"Kamu tunggu di situ, Nala biar aku aja yang gendong," kata Gara setelah memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya. Nala sepertinya kelelahan karena terlalu senang bermain di wahana air, dia langsung tertidur di pangkuanku sesaat setelah keluar dari Jojga Bay Waterpark. Sedangkan aku sendiri sebenarnya merasakan hal yang sama, aku juga ingin tidur karena terlalu lelah. Tapi tidak mungkin juga aku terlelap di hadapan Gara seperti yang dilakukan Nala.
Matahari sudah mulai meredup, menandakan sebentar lagi malam akan datang. Nala bermain tanpa kenal waktu dan tentu saja berlaku juga buatku dan Gara yang menemaninya. Dia mencoba hampir semua wahana dan baru berhenti saat akan makan siang dan kembali memulainya lagi sampai hari menjelang sore. Rasanya aku mau demam karena berendam di air seharian.
Gara mengambil Nala yang berada di pangkuanku dan membawanya masuk ke rumah. Aku turun dari mobil dan segera membuka pintu rumahnya. Kompleks perumahanku ini kebanyakan dihuni oleh pendatang yang sebagian besar berprofesi sebagai pekerja kantoran, sehingga jika di akhir pekan seperti ini biasanya kompleks perumahan akan mendadak sepi karena banyak yang mudik. Dan hal itu juga yang aku syukuri saat ini, kalau nggak bisa-bisa aku akan menjadi bahan pergunjingan warga kompleks karena sering terlihat berdua dengan Gara.
Aku menunggu Gara membawa Nala ke kamar dan menidurkannya kembali. Ini pertama kalinya aku masuk ke dalam rumahnya, biasanya aku cuma sampai di teras rumah dan mengintip dari luar. Nggak ada yang istimewa dari rumahnya, hanya sofa di ruang tamu dan beberapa aksesoris hiasan di dindingnya.
"Aku langsung pulang ya," kataku saat Gara muncul di ruang tamu. Badanku terasa tidak nyaman karena berendam seharian dia dalam air dan rasanya aku ingin segera mandi agar bisa kembali segar. Dan tentu saja setelah itu akan menghabiskan waktuku di tempat tidur. Bermalas-malasan setelah sehari penuh berada di arena bermain sepertinya ide bagus.
"Mau minum kopi dulu biar badanmu agak hangat?" tawarnya. Aku terdiam sejenak mendengar tawarannya. Mataku mengerjap, berusaha menghalau pikiran aneh yang mendadak muncul di pikiranku. Entah mengapa kata hangat yang diucapkannya bermakna lain di pikiranku dan membuat wajahku mendadak memanas.
Oke, kali ini aku akan berpikir positif. Memang benar saat ini tubuhku terasa dingin, mungkin ada benarnya tawaran dari Gara. Minum minuman hangat sebentar nggak akan jadi masalah, bukan?
"Boleh, tapi aku nggak minum kopi. Teh hangat aja. Oya, biar aku aja yang buat," usulku.
"Jangan, kamu kan tamu di sini. Kamu duduk dan tunggu aja," ujarnya sambil beranjak dari hadapanku.
Sambil menunggu Gara, aku mengambil ponselku dan membukanya. Aku baru ingat ada janji dengan Sera untuk mengambil mobilku yang saat ini masih berada di rumahnya. Biarlah, besok pagi aja. Paling dia akan mengomeliku karena nggak tepat janji. Hari sudah terlalu larut untukku ke rumah Sera. Mungkin saja Gara bersedia mengantar, tapi aku nggak mau memanfaatkannya.
Gara datang dengan membawa dua cangkir yang masih mengeluarkan uap panas. Kopi untuknya dan teh untukku. Dia meletakkan dua cangkir itu di meja dan kemudian duduk di sebelahku. Aroma khas kopi masuk ke penciumanku dan membuatku merasa tenang. Walaupun aku tidak suka kopi, tapi aku sangat menikmati aromanya.
Kali ini aku merasa begitu canggung saat hampir tidak ada jarak antara kami. Hal yang jarang kurasakan saat bersama lelaki. Biasanya aku selalu percaya diri saat bersama lelaki. Tapi lelaki yang satu ini sungguh berbeda, entah kenapa hanya merasakan sentuhan tangannya saja membuatku begitu tertekan. Tertekan sampai tidak bisa berkata-kata lagi.
Aku kemudian berdehem agar suasana hatiku kembali normal. Aku harus mengusir rasa aneh yang semakin menjadi-jadi saat berada di dekatnya. Semakin lama dibiarkan aku semakin kewalahan menghadapinya.
Aku kemudian bergeser sedikit dari posisiku semula agar jarak kami tidak terlalu dekat. Begini lebih baik daripada aku yang nggak bisa mengendalikan diriku sendiri.
"Kalau libur gini, biasanya kamu ngapain?" tanyaku basa-basi hanya agar tidak terlihat sedang grogi. Aku harus membuat suasana terasa santai agar kami berbicara layaknya dua orang sahabat.
"Pulang ke Magelang. Atau dulu waktu Nala masih tinggal bersamaku, biasanya aku bawa Nala main ke pusat perbelanjaan atau ke mana aja yang dia mau," sahutnya.
"Kenapa Nala nggak tinggal bersamamu lagi?" tanyaku penasaran.
"Biasanya saat aku kerja, Nala kutinggal dengan pengasuh. Tapi akhir-akhir ini aku merasa semakin nggak percaya dengan pengasuh, dan selalu merasa khawatir setiap Nala kutinggal. Akhirnya daripada aku kepikiran terus, mendingan Nala kutitip sama Ibu di Magelang. Dengan begitu aku bisa kerja dengan tenang.
"Kenapa masih betah aja sendiri?" Aku terdiam setelah menyelesaikan pertanyaanku. Ini pertanyaan yang salah yang seharusnya nggak aku ucapkan. Aku menggigit bibirku sambil memutar otak mencari pengalihan atas pertanyaanku barusan.
"Maksudku, Nala juga sudah lumayan besar dan dia pasti butuh figur seorang Ibu," ucapku diplomatis mirip calon anggota legislatif yang sedang orasi. Bukannya menanggapi ucapanku dengan serius, Gara malah tertawa pelan. Aku tidak tahu apa dia sedang mengejekku atau malah mengejek dirinya sendiri.
"Ya nggak tahu, belum ketemu yang cocok aja. Bukan cuma denganku, dengan Nala juga harus cocok," sahutnya sambil tersenyum.
"Tapi mungkin sebentar lagi bakal ketemu," lanjutnya dengan nada misterius. Aku mengernyit sambil menoleh ke arahnya. Katanya aja mau cari yang cocok, sekarang mendadak bilang sudah mau ketemu. Plin plan banget.
"Kenapa, apa kamu nggak berminat?" tanyanya padaku karena melihat wajahku yang terlihat kesal saat mendengar perkataannya.
"Nggak!" sahutku tegas dan dibalas dengan tawanya. Aku tahu dia sedang menggodaku dan sudah seharusnya aku tetap terkesan tidak peduli padanya.
Gara bergeser saat menyadari aku berada agak jauh darinya. Saat ini posisi kami kembali seperti di awal tadi, dia duduk tepat di belakangku.
"Sekarang wangimu dan Nala sama," bisik Gara tiba-tiba. Dia mengendus pundakku yang terbuka karena saat ini aku mengenakan kaos berpotongan sabrina. Hampir saja aku mengeluarkan suara aneh karena efek geli yang menjalar ke seluruh tubuhku.
"Aku pakai sabun Nala tadi," ucapku tertahan sambil pura-pura memajukan tubuhku untuk mengambil cangkir teh yang berada di hadapanku. Astaga! Seluruh tubuhku rasanya merinding gara-gara perlakuannya. Baru saja aku berusaha bersikap tidak peduli, tapi kenapa kali ini aku merasa sangat gugup.
"Tehnya enak," kataku mulai kehilangan bahan pembicaraan. Sepertinya aku harus segera pulang sebelum hal yang tidak kuinginkan terjadi, ralat mungkin sebenarnya kuinginkan tapi berusaha kupendam sendiri. Aku tetap pada prinsipku, harus dingin dan nggak peduli. Dia cuma Gara, bukan artis idolaku yang aku taksir setengah mati.
"Oya?" tanyanya masih sambil mengendus pundakku. Kali ini lebih berani karena sambil melingkarkan lengannya di perutku. Oh! Apa yang harus aku lakukan. Satu sisi aku merasa nyaman dengan pelukannya, di sisi lain aku merasa ketakutan, takut tidak bisa mengendalikan diri.
"Besok aku mau antar Nala pulang ke Magelang. Mau ikut?" tanyanya tanpa melepaskan tangannya di perutku dan kepalanya menempel di pundakku.
"Eh...itu, aku ada kerjaan besok," sahutku gugup. Yang sebenarnya besok acaraku hanya tidur sampai siang dan ke rumah Sera untuk mengambil mobilku. Dengan keluarga Gara pun, aku sudah kenal saat acara pernikahan Bia yang lalu. Tapi jika Gara tiba-tiba membawaku lagi untuk bertemu keluarga dengan hubungan kami yang bisa dibilang sudah berbeda, tentu saja aku belum siap.
Aku kemudian berusaha melonggarkan belitan tangannya dengan perlahan, agar dia tidak merasa tersinggung. Tapi nyatanya yang terjadi malah sebaliknya.
"Oh nggak apa-apa, lain kali aja kalau gitu." Dia mempererat pelukannya. Pelukannya terasa hangat, bahkan lebih efektif daripada teh hangat yang dibuatnya.
Aneh sekali, debaran jantungku begitu terasa dan membuatku nggak bisa menolak setiap perlakuannya.
"Makasih karena sudah nemanin Nala hari ini," ujarnya. Aku bergumam menanggapi perkataannya. Entah kenapa saat ini, aku nggak bisa bicara dengan benar. Pikiranku terasa kacau karena sentuhan-sentuhannya. Bagaimana ini? Apa artinya hatiku mulai luluh?
Hangat napas Gara terasa di tengkukku. Dia menekan kepalanya dan menciumnya perlahan. Napasku terasa berhenti.
"Ng...sudah malam. Aku pulang dulu ya," ucapku terbata. Aku mendorong tubuhnya dan berusaha menjauhkan tubuhku.
"Nanti aku antar," sahutnya sambil memberikan ciuman-ciuman kecil di pundakku yang terbuka. Sekujur tubuhku merinding dan gilanya aku malah berharap dia nggak berhenti.
"Pulang sendiri juga bisa," sahutku dan dibalas tawa kecilnya.
"Aruna...," bisiknya tiba-tiba di telingaku dengan nada suara yang terdengar aneh, begitu dalam dan membuatku yang mendengarnya menjadi berdebar.
"Kamu sudah mengambil hatiku begitu dalam, sampai rasanya yang aku mau saat ini cuma kamu." Dia berbisik di telingaku.
Oh bagaimana ini, aku benar-benar kehilangan kemampuanku untuk membalas ucapannya. Debar jantungku semakin menggila, aku meremas tanganku dengan gelisah. Lelaki ini begitu menyeramkan. Baru hitungan hari aku mengenalnya, tapi aku hampir dibuat jantungan olehnya.
Dia mengambil tanganku dan membawanya ke genggaman tangannya. Aku menoleh dan tatapan matanya seolah mengunciku.
Gara menyentuh wajahku perlahan. Mataku mengerjap saat dia menghentikan jemarinya di bibirku. Aku memberanikan diri menatap matanya.
"Apa kamu nggak masalah dengan statusku yang sudah pernah menikah?" tanyanya. Ingin rasanya aku menggeleng dengan bersemangat, aku nggak pernah mempermasalahkan status, sudah menikah atau belum. Asal dia masih single saja sudah cukup.
"Nggak masalah buatku," jawabku berpura-pura tenang dan nggak terganggu dengan jarak kami yang begitu dekat. Auranya begitu menyiksaku, membuat napasku terasa sulit.
Apa aku pernah bilang jika Gara terlihat begitu menggoda saat menatapku dengan tajam seperti saat ini?
Dia menyentuh daguku dan membawaku mendekat ke arahnya. Satu kecupan ringan di bibirku membuatku seperti meledak. Sedetik kemudian, bukan hanya kecupan ringan yang dilakukannya. Dia menekan bibirku dan melumatnya.
Awalnya begitu pelan, sampai aku bisa merasakan hangat napasnya menerpa wajahku, semakin lama semakin dalam. Dia melepaskan ciumannya saat aku hampir kehilangan kendali. Mata kami saling bertatapan dan seketika aku menjadi sangat malu dan ingin menghilang saja dari hadapannya.
"Manis banget. Rasanya aku ketagihan," bisiknya dengan nada suara yang begitu berat. (*)