Bab 2 Tertabrak!

1440 Words
Terlihat dari kejauhan terdapat pria tampan yang baru keluar dari lift menuju Basemen. Tempat di mana mobil mewahnya terparkir. Kepala satpam yang berjaga malam menyapanya. “Selamat malam, Pak. Bapak baru pulang? Di luar sedang hujan deras disertai angin, lebih baik Bapak hati-hati.” “Hmm, terima kasih,” jawab Andrew dengan memberi tepukan ramah di bahu satpam tersebut. Setelah sedikit berbincang dengan kepala satpam. Andrew segera memasuki mobil mewahnya yang bermerek Mercedes Nenze tipe CLS-Class berwarna silver. Andrew mengendarai mobilnya menjauhi perusahaan. Setelah beberapa menit dia mengendarai mobilnya di tengah hujan deras. Tiba-tiba ponselnya berdering. “Iya, mah?” sapa Andrew yang menerima panggilan dari Melly ibunya. Dia yang masih mengendarai mobilnya di jalan. Dia segera menyambungkan ponselnya dengan headset yang telah terpasang di telinganya untuk berjaga-jaga menerima panggilan mendesak. “Kamu di mana, Drew?” Andrew segera menjawab pertanyaan dari seseorang di seberang. “Aku masih dalam perjalanan pulang dari kantor, Mah.” “Kau sangat sama seperti papamu. Sudah berapa kali mama bilang. Mama tahu kamu gila kerja. Tapi kesehatanmu lebih penting dari pekerjaanmu.” Mendengar keluhan Melly membuatnya tertawa. “Ha-ha-ha, baik, mah. Aku tahu apa yang terbaik untukku. Mama tidak perlu mengeluh lagi.” “Hmm, Mama akan terus mengeluh jika tahu kamu mengabaikan kondisi kesehatanmu.” “Mama jangan terus mengomel. Aku tidak ingin Mama cepat tua. Ha-ha-ha,” candanya. “Mama memang sudah tua. Karena itu, secepatnya kamu bawa calon istrimu ke Rumah?” Mendengar perkataan Melly membuat Andrew mendengus. “Mah ... .” Andrew mengakhiri panggilannya untuk menghindar dari pertanyaan lebih ibunya. “Di sini hujan. Nanti aku akan menghubungi Mama lagi.” “Baiklah, Mama sayang kamu. Hati-hati dalam berkendara.” Hujan yang masih deras, mau tidak mau dia harus menyalahkan wiper kaca untuk menghalangi dari pandangannya. Sejak mengakhiri panggilannya. Andrew terlihat menghembuskan nafas beberapa kali. Fokusnya yang mulai terganggu. Membuatnya tidak melihat seseorang yang sedang menyebrang. Andrew segera membunyikan klakson berkali-kali. Tinn Tinn Tinnn Terdengar suara teriakan perempuan yang diiringi dengan bunyi decitan ban mobil akibat gesekan rem dan aspal. Beruntung mobil berhenti tepat waktu. Bruk Suara seseorang terjatuh. Andrew segera melepas seat belt dan keluar dari mobil tanpa memedulikan hujan turun dengan derasnya. Andrew menepuk-nepuk pelan pipi gadis yang tergeletak di aspal akibat kaget. “Hai, apa kau baik-baik saja.” Tidak ingin memperburuk keadaan. Andrew segera membawa gadis tersebut ke dalam mobil. ***** “Sudah selesai, Tuan.” Pembantu rumahnya yang telah selesai mengganti pakaian basah gadis tersebut, segera keluar kamar memberitahunya. “Baik, Bi. Terima kasih. Bibi bisa istirahat.” “Baik, Tuan.” Andrew masuk ke dalam kamar di mana gadis yang ditolongnya berada. Beruntung beberapa baju adiknya masih tertinggal di rumahnya. Sesampainya di rumah. Andrew segera membawanya ke kamar tamu. Menyuruh pembantunya untuk mengganti pakaian basahnya. Andrew yang khawatir segera memanggil dokter kepercayaan keluarganya. “Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Andrew pada dokter kepercayaan keluarganya yang telah selesai memeriksanya. “Dia demam efek kelamaan di bawah hujan. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Saya sudah memberikan obat penurun panas. Bentar lagi demamnya pasti akan sembuh. Pak Andrew tak perlu khawatir,” Jelas dokter dengan senyum khasnya. “Dan untuk lukanya, saya telah membersihkannya dengan alkohol. Bapak bisa memberikan salep yang saya berikan lalu mengganti perbannya agar lukanya tak infeksi,” tambahnya. Mendengar penuturan dokter kepercayaannya, mau tidak mau Andrew menatap luka goresan yang terdapat di siku dan lutut gadis tersebut. “Apa luka itu baru, dok?” “Ya, luka itu masih baru.” “Baik, Dok. Terima kasih,” ucap Andrew yang menjabat tangan sang dokter kepercayaannya sebelum pergi meninggalkan rumahnya. Setelah kepergian dokter yang memeriksa gadis tersebut. Andrew duduk di pinggir kasur. Menatap ke arah gadis tersebut yang sedang tertidur sambil mengerutkan keningnya. Andrew mencoba mengelus kening si gadis yang terlihat gundah di dalam tidurnya. “Tidurlah, kau berada di tempat aman sekarang. Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.” Tanpa sadar Andrew terlihat khawatir pada keadaan gadis yang belum dikenalnya. Gadis tanpa nama yang hampir ditabraknya. Andrew menarik selimut untuk menutupi badannya agar tetap hangat. Sebelum Andrew berjalan keluar, tiba-tiba gadis tersebut mencekal tangannya. “Jangan pergi, aku mohon. hiks hiks jangan tinggalkan aku. Aku mohon.” ***** Suara gorden dibuka di pagi hari. Mengakibatkan sinar mentari menembus kaca tanpa permisi. Gadis yang terlelap dalam tidurnya perlahan membuka kelopak matanya. “Apa Bibi membangunkan, Nona?” Mendengar suara tak dikenal menyapanya di pagi hari. Gadis tersebut memaksa bangun tanpa peduli dengan keadaannya. Gadis tersebut terlihat mengernyit kesakitan memegang keningnya. “Apa Nona baik-baik saja?” tanya seseorang yang tak dikenalnya berjalan mendekatinya. Berusaha membantu Rain bersandar pada sandaran dipan. “Anda ... siapa?” tanya Rain kebingungan. “Saya Bi Ijah. Pembantu di rumah ini.” “Saya di mana?” Menatap sekeliling tempat dia bermalam. “Dan ... ini?” Rain menatap bajunya dengan bingung. Mengetahui orang di depannya kebingungan. Bi Ijah mencoba menjelaskan pada gadis yang masih menatap sekeliling dengan kebingungan. Bi Ijah tersenyum melihat tingkah gadis di depannya. “Nona, berada di Rumah Tuan Muda. Tuan sendiri yang membawa Nona ke rumah ini. Dan untuk baju yang Nona pakai. Bibi yang menggantinya. Apa Nona tidak mengingat kejadian semalam?” Gadis di depannya yang masih terlihat kebingungan. Bi Ijah menjelaskan kembali pada Rain yang bisa bermalam di rumah tuannya. “Tadi malam Tuan Muda membawa Nona pulang dalam keadaan pingsan dan terluka. Apa Nona tidak mengingat sama sekali kejadian semalam?” Rain baru menyadari luka di lutut dan sikunya telah terbalut perban. Rain terlihat murung mengingat kembali kejadian semalam. Luka yang telah ada sebelum dia hampir tertabrak kembali sebuah mobil karena kelalaiannya. “Apa Nona telah mengingat?” tanya bi Ijah. Rain mengangguk sebagai jawaban. “Tuan Muda sebelumnya tidak pernah membawa gadis ke rumah ini selain adiknya. Setelah semalam Tuan membawa Nona pulang. Bibi kaget melihatnya,” ucapnya dengan senyum ramah. Mendengar kata tuan muda yang terus diucap membuat Rain bertanya-tanya. Siapa tuan muda yang dimaksud pembantu itu. “Tuan Muda?” tanya Rain dengan bingung. “Ya, Tuan Andrew.” “Apa di—“ “Kau sudah bangun,” sergah seseorang memotong perkataannya. Tuannya yang memasuki kamar membuat bi Ijah permisi undur diri. “Tuan, permisi.” Pria itu berjalan memasuki kamar. Tangannya yang dibiarkan masuk ke saku celana, berjalan mantap ke arahnya. Tatapan tajamnya mampu mengintimidasi siapa pun. “Bagaimana keadaanmu?” “Ak—aku baik-baik saja,” ucapnya terputus-putus. Pria tersebut berjalan ke arah sofa tunggal yang terdapat di kamar. Terduduk dengan menyilangkan kakinya. Tatapan tajam yang terus menatapnya membuat gadis tersebut terintimidasi. “Bagaimana lengan dan lututmu?” tanyanya lagi. Mendengar pertanyaan pria di depannya Rain reflek sedikit bergerak menatap lukanya. Tanpa bisa dicegah, pusing kembali menyerangnya. “Argh,” pekik Rain kesakitan. Mendengar pekikan gadis di depannya. Pria itu menghampirinya. “Apa masih sakit?” “Se—sedikit,” balas Rain. “Tunggu, aku akan memanggil Bi Ijah. Aku akan menyuruhnya membawakanmu makan lalu minum obat.” “Ti—tidak perlu, Tuan. Aku akan baik-baik saja. Aku akan segera pergi. Aku tidak ingin merepotkan Anda lagi,” ucap Rain yang merasa tak enak. “Diam, tetaplah istirahat. Kau tidak boleh kemana pun sebelum benar-benar sembuh,” ancamnya. Tatapannya yang melembut kini berubah menjadi tatapan tajam kembali. Siapa pun yang mendapatkan ancaman dengan tatapan tajamnya. Dia yakin nyalinya akan menciut. Setelah beberapa menit pria itu keluar. Pembantu yang Rain tahu bernama bi Ijah datang dengan membawa nampan berisi makanan ke kamarnya. “Waktunya sarapan, Nona. Setelah itu Nona minum obat dan mengganti perban di siku dan lutut, Nona.” Rain menghentikan bi Ijah yang ingin menyuapinya. “Aku bisa makan sendiri, Bi.” “Baik, Nona.” Setelah menyerahkan makanan padanya. Rain segera memakan makanannya yang telah disiapkan untuknya. Selesai makan, bi Ijah membawakan obat padanya untuk di minumnya. “Saya akan mengganti perban, Nona.” “Tidak perlu, Bi. Aku terlihat baik-baik saja.” “Tapi, Nona. Kata Tuan—“ “Ini tidak sakit, Bi. Bentar lagi akan sembuh dengan sendirinya,” sergahnya. “Kenapa kamu sangat keras kepala?” sela pria yang tidak salah bernama Andrew. Nama yang sering disebut bi Ijah sebagai tuan mudanya. “Apa Tuan Muda telah selesai sarapan?” tanya bi Ijah. Tidak seperti menatapnya dengan tatapan tajam. Saat menatap bi Ijah, tatapan itu berubah melembut. Pria itu terlihat mengangguk sebelum menatapnya kembali dengan tatapan tajam. “Bibi bisa melanjutkan mengganti perbannya. Aku tidak ingin luka itu terbuka lagi dan infeksi,” tandasnya. “Baik, Tuan.” Kepergian tuan muda masih meninggalkan ketegangan bagi Rain. Tatapannya yang tajam membuat Rain terdiam. Rain hanya pasrah menerima kebaikan bi Ijah yang merawatnya dengan telaten.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD