Langit sudah gelap. Arloji di tangan sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam dan di teras, seorang wanita tengah menunggu kedatangan suaminya yang pergi dengan istri kedua. Citra menghela napas berkali-kali menanti kehadiran suaminya. Padahal kesepakatan yang mereka buat hanya membutuhkan tiga jam untuk pulang pergi namun pada kenyataannya tidaklah begitu. Diandra dan Diovano pergi sejak pukul sembilan pagi. Citra merasa dipermainkan oleh keduanya. Ia langsung bangun begitu mendapati mobil yang dikenalnya memasuki halaman rumah. Ia berkacak pinggang dengan wajah menahan amarah. Tak lama mobil itu berhenti di depan teras. Diandra turun dari bangku belakang. “Kamu bilang hanya tiga jam?!” bentak Citra dibakar api cemburu. Diandra yang tubuhnya sudah lelah karena perjalanan dan kar

