Sepiring nasi goreng dengan telur orak-arik dan potongan sosis tersaji di depan Arya. Pria itu meletakkan cangkir tehnya yang baru ia minum sedikit. Ia melirik ke arah samping dan tak sengaja matanya melihat perut Kinan yang membuncit. "Temenin aku makan!" Itu bukan permintaan, tapi sebuah perintah mutlak yang mau tak mau harus disetujui Kinan karena tangannya sudah kembali dipegang Arya. Pria itu juga mengambil cangkir teh Kinan yang berada di sisi kanannya untuk diberikan pada Kinan yang duduk di sebelah kirinya. Kinan malas untuk berdebat. Dia hanya duduk sambil menikmati tehnya yang mulai dingin. Lubang hidungnya menghirup bau nasi goreng buatannya yang entah kenapa sekarang membuat air liurnya akan menetes. Kinan menggeleng sambil memejamkan mata untuk mengusir keinginannya kali

