Seorang Teman Bagian 1

1235 Words
"Kemampuan yang sangat indah" Setelah terdiam cukup lama, Azure mengalihkan tatapannya ke arah Ruby. Matanya berkilau akan ekspektasi "Dengan begini, kau tidak akan terkalahkan dan tak ada yang bisa melukaimu." Ruby mengangkat alis. "Kau tidak takut?" "Mengapa aku harus takut? di dunia di mana kekuatan adalah patokan untuk mendapatkan kekuasaan, kekuatanmu seperti berlian di antara kerikil berlumpur" Azure tersenyum "Begitu indah dan bersinar." Burung nocturnal masih bernyanyi sedangkan kerak kayu bakar masih berbunyi. Tak ... Tak ... Seolah mengetuk-ngetuk hati Ruby. "Kau haus kekuatan." Dia bergumam. Azure tidak menyembunyikan niatnya, "Kau benar, aku terlahir sangat lemah dan di remehkan banyak orang, karena itulah, satu-satunya cara untuk membuktikan diriku adalah dengan memiliki kekuatan dan kekuasaan." Ruby hanya diam, mengamati wajah Azure lebih detail lalu berbisik, "Namaku adalah Ruby." Azure sedikit terkejut dengan perkenalan yang tiba-tiba setelah beberapa hari Ruby menolak memberitahukan namanya. "Ruby? benarkah? itu nama yang sangat cocok denganmu." Azure mengulurkan tangan. "Panggil aku Azure." Ruby menunduk dan menatap tangan yang terulur di hadapannya "Apa yang kau minta dariku?" Dia memiringkan kepala. Melihat reaksi gadis itu, Azure menebak bahwa Ruby bahkan tidak tahu bagaimana dasar caranya berkenalan "Berikan tanganmu ... Bukan yang itu, yang kanan." Azure tersenyum dan menggenggam tangan Ruby dan menggerakkannya naik turun "Cara seperti inilah yang di sebut berkenalan, kau memberitahuku namamu dan aku memberitahumu namaku lalu kita bersalaman. Dengan begini, kita telah meningkatkan hubungan dari orang asing menjadi seorang teman." "Teman?" Ruby menatap tangannya yang berada dalam genggaman Azure. Dia sekilas pernah mendengar Luna menyebut tentang seorang teman. "Teman adalah seseorang yang saling membantu jika salah satunya dalam kesulitan?" "Benar, seperti itulah seorang teman." Azure mengangguk. "Teman yang hangat." Ruby tiba-tiba menambah kekuatan genggamannya sehingga Azure meringis kesakitan "Tapi temanku sangat lemah." Azure langsung mengerutkan kening. "Bukankah sudah kuberitahu? menyebut seorang pria itu lemah, sama saja merendahkannya, terlepas dari fakta jika dia memang lemah." Ruby hanya tersenyum dan tidak membalas. Melepaskan tangannya dari Azure lalu menuju ranjang batu dan berbaring dengan tangan kanan yang menutupi salah satu pipinya "Saatnya tidur." ujarnya. Azure menatap sekeliling dan tidak menemukan tempat di mana dia bisa berbaring. "Ranjang ini cukup besar untuk kita berdua." Ruby masih menutup matanya ketika bersuara. "Bagaimana bisa seorang wanita dan pria bisa tidur di ranjang yang sama?" Azure berdehem pelan untuk mengatasi rasa malunya karena secara tak sengaja mengamati tubuh Ruby yang hanya terbungkus dua kain minim. Saat gadis itu berbaring miring, garis tipis pinggangnya terlihat sangat jelas, begitu ramping dan halus. Ayolah, Azure juga seorang pria, meski telah melewati masa dewasanya sejak lama dan telah memeluk banyak wanita sebelumnya, dia harus mengakui bahwa tubuh Ruby adalah satu dari yang terbaik. Terlebih parasnya. Jadi bagaimana bisa dia tidur di sisi gadis seperti itu? Terlebih dengan karakter dan kekuatan Ruby. Sangat menakutkan jika Azure tanpa sengaja menyentuh gadis itu dalam tidurnya dan keesokan harinya lengannya telah terpanggang di perapian. "Apakah wanita dan pria tidak diperbolehkan tidur bersama?" Ruby yang awam soal hubungan antar manusia membuka mata dan bertanya. "Tidak boleh, kecuali mereka telah menikah." "Bahkan teman tidak boleh?" Azure menggeleng, "Tidak boleh." "Baiklah." Ruby mengangguk dan kembali menutup mata " Kalau begitu tidurlah di bawah." Azure menganga tak percaya, ini adalah pertama kalinya seseorang menyuruhnya tidur di bawah. Biasanya orang-orang akan berlomba memberinya tempat tidur terbaik mereka. "Bukankah kau bilang pria dan wanita yang belum menikah tidak boleh tidur bersama?" Ruby kembali membuka mata begitu merasakan pergerakan disisinya dan menemukan Azure sedang berbaring tak jauh darinya. "Dalam kondisi darurat, seharusnya tidak masalah." Azure melepaskan pedangnya dan meletakkannya di tengah-tengah mereka berdua, lalu berbaring terlentang dengan kedua tangan bertaut di atas perut. Sangat tegang dan canggung . Ruby mengendikkan bahu tidak peduli dan kembali menutup matanya. *** Keesokan harinya, ketika Azure terbangun. Dia merasa dadanya sesak karena tertimpa sesuatu dan juga ada sesuatu yang lembut juga kenyal menempel di perutnya. Kenyal dan lembut? Azure langsung membuka matanya lebar-lebar dan menemukan seseorang sedang bersandar di dadanya, menempel erat di tubuhnya seperti gurita. Azure menelan ludah, menahan nafas ketika wangi seorang wanita menguar di bawah hidungnya dan perlahan meningkatkan hasratnya yang memang sangat sensitif di pagi hari. Ruby bernafas teratur, menghembuskan nafas hangat di d**a Azure, menembus serat kain dan menggesek kulit pria itu yang mulai sensitif. Azure mengerang di dalam hati dan mulai menggerakkan tubuhnya untuk menjauh dari Ruby. Namun, gadis itu tiba-tiba saja mengeratkan pelukannya. Wajah azure semakin memerah sedangkan nafasnya semakin cepat. Beruntunglah di saat krisis itu,  Ruby akhirnya terbangun, menguap dan mengucek matanya lalu merenggangkan beberapa otot yang kaku dan duduk. "Selamat pagi." Gadis itu menoleh pada Azure dengan senyuman tipis di bibirnya. Azure hendak tertawa canggung namun teralihkan dengan pemandangan yang mempesona di hadapannya. Matahari yang merembes dari celah bebatuan di atas gua jatuh mengenai kepala Ruby, menyinari surai blonde Panjang gadis itu hingga terlihat keemasan. Senyum tipisnya begitu manis sedangkan mata merahnya yang sedikit lebih gelap di malam hari kini menjadi lebih cerah dan berkilau. Azure seolah benar-benar menyaksikan dua permata indah yang muncul di permukaan bumi dan berkilau dengan begitu cantik. "Apa kau tidur dengan mata terbuka?" Ruby memiringkan kepala dan mendekatkan kepalanya ke wajah Azure yang mematung seperti batu. Azure langsung melompat turun dari ranjang. "Peraturan lain saat berbicara dengan pria, jangan berbicara terlalu dekat dengan wajahnya." Dengan sedikit gugup, Azure merapikan bajunya, tidak berani menatap ke arah Ruby. "Terlalu banyak peraturan." Ruby mencibir dan turun dari ranjang. Melepaskan ikatan kain merah di tangannya kemudian kembali menyembunyikan mata indahnya dan melangkah ke mulut gua. Azure mengikuti di belakang dan menyayangkan bahwa mata itu harus tertutup lagi.  Ruby menyingkap tirai tanaman merambat dan menghampiri sungai di sisi goa. Mengikuti rutinitas ketika dia hidup sendirian, Ruby terlebih dulu melepaskan kepangan rambutnya, dan mulai membuka lilitan kain di dadanya... "Apa yang sedang kau lakukan?!" Azure tiba-tiba berteriak panik di belakang. Ruby sedikit terkejut dengan seruan tiba-tiba itu dan menoleh. "Mandi tentu saja." jawabnya dengan heran "Kenapa kau terdengar begitu panik? Apakah manusia tidak di perbolehkan mandi?" Dia mengernyit jijik. Azure mengalihkan tatapannya dari belahan d**a Ruby yang mengintip dari balik kain usang gadis itu. "Tentu saja tidak, hanya saja. Sebagai wanita, kau tidak boleh membuka bajumu begitu saja di depan seorang pria." "Ah begitu." Ruby kembali menghadapkan punggungnya ke arah Azure "Kalau begitu pergilah ke tempat lain, aku mau mandi," ujarnya lalu kembali membuka pakaiannya. Azure? tentu saja dia sudah berlari masuk ke dalam gua. Selagi berendam, Ruby terus mengoceh betapa merepotkannya hidup sebagai manusia. Segala hal terlarang. Ini dan itu tidak boleh. Lalu apa menyenangkannya kehidupan mereka? “Merepotkan.” Bisiknya lalu memercikkan beberapa air sungai ke wajahnya, Namun tiba-tiba gerakannya terhenti, telinganya sedikit bergerak begitu Ruby mendengar banyak langkah kaki yang bergerak mendekat. Ruby mengendus udara dan langsung mengerutkan kening begitu mencium aroma darah yang kuat.. Begitu langkah kaki semakin dekat, Ruby dengan enggan menarik pakaiannya di atas batu dan melompat ke semak belukar. Tak lama kemudian suara seorang pria memecah keheningan. "Apa ini? Kalian pernah melihatnya sebelumnya?." Lima orang pria dengan tubuh hanya berbalut bulu binatang melangkah memasuki pekarangan gua dan menatap seluruh pekarangan itu dengan kerutan di dahi mereka lalu satu persatu menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan pria yang pertama kali bertanya.   Seseorang tiba-tiba mengendus udara ke arah gua dan berdesis tajam "Aku mencium bau manusia." Suaranya sangat serak sedangkan gigi runcingnya terpampang sangat jelas. "Di sana!" Ruby melompat begitu sebuah pisau melesat melewati telinganya dan memotong semak belukar di sekitarnya. "Wah, seorang gadis muda nan cantik." Para pria itu menatap tubuh Ruby yang hanya terbalut kain yang minim dengan raut kelaparan "Dagingnya pasti sangat empuk dan lezat." Ruby membuang selembar dedaunan di pundaknya dan tersenyum tipis "Para kanibal, akhirnya kalian menemukanku."   Bersambung...      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD