Gadis itu melangkah ringan, bibirnya tidak henti menyunggingkan senyum membayangkan wajah ceria Nasya saat melihatnya membawakan balon. Namun, sebenarnya bukan hanya senyum Nasya yang sedang ia bayangkan sekarang tetapi juga senyum Bekti, senyum Bekti saat melihat sang putri bahagia tentunya. Ela melangkah semakin mendekati pintu rumah Bekti dan mengerutkan kening, ia sempat berhenti sejenak saat melihat sepasang sepatu berhak tinggi khas seorang wanita tergeletak di depan pintu. "Siapa, ya? Enggak mungkin kan Mbak Uni pake sepatu begitu?" tanya Ela, tentu saja hanya di dalam hatinya dan rasa penasaran itu yang membuat gadis itu melangkah semakin mendekati pintu tanpa suara. Gadis itu masih memegangi dua buah balonnya saat berdiri di ambang pintu dan melihat seorang wanita cantik dud

