Bab 13

1388 Words

-AYU- “Ah, kamu apa sih,” respon Tias. Kulihat pipinya tiba-tiba memerah. Sejak dulu aku memang senang mengusili Tias. “Ya udah, nih aku kasih tahu sesuatu,” bisiku. Aku mendekatkan wajahku ke arahnya. Tias juga langsung menyodorkan telinganya. “Berharap aja besok-besok motornya mogok lagi, siapa tahu Erfan muncul lagi,” bisiku. Kemudian tertawa geli. Tias tidak merespon apapun kecuali memperlihatkan mimik wajahnya yang sebal padaku. Namun tentu saja itu hanya canda biasa, karena kami berdua memang jarang memasukan apa pun dalam hati. Tapi jika aku lihat-lihat—insting seorang sahabat biasanya benar, sepertinya ada percikan-percikan tidak biasa pada diri Tias ketika membicarakan Erfan. Aku sebagai sahabat tentu mendukung apa pun yang ingin dicapai sahabatnya. Aku benar-benar senan

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD