11-The Night

1933 Words
Pipimu bersemu karenaku. Gugupmu tercipta karena candaanku. Dan cemburumu hadir semoga itu juga karenaku. Aku harap cinta segera tumbuh mekar di hatimu. ***   Lagi di mana? Telepon gue nggak lo angkat. Jasmine membaca pesan dari Valan. Jemarinya menari di atas layar ponsel untuk membalas pesan dari sahabatnya itu. Lagi di puncak. Sorry hp gue mute. Send. Jasmine meletakkan ponsel di nakas lalu melanjutkan menyisir rambut yang sempat tertunda saat melihat ponselnya menyala. Dia telat bangun. Niat hati ingin tidur beberapa jam tapi kebablasan sampai jam satu siang. Usai menyisir rambut, Jasmine mengambil ponsel dan dia bersiap keluar. Namun, layar ponsel yang menyala dan menampilkan nama Valan membuatnya mengurungkan langkah. “Halo,” sapa Jasmine setelah menggeser tombol berwarna hijau. “Lo lagi di puncak? Sama siapa?” Jasmine mendengar pertanyaan beruntun dari Valan. Kalau tidak salah dengar, dia merasa nada Valan meninggi. “Iya. Emang kenapa, sih? Kok kayaknya lo nggak terima gitu?” Jasmine melakukan panggilan sambil berjalan keluar kamar. Di lorong lantai atas terlihat sepi. “Ya nggak gitu, Jas. Kok lo tumben pergi nggak ngasih tahu gue.” Satu alis Jasmine terangkat. Dia merasa ini bukan pertama kalinya pergi dan tanpa memberitahu Valan. “Masa sih, Lan? Kayaknya gue sering deh pergi nggak ngasih tahu lo dulu.” Beberapa detik Valan tidak langsung menjawab. “Lan. Kok lo diem, sih!!” ucap Jasmine Jasmine menuruni tangga dan mendapati ruangan di bawahnya sepi. “Jas.” “Hem. Kenapa lo diem?” Jasmine berjalan menuju dapur. Dia melihat Raisha dan suami sedang makan mi. Seketika dia berbalik, tak ingin mengganggu waktu berduaan sepasang suami istri itu. Dia berjalan keluar, saat melewati ruang tamu dan mendapati Varlo duduk diapit dengan dua wanita. Jasmine langsung melengos saat tatapannya bertemu dengan Varlo. “Nggak apa-apa, sinyal jelek di sini. Lo ke puncak sama siapa? om sama tante bukannya di luar kota, ya?” “Gue sama Varlo!” jawab Jasmine sedikit sebal. Dia menghempaskan tubuh di kursi malas di teras villa lalu mengangkat kaki ke atas meja. Entah kenapa dia sebal melihat Varlo diapit oleh dua wanita tadi. “Ha! Lo sama Kak Varlo? Jas, lo kok mau-mau aja, sih!!” “Ngapain sih lo teriak!! Iya gue emang sama kakak lo!!” jawab Jasmine sambil teriak. “Siapa, Sayang?” Jasmine berjingkat saat mendengar suara lain. Dia melotot ke Varlo yang duduk di sebelahnya dengan satu alis terangkat itu. “Jas. Gue ingetin lo. Jaga diri, Jas. Jangan sampai lo diapa-apain sama kakak gue.” “Ya gue bakal jaga diri, lo tenang aja. Udah ya gue males ngomong nih. Bye!” Setelah mengucapkan itu Jasmine memutuskan sambungan. Dia menurunkan kaki dari atas meja lalu berdiri. Seketika Varlo menarik Jasmine membuat wanita itu terjatuh ke pangkuannya. “Apaan sih!! Lepas!!” teriak Jasmine sambil mendorong d**a Varlo. Varlo semakin mendekap tubuh Jasmine. “Kamu kenapa, sih? Bangun tidur kok jutek banget?” tanyanya sambil menatap Jasmine saksama. “Apa karena aku nggak bangunin kamu? Udah bangunin kok. Tapi nggak ada respons dari kamu.” Jasmine diam saja, bukan itu yang membuat dia sebal. Bahkan dia tidak masalah Varlo membangunkannya atau tidak. Namun, yang membuatnya kesal adalah Varlo bersama dua wanita tadi. Jasmine sempat besar kepala, dia akan selalu berdekatan dengan Varlo mengingat betapa manisnya lelaki itu mulai dari perjalanan hingga sampai villa. “Aku cium, nih, kalau nggak ngomong.” “Apaan sih lo!!” Jasmine langsung mengeluarkan suara. Dia menatap Varlo yang senyum-senyum tak jelas itu. “Harus diancem dulu, ya, baru mau ngomong?” goda Varlo. “Jadi kenapa? Bungun tidur kok mukanya udah ditekuk? Terus tadi telepon siapa? Kok sampai teriak-teriak?” tanyanya kali ini dengan nada lembut. “Bukan urusan lo. Ada makanan nggak? Gue laper.” Varlo mengangkat satu alisnya. Apa Jasmine lapar? Atau cemburu, tapi nggak mau ngaku? Dia lebih percaya ke pertanyaan yang terakhir. Sudut bibirnya tertarik ke atas, gemas dengan tingkah Jasmine itu. “Bilang dong Sayang kalau laper. Nggak perlu mukanya ditekuk kayak tadi,” godanya sambil mencubit hidung Jasmine. Refleks, Jasmine memukul karena Varlo mencubit hidungnya. Dia turun dari pangkuan Varlo, berjalan ke dalam villa sambil menahan senyumannya. “Ck! Kesel gue kok tiba-tiba ilang, sih,” gerutu Jasmine sambil masuk ke dapur yang telah sepi itu. Jasmine menggeleng tidak mau cepat terbuai karena adegan romantis tadi. Dia menepuk pipinya agar tersadar. Jasmine please, jangan gampang luluh dengan tindakan Varlo. Wanita itu tidak sadar jika Varlo sedang menatapnya intens. Dari tempatnya berdiri Varlo menahan senyumannya melihat Jasmine yang seolah sedang menyadarkan dirinya itu. Cepat atau lambat kamu akan terpesona, Sayang. Seketika Varlo berjalan mendekat, menarik tangan Jasmine dan mendorong wanita itu hingga bersandar di lemari es. Dia tersenyum melihat mata Jasmine membulat lebar itu. “Varlo!! Minggir.” Jasmine mendorong, tapi Varlo tetap di posisi. Dia lalu mengalihkan pandang ke arah lain. Entah kenapa jantungnya berdetak cepat dan dia gelisah. “Kenapa pipi kamu kok merah?” tanya Varlo menggoda. Dia membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah Jasmine. Dia tersenyum miring melihat Jasmine yang gelagapan dan berusaha menatap ke arah lain itu. “Varlo. Ming..gir...,” ucap Jasmine sedikit terbata. “Enggak. Kamu gemesin. Aku nggak mau jauh-jauh dari kamu.” Jasmine mendongak dengan bibir sedikit terbuka. Itu sebuah kesalahan besar baginya, sekarang bibir Varlo menyentuh bibirnya. “Huh.” Varlo mengakhiri ciumannya saat mendengar Jasmine mulai kesulitan bernapas. Dia lalu mencium pipi wanita itu bergantian. “Jangan berusaha padamkan perasaanmu. Nikmati semuanya, Sayang,” ucapnya lembut sambil mengusap bibir Jasmine dengan ibu jarinya. Sedangkan Jasmine diam tak bereaksi. Jantungnya berdetak begitu cepat dan tubuhnya terasa lemas. Dia hanya mampu menatap Varlo dengan benak yang bertanya-tanya. Apa Varlo mengetahui kegundahan hatinya?   ***   Jasmine duduk diam di bangku kemudi. Sesekali tatapan matanya tertuju ke tangan kanan yang berada dalam genggaman Varlo. Jasmine lalu menyandarkan tubuh sambil membuang muka ke kaca depan. Dia sedang memikirkan banyak hal, satu diantaranya adalah ciuman di dapur tadi. Satu lagi yang mengganggu pikiran Jasmine adalah ucapan Fena, Awa dan Poppy tadi sore. Saat itu Jasmine sedang berdiri di sebelah villa, menatap jalanan yang terlihat di bawah dan pandangan hijau yang berada di kanan dan kirinya. Saat sedang menikmati pemandangan itu, dia mendengar teriakan seorang wanita. “Heh!! Cewek gatel!” Jasmine diam tak bereaksi tidak tahu siapa yang dipanggil cewek gatel dan yang pasti dia tidak merasa seperti itu. “Heh!! Lo dipanggil nggak noleh.” Pundak Jasmine ditarik ke belakang. Dia menggerakkan kepala menoleh ke seseorang yang mengganggunya itu. Dia lalu memutar bola matanya malas melihat Fena dan dua wanita lain yang berdiri di depannya. “Lo budek atau gimana, sih!!” maki Fena. “Lo manggil gue? Sorry nama gue bukan cewek gatel. Nama gue Jasmine.” “Nggak penting kali kita tahu nama lo,” jawab Fena. Jasmine diam tak bereaksi. Dia menatap Fena dengan angkuh. “Ada perlu apa?” “To the point aja. Gue nggak suka lo deket-deket Varlo. Nggak pantes,” jawab Fena. Seperti dugaan Jasmine, Fena memang tertarik ke Varlo. Jasmine menarik sudut bibirnya ke atas. “Gue gak deketin Varlo kali. Dia yang deketin gue,” jawabnya jujur. Fena menggeleng tak percaya. Dia menatap Jasmine dari ujung rambut hingga ujung kaki. Menurut Fena tak ada yang menarik dari tubuh Jasmine, masih menarikan dirinya. “Percaya diri banget lo ngomong kayak gitu. Gue tahu kali, tipenya Varlo kayak apa,” jawab Fena. “Sebutin, Fen, biar nih cewek tahu,” timpal Poppy. “Gue sebutin nih, ya. Varlo suka wanita dewasa. Baik itu penampilan dan body. Dan Varlo suka wanita yang bisa memuaskannya,” jawab Fena sambil mengerling. Jasmine mendengarkan dengan bosan. Dia sendiri tidak tahu bagaimana tipe Varlo. Namun, menebak dari sifat playboy lelaki itu, memang terlihat kalau Varlo suka wanita dewasa. “Tapi Varlo suka tuh sama gue. Meski gue nggak dewasa dan nggak bisa muasin dia.” “Gila, nih, orang sombong banget, Fen. Kasih pelajaran gak?” ucap Poppy. “Janganlah kasihan masih bau kencur.” Mata Jasmine membulat mendengar ucapan Fena. Masih bau kencur? “Gue bukan bau kencur ya. Dan gue rasa, gue lebih tua dari kalian,” jawab Jasmine sambil menatap tiga orang itu satu persatu. “Lo merasa lebih dewasa gitu dari kita? Coba lo buktiin,” ucap Awa. “Ck! Nggak penting ngeladenin omongan kalian,” balas Jasmine sambil berbalik meninggalkan tiga orang itu. “Gue tantang lo nanti di kelab. Siapa yang paling banyak minum berarti itu yang menang. Kalau lo menang, berarti lo emang bukan anak bau kencur!!” kata Fena. Jasmine menghentikan langkah. Dia menarik napas panjang lalu menoleh ke belakang melihat Fena, Awa dan Poppy yang tertawa puas itu. “Cuma itu doang? Gampang, kali.” Fena, Poppy dan Awa tertawa mendengar jawaban Jasmine, seolah sedang mendengarkan lelucon. “Paling satu gelas juga udah tepar,” ucap Awa. “Haha. Bener!!” timpal Fena lalu ketiga orang itu tertawa kencang. Fena berjalan mendekati Jasmine lalu berbisik. “Satu lagi, siapa yang tidur sama Varlo malam ini dia yang menang. Dan gue pastiin itu gue.” “Huh!!” Jasmine mendesah kesekian kalinya. Dia terus kepikiran tantangan Fena tadi. Di sisi lain dia enggan meladeni tiga orang itu tapi di sisi lain dia tidak terima kalau tiga orang itu menjelek-jelekannya.   ***   “Sayang. Udah!! Kamu udah nggak kuat.” “Lo diem!!” Varlo berusaha menarik gelas itu dari tangan Jasmine. Prang!! Varlo mendorong tangan Jasmine hingga gelas yang dipegang wanita itu jatuh ke lantai. “Nggak ada minum lagi, Sayang,” ucapnya mencoba memberi pengertian. “Dia kenapa? Habis berapa gelas?” Varlo menoleh, mendapati Fena sedang berdiri dengan tangan memegang rokok itu. “Habis empat gelas,” jawabnya. “Baru habis empat dan dia udah teler? Bener-bener masih bau kencur,” ejek Fena sambil melirik Jasmine. Jasmine dengan sisa kesadarannya mendongak. Dia lantas berdiri dan mendorong pundak Fena. “Enak aja lo ngomong!!” Varlo berdiri menarik Jasmine hingga kembali duduk. Tapi Jasmine malah mendorongnya. “Varlo. Mau ikut ke bawah nggak? Kita dance,” ajak Fena. “Nggak.” Varlo menjawab tanpa menoleh ke Fena dan malah sibuk mengusap peluh di wajah Jasmine dengan punggung tangan. Fena memutar bola matanya sebal. Varlo menolak dirinya dan lebih memilih Jasmine, sungguh tidak bisa ditebak. “Gue lihat lo belum sempet have fun, so kita nge-dance aja,” ajak Fena sambil menarik tangan Varlo. “Lo jangan pegang-pegang dia!!” Jasmine memukul lengan Fena lalu memeluk lengan Varlo erat. “Apaan sih, lo!! Gue mau ajak Varlo!!” kata Fena. “Gak!!” teriak Jasmine kencang. Varlo menatap Jasmine dan Fena bergantian. Dia tidak tahu apa yang terjadi dengan dua wanita itu. Terlihat sekali dua wanita itu sedang bersitegang. “Varlo yuk sama gue aja! Daripada sama dia,” ucap Fena sambil melirik Jasmine. “Lo pergi aja sendiri. Gue di sini sama Jasmine.” Varlo melihat raut kemarahan Fena, tapi lelaki itu tidak peduli. Jasmine sekarang sedang mabuk dan Varlo tidak akan membiarkan wanita itu sendirian. “Lo nggak denger dia ngomong apa? Hus sana,” usir Jasmine. Fena menghentakkan kaki lalu meninggalkan dua orang itu. Dia tidak akan menyerah begitu saja. Dia akan mendapatkan dan menjadikan Varlo miliknya. Selepas kepergian Fena, Jasmine masih dalam posisinya. Dia mendongak, menatap wajah Varlo yang terlihat mulai buram itu. Tangannya mulai terangkat, menyentuh pipi Varlo dan mengusapnya lembut. “Var!” “Ya,” jawab Varlo. “Kita pulang yuk! Biar kamu cepat istirahat,” lanjutnya saat wanita di depannya itu hanya diam. Varlo melingkarkan tangannya ke belakang lutut Jasmine, menarik ke dalam gendongannya. Sedangkan Jasmine langsung melingkarkan tangan ke leher Varlo lalu berbisik. “Malam ini lo sama gue, ya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD