"Lo bilang mau hadiah kan? Nih buat lo, hadiah dari gue. Jangan dibuang apalagi dikasih orang. Pokoknya gue minta, yang ini Lo makan sampai habis. Jangan dibagi siapapun."
***
Sudah dua hari sejak pembelajaran pertama mereka di tokonya. Hari dimana Bara mengatakan sesuatu yang berhasil membuat sesuatu dalam dadanya bergemuruh begitu hebatnya. Biasanya, apapun yang dikatakan Bara tak berarti apa-apa, tak memberikan efek apapun. Tapi, kemarin tidak, kemarin berbeda. Entah ada apa.
Disinilah Reina sekarang, di perpustakaan menunggu kedatangan Bara untuk melakukan kegiatan belajar bersama lagi. Lebih tepatnya, dia mengajari Bara, itu.
“Rein, sorry lama.”
Reina mendongak, menatap malas Bara yang baru datang. “Lo darimana aja sih? Udah tahu kita mau belajar, tapi malah ngaret. Lo kan tahu sendiri, jam istirahat tuh cuma sebentar. Efektifkan waktu gitu.” kesal Reina, dia mulai membuka buku dimana ada soal yang harus Bara kerjakan.
Bara duduk disamping Reina. “Iya, sorry. Gue tadi kumpul futsal dulu.”
“Ya udah, coba Lo kerjain ini. Kemarin kan gue udah kasih tahu Lo materinya. Semalam Lo belajar kan?" Tanya Reina, dia memincingkan matanya.
“Iya, gue belajar kok.”
Reina tersenyum tipis, dia mengangguk pelan kemudian memberikan buku yang berisikan soal yang dia buat. Sengaja dia membuat sendiri soalnya, mudah juga. Itu akan sedikit membantu Bara, pikirnya.
Bara menerima buku tersebut, tersenyum lebar melihat soal-soalnya. “Kalau gue bisa ngerjain ini, gue dapat apa Rein?” tanya Bara, dia menoleh menatap Reina.
“Dapat apa?” tanya Reina yang diangguki Bara. “Dapat ilmu lah!” jawab Reina yang membuat Bara mengerucutkan bibirnya.
“Bukan itu maksud gue, yang lain gitu.”
“Apa?”
"Dapatin Lo contohnya.” jawab Bara asal, dia asal berucap saja.
Reina memutar bola matanya jengah. “Udah, buruan kerjain! Jangan ngomong yang gak jelas, yang gak mungkin.” ucap Reina penuh penekanan disetiap katanya.
“Dih, kata siapa? Mungkin aja kali gue dapatin Lo.”
“Jadi, Lo mau belajar atau enggak? Gampang kan?”
Bara terkekeh, dia mengambil pulpen di saku seragamnya. “Oke, oke, jadi gimana? Gue bisa dapat apa?” tanya Bara lagi, dia mulai mengerjakan soal-soal tersebut.
“Dapat apa sih maksud Lo?” kesal Reina, dia tersentak saat melihat pulpen yang digunakan Bara. “Tunggu, itu kan pulpen gue! Pantas aja gue nyari tapi gak ketemu-temu, ternyata sama lo.”
Bara mendongak, dia tersenyum lebar. “Bekas waktu itu, udahlah gakpapa, buat gue aja. Gue gak punya pulpen.” ucap Bara.
“Dasar, gak modal!"
“Tenang aja, nanti gue nikahin Lo pasti pake modal kok.”
“Ngaco!”
Bara tersenyum kembali. ”Jadi, gue dapat apa nih?”
Masih, Bara masih juga bertanya demikian yang membuat Reina jengah. “Udah, deh, Bar. Stop ngomong sesuatu yang gak penting. Lagipula nih, ya kalaupun ada yang dapat sesuatu itu harusnya gue. Karena apa? Karena gue yang bantuin Lo belajar, bukan sebaliknya.”
Bara tersenyum lebar mendengarnya. “Oh, jadi Lo ngode nih ceritanya?” goda Bara yang membuat Reina menghela napas kasar, perempuan itu lelah.
“Ya ampun Rein ... Gue kan udah sering ngasih Lo apa juga. Tapi, apa? Lo malah tolak bahkan Lo kasih pemberian gue ke teman-teman Lo. Gantian kali, sekarang yang gue yang dapat.”
Reina membenarkan dalam hati ucapan Bara. Lelaki itu memang sering memberinya sesuatu, entah itu makanan, minuman bahkan barang. Tapi, lagi-lagi di tolak Reina. Kalaupun di terima, pasti saat itu juga Reina berikan ke teman-temannya, tepat didepan Bara sendiri.
“Ya udah, gue kasih Lo sesuatu deh nanti.”
Bara tersenyum lebar, dia menang. “Apa?” tanya Bara.
“Ya, apa aja, kita lihat nanti. Lagian, terserah gue kali mau ngasih apa.”
Bara mendesah pelan. “Udah lah, Rein. Gimana gue aja, ya?”
“Ogah!" tolak Reina cepat, dia yakin ada yang direncanakan Bara. “Pasti nanti Lo minta yang aneh-aneh.”
“Enggak, asli!”
“No!”
“Please ...”
Biasanya, Reina tak akan luluh. Namun, entah kenapa sekarang justru dia mengangguk. ”Oke, terserah lo.” putus Reina yang membuat Bara tersenyum senang. “Tapi ... Jangan yang aneh-aneh!"
“Enggak kok, tenang aja.”
“Ya udah, buruan kerjain. Bentar lagi masuk kelas nih.”
Bara mengangguk, dia mulai mengerjakan soal-soal tersebut. Reina yang melihat bagaimana santai dan tenangnya Bara mengerjakan soal, dibuat bingung. Dia sama sekali tak melihat adanya kesusahan yang dialami Bara. Lelaki itu mengerjakan seolah soal itu mudah sekali baginya.
“Selesai,”
Reina tak percaya, akan secepat dan setepat ini Bara mengerjakan soal darinya. “Lo, bisa?” tanya Reina tak percaya.
“Kan semalam gue belajar materi dari lo.”
“Iya, sih. Tapi ...”
“Kenapa? Jawabannya benar semua, ya?" tebak Bara, dia terkekeh. “Gak aneh sih, gue kan cerdas sebenarnya. Soal kayak gitu mah, cetek banget itu mah." Sambung Bara meremehkan soal yang diberikan Reina.
“Terus kalau Lo cerdas, kenapa nilai Lo anjlok semua? Gak masuk akal.”
”Ya, karena gue malas aja. Tapi, berhubung ini ada iming-iming dari Lo. Jadi, mau gak mau gue menunjukkan kecerdasan gue ini.”
Reina diam, dia bingung harus menanggapinya bagaimana.
“Ya udah, lah, ya, Rein. Gue harus pergi lagi nih.” ucap Bara, dia beranjak berdiri.
Reina mendongak, menatap malas Bara. Dia yang lama menunggu, Bara juga yang meninggalkan sekarang. “Ya udah, sana pergi.”
“Tenang aja. Gue perginya juga bukan yang kemana kali, gue mau kumpul futsal lagi. Jadi, sorry juga nih, gue gak bisa anterin Lo ke kelas.”
“Apaan sih?! Lagian, gue bisa kali ke kelas sendiri. Udah, deh! Sana pergi!” usir Reina, dia mengibas-ngibaskan tangannya meminta Bara pergi.
Bara tersenyum lebar. “Ya udah, gue cabut dulu, ya. Oh, iya, janjinya nanti gue tagih, ya.”
“Janji apa? Gue gak menjanjikan apapun, ya ...”
“Ngelak... Udahlah, kita omongin itu nanti, gue harus pergi sekarang.”
“Ya udah, sana!”
Bara pergi, meninggalkan Reina yang kini sudah duduk kembali menatap jawaban yang dituliskan Bara di kertas tersebut. Keningnya masih mengerut, masih tak percaya jika Bara bisa mengerjakan soal darinya.
Kerutan di keningnya seketika menghilang saat sebuah cokelat terulur dihadapannya. Dia mendongak, menemukan Bara yang berdiri dihadapannya, menyerahkan sebatang cokelat sambil tersenyum lebar.
“Hadiah buat Lo,”
Reina diam, dia tak memberikan respon apapun.
Bara berdecak, mengambil tangan Reina kemudian meletakkan cokelat yang dibawanya dalam genggaman perempuan itu. “Kan Lo sendiri yang bilang mau hadiah. Nih, hadiah kecil-kecilan buat lo.” ucap Bara, dia tersenyum menatap Reina yang sama sekali tak menoleh sentuhannya. “Ingat, ya, dimakan! Jangan di kasih orang.” titah Bara, dia tahu betul kalau Reina sering sekali memberikan apa yang diberikannya pada orang lain.
“Ya udah, gue cabut dulu, ya.”
Reina hanya mengerjap-ngerjapkan matanya saja sejak kepergian Bara. Tangannya terulur menyentuh dadanya, ada perasaan aneh yang tiba-tiba hinggap disana. Ada perasaan asing yang belum pernah dia rasakan. Dan, penyebabnya satu.
Elbara Mervino.