4

624 Words
"Baiklah aku akan menikahinya untukmu Ibu" -------------------- Dasar bodoh! Bagaimana caranya kamu menikahi orang yang sudah meninggal Daniel! Apakah kamu akan mengorbankan kehidupanmu dan harga dirimu untuk menikahi sebuah mayat?! Dasar bodoh!! "Ah,aku tidak sebodoh itu. Aku bukan ingin menikahi mayat itu" "Aku akan menikahi gadis yang mirip  seperti Airi" Unknown P P P P P P P P P P P P P P P P P P Rifia berdecak dan meraih ponselnya,notifikasi handphone itu sedari tadi sangat mengganggu aktivitasnya. "Pesan spam?" Gumam Rifia. Ia melemparkan kembali ponselnya ke sofa,ia tidak perduli dengan spam tersebut dan memilih untuk melanjutkan aktivitasnya. "Siapa sih?" Tanya Titin,ia melirik kearah ponsel Rifia dan merasa penasaran karena sedari tadi notifikasi ponsel Rifia terus terusan berbunyi. Notif itu sangat menganggunya. "Pesan spam,diamkan saja" Kata Rifia cuek seraya meraih snack yang berada disamping laptop. "Silent lah nyet" Titin meraih ponsel Rifia,ia berniat untuk mensilent kan Handphone milik Rifia,tapi tiba tiba saja sebuah Video Call masuk menghubungi ponsel Rifia. "Dia nelpon!!" Ujar Titin histeris,ia melemparkan ponsel Rifia ke d**a milik Rifia. "Woi sakit ih!" Rifia meringis kecil,ia memegangi dadanya. "Lebay,d**a gede juga sih" ----- "Ngapain kamu ngajak ketemuan disini? Mau berapa kali ku bilang. Akubukan Airi!" Rifia merasa lelah,ia terus terusan berbicara kebenarannya namun pria yang berada di hadapannya tidak percaya. "Tidak perduli" Jawabnya. Rifia mendengus berat. "Yasudah aku pulang" Kata Rifia ia langsung berjalan membelakangi pria itu namun dihalang oleh beberapa seorang pria yang diketahui itu adalah budaknya. "Tidak ada jalan untuk berlari lagi,mau kau menolak atau tidak aku tidak peduli. Kau harus menikah denganku" Ujarnya seraya memasang sorot mata yang tajam plus senyum kemenangan. Rifia memijat keningnya perlahan. Ia merasa dirinya telah dijebak,sudah berulang kali Rifia mendecak kesal. "Jangan permainkan aku,aku bukan mainanmu" Rifia membalas menatap Pria itu "Siapa yang menganggapmu demikian? Aku mengajakmu menjadi istriku bukan mainanku" jelasnya. Demi apapun Rifia tidak perduli dengan penjelasan pria itu,ia ingin segera pergi dari situasi ini. "Aku tidak punya waktu,aku ingin pulang" Rifia berjalan dengan langkah yang sangat kasar,ia menabrak beberapa b***k yang tengah mengelilinginya sekarang. "Menikahlah dengan ku Rifia!" Pekik Daniel,ia berteriak yang sontak membuat orang yang berlalu lalang melihat ke arah Rifia dan Daniel berada Banyak orang yang berkata bahwa Daniel sangat Sosweet karena sudah berani melamar Rifia didepan ramai orang. Sebaliknya mereka tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Daniel melangkahkan kakinya ke arah Rifia,ia meraih pergelangan tangan Rifiq dan mulai membisikan sesuatu ke telinga nya "Kalau kau tidak mau menikah denganku,setidaknya kita menikah kontrak saja" katanya. Mata Rifia terbelalak,ia menatap Daniel tajam, begitu mudahnya orang yang berada dihadapannya berkata Nikah kontrak begitu saja kepadanya. "Enak saja" gumam Rifia. "... Kau menolakku?" Tanya Daniel. "Tentu saja" Rifia menganggukkan kepalanya,ia menolak tawaran Daniel. Daniel mendengus,ia memberikan isyarat kepada anak buahnya untuk memukul bagian tengkuk Rifia agar ia pingsan. Memang tidak ada cara lain selain cara ini untuk membuat Rifia patuh padanya. ----- "Ah,ini benaran Airi?!!" Kata Seorang wanita paruh baya tidak percaya,ia merasa bahagia karena menantu pilihannya itu tidak mati. Daniel mengangguk ngangguk perlahan,ia takut Rifia akan terbangun dan berkata bahwa dia bukan Airi itu akan menjadi masalah besar untuknya. Wanita paruh baya itu mengusap wajah Rifia dengan lembut,ia bahagia karena menantu terbaiknya tidak apa apa. "Kau menemukannya dimana daniel?" Tanya nya. Daniel langsung mengangakan mulutnya beberapa saat. "Ah,dia dirumah temannya. Dia sempat diselamatkan oleh temannya" kata Daniel,ia berbohong. Sejujurnya Daniel sangat malas jika ditanya lagi oleh ibundanya itu. "Bu,biarkan Airi istirahat" kata Daniel. Ibunya mengangguk nurut kepada Daniel "Baiklah! Aku akan memasak sesuatu untuknya" ujarnya seraya membelai rambut Daniel lembut. Perasaan bahagia yang dirasakan oleh Ibundanya Daniel itu tidak tertahankan sehingga ia ingin membuat sesuatu untuk menantunya itu. "Iya,masak yang banyak. Ibu taukan Airi itu porsi makannya mirip badak?" Ibunya terkekeh perlahan "Baiklah" "Jangan masak seperti orang sedekahan juga,takut terbuang nanti" tambah Daniel "Tidak usah menggurui ibumu ini daniel,sebelum kau lahir ibu sudah menelan banyak garam" jelasnya "Iya sudah kalau begitu" kata daniel,ia melepas jasnya perlahan kemudian melemparnya ke lantai. Daniel berfikir,ia takut ketika Rifia terbangun nanti dan membuka suara. "Ah.. memang sialan" To Be Continued!! 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD