BAGIAN EMPAT PULUH ENAM “gimana?” tanya ibu Sivia saat mereka tengah berada dimeja makan, hanya ada Silvia dan ibunya karena Agil sejak siang tadi belum juga pulang. “gimana ap amah?” tanya Silvia sambal menyuapkan sesendok mie pada mulutnya. “tentang rencana kerja itu,” jawab ibunya Silvia penuh harap. Karena harapan ibunya untuk saat ini hanya Silvia. Baginya perusahaan keluarga tidak boleh jatuh ke tangan orang lain, kecuali jika Silvia memang tidak ingin melanjutkan perusahaan. “oh itu,” jawab Silvia masih fokus pada semangkuk mie di depannya. “iyah itu, gimana jadinya? Kamu maukan?” ibunya menyatukan dua pertanyaan dalam satu kalimat. “udah aku putusin mah,” jawaban Silvia membuat kening ibunya berkerut karena anaknya itu tidak langusng menjawab pertanyaan pada intinya. “iyah

