Benteng yang Menjulang Tinggi

1555 Words
Pagi yang cerah dengan sinar baskara yang telah menerangi pertiwi menggeser gelapnya malam. Gadis cantik bak indahnya sinar fajar itu tengah mematut dirinya di cermin. Hari ini adalah hari ketiganya berada di kota hujan tersebut. Untuk agenda hari ini adalah outbound dan bermain. Ia nampak cantik dengan balutan kerudung berwarna merah muda dan tunik merah maroon yang melekat pas di badanya. Paras ayunya ia poles dengan bedak tipis agar tidak terlihat kusam. Serta bibir manis itu ia beri sedikit lipblam untuk melembabkanya. “Aruni, kalau kamu sudah selesai kamu langsung ke bawah aja,” titah Aurora yang tengah mengganti pakaian Langit. “Iya, Bun.” “Aku mau sama Kakak!” seru Langit saat Arunika hendak pergi meninggalkan kamar. Arunika tersenyum tipis, ia mengurungkan niat untuk keluar dari kamarnya. Dia duduk di tepian kasur sejenak untuk menunggu Langit. “Jangan nakal ya sama Kakak. Jangan buat Kakak kecapekan,” pesan Aurora saat selesai memakaikan bedak pada Langit. “Iya, Bunda.” “Ayo, Langit,” ujar Arunika merentangkan tanganya. Dengan langkah kecilnya Langit berlari menghampiri Arunika. Bocah laki-laki itu sangat menempel pada Arunika. Saat menuruni anak tangga Arunika memilih untuk menggendong Langit karena ia khawatir jika nantinya Langit akan jatuh di tangga karena kaki bocah laki-laki itu masih begitu pendek. “Widih udah cakep aja bocil,” seru Bumi yang sedang duduk di pantri. Kebetulan Bumi dan Arunika memang satu vila. Tidak hanya dengan Bumi, Arunika juga satu vila dengan keluarga Alula dan Venus. “Bang Bumi!” pekik Langit. Langit memang cukup dekat dengan Bumi. Karena memang Bumi kerap kali bermain dengan Langit tentu saja dengan tujuan utamanya untuk menjahili Arunika biasanya. “Sini, Lang. Mau kopi gak?” tawar Bumi yang di hadiahi pelototan dari Arunika. “Mau-mau!” “Bum, lo gue geplak ya,” ancam Arunika yang mengangkat Langit agar jauh dari Bumi. Langit merengek berusaha lepas dari gendongan Arunika. Dari tangga Venus nampak santai menenteng ciki yang membuat perhatian Langit teralihkan. “Mau, Lang? Sini sama Bang Venus aja,” bujuk Venus santai. Langit mengangguk cepat saat ini ia beralih merengek ingin ke Venus. Arunika menyerah, meski Langit baru berusia dua tahun namun tenaga anak laki-laki itu cukup kuat dan membuatnya hampir kuwalahan. “Sesat kalian semua. Kalau Langit sakit kalian harus tanggung jawab,” gerutu Arunika. Venus hanya terkekeh. Ia duduk di sofa ruang tengah dengan Langit yang nampak anteng duduk di sampingnya. Pintu vila mereka terbuka, Sandykala datang dengan pakaian yang warnanya sama seperti mereka. Memang hari ini mereka harus menggunakan pakaian dengan warna yang sama untuk outbound nantinya. “Selamat pagi, Allura,” sapa Sandykala ramah. “Pagi, Kala.” “Lo berdua masih pagi udah bucin aja,” cibir Alula yang baru saja keluar dari kamarnya. “Mangkanya lo jadi cewek yang bener dikit biar ada cowok yang ngelirik,” caci Bumi. “Hus mulut lo. Ada Langit di sini jangan ngomong sembarangan,” peringat Arunika. Mereka duduk di ruang tengah dan menonton kartun pilihan Langit. Tak berselang lama akhirnya mereka menuju aula untuk tempat outbound. Sandykala selalu berada di samping Arunika pokoknya laki-laki itu tidak mau berada jauh dari Arunika. Untuk challenge kali ini adalah dance berpasang-pasang. Otomatis Sandykala langsung menggenggam tangan Arunika. Namun sayangnya ada dua orang yang menggenggam tangan Arunika. “Lo sama Bumi aja, Gue mau sama Allura,” desak Sandykala saat Alula hendak mengambil Arunika. “Ogah gue sama Bumi. Yang ada bukan dansa malah gelut. Lo aja yang sama Bumi,” tolak Alula mentah-mentah. “Gue maunya sama Allura.” “Gue juga maunya sama Arunika.” Arunika nampak pasrah. Sandykala dan Alula benar-benar mencengkram tanganya sama-sama kuat. “Udah deh lo gak usah ganggu Kala sama Aruni. Udah lo sama gue aja,” seru Bumi melepaskan gandengan Alula dan Arunika. Sandykala mengacungkan jempolnya pada Bumi. Akhirnya ia bisa berdansa dengan Arunika. Sandykala menautkan kedua tangan mereka. Salah satu tanganya nampak ragu memegang pinggang Arunika. “Maaf ya,” ucapnya izin terlebih dahulu pada Arunika. “Iya.” Sementara Arunika, dia meletakan tangan kirinya di pundak Sandykala. Musik mulai di nyalakan. Mereka harus berdansa dalam tempat yang telah di tentukan. Jika salah satu dari mereka keluar dari zona yang telah di tentukan maka kelompok mereka di tanyakan gugur. Sandykala menatap dalam iris mata hazel milik Arunika. Di lihat dari dekat seperti ini Arunika nampak sangat cantik. Wajahnya berseri benar-benar seperti seorang peri. “Aw! Kok lo injak kaki gue sih,” pekik Bumi saat Alula tidak sengaja menginjak kakinya. “Ya sorry, gue gak sengaja, Bum.” “Aduh! Mars! Kaki gue anjir sakit semua,” kali ini pekikan rusuh dari Altarik. Kelompok Bumi dan Alula serta Altarik dan Mars sudah gugur duluan. Tak selang beberapa lama hampir keseluruhan kelompok gugur. Yang masih bertahan adalah pasangan Sandykala dan Arunika, Ceilo dan Aelius, serta Bima dan Luna. Riuh tepuk tangan saat pasangan Sandykala dan Arunika masih bertahan. Semuanya takjub dengan keduanya. Karena seperti yang terlihat, keduanya sama-sama sangat menikmati dansa masing-masing. “Pemenang untuk challenge dansa dalam koran di menangkan oleh pasangan Adek Sandykala dan Adek Arunika. Beri tepuk tangan yang meriah!” titah MC menginstrupsi. Semuanya bertepuk tangan dengan riuh, sementara Arunika hanya tersenyum manis malu-malu. Sesuai acara outbound, menereka harus istirahat sejenak karena kebetulan hari ini adalah hari Jumat. Jadi hampir keseluruhan kaum Adam melaksanakan kewajiban mereka di masjid terdekat. Arunika tengah bosan, suasana vila sangat sepi di tambah para ibu-ibu tengah melakukan arisan bersama. Tadinya ia ingin mengajak Alula namun gadis itu sedang tidur siang karena kelelahan outbound tadi. Arunika memutuskan untuk pergi ke restauran yang tidak jauh dari vila tempatnya menginap. Ia memesan sebuah cake dan minuman untuk menemaninya bersantai. Sangking asiknya bergelut dengan ponsel, Arunika tidak menyadari jika seorang laki-laki telah duduk di hadapannya. “Apa begitu mengasikan hal yang ada di benda itu, Allura? Sampai kamu tidak sadar jika aku duduk di sini,” celetuk Sandykala yang membuat Arunika terkejut. Arunika mematikan ponselnya. Ia menyirit bingung. Kepalanya celingukan melihat ke luar restauran. Apa salat jumatnya sudah selesai? Tapi bukankah tadi Bumi dan yang lainya baru saja berangkat? “Kamu mencari apa, Allura?” tanya Sandykala saat bukanya Arunika menjawab pertanyaannya tadi gadis itu justru sibuk sendiri. “Apa salat jumatnya sudah selesai, Kala? Kok cepet banget,” jawab Arunika polos. Sandykala hanya mampu tersenyum tipis. Ia bingung mesti menjelaskan seperti apa pada Arunika. “Kamu tahu, Allura? Kamu terlihat lebih cantik dan anggun ketika menggunakan jilbab. Aku suka. Jangan lepaskan jilbab mu, ya?” puji Sandykala mengalihkan topik pembicaraan. “Terima kasih, Kala. Aku masih belajar.” “Ada yang harus kamu tahu, Allura,” ujar Sandykala serius. Arunika menaruh cangkir minumannya. Ia menatap lekat manik mata coklat milik Sandykala. “Ada apa, Kala?” Sandykala mengeluarkan kalung salibnya yang selama ini ia pakai namun ia taruh di balik bajunya. Arunika nampak terkejut, ia berusaha menetralisir keterkejutan nya namun Sandykala masih bisa melihatnya. “Ah maaf, Kala. Aku tidak tahu. Aku pikir tadi kalian sudah selesai salat jumat.” “Tidak apa-apa, Allura.” Suasana keduanya jadi sedikit canggung. Arunika merasa tidak enak karena pertanyaannya tadi. Sementara Sandykala masih terlihat santai memperhatikan Arunika yang tengah memakan cakenya. Tangan Sandykala terulur ketika krim cake milik Arunika belepotan hingga mengenai pipi tirus Arunika. Arunika terkejut sejenak, kemudian dia mengambil tisu yang telah di sediakan untuk mengelap nya sendiri. “Terima kasih, Kala.” “Sama-sama, Allura. Kenapa kamu diam saja? Apa kamu tidak nyaman?” tebak Sandykala. Pasalnya biasanya Arunika akan selalu ceria dan mencairkan suasana hatinya. “Aku hanya masih tidak enak, Kala. Maafkan aku ya? Aku pasti menyinggung kamu,” ulang Arunika kembali meminta maaf. Sandykala terkekeh sejenak. “Jadi karena itu? Aku baik-baik saja Allura. Tidak perlu meminta maaf. Wajar kok karena kamu belum tahu.” Arunika tersenyum manis, kemudian dia mengarahkan cakenya ke Sandykala. “Kamu mau, Kala?” Sandykala menerima suapan dari Arunika. Keduanya kembali seperti semula. Senyum indah milik Arunika juga kembali terbit. Hal itu membuat Sandykala lega dan kembali merasa nyaman. Namun entah mengapa hati Sandykala gundah. Ia tahu jelas, bagaimana benteng di antara keduanya. Perasaanya tidak dapat berubah bahkan seakan semakin bertambah besar setiap hari nya. Sejak pertama kali melihat Arunika empat tahun silam, ia telah jatuh cinta. Ia pikir ini hanyalah perasaan suka biasa dan wajar. Namun sampai detik ini, ia masih mencintai Arunika. “Allura,” panggil Sandykala. “Iya, Kala?” “Bagaimana jika aku mencintaimu?” cicit Sandykala namun masih bisa di dengar oleh Arunika. “Bagaimana? Memangnya mengapa harus bagaimana? Itu hak kamu, Kala. Setiap manusia berhak mencintai manusia lainya,” jawab Arunika enteng. “Bagaimana dengan mu?” tanya balik Sandykala. Arunika menunjuk dirinya sendiri. “Aku?” “Iya, Allura. Bagaimana perasaan mu dengan ku?” Arunika tersenyum sejenak. “Aku tidak tau, Kala. Yang aku tahu, aku merasa nyaman dan aman jika berada di dekat kamu.” “Aku tidak memaksa kamu untuk mencintai ku juga. Karena jika aku mencintaimu itu adalah urusan ku sedangkan untuk kamu mencintaiku juga itu urusan mu,” urai Sandykala saat melihat sepertinya Arunika merasa tidak enak. “Iya, Kala.” “Jangan berubah ya, Allura. Tetap jadi Allura yang selalu aku kenal. Jangan terlalu pikirkan perasaan ku.” “Kala, aku tidak bisa berjanji apapun. Karena yang aku tahu, Allah itu maha membolak-balikkan hati. Aku akan usahakan,” balas Arunika bijak. “Iya, Allura.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD