Saat Maki menoleh, Ola memamerkan deretan giginya, tersenyum. Maki dengan cepat membuka pintunya agar degup jantungnya bisa dia kontrol.
Ola tertawa melihat tingkah Maki. Laki-laki itu sunguh lucu.
Perasaan yang muncul saat bersama Maki, membuat Ola tersenyum sendiri. Apakah benar ini yang dinamakan jatuh cinta? Hanya dengan bersamanya saja sudah membuat d**a berdebar tak karuan?
Ola merasa dirinya sangat bodoh sekarang. Menjdi roh yang kuat ternyata hanyalah sebuah omong kosong jika dihadapkan dengan cinta.
Sementara Maki menahan dadanya agar tak berdegup lebih kencang pagi. Kini dia berada di kamarnya sendiri, tapi detak jantungnya masih tak mau kembali seperti biasa.
Ola bahkan tak ada lagi di hadapannya, tapi dia masih merasa jengah memikirkan perlakuan gadia itu tadi. Jengah karena dia merasa bodoh. Apakah dia sudah benar-benar jatuh cinta dan menyerahkan dirinya sendiri kepada Ola?
Perasaan aneh menjalari keduanya. Merasakan sesuatu yang berbeda hanya karena pulang bersama. Tersenyum bodoh menyadari bahwa mereka sama-sama terleba oleh perasaan nyaman saat bersama.
Ola menelungkupkan dirinya di tempat tidur dan mengusir bayangan Maki dari pikirannya. Di ruangan sebelah, Maki melakukan hal yang sama.